Bab 12

1315 Kata
“Alvar, kok kamu bisa bareng sama Alana?” seloroh Diaz saat membuka pintu dan melihat Alvar membawa Alana ke rumahnya kembali. “Kenapa nyuruh Alvar beliin bakso yang pedes?! Lupa rasanya sakit pas di rumah sakit? Makan nggak enak, tidur nggak enak,” cerocos Alana. Dia kesal karena Diaz sulit dinasehati walaupun kesehatannya belum pulih. Diaz tak menjawab ucapan Alana seketika, dia berjalan dan duduk di sofa ruang tamu. Meratapi nasibnya yang tak bebas menyantap berbagai makanan. “Aku pengen makan yang enak, bosen makan nggak ada rasa.” “Diaz.. Diaz, Kesehatan itu lebih penting dari apapun. Masih banyak makanan lezat tapi aman untuk kesehatan, contohnya ikan, gandum dan lainnya,” ungkap Alana bijak. Diaz menghela napas berat. “Kamu ngomong karena nggak ngalamin Alana. Percuma juga jaga pola hidup tapi ujung-ujungnya bisa sakit, mending makan bebas yang penting bahagia,” Diaz mulai emosi karena terbayang penyakit leukimianya yang mendadak dia sadari. “Kok ngomongnya gitu sih? Pokoknya kamu nggak boleh makan sembarangan. Aku nggak mau ya disalahin Bu Maria karena dianggap nggak becus rawat kamu,” pinta Alana tegas. DEG!! Hati Diaz bergetar mendengar ucapan Alana, walaupun baru mengenal Alana tetapi hatinya tenang setiap mendengar ucapan Alana. Bahkan Diaz tak melawan perkataan Alana dengan ucapannya yang kasar. Oh Tuhan... Apakah Diaz sudah jatuh cinta pada Alana? Namun, apakah mungkin cinta datang secepat itu? “Dengerin tuh Bro, harusnya bersyukur bisa diperhatiin cewek cantik kaya Alana. Nggak pernah kan di perhatiin sama cewek. Makanya, move on dong.” Alvar malah berucap seolah menyalahkan Diaz yang tak tahu terima kasih, tentunya ucapan Alvar membuat Alana terlonjak kaget. “Move on? Emangnya Diaz tengah patah hati?” tanya Alana penasaran. “Heee... tanyain sendiri tuh sama orangnya.” Alvar malah memberikan teka-teki pada Alana, dia asyik memainkan ponselnya seraya menyeruput es jeruk di hadapannya. “Beneran kamu lagi patah hati? Bukannya Alvar bilang kamu nggak pernah pacaran.” Alana mencoba mengintrogasi Diaz, namun Diaz berkilah. “Ngaco tuh anak, nggak usah didengerin. Oya, kamu tapi beli baksonya kan?” tanya Diaz mengalihkan pembicaraan. Alana menghela napas. Dia kemudian mengeluarkan 2 bungkus bakso untuk Diaz dan Alvar. “Nih buat kamu sama Alvar ya,” jelasnya lembut. “Buat kamu mana?” tanya Diaz. Alana mengulum senyum. “Aku udah kenyang. Kalau gitu, aku pulang dulu ya,” pamitnya seraya menyampirkan tasnya di bahu. “Biar aku anterin ya,” tawar Diaz mengulum senyum. “Ogah! Kalau kamu nganterin aku, bisa jadi aku balik nganterin kamu ke rumah sakit. Udah ah, makan baksonya tanpa sambal terus istirahat,” pinta Alana menatap Diaz tajam. “Iya bawel,” sahut Diaz cepat. “Ciye.... diperhatiin sama suster pribadi nih. Kayaknya enak deh walaupun sakit selamanya,” ledek Alvar seraya terkekeh. Seketika, Diaz menghentakkan bahu Alvar keras. Membuat Alvar maupun Alana terlonjak kaget, mengapa Diaz mendadak marah saat mendengar ledekan Alvar? Hal tersebut membuat Alvar bingung. Tak biasanya Diaz marah mendengar celotehnya yang sadis maupun merayu.  “Jangan jadikan penyakit sebagai lelucon. Aku nggak suka ya, bercandanya nggak lucu.” Ungkap Diaz murka, Diaz memilih naik ke lantai atas dan tak menghabiskan baksonya. Dia tersinggung dengan lelucon Alvar karena penyakit yang diidapnya. “Diaz kesambet setan mana si?” tanya Alvar heran. “Rumah sakit mungkin,” sahut Alana sekenanya. Alvar hanya menelan ludah menanggapi sahutan Alana. Dia merasa sikap Diaz maupun Alana tak jauh berbeda, 2 manusia itu terkadang tampak baik. Namun, bisa saja berubah menjadi manusia dingin dan angkuh detik berikutnya. “Ya udah, aku pulang dulu ya. Ada janji penting.” Alana segera melangkah pergi keluar. Sementara Alvar tampak bingung apa yang terjadi pada Diaz. *** Malam harinya, Alana bahagia menikmati santapan makan malam bersama sang Mama. Alana menatap meja makan berbentuk Oval, tampak aneka hidangan lezat memenuhi meja. Diantaranya ayam bakar, telur balado dan menu lezat lainnya. “Ma, kenapa si Mama masaknya banyak banget gini?” tanya Alana di sela-sela suapan terakhirnya. “Mama sengaja masakin spesial buat kamu sayang. Mama lakukan sebagai perminta maafan Mama udah ninggalin kamu beberapa hari.”  Alana mengulum senyum. “Aku nggak papa kok Ma. Mana mungkin putri Mama yang cantik jelita ini kesepian, walaupun Mama sibuk tapi banyak sahabatku yang setia nemani aku,” sahutnya tersenyum manis. “Oh ya? Apa sahabat spesial sudah ada juga?” tanya Bu Rista antusias. Alana tak bergeming, dia tahu maksud perkataan sang mama adalah sang kekasih. Sama seperti Vita dan keyla, sang mama juga menantikan Alana membuka hatinya untuk cinta. Walaupun cinta pernah menyakiti Alana, tetapi orang terdekat Alana yakin masa depan Alana lebih indah dengan cinta. “Gimana sayang, kok pertanyaan Mama nggak di jawab,” Bu Rista menunggu jawaban Alana. Tetapi Alana malah terkekeh. “Mama tunggu tanggal mainnya aja deh. Yang terpenting, Mama doain yang terbaik buat ya,” sahut Alana akhirnya. Bu Rista mengangguk. Dia tampak berpikir mencari obrolan selanjutnya. “Oh ya, kuliah kamu gimana nak?” “Seperti biasa Ma. Baik-baik aja kok,” sahut Alana ringkas. “Kamu nggak buat onar lagi kan?” Bu Rista menatap sang putri penuh selidik. Dia tak ingin putrinya selalu membuat masalah di kampus. “Tadinya sih Ma, tapi gara-gara Diaz kekuasaanku jadi sirna. Padahal itu alasan aku betah di kampus,” kesal Alana. “Diaz? Diaz siapa?” Alana menghela nafas kasar. Rasanya, malas menceritakan sosok Diaz pada sang mama. Walaupun dia sudah tak bermusuhan dengan Diaz, namun lebih bahagia menceritakan sosok Brian pada sang mama. Sayangnya, hubungannya dengan Brian belum ada kepastian. “Alana,” panggil Bu Rista sekali lagi. Alana tersadar dari lamunannya, kemudian mengulum senyum. “Diaz temen kuliah Ma. Tapi nggak penting kok. Habisin waktu kalau bahas dia,” elaknya cepat. “Ya sudah, kamu tidur gih,” pinta Bu Rista setelah sajian Alana habis. Sementara dia menumpuk piring kotor dan bergegas ke dapur. “Ma, aku keluar bentar ya. Ada urusan,” pamit Alana buru-buru.  “Kemana Nak?” tanya Bu Rista khawatir. “Bentar Ma.” Alana langsung mengambil kunci motor yang digantungkan di paku pada tembok. Sementara Bu Rista hanya memandang sang puri yang menghilang di balik tembok, sudah menjadi kebiasaan Alana keluar malam. Entah Alana pergi kemana karena Alana tak pernah menceritakannya, yang pasti perasaan Bu Rista selalu was-was setiap Alana keluar malam menggunakan motor. “Ya Allah, jagalah putri hamba sampai dia pulang.” Bu Rista was-was, dia berdoa penuh harap. *** “Diaz... I miss you... Aku kangen banget sama kamu.” Vanes berlari menghampiri Diaz yang masuk ke kantin. “Kamu udah sembuh kan?! Emang ya, Alana itu biang masalah,” lanjutnya kesal seraya melirik Alana yang duduk tak jauh dari mereka. “Bukan salah Alana kok,” sahut Diaz enteng. Vanes menghela napas berat, lalu memberikan kado untuk Diaz. “Ini buat kamu, semoga kamu cepet sembuh ya. Kamu itu hero di kampus ini. So, kita nggak mau kamu terluka atau sakit.” “Aku bukan siapa-siapa kok.” “Nggak usah merendah Diaz. Kamu itu berhasil matahin keonaran Alana dan gengnya, kalau kamu nggak ada maka kita semua masih ditindas sama mereka,” ungkap Vanes, membuat Alana emosi. Sementara itu, Alana hendak menghampiri Vanes. Namun Vita dan Keyla melarang Alana menghampiri Vanes. Sikap Alana bisa memicu permasalahan dan Alana bisa terkena sanksi dari dosen. Atau bahkan, Bu Maria bisa shock dan memberikan hukuman berat untuk Alana. “Stop Alana. Tahan emosi kamu, aku nggak mau kita dapat masalah lagi,” ucap Vita menenangkan Alana. “Tapi ucapan Vanes keterlaluan!” Alana masih emosi, dia tak terima Vanes mengumpat tentang dirinya. “Iya sih, tapi kamu liat Diaz dong. Dia baru mendingan, kalau kamu kesana dan emosi pasti terjadi pertengkaran,” asumsi Keyla. Dia kasihan karena Diaz masih sakit dari wajahnya yang masih pucat. “Oke, tapi nggak berlaku di lain hari,” Alana akhirnya mengalah. Namun ini kesempatan terakhir dia berdiam diri diejek Vanes. “Iya,” sahut Vita dan Keyla serentak. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN