BAB 22

1037 Kata
Sore ini Adimas ada janji bertemu dengan kakak tirinya itu. Kali ini, Adimas-lah yang terlambat datang, karena kafe tempat mereka janjikan berada di depan kampus Zahra. "Sorry ya, Kak, gue telat." "Nggak pa-pa, Dim." Satu fakta yang harus diketahui, bahwa Zahra tidak tahu jika Adimas adalah seorang gadis. Selama ini ia juga tertipu dengan identitas palsu yang dibuat oleh Farah. "Tadi Kakak pesanin minum aja, nih. Mau pesen makanan? Biar Kakak pesenin, nih." "Eh, nggak usah, Kak. Udah ini aja cukup." "Oh, oke." Zahra tersenyum bangga, karena teman-temannya yang duduk tak jauh dari mejanya sedang memperhatikan Zahra. Pasti mereka mengira jika Zahra sudah memiliki pacar. Zahra dibuat senang, tentu saja bangga, karena memiliki adik seganteng Adimas, walaupun hanya adik tiri, tetapi Zahra bisa mengaku jika Adimas adalah pacarnya. "Kak," panggil Adimas. "Eh, iya?" Adimas menghela napas pelan. Pasti Zahra tidak mendengarkannya tadi. "Papi sering pulang ke rumah gak?" tanya Adimas. "Udah jarang, Dim. Paling sekali dua minggu, itu pun masih sibuk kerja di kamar." Adimas memijat pangkal hidungnya pelan. Ia juga sudah lama tidak bertemu dengan ayah kandungnya itu. "Ibu, Mama, sehat?" tanya Adimas mengingat para ibu tirinya. "Sehat. Kamu udah lama gak ke rumah. Main-main, dong. Adiba udah kangen sama kamu katanya." Adimas mengingat adik kecilnya itu. Apakah ia masih sering diganggu oleh Lina dan Lini? Awas saja jika bocah kembar itu mengganggu Adiba lagi. "Iya, kapan-kapan, Kak." "Btw kamu ngapain ngajakin Kakak ketemuan di sini?" "Soal Mami ...." "Mami kamu kenapa?" "Mencurigakan." "Maksudnya?" "Gue ngerasa Mami sedang dekat sama seorang pria aja. Gue takut, Mami malah selingkuh di belakang papi." Mendengar itu tentu saja Zahra terkejut. "Tapi, Dim. Kamu udah tau, kan, kalau papi mau nikah lagi?" Adimas mendengkus pelan. "Iya, Kak. Calonnya sekretaris Papi, ya?" "Iya, tapi Kakak belum pernah ketemu sama dia." "Aku juga belum, Kak." "Coba, deh, kamu cari tau. Kamu harus ketemu dulu dan selidiki siapa dia. Jangan sampai papi kita dimanfaatkan aja, loh." "Iya, Kak." Adimas bergeming, memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah ini. Bertemu dengan Alex saja susahnya minta ampun, bagaimana cara menyelidiki calon istri baru papinya itu? Lagi pula, Adimas tidak setuju jika papinya menikah lagi. "Dim, mengenai tadi yang kamu bilang, Mami kamu selingkuh. Apa itu benar? Kamu udah punya bukti?" tanya Zahra hati-hati. "Belum ada, Kak. Tapi gue tadi ga sengaja nguping mami nelepon sama seseorang yang dia panggil Mas, Kak." "Wah, kalau begitu, Kakak juga akan menduga Mami Farah selingkuh, sih, tapi ... bukannya mami kamu sangat mencintai papi, ya?" Cinta? Adimas tersenyum miris. Di mana lagi letaknya cinta jika hanya kebencian yang sekarang Farah punya. Ya, sejak kejadian itu cinta Farah mungkin sudah mulai pudar begitupun dengan Alex. Walau begitu, Adimas bersyukur karena orang tuanya masih berteman baik. Mereka tak pernah bercerai. Semua permasalahan rumah tangga bisa mereka saja yang urus, lagi pula kedua orang tuanya tak membawa jalur hukum. "Dim?" Zahra menjentikkan ibu jari dan telunjuknya di depan muka Adimas. "Hm?" "Kamu kenapa bengong, sih? Udah ... nggak usah dipikirin." "Iya, Kak. Nggak lagi, kok." "Ya udah, minum yuk, daritadi dianggurin mulu." "Oke." Adimas meneguk jus lemonnya. Rasa segar langsung menyelinap masuk ke tenggorokan Adimas. Tak sengaja Zahra menapa Adimas yang sedang minum. Ada yang aneh, pikir Zahra. "Dim, kakak boleh tanya?" "Hm. Mau nanya apa, Kak?" "Kamu kan udah gede, tuh, kok jakun-jakunnya nggak keliatan juga, ya," ujar Zahra memperhatikan leher Adimas. "Ih, Kakak ngelihatin apaan, sih," ujar Adimas pura-pura tidak tahu saja. Ia segera menutupi lehernya. "Aneh, tapi biarlah, mungkin masih kecil kali, ya," ujar Zahra hanya bisa berpositif thingking. "I--iya, Kak." "Ya udah, Kakak masih ada satu mata kuliah lagi, nih. Kamu pulang duluan aja. Nggak pa-pa, kan?" "Iya, gak pa-pa, Kak. Terima kasih atas waktunya," ujar Adimas. "Sama-sama. Hati-hati bawa motornya, ya." "Iya, Kak." *** Sebelum pulang, Adimas mengisi bensin dulu di SPBU. Antrian cukup panjang. Ia harus menunggu dulu. Ah, sangat membosankan. Tiba-tiba sebuah motor hendak menyalip antreannya. Tentu Adimas tak membiarkan itu terjadi, ia sudah lama mengantre di sini. "Eh, eh, enak aja mau nyalip. Di belakang dong!" teriak Adimas. Cowok yang tanpa dosa menyalip itu menoleh ke belakang, mukanya masih tertutup helem. Alis cowok itu mengerut. Ia segera membuka helemnya. Damage cowok itu saat membuka helm membuat siapa saja terpesona. Apalagi jika dijadikan adegn slow motion. Semua histeris kecuali Adimas yang tampak biasa saja. "Eh, lo yang kemarin itu, kan? Yang ken--" Buru-buru Adimas menghidupkan klaksonnya kencang, agar cowok di depannya itu tak melanjutkan ucapannya. "Oh, lo ternyata. Emang nggak ada akhlak, udah sana pergi ngantre ke barisan paling belakang." "Nggak mau, lo pikir mudah gitu buat nyalip sampai sini?" Adimas mendengkus sembari memutar bola matanya malas. "Lo, ya!" "Apa, ha, apa?" Adimas hanya memasang muka masamnya. "Jadi cowok kok cerewet banget sih," ujar cowok yang tak lain adalah Razel. Lah, gue cewek woi!" batin Adimas ingin berteriak di depan cowok gak sabaran antre itu. Antrean semakin panjang. Mata Adimas dan Razel akhirnya memandang hal yang sama, yaitu orang yang mengantre paling depan. Sepasang kekasih sedang bemesraan. Peluk-pelukan di tempat ramai seperti ini. Sontak Adimas dan Razel bergidik ngeri dan merasa jijik karena keuwuuan yang sangat lebay itu. Namun, karena keasyikan memperhatikan orang lain, tanpa mereka sadari sudah ada motor yang menyalip di depan motor Razel. "Lah, gue juga disalip orang," ujar Razel yang membuat Adimas tertawa. "Mampus, rasain tuh," ujar Adimas. Sedangkan Razel hanya diam, tetapi ia merasa kenapa tawanya cowok itu tampak manis? Razel bergidik ngeri membayangkan jika ia terpesona dengan tawa seorang cowok. Padahal aslinya mah, cewek. Setelah mengisi bensin, Adimas melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Ia ingin segera pulang. "Eh tunggu dulu!" Sebuah suara menghentikan laju motor Adimas yang hendak jalan. "Kenapa?" "Udah beberapa kali kita ketemu, tapi gue belum tau nama lo." "Terus?" tanya Adimas cuek. "Ya kasih tau aja nama lo siapa, ribet banget," ucap Razel ketus. "Dih, kakau gue nggak mau gimana?" "Berarti lo kehilangan satu cogan yang seganteng gue." "Bodo amat." Razel merasa sifat cowok di depannya itu malah seperti perempuan. "Dih, PD banget, lo. Btw, nama gue Adimas. Panggil Dimas aja," ujar gadis itu dan langsung menjalankan motornya. "Jadi, namanya Adimas, ya? Yah, beneran cowok kalau gini, mah," ujar Razel kehilangan ekspetasinya yang mengatakan cowok itu adalah seorang gadis. "Tapi kenapa gue ngerasa dia cewek, ya?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN