Di sinilah mereka berada, di restoran bintang lima. Setelah pemotretan dadakan tadi, orang tua Arsya membawa kedua anak muda itu untuk makan malam.
Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Untung saja restoran ini tutupnya pukul 23.00 WIB.
Sampai saat ini Arsya masih belum mengerti apa yang terjadi pada malam ini. Semua terasa mendadak dan aneh baginya.
"Ma, Arsya masih gak paham."
"Aduh, kamu ini." Reni menghela napas pelan. "Begini ... Mama ceritain semuanya, ya. Pertama ... pemotretan. Tujuan Mama menjadikan kalian model adalah, karena Mama rasa kalian adalah pasangan yang cocok, lagi pula, Mama kan emang pengen kamu jadi artis, Sya," ujar Reni.
"Ya emangnya tuh pemotretan buat apaan, Ma?"
"Untuk iklan. Selain bisa menguntungkan Mama, ini juga menguntungkan untuk perusahaan Papa. Selain itu ... iklan ini akan dilombakan sebagai Pasangan Muda-mudi tercocok, yang diadakan oleh para desainer terkenal. Makanya baju yang kalian pakai sengaja Mama samakan. Itu juga bentuk promosi, hasil karya Mama. Paham nggak?"
"Paham gak paham, Ma," jawab Arsya kesal.
"Tapi ... Tante. Jika foto itu dipublikasikan, melibatkan identitas modelnya gak, Tan?" tanya Adimas takut. Bagaimana jika maminya melihat? Bisa tamat riwayat Adimas.
"Fotonya akan dipublikasikan, tapi identitas kalian tetap rahasia, tidak dicantumkan. Makanya ini alasan Tante juga lebih milih kamu, Dimas. Karena Tante tau anak Tante ini kan pacarnya banyak, kalau dia ngajak salah satu pacarnya yang cuma asalan gitu, malah beruntung dia nanti dipasangkan terus sama Arsya."
"Loh, Mama tau kalau pacar Arsya banyak?" tanya cowok itu.
"Ya taulah, emang selama ini Mama gak mantau kamu apa? Walau Mama tau yang bener-bener di hati kamu belom ada."
Arsya menepuk dahinya pelan, ternyata kebusukannya sudah diketahui oleh Reni.
"Untuk bayaran kalian karena udah mau berpartisipasi, walaupun gak dikasih tau terlebih dahulu. Biar jadi urusan Papa," ujar Toni buka suara.
"Nah ini, nih. Yang tadi itu nggak gratis, kan? Berapa bayarannya, Pa? Bisa beli mobil, nggak?" tanya Arsya yang malah melunjak.
"Tergantung, kalau kalian menang, bisa beli mobil-lah."
"Wah. Kabarin aja, Pa," ucap Arsya semangat.
"Ta, ini make up-nya udah boleh dihapus? Aku mau bersihin di toilet," ucap Adimas yang meras sudah risih, apalagi memakai gaun ini daritadi.
"Eh, jangan dihapus dulu, dong! Gue belum puas mandangin kecantikan lo," ujar Arsya to the point saja langsung menatap ke arah Adimas yang membuat pipi gadis itu memerah.
"Dih, apaan, sih, lo!"
"Ciee ... salting, ya? Bilang aja kali."
"Nggak, ya."
"Aduh, duh, kalian lucu banget. Mama berharap loh Adimas aja yang jadi mantu Mama," ujar Reni yang membuat keduanya terbatuk.
Toni yang melihat keduanya salting pun terkekeh.
"Maaf, Tan, tapi aku nggak mau yang modelan Arsya," tolak Adimas langsung.
"Dih, sok-sokan gak mau, entar kalau lo jatuh cinta sama gue, barabe lo, ketelan ludah sendiri."
"Bodo! Nggak akan juga."
"Lihat aja kalau lo sampai suka sama gue," ucap Arsya memeletkan lidahnya.
"Udah, kita pulang, yuk. Makasih ya, Adimas, udah mau bantuin Tante, maaf tadi nggak dikasih tau dulu, sengaja Tante buat mendadak gini biar kalian nggak bisa cari alasan buat nolak."
"Sama-sama, Tan."
"Ya udah, mari pulang!" ajak Toni. Semuanya bangkit dari duduk mereka dan segera keluar dari restoran.
***
Hari berganti sudah. Siang ini, Adimas terlambat bangun, karena ia kelelahan. Untung saja Maminya kemarin tidak di rumah, ia tidak ketahuan berpenampilan seperti perempuan.
Adimas melangkah ke dapur untuk sarapan. Namun, terdengar suara maminya yang sedang menelepon seseorang saat ia melintas di depan kamar Farah.
"Iya, Mas. Nanti kita ketemu, ya."
"..."
"Kamu tenang aja. Mas Alex lagi gak ada di sini, dia masih di luar negeri."
"..."
"Iya, nanti siang. Oke."
"..."
"Iya sama-sama. Bye ...."
Mendengar percakapan singkat itu langsung membuat perasaan Adimas tak karuan. Dengan siapa maminya berbicara? Siapa yang diteleponnya?
Kenapa maminya memanggil dengan sebutan 'MAS'?
Akibat keterkejutannya, Adimas masih berdiri mematung di depan kamar Farah, tanpa sadar ternyata maminya itu keluar kamar.
Farah pun dibuat terkejut menatap sudah ada Adimas di depan kamarnya. Apakah putrinya itu mendengar semua percakapannya?
"De, kamu ngapain di sini?"
Adimas terkejut. Ketahuan! Ia tertangkap basah sudah menguping. Gadis itu berbalik badan perlahan, menghadap ke maminya.
"Anu--tadi mau ke dapur, Mam."
"Ya udah, sana! Mami udah buatin sarapan."
"Iya, Mam."
Adimas melangkah ke depan hendak pergi ke dapur melanjutkan jalannya, tetapi kakinya tiba-tiba berhenti.
Apakah sebaiknya ia langsung tanya saja agar tidak terjadi kesalahpahaman? Daripada ia menuduh maminya yang tidak-tidak.
"Mam, tadi Mami nelepon siapa?" tanya Adimas tak ingin lari begitu saja. Hal ini harus jelas. Jika benar maminya selingkuh, ia harus tahu apa yang menjadi alasannya.
"Bukan urusan kamu."
"Tapi tadi aku denger Mami manggil dia Mas. Selingkuhan Mami, ha?"
"Jaga mulut kamu, De! Mami nggak pernah selingkuh! Papi kamu aja yang sering nambah istri!" ujar Farah dengan intonasi tinggi.
"Lalu, Mami ingin membalasnya?"
"Bukan! Mami nggak selingkuh, kamu masih kecil, jangan ikut campur."
Farah pun hendak berbalik badan, tetapi lengannya ditahan oleh Adimas.
"Mam, kalau Mami selingkuh, bilang aja. Aku ingin tau alasannya apa," ujar Adimas lembut.
"Sudah Mami bilang. Mami tidak selingkuh! Dia cuma rekan kerja Mami. Udah, nggak lebih. Kamu nggak percaya sama Mami? Makanya jangan kebiasaan nguping kalau nggak tau aslinya gimana."
"Ya, aku percaya," ucap Adimas melepaskan tangannya dari lengan Farah. Adimas memilih langsung saja ke dapur.
Ia memilih lari, karena tak ingin memperpanjang masalah yang tak pasti.
Melihat Adimas yang sudah pergi, Farah bernapas lega. "Belum saatnya kamu tau, Sayang," ucap Farah. Ia merasa bersalah karena sudah membohongi anak semata wayangnya itu.
"Mami janji akan selalu bahagiakan kamu. Mami gak akan ngekang kamu lagi, tapi tunggu sampai waktunya tepat saja ya, Nak."
Setelah mengucapkan itu, Farah beranjak pergi. Ia harus ke kantor hari ini.
Di dapur, Adimas menangis. Air matanya keluar begitu saja. Inilah sisi rapuhnya seorang wanita.
"Kalau Mami beneran selingkuh, berarti emang gak ada harapan lagi untuk Mami dan Papi balikan lagi?" ujar Adimas. Walaupun selama ini hubungan orang tuanya baik-baik saja walau tinggal tak seatap, akan tetapi jika keduanya sudah memilih jalannya masing-masing. Bagaimana dengan Adimas?
Bagaimanapun Adimas masih punya harapan tinggal bersama orang tuanya lengkap. Walaupun istri papinya itu banyak, setidaknya mereka hidup damai.
"Aku janji, aku akan mempersatukan keluargaku, nggak masalah punya banyak ibu tiri, toh, ibu tiriku semuanya baik."
Adimas menghapus air matanya. Ia lalu menghubungi Zahra---Kakak tertuanya untuk berbicara.
"Halo, Kak, bisa ketemuan nanti sore? Di kafe tempat biasa aja, yang di depan kampus Kakak."
"Oke, boleh Dimas."
"Makasih, Kak. Sampai jumpa nanti ...."
Apa yang akan mereka bicarakan?