Hari ini ada Acara Bazar di sekolah. Arsya mengikuti acara itu bersama pacar-pacarnya. Mereka duduk di bangku ujung bersama-sama.
Berkali-kali pacar Arsya bergantian menyodorkan minuman atau camilan untuk cowok playboy itu, dengan senang hati Arsya menerimanya, walaupun perutnya sudah terasa ingin meledak, kebanyakan makan.
"Sya, ini ada kue pukis untuk kamu," ujar Rani.
"Sya ... Sya, ini enak, loh, kue keju, aku baru beli semalam," ujar Rea pula.
"Beb, kamu belum cobain donat buatan aku!" kesal Yuna.
"Daritadi makan mulu, minum dulu, yuk, ini ada orange tea." Popi menyodorkan botol minuman itu.
"Anu--semuanya. Gue kebelet, nih. Sambung nanti aja, ya!" ujar Arsya bangkit dari duduknya, segera pergi dari situ.
Bisa-bisa mati kekenyenyangan ia jika terus meladeni pacar-pacarnya itu. Lagian salah Arsya yang punya pacar banyak.
Tak sengaja Arsya menabrak seseorang, dan yang ditabraknya ternyata Eve. Dalam hati Arsya cukup geram, akhirnya ia bertemu lagi dengan kakak kelas yang sudah membuatnya pingsan itu.
"Ar--sya ...." Eve dibuat ketakutan.
"Kak, maksud lo apaan ngasih gue obat nyamuk? Eh, maksudnya obat tidur," ucap Arsya berjalan mendekati Eve sampai punggung gadis itu menyentuh tembok.
"Eum---itu ... anu--"
"Lo mau bunuh gue ya, Kak?"
"Eh, enggak! Nggak, kok!"
"Terus? Kenapa lo kasih gue obat tidur?"
"Aku ... minta maaf, ya. Kemarin itu cuma ... iseng doang."
"Iseng?" tanya Arsya dengan tatapan tajam. Eve dibuat ketakutan.
Muka Arsya semakin mendekati muka Eve, yang membuat gadis itu terpejam.
"Thank you ya, Kak!" Arsya tiba-tiba meraih tangan Eve.
Eh? Apa yang terjadi? Eve segera membuka matanya. Ia menatap Arsya yang sudah tersenyum.
"Eh? Makasih buat ap--"
"Berkat lo gue jadi tau rumah Rara. Udahlah, gak usah minta maaf. Gue udah maafin. Thanks sekali lagi!" ucap Arsya lalu pergi meninggalkan Eve di situ.
"Rara? Siapa Rara? Oh ... atau mungkin cewek yang waktu itu dateng? Dia siapanya Arsya? Pacar baru lagi, ha?" tanya Eve kesal. Kenapa ia merasa Rara adalah saingannya yang paling berat, di antara pacar-pacar Arsya yang lain?
***
Di balik itu Rara tampak menikmati bazar, ada banyak yang menjual makanan, buku-buku, dan berbagai macam lukisan.
Rara membeli satu novel yang menarik perhatiannya. Judul novel itu adalah Love You Brother. Entah kenapa itulah novel yang ia pilih.
"Hai, Ra."
Rara menoleh ke sumber suara yang menyapanya. "Iya? Eum ... Aldo bukan?"
"Iya, Ra. Kamu masih inget, ya."
"Kamu yang mau cabut, tapi nggak jadi waktu itu, kan?"
Aldo terkekeh pelan. Ternyata Rara memang masih mengingatnya.
"Iya, Ra. Syukurlah kamu masih ingat, tapi aku malu banget ketahuan mau cabut sama kamu."
"Hehe, tapi udah dapat hikmahnya, kan, sekarang? Kalau cabut itu nggak ada gunanya dan merugikan diri sendiri."
"Ya, maka dari itu, Ra. Sejak gue ketemu sama lo, gue jadi lebih tau mana hal yang baik dan buruknya gue lakukan."
Rara tersenyum senang, ia tentunya bahagia bisa bermanfaat untuk orang lain.
"Maka dari itu juga ... aku--"
Aldo mengambil sesuatu dari sakunya, lalu menyodorkan sebuah pena dengan tutup bermotif love kepada Rara.
"Kamu mau nggak, jadi pacar aku?"
Rara terkejut mendengar penurutan Aldo yang tiba-tiba seperti ini. Pasalnya tidak ada badai atau hujan. Kenapa pria itu tiba-tiba mengajaknya pacaran?
"Aku bisa berubah karena kamu. Jadi, aku akan selalu butuh kamu. Mohon ... terima cinta aku, Ra."
Rara hanya diam, sembari mengalihkan tatapannya.
"Kamu berubah, untuk diri kamu sendiri. Kalau kamu berubah karena aku? Tanpaku, kamu bakal balik kayak dulu lagi, dong?"
Aldo terdiam. Pertanyaan Rara terasa seperti jebakan.
"Iya. Makanya aku mau kamu jadi pacarku, untuk terus menunjukkanku jalan yang terbaik." Aldo rasa ia sudah menjawab hal yang benar. Namun, bagi Rara jawaban Aldo sudah merusak harapannya.
Tangan Rara memegang kedua pundak Aldo yang lebih tinggi darinya. Rara tersenyum singkat.
"Berubahlah demi dirimu sendiri, karena yang terbaik akan menguntungkan diri kamu. Jangan bergantung pada orang lain. Hanya kamu yang bisa mengerti dirimu, jadi ... berusahalah," ucap Rara hendak pergi, tetapi tangannya dicekal Aldo.
"Ra, ayolah! Kamu harus jadi pacarku!"
"Maaf, Al. Aku nggak bisa."
"Udahlah, jangan nolak. Kamu harus jadi pacarku."
"Nggak mau, Al. Aku gak mau pacar--"
"LO GAK BOLEH NOLAK, PAHAM?" bentak Aldo yang membuat Rara terlonjak kaget. Air matanya langsung mengenang, karena ia tak biasa dibentak.
Rara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aldo, tetapi cowok itu semakin mengeratkan genggamannya. Kuku Aldo juga menggores pergelangan tangan Rara, yang membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Al, lepasin ... sakit ...."
"Gue gak akan lepasin sampai lo mau jadi pacar gue!" ujarnya penuh penekanan.
Salah Rara juga memilih duduk di sini sendirian, lebih baik ia stay saja di tempat bazar.
"Tanganku sakit, lepasin!"
"NGGAK!"
BUGH!
Pegangan tangan itu akhirnya terlepas. Rara sangat bersyukur ada yang datang.
"Eh, Men, jangan kasar, dong, sama cewek!"
"Lo jangan ikut campur, ya!"
Aldo pun hendak menyerang cowok itu, tetapi tangannya langsung ditangkap dan diputar ke belakang oleh Arsya. Ya, memang cowok yang datang itu adalah Arsya.
Merasa tak akan menang, akhirnya Aldo menyerah. Ia meminta ampun kepada Arsya.
"Lo minta maaf sama Rara, dong!" suruh Arsya.
Aldo bangkit, lalu mendekati Rara, tetapi cewek itu segera bersembunyi di belakang Arsya. Ia sangat ketakutan.
"Ra, maaf ...."
"Sya, aku takut ... orang itu kasar," lirih Rara di belakang punggung Arsya.
"Dia takut sama lo, minta maafnya entar di akhirat aja. Udah, sana-sana pergi!" usir Arsya. Aldo pun menurut saja.
Sudahlah cintanya tak terbalas, ia pasti akan dibenci oleh orang yang ia cintai. Miris sekali. Aldo berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
"Lo nggak pa-pa?" tanya Arsya berbalik, menghadap Rara.
"Nggak pa-pa, kok."
Arsya menatap ke tangan Rara. Ia langsung menarik tangan gadis itu, lalu melihat pergelangan tangan Rara yang memerah.
Arsya membawa tangan Rara ke mulutnya, lalu cowok itu meniup pergelangan tangan Rara lembut. Melihat itu, pipi Rara langsung memerah dibuatnya. Ia juga merasakan detak jantung yang tak biasa. Apa yang terjadi pada jantungnya?
"Ya udah, ayo mah lihat-lihat bazar, nggak?" ajak Arsya.
"Boleh. Aku juga udah beli novel tadi."
"Kalau gitu, kita jalan-jalan sambil lihat aja."
"Iya."
Arsya menggenggam tangan Rara untuk digandengnya bersama. Awalnya Rara ingin menolak, karena tak biasanya ia berpegangan tangan seperti itu dengan seorang cowok. Akan tetapi, entah kenapa Rara tak berani menolak.
Ia membiarkan saja Arsya menggenggam tangannya, merasakan kehangatan tangan cowok itu.
'Kenapa berada di genggamannya terasa nyaman?' batin Rara.