"Kenapa? Gue terlalu cakep, ya?" ujar Adimas malah kepedean.
Arsya segera mendekati sahabatnya itu, melihat lebih jelas. Tangan Arsya menangkup pipi Adimas, menghadapkan muka gadis itu menatap penuh ke arahnya.
"De ... ini beneran lo, kan?"
"Iya. Emang lo pikir gue siapa?"
"Kok lo bisa cantik gini," puji Arsya refleks, yang membuat Adimas salah tingkah, ia segera melepaskan tangan Arsya.
"Ciee, kalian kok bajunya bisa serasi gitu, ya?" goda Reni menatap kedua sejoli itu memakai baju dengan warna yang sama.
Keduanya dibuat salah tingkah. Arsya menggaruk tengkuhnya yang tak gatal, sedangkan Adimas menekankan tumit heelsnya ke lantai.
Aksi salah tingkah itu langsung teralih saat melihat Toni---Papa Arsya---masuk ke dalam rumah.
"Wah, ternyata semua sudah siap, ya."
"Mas, lihat, deh, mereka cocok banget, kan?" tanya Reni menghampiri suaminya.
Toni sedikit terkejut menatap Adimas yang berubah total. Tadi istrinya itu mengabari jika ia akan membawa Adimas saja, makanya Toni bisa menebak gadis yang berdiri di sebelah Arsya adalah sahabat putranya yang tomboi itu.
Ternyata Adimas memanglah seorang gadis.
"Kalian cocok sekali. Sudah seperti sepasang kekasih," goda Toni, Reni pun mengangguk mengiyakan.
"Oh, iya, dong, Pa. Kami, mah, emang udah cocok dari zigot," ujar Arsya hendak merangkul pundak Adimas, tetapi langsung ditepis oleh gadis itu.
"Apaan, sih," dengkus Adimas.
"Udah, ayo langsung berangkat aja!" ajak Toni.
Mereka pun langsung keluar rumah. Adimas kesusahan berjalan, melihat Adimas yang tertatih, Arsya pun berinisiatif menggandengnya. Cowok itu menyodorkan lengannya pada Adimas.
Gadis itu yang tak mengerti hanya mengerutkan kening.
"Sini, gandengan. Lo pasti susah jalan, kan?"
Adimas seger mengalungkan tangannya ke lengan Arsya. Mereka pun akhirnya berjalan beriringan. Reni yang memperhatikan keduanya diam-diam tersenyum pelan.
"Kenapa mereka nggak pacaran aja, sih?" tanya Reni bermonolog. Padahal jika Arsya mencari yang cantik, tidak perlu jauh-jauh. Cantik fisik dan cantik akhlak itu adalah sesuatu yang didambakan. Harusnya Arsya lebih peka.
"Aduh, kebanyakan halu ya aku," ujar Reni yang kalut dengan pemikirannya sendiri.
Semuanya sudah masuk di mobil Toni dan perjalanan pun dimulai.
***
"Sudah sampai," ujar Toni memarkirkan mobilnya.
Alis Arsya bertaut. "Ini kondangan apaan di tempat kosong ini, Ma?" tanya Arsya menatap ke sekitarnya.
"Turun aja dulu, yuk!" ajak Reni.
Mereka langsung turun dari masing-masing pintu mobil. Arsya menatap sekitar, hanya ada perpohonan dan lapangan dipenuhi pasir di sini. Tidak ada tenda atau semacamnya yang menggambarkan pesta.
"Tan, kita gak jadi kondangan?" tanya Adimas pula.
"Aduh, kenapa kalian berdua polos banget, sih?"
Keduanya hanya diam tak mengerti. Apa maksudnya?
"Mama cuma boong bilang ajakin kalian ke kondangan."
"HAH?" Kaget keduanya dengan mata terbuka lebar.
"Haha, kalian lucu banget. Ini adalah tempat pemotretan hari ini!" ujar Reni mulai memanggil para pekerjanya.
"De, ini maksudnya apaan, ya?" tanya Arsya tak mengerti.
"Lah, apa kabar sama gue, Sya! Gue juga nggak paham kali."
"Biar kalian nggak bingung, sini Mama ceritain." Reni mengajak keduanya duduk di bangku panjang yang ada di situ.
"Sebenarnya, ini bukan acara kondangan atau semacamnya, tapi ini adalah tempat pemotretan kalian untuk iklan! Yeyyy!" teriak Reni bersorak ramai, sedangkan dua orang yang menjadi incarannya itu sudah berusaha kabur.
"Tapi emangnya pemotretan buat apa, Ma?"
"Untuk iklan perusahaan papa kamu aja."
Arsya lagi-lagi dibuat tercengang. Kenapa mendadak begini? Sedangkan Adimas jangan ditanya, dahinya penuh dengan kerutan, karena ia masih tak paham.
"Maksudnya apa ya, Tan? Kok aku masih ga paham."
"Aduh, singkat saja, ya. Kalian berdua itu ... Tante jadikan artis dadakan untuk pembuatan iklan kalian. Seperti ambasador gitu, loh."
"Oh, oke. Terserah Mama aja, mau ngelawan entar dikira anak durhaka pula," ucap Arsya tak mau ribet.
"Oke, Mama tanya jam berapa kalian pemotretan dulu."
"Iya, Ma."
***
Di lain sisi, tampak Niri yang sedang mengendap-endap masuk ke kamarnya agar tidak diketahui Lulun.
Namun, sayang sekali, langkah kaki Niri terdengar oleh Lulun.
"Mau ke mana? Pijitin gue dong! Yang enak!" suruh Lulun.
Akhirnya Niri kembali duduk di sofa untuk memijatkan Lulun. yang sudah hampir tertidur.
Niri terpaksa harus kembali mengurutkan badan Lulun yang sudah letih sekali.
Padahal Niri sangatlah kelelahan, tetapi Lulun tidak akan peduli dengan itu.
"Udah, kan?"
"Eh, masih ada!"
Mau tak mau Niri harus kembali pada pekerjaannya menjadi tukang urut pribadi Lulun.
Tiba-tiba Niri terbayang kejadian saat itu di mana ia berada di jalanan dengan perut yang kelaparan. Daripada memikirkan itu, lebih baik ia berada di sini.
Dengkuran halus Lulun sudah terdengar. Akhirnya ... Niri bisa terbebas. Ia langsung keluar dari kamar Lulun.
"Niri ... mau jadi sahabatku?" ucap Lulun dengan mata sudah terpejam. Oh, apakah ia sudah masuk ke dalam mimpi?
Niri ternyata mendengar itu saat ia hendak membuka pintu. Segera ia berlarian ke kamarnya dan mengunci pintu.
"Mustahil lo mau temenan sama gue, Lun," ujar Niri menatap pantulan wajahnya di cermin.
Ada apa memangnya di antara mereka berdua? Apakah sudah pernah terjadi sesuatu sebelumnya?
Lalu, kenapa Lulun sangat membenci Niri? Sedangkan Niri terus menurut karena tak bisa menolak. Ada apakah dalam keluarga ini?
***
"Oke ... ganti gaya!" suruh sang kameramen.
Arsya dan Adimas mulai pemotretan. Padahal hari sudah malam, kenapa Reni malah memilih tempat seperti ini? Ya, memang benar ada banyak lampu, tetapi malamnya kenapa harus di tempat yang gelap ini?
Adimas merasa salah tingkah terus karena harus berpose romantis dengan Arsya, belum lagi cowok itu menamah matanya dengan tatapan teduh.
"Sekarang ... coba kalian pelukan, deh!"
Wah, sang kameramen ternyata bisa membaca situasi. Reni memberikan jempolnya.
"Nggak, ah. Gue males pelukan sama lo!" tolak Adimas bergidik ngeri.
"Lah, dulu juga lo sering peluk-peluk gue, De!"
"Ih, kapaaan? Nggak ada, ya. Jangan ngarang!" kesal Adimas.
"Loh, apa yang gue bilang beneran kok. Lo pernah tiba-tiba udah di kamar gue tidur sambil meluk gue!"
"Emang di kamar siapa?" tanyanya santai.
"Di kamar siapa? Ya di kamar guelah!"
"Hadeh, jago amat lo ngarang. Gue aja gak pernah masuk kamar lo," ucap Adimas mengelak, padahal dulu memang benar ia sering masuk kamar Arsya dan memeluk pria itu.
"Hei! Ini gimana? Jadi mau pelukan gak kalian? Seperti kakak-adekan saja. Peluk dari samping!"
Mendengar itu Arsya segera merangkul pundak gadis itu.
"Nggak gitu juga!"
Reni turun tangan, ia pun mengatur posisi dan jarak pada Adimas dan Arsya sampai khirnya mereka berhadapan satu sama lain. Tangan Arsya melingkar di pinggang Adimas.
"Oke, tatapan dulu ya selama 15 detik. Satu ... dua ... tiga!"
Cekrek.
Namun, tatapan mereka berlanjut sampai tiga menit kemudian.