Bab 14

1541 Kata
Diaz berjalan mendahulu Alana duduk di salah satu bangku warung Padang. Senyum Diaz mengembang karena bisa menikmati kelezatan menu Padang di Jalan Sedayu yang menjadi tempat favorit Diaz menyantap makanan. “Kamu kayaknya seneng banget mau makan nasi Padang doang,” ucap Alana heran melihat sikap Diaz. Dia duduk berhadapan dengan Diaz dan mengambil tisu di atas meja untuk mengusap keringat di keningnya. “Ini warung favoritku. Sesibuk-sibuknya, aku selalu nyempetin makan disini,” sahut Diaz berbinar-binar. Alana hanya menganggukan kepala, sementara sang pelayan perempuan menghampiri meja Diaz seraya tersenyum ramah. “Permisi Kakak. Kak Diaz mau pesen apa ya?” tanya sang pelayan ramah. “Aku pesen nasi pake ayam bakar ya. Inget ya, yang pedes,” titah Diaz cepat. “Jangan Mbak! Makanan Diaz jangan pedes,” sanggah Alana. Dia tak ingin Diaz sakit lagi karena menyantap makanan pedas. “Alana, kalau nggak makan pedes kaya nggak makan dong. Boleh ya, sekali ini aja deh,” pinta Diaz memelas. “No,” sahut Alana tegas. Sang pelayan tersenyum menyaksikan perdebatan Alana dan Diaz. Bahkan mengira mereka adalah sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta. “Akhirnya Kak Diaz punya pasangan juga ya. Cantik banget lagi.” “Aku bukan kekasihnya Mbak,” sangkal Alana tak terima. Sang pelayan menghela napas panjang, lalu memandang Alana. “Kalau Mbak, mau pesan apa?” tanyanya ramah. “Aku nasi pake ati ampela ya. Sambalnya yang banyak, minumnya es teh manis satu dan teh manis hangat satu,” titah Alana pelan. “Baik Kak. Mohon ditunggu sebentar ya.” Setelah mengulum senyum pada Alana dan Diaz, sang pelayan kembali ke dapur. Kini giliran Diaz mantap Alana. Tatapan elangnya berhasil menyentuh relung hati Alana, namun gadis itu berusaha tenang walaupun debaran jantungnya semakin kencang. Sepanjang usia remajanya tak pernah dipandang seorang laki-laki. Hanya laki-laki di masa lalu yang memandang Alana penuh cinta, sayangnya dia entah menghilang kemana. “Kenapa pesan seenaknya saja? Aku yang milih warung makan. Kenapa jadi kamu yang atur menu,” ucap Diaz tak terima karena Alana memesan menu pedas untuk dirinya sendiri.  “Karena aku punya tanggung jawab. Kalau kita pergi bersama, kamu harus mengikuti semua perintahku. Kalau melawan, aku bisa lebih keras,” sahut Alana tegas. Tatapannya menukik membuat Diaz mendengus sebal. “Tapi nggak seharusnya kamu berkuasa. Buat apa aku makan tanpa sambal, tanpa es dan makanan lezat lainnya?” Diaz merasa frustasi karena Alana melarang rasa makanan favoritnya, padahal menyantap makanan lezat itu membuat semangatnya bertambah. “Enakan mana makan pedes sama tidur di rumah sakit? Kamu kangen makanan rumah sakit dan rasanya tidur disana?” Alana malah menantang Diaz, meminta Diaz membandingkan suasana rumah sakit. “Emang nggak ada habisnya ya ngomong sama kamu. Percuma,” Diaz akhirnya pasrah. Dia memilih memperhatikan sang pelayan menuju meja seraya membawa makanan dalam nampan. “Silahkan di nikmati Kak,” ucap sang pelayan meletakkan makanan dan minuman diatas meja. Diaz mengulum senyum. “Makasih ya,” sahutnya ramah.  “Sama-sama Kak.” Sang pelayan menoleh ke arah Alana seraya meletakkan pesanan Alana, kemudian berlalu. “Ayo makan, jangan diliatin aja,” perintah Alana seraya menyendokkan nasi ke mulutnya. Diaz menghela napas kesal. “Iya bawel,” sahutnya lalu mengunyah makanan yang hambar. Tanpa rasa pedas yang menjadi favoritnya saat makan. “Eh, pulang yuk. Aku ada urusan lain nih,” ucap Alana setelah menu di hadapannya habis. Dia mengambil es teh di hadapannya, menyeruputnya sampai tandas. Membiarkan Diaz memperhatikannya minum es teh penuh penghayatan karena cuaca masih terik. “Dasar. Tega,” kesal Diaz lalu berjalan menghampiri sang pelayan untuk membayar pesanan. Alana hanya terkekeh melihat sikap Diaz. Dia bahagia bisa ngerjain Diaz, bahkan hati Alana sampai berbunga-bunga karena berhasil membuat Diaz kesal. Hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri buat Alana. “Ayo pulang,” ajak Diaz saat kembali ke meja Alana. Dia berjalan lebih dulu menuju parkiran. “Kamu anterin aku ke rumah Vita aja ya. Aku ada urusan di sana,” perintah Alana seraya mengenakkan helm. “Iya,” sahut Diaz cepat. Kemudian naik motornya dan memainkan gas. Kebiasaan Diaz tersebut membuat karismatiknya semakin terpancar.  “Oya, thanks ya buat traktirannya,” ucap Alana berterima kasih. “Sama-sama,” sahut Diaz lembut. Kemudian menancap gas dengan kecepatan tinggi. Diam-diman senyuman manis menyungging di bibir mungil Alana. Perlahan tapi pasti, Alana melingkarkan lengannya di punggung Diaz saat Diaz mengerem mendadak karena ada kucing yang melintas. “Ya Tuhan, kenapa berada dengan jarak terlalu dekat buat jantung aku deg-degan ya.” Batin Alana. Sama seperti Alana, Diaz pun menyunggingkan senyumannya melihat lengan Alana melekat di pinggangnya. Jujur, kejadian ini membuat semangat Diaz kembali menggebu-gebu. Semangat yang selama ini sirna karena rasa bersalahnya pada sang tambatan hati di masa lalu. Oh Tuhan... Apakah Diaz telah mencintai Alana? Namun, apakah gadis itu akan menerima cinta Diaz saat mengetahui umur Diaz tak lama lagi? *** “Aku langsung pulang ya,” ucap Diaz cepat setelah menghentikan motornya di halaman rumah Vita. Dia sengaja berpamitan karena kepalanya mendadak pusing, sebelum Alana mengetahuinya harus pergi. “Eh, mampir dulu dong,” pinta Alana tak enak hati karena Diaz langsung pulang. “Nggak usah. Aku juga ada cara nih, bye... sampai ketemu lagi.” Diaz langsung menancap gas meninggalkan rumah Vita. Walaupun kepalanya berputar-putar, dia berusaha menahannya. Tak lama berselang, Vita dan Keyla menghampiri Alana. Vita merangkul Alana seraya mencubit gemas pipi Alana. Alana pun kesal karena kedua sahabatnya malah menyerahkannya pergi bersama Diaz. Padahal sudah jelas janjian pergi dengan Brian. “Nggak usah ledek. Kalian tega,” ketus Alana melipatkan tangan di d**a. “Cie cie yang galau suka 2 cowok sekaligus. Tapi hebat sih, pertama kali jatuh cinta langsung 2,” ungkap Keyla bangga dengan prestasi asmara Alana. Alana mendengus kesal. “Siapa juga yang jatuh cinta sama Diaz! Aku itu sukanya sama Brian. Tapi kalian malah deketin aku sama mereka. Maksudnya apa coba?” “Ya kan biar kanan kiri oke Alana sayang,” ucap Vita terkekeh. “Udahlah. Kita janji kan ketemu Kak Brian?” tanya Alana berbunga-bunga. Vita dan Keyla tak menjawab pertanyaan Alana, mereka saling berpandangan dengan raut wajah sedih. Tentunya ekspresi kedua sahabatnya membuat Alana penasaran. “Apa ada masalah?” tanya Alana akhirnya. “Kak Brian lagi ke luar kota selama satu minggu. Dia diminta orang tuanya karena ada hal penting,” sahut Keyla sedih. “Arghhh.... ini semua gara-gara kalian. Diaz itu di rumah terus, tapi kalian malah buat dia jalan sama aku. Sedangkan Kak Brian lagi ke luar kota, dan aku nggak bisa ketemu Kak Brian,” sahut Alana kecewa dengan kedua sahabatnya. Vita memegang punggung Alana. “Sorry. Kita awalnya nggak tahu Kak Brian mau ke luar kota, makanya kita minta kamu temani Diaz dulu.” “Yaudahlah, mau gimana lagi. Yang penting aku masih bisa kontekan sama Kak Brian, ayuk masuk.” Alana akhirnya mengulum senyum dan merangkul Vita dan Keyla masuk. *** Di rumah Diaz, Diaz langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk. Dia memejamkan matanya beberapa detik untuk mengusir sakit kepalanya yang teramat, namun darah segar keluar dari hidungnya. Diaz akhirnya bangkit, meraih tisu yang terletak di atas meja dekat tempat tidur.  “Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir?” tanya Diaz pilu. “Akhirnya pulang juga,” ucap Alvar lantang menerobos masuk ke kamar Diaz. Sontak membuat Diaz terkejut. Alvar menajamkan pandangannya, dia menghampiri Diaz. Tatapannya menatap area bibir Diaz yang seperti telah mimisan. “Kamu mimisan lagi,” tebaknya cepat. Diaz terperangah kaget. “Enggak kok! Emangnya aku cowok penyakitan yang lemah sampai mimisan terus,” elaknya. “Ya kirain, soalnya kaya ada bekas darah di bibir kamu,” tunjuk Alvar. Diaz terkekeh. “Ngaco kamu.” Alvar duduk di tepi ranjang, dia tersenyum sendiri melihat Diaz yang tampak canggung. “Tadi jalan-jalan kemana aja sama Alana?” tanyanya dengan nada menggoda. “Kok tahu sih aku jalan sama dia?” Diaz malah balik bertanya karena heran sepupunya bisa mengetahui acaranya dengan Alana. “Apa sih yang nggak tahu oleh Edward Cullen versi Indonesia,” bangga Alvar seraya merapikan jambulnya. Diaz menghela napas berat. “Biasa aja sih. Cuma kebut-kebutan dan makan nasi Pandang,” jawabnya santai. “What? Ada kesempatan jalan sama cewek cantik tapi cuma diajak kebut-kebutan dan makan nasi Padang. Terlalu!” Alvar shock mendengar pengakuan Diaz yang mengabaikan kebersamaan dengan Alana. Padahal banyak kaum Adam menginginkan dekat dengan Alana namun selalu ditolak.  “Eh, aku sama Alana Cuma teman. So, nggak usah sok kaget gitu,” ketus Diaz. “Iya sih, tapi Alana itu cewek yang cantik dan smart. Bahkan kamu termasuk cowok beruntung bisa dekat dengan Alana. Semua cowok dibuat nangis Alana karena nggak bisa deketin dia, tapi kamu malah nyuekin,” jujur Alvar membuat Diaz berpikir keras. Diaz menajamkan pikirannya tentang Alana, apalagi selama ini dia sering mendengar sosok Alana dari sang mama. Diaz merasa Alana memiliki masa lalu kelam sehingga pribadinya sulit di tebak. Apakah Alana memiliki masa lalu cinta kelam seperti dirinya? “Apa lagi yang kamu tahu tentang dia?” tanya Diaz mulai penasaran dengan sosok Alana. “Menurut pantauan aku sih, dia patah hati. Kayaknya dia sama kayak kamu, patah hati dan nggak bisa move on. Jadilah pribadi yang aneh dan susah diatur,” ledek Alvar. “Aku jadi penasaran kejadian sebenarnya,” pikir Diaz akhirnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN