Betapa senangnya Rara melihat Razel memakai seragam sekolah. Mulai hari ini Razel berjanji tidak akan membolos lagi, ia akan datang ke sekolah belajar seperti biasa.
"Rara bangga sama Razel, akhirnya mau sekolah lagi," ucap Rara.
"Itu bukan suatu hal yang patut dibanggakan, Ra."
"Ya namanya juga aku senang Razel mau sekolah lagi."
Saat ini mereka sedang sarapan sebelum berangkat sekolah. Hanya ada Rara dan Razel di meja makan. Ya seperti biasa, orang tua mereka sibuk di luar kota tak memilih pulang ke rumah lagi.
"Biar gue yang anter lo ke sekolah," ucap Razel.
"Nggak usah, kan ada supir--"
"Pokoknya gue yang anterin."
"Hm ... oke."
Mereka lalu melanjutkan sarapannya sampai habis. Rara mengambil tisu mengelap mulutnya untuk mengakhiri makannya.
"Ya udah, ayo berangkat."
"Ayo."
Setibanya di sekolah. Banyak pasang mata yang menatap ke arah Rara. Apa mungkin karena ia diantarkan oleh Razel?
"Woi, lihat dong itu. Ada cogan!"
"Wah, tuh, cogan tipe gue banget. Ala-ala badboy gitu."
"Dia siapanya Rara? Pacarnya, ya?"
"Wah, ada gosip baru."
Ya seperti itulah bisikan-bisikan mereka ketika melihat Rara diantarkan oleh Razel.
"Aku masuk dulu, ya."
"Iya. Entar pulang jam berapa?" tanya Razel.
"Jam tiga."
"Mau gue jemput?"
"Eum, kayaknya nggak usah, deh, Zel. Aku bisa pulang sendiri, kok."
"No! Lo nggak boleh pulang sendirian. Nanti telepon supir lo aja. Atau telepon gue."
"Oke, deh."
"Bye ...." Razel mengusap kepala Rara pelan yang membuat gadis itu tersenyum. Beginilah rasanya memiliki saudara. Ada yang memberikan perhatian. Razel sosok abang yang baik.
"Hati-hati, ya!" ucap Rara melambaikan tangannya.
"Itu tadi siapa?"
Rara terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba terdengar di belakangnya. Ia menoleh singkat, terkejut menatap cowok itu yang ternyata adalah Aldo.
"Kamu nggak perlu tau," ujar Rara ketus, beranjak dari situ."
"Hei, tunggu dulu, Ra! Urusan kita belum selesai, nih."
"Kita nggak ada urusan apa-apa lagi, maaf."
Rara segera menjauh dari Aldo, ia takut kejadian seperti kemarin terulang lagi. Rara tidak mungkin mengharapkan ada Arsya lagi menolongnya. Cowok itu saja belum tampak batang hidungnya di sekolah.
***
"ARSYAAA ... kamu nggak sekolah, ha?" teriak Reni menarik selimut Arsya. Cowok itu mengernyit.
"Masih subuh, Ma."
"Subuh apaan! Udah mau jam tujuh ini! Sana cepat mandi!" suruh Reni menarik tangan putranya.
"Malas, Ma. Masih ngantuk, kemarin Arsya begadang."
"Nggak ada alesan. Jangan-jangan selama ini pas Mama nggak di rumah, kamu sering bolos sekolah? Benar, hm?" tanya Reni menarik hidung mancung Arsya.
Mau tak mau Arsya harus bangun. Ia segera berjaan masuk ke kamar mandi.
"Aduh, pantesan aja Dimas selalu ngeluh pas bangunin anak itu," ujar Reni. Ternyata anaknya memang susah dibangunkan.
"Cepat, Arsyaaa! Kamu bisa telat, loh," teriak Reni dari balik pintu kamar mandi.
"Kalau telat nggak usah ke sekolah, Ma."
"Kamu jangan sampai sengaja dilama-lamain mandinya, ya!"
"Iya, Ma, iya."
"Ya udah, Mama tunggu di luar. Mama siapin bekal aja, karena kamu gak akan sempat sarapan."
"Iya, Ma."
Reni pun keluar dari kamar anaknya itu. Sembari menunggu Arsya. Ia segera ke dapur untuk menyiapkan bekal yang akan dibawa oleh Arsya. Untung tadi pagi ia masak nasi goreng untuk menu sarapannya.
"Hai, Tan."
Ada yang menyapa Reni, ternyata itu Adimas.
"Eh, iya. Hai, Dim."
"Tante mau masak?"
"Nggak. Ini lagi siapin bekal untuk Arsya. Dia udah telat, tuh."
"Jadi Arsya belum berangkat ke sekolah, Tan?"
"Belum, Dim. Ini juga mandinya kenapa lama, ya. Tante curiga dia sengaja mandi lama-lama biar engg--"
"Ngomongin orang pagi-pagi itu nggak baik, loh, Ma." Arsya tiba-tiba muncul. Ia sudah berseragam lengkap, walaupun bajunya dikeluarkan, rambutnya berantakan.
"Aduh, Sya! Lo bukan anak kecil lagi," ujar Adimas merapikan rambut Arsya yang kusut.
Arsya tertegun melihat perhatian Adimas padanya. Tak seperti biasa.
Cekrek.
Ternyata Reni diam-diam mengabadikan momen itu di HP-nya.
"Dih, apa sih, Ma," kesal Arsya.
"Nggak pa-pa. Kalian itu sweet banget, loh.
Keduanya malah sama-sama berekspresi ingin muntah.
"Udah, ah, Ma. Arsya pamit sekolah dulu. Assalammualaikum." Arsya menarik tangan Reni lalu mencium punggung tangan ibunya itu. Tak lupa Reni memberikan kotak bekal itu pada Arsya.
"Waalaikumussalam, iya, hati-hati."
Setelah Arsya pergi. Adimas duduk di kursi yang lebih dekat dengan Reni.
"Tan," panggil Adimas. Sebenarnya ia ada tujuan kemari.
"Iya, kenapa Dim?"
"Tante ada ketemu Mami nggak akhir-akhir ini?"
"Nggak ada, tuh. Tante sama si Om, kan, jarang di rumah, kami sibuk di kantor aja."
"Ooh. Mami juga nggak ada cerita-cerita, Tan?"
"Cerita apa, Dim? Tante gak paham maksud kamu apa."
Ternyata emang maminya tidak bercerita pada siapa pun. Padahal Adimas berharap Reni tahu.
"Oke, Tan, makasih ya."
"Eh, kamu baru nanya satu."
"Ya nggak pa-pa. Aku pikir Tante masih sering ketemu Mami. Ya udah aku kembali ke rumah dulu ya, Tan. Makasih Tante."
"Iya sama-sama. Kenapa nggak di sini aja dulu nemenin Tante" ? tanya Reni.
"Entar aku balik ke sini, Tan. Sekarang mau belajar dulu."
"Oh, iya. Oke, Sayang. Oh iya ...."
Reni mendekatkan mulutnya ke telinga Adimas. "Tante tau maksud kamu. Singkat saja, Mami kamu selingkuh antara iya atau tidak," ucap Reni berbisik pelan kepada Adimas.
Mendengar itu Adimas mengangguk pelan.
"Baik, Tan, terima kasih."
***
Terlambat sudah seorang playboy Arsya. Ia ketahuan satpam saat memanjat pagar. Alhasil, ia mendapatkan hukuman untuk menyapu halaman belakang ini.
"Kenapa nggak di tempat lain aja gitu, kenapa harus di ladang sekolah begini!" ujar Arsya yang tampaknya sudah emosi, karena daun kering dan ranting semakin banyak berjatuhan.
Ia menyapu asal-asalan dengan menghentak-entakan kaki ke lantai.
"Keren, sih, menjaga lingkungan, tapi lebih keren gue nggak dapat hukuman macam ini. Capek! Mana gue belum sarapan."
"Arsya kamu ngapain di situ?"
Mendengar suara Rara, semangat Arsya langsung membara. Ia menoleu ke belakang.
"Kamu rajin banget pagi-pagi mau bersihin sekolah," ujar Rara yang sudah salah paham. Padahal Arsya sedang menjalani hukuman.
"Iya, Ra. Ini biar--bersih gitu."
Wah, Rara tampak malah mendukung. Baik, lanjutkan, Arsya.
"Mau aku bantuin nggak, Sya? Kebetulan aku sedang free class."
"Eh, jangaaan!" Arsya langsung tegas menolak. Ia tak mungkin melibatkan Rara, walaupun ia sangat ingin dibantu.
"Loh, kenapa? Nggak pa-pa, Sya. Aku udah biasa, kok."
"Enggak, jangan, deh."
"Arsya, apa udah selesai?" Sungguh momen memalukan. Kenapa Pak Rio malah tiba-tiba muncul, merusak suasana saja.
"Loh, Sya. Ternyata kamu dihukum, toh?"
Mampus, Arsya sangat malu sekarang!
***