Dia "Kekasih Hatiku"

1988 Kata
Raphael POV "Apakah kamu tahu apa artinya ini, Raphael?" Aku melihat ke arah jendela, menatap gedung tinggi bercahayakan malam,kemudian menatap pria itu dengan tatapan tajam. "Aku akan mengambil alih perusahaan itu apakah Edward suka atau tidak." Aku berdiri, Antoni dan Brian perlahan mengikuti.Pertemuan itu cukup menyenangkan, tetapi sudah terlalu lama. Berjabat tangan dengan orang-orang yang berkumpul di ruangan itu dan menuju ke pintu. Aku melepaskan dasi dan membuka kancing kemeja hitamku. Duduk di jok belakang mobil, menikmati keheningan dan kesejukan AC. "Rumah," perintahku pada pengemudi, melihat pesan-pesan di ponselku yang sebagian besar terkait bisnis, tetapi satu dari Areta. “Aku sudah menginginkanmu,aku menanti hukumanku” Sesuatu sudah keras dibawah sana, aku menghela nafas, ku sentuh dan meremasnya keras. Wanita ini selalu tahu suasana hatiku, dia tahu pertemuan ini tidak akan menyenangkan, dan akan membuat diriku lelah. “Bersiaplah jam delapan” Ku balas pesannya dan duduk kembali dengan nyaman, mengamati di luar jendela cahaya malam dan gedung-gedung tinggi berlalu begitu saja. Aku memejamkan mata. Aku terbangun, memimpikan wanita itu lagi, aku bisa gila jika tidak menemukannya. Sudah lima tahun sejak kecelakan itu. Lima tahun memimpikan seorang wanita yang belum pernah ku lihat dalam kehidupan nyata. Tetapi bertemu dalam penglihatan saat aku terbaring koma. Aku hampir bisa mencium rambutnya, merasakan kehalusan kulitnya, aku hampir bisa merasakannya. Setiap kali bercinta dengan Areta atau wanita lain, saya merasakan bercinta dengannya. Aku menamainya kekasih hatiku. Mobil berhenti. Aku melangkah keluar, Antoni dan Brian sudah menunggu di landasan. Saya menyapa pilot ketika saya memasuki pesawat dan duduk di kursi empuk. Seorang pramugari memberikan saya segelas wiski dengan satu es batu. Aku meliriknya. Dia tahu seleraku. Aku mengiriminya tatapan kosong, sementara dia tersipu dan tersenyum genit. Saya berpikir sejenak, dan berdiri meraih tangan pramugari itu, dia terkejut saat ku menariknya menuju bagian pribadi jet itu. "Lepas landas!" perintahku ke pilot, kemudian menutup pintu mengunci gadis itu. Kukalungkan tangan di lehernya dan mendorong ke dinding. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, membiarkan mulut kami bersentuhan, dan menggigit bibir bawahnya. Dia mengerang. Lengannya tergantung lemas di sepanjang tubuhnya dan dia menatap lurus ke mataku. Aku mencengkeram rambutnya. Matanya terpejam dan dia mengerang lagi. Cantik sekali, aku meminta semua karyawan untuk menjadi estetis. "Berlutut" geramku, mendorongnya ke bawah. Dia melakukan apa yang diperintahkan tanpa ragu-ragu. Aku mendengkur, memuji kepatuhannya, dan mengacungkan ibu jari di bibirnya. Aku bahkan belum pernah berbicara dengan gadis ini sebelumnya, tetapi dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dengan lembut aku mendorong kepalanya ke dinding dan membuka resleting celanaku. Ia menelan ludah dengan keras, matanya yang besar masih menatap mataku. "Pejamkan matamu," kataku lembut, ibu jariku bergerak di kelopak matanya. Sesuatu timbul dari balik resleting, sekeras batu, kaku hampir menyakitkan. Menempel di bibir gadis itu, dan dia dengan patuh membuka mulutnya lebar. Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pikirku, lalu mendorong lagi penisku ke dalam, memegangi kepalanya sehingga tidak bisa bergerak. Aku merasakan dia tercekik, dan mendorong lebih dalam lagi. Aku menyukainya ketika matanya terbuka lebar karena ketakutan, seolah-olah mengira akan mati lemas. Kutarik diri perlahan-lahan, membelai pipinya dengan gerakan lembut dan halus. Aku mengamatinya menenangkan diri, menjilat bibirnya hingga bersih dari ludah kental yang keluar dari tenggorokannya. Ku sandarkan kepalanya lebih jauh ke dinding dan memasukkan kembali di sepanjang lidah sampai ke tenggorokannya. Dia mengatupkan bibirnya di sekitar penisku. Pinggulku mulai terdorong, keras. Aku bisa merasakan dia berjuang untuk bernapas, jadi aku mencengkeramnya lebih keras. Kukunya mencakar pahaku dengan menyakitkan. Pada awalnya dia mencoba untuk mendorong menjauh, kemudian mencakar kulitku. Aku suka ketika dia bertarung, ketika dia tidak berdaya melawan kekuatanku. Aku memejamkan mata dan melihat kekasih hatiku berlutut di depanku, matanya yang hitam legam menusukku seperti belati. Gadis ini suka saat aku membawanya seperti itu. Aku mengepalkan tangan di rambutnya lebih keras, melihat nafsu dalam tatapannya. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Dua pukulan keras lagi dan aku membeku, menyemburkan cairan keluar memenuhi tenggorokan gadis itu. "Telan" geramku, menarik rambutnya sekali lagi. Air mata mengalir di pipinya, tapi dia menurut. Aku menarik penisku keluar dari mulutnya dan dia jatuh, meluncur ke bawah lantai. "Sekarang jilat." Gadis itu membeku. "Jilat sampai bersih." Kusandarkan tangan ke dinding di depan dan menatapnya dengan tatapan mengancam. Dia mengangkat diri lagi dan meraih kejantananku dengan satu tangan ramping, mulai menjilati sisa benihku. Aku tersenyum tipis, melihat dia melakukan yang terbaik. Ketika aku memutuskan itu sudah cukup, aku menarik diri dan resleting celanaku. "Terima kasih" Aku menawarkan tangannya yang stabil saat dia berdiri di sampingku dengan kaki yang sedikit gemetar. "Kamar mandinya ada di sana" kataku, meskipun faktanya dia pasti sudah tahu dimana keberadaan kamar mandi dipesawat ini. Dia mengangguk dan menuju pintu. Aku kembali ke teman-teman dan duduk, menyesap minuman yang enak, meskipun rasanya tidak lagi sempurna seperti sebelumnya. Antoni meletakkan korannya dan melirik padaku. "Saat ayahmu memimpin, mereka akan membunuh kita semua" Aku menghela napas, memutar mataku, dan meletakkan gelas ke meja dengan kesal. “Dulu di zaman ayah, kami biasa menyelundupkan minuman keras dan obat-obatan terlarang daripada menjalankan perusahaan terbesar di Eropa” Aku bersandar di kursi. “Aku adalah kepala keluarga Masao dan saat ini berada diposisi ini bukan karena takdir. Tapi keputusan ayahku, telah dibesarkan dengan persiapan untuk memimpin keluarga dan membawanya ke era baru” Aku menghela napas lagi. "Antoni, aku tahu kamu dulu suka menembak" lelaki yang lebih tua, sebagai penasihatku, membiarkan dirinya tersenyum tipis. "Kita akan memiliki kesempatan untuk itu sesegera mungkin" Aku mengiriminya tatapan serius. “Brian” kutoleh kakakku, yang mencuri pandang ke arahku sejak tadi. "Katakan pada anak buahmu untuk mulai mencari Aliando b******n itu" kulihat lagi kearah Antoni “Kau ingin tembak-menembak? Kau akan mendapatkan satu.” Matahari sudah terbenam ketika kami mendarat di Venezia. Aku memakai jaketku dan kami keluar dari pesawat, lalu menuju pintu masuk terminal. Aku mengeluarkan kacamata hitamku, merasakan hembusan udara di kulitku. “Orang-orang dari Monaco ingin bertemu denganmu tentang masalah yang kita bicarakan tadi” kata Brian yang berjalan di sampingku. “Kami juga harus menjaga klub Escada”. Aku mendengarkan dengan seksama, melihat laporan kerjaan dari Brian. Tiba-tiba, semuanya seperti menjadi gelap, meskipun mataku terbuka lebar, aku melihatnya. Aku berkedip panik, aku hanya pernah melihat kekasih hatiku ketika aku menginginkannya. Mataku melebar, tapi dia sudah pergi menghilang. Apakah kondisiku memburuk bisa berhalusinasi kapan saja, aku harus kembali ke dokter untuk periksa kembali. Untuk saat ini, saya harus menyelesaikan sesuatu, menemukan pengedar kokain yang menghilang secara misterius. Kami sedang berjalan kearah mobil, aku melihatnya lagi, tapi itu tidak mungkin. Aku melangkah ke dalam mobil yang diparkir dan hampir menarik Brian ke dalam ketika dia membuka pintu mobil. "Itu dia" bisikku, tenggorokanku tercekat. Aku menunjuk seorang gadis yang sedang berjalan di jalan setapak, menjauh dari kami. "gadis itu" kepalaku berputar, aku tidak bisa mempercayai mataku. Mobil berjalan. "Pelan-pelan" Brian berkata kesupir, saat kami mendekati gadis itu. Jantungku berhenti berdetak. Kepalanya menoleh dia menatap lurus ke arahku, tidak melihatku melalui jendela reflektif. Matanya, hidungnya, bibirnya, itu dia seperti yang aku impikan. Aku meraih pegangan pintu ingin membuka, tapi Brian menghentikanku. Seorang pria botak berotot memanggil kekasih hatiku, dan dia berbalik dan mulai berjalan ke arahnya. “Tidak sekarang, Raphael”. Aku duduk terdiam. Dia ada di sana, dia nyata, aku bisa memilikinya, menyentuhnya. Bawa dia bersamaku dan habiskan sisa hidupku bersamanya. "Apa yang kamu lakukan?" Aku berteriak. “Dia bersama yang lain. Kita tidak tahu siapa mereka.” Mobil dipercepat dan saya tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap siluet kekasih hatiku yang menghilang. “Aku sudah mengirimkan orang untuk mengejar mereka. Kamu akan tahu siapa wanita itu sebelum sampai rumah. Raphael!” Brian meninggikan suaranya. Tidak ada jawaban dariku. “Kamu sudah menunggu begitu lama, tunggu beberapa jam lagi kau akan tahu dia.” "Kamu punya satu jam" ucapku. "Kau punya enam puluh menit untuk memberitahuku siapa dia Brian." Geramku. Mobil terparkir dan kami melangkah keluar. Anak buah Brian berjalan mendekat, menyerahkan sebuah amplop kepadaku dan aku menuju ruang kerja tanpa sepatah kata pun. Aku duduk dimeja kerja kemudian merobek sisi atas amplop itu, tanganku tiba-tiba gemetar. “b******n!” Aku memegangi kepalaku dengan tak percaya saat foto-foto itu ada didepanku menampakkan wajah kekasih hatiku. Semua informasi tentangnya ada dihadapanku saat ini. Terdengar suara ketukan pintu. "Tidak sekarang!" teriakku, tanpa mengalihkan pandanganku dari foto dan catatan. "Valerie Quicy," bisikku, menyentuh wajahnya di atas kertas mengilap. Setelah sekitar tiga puluh menit membaca dan melihat semua informasi itu, kubangkit dari meja dan duduk di sofa, diam membeku, menatap dinding. "Bolehkah aku masuk?" Brian bertanya, mengintip melalui celah di pintu. Tidak ada jawaban dariku, jadi dia masuk dan duduk di kursi lain. "Apa sekarang?" tanya Brian. "Aku akan membawanya ke sini" jawabku tidak menatapnya. Dia tetap terkunci di tempat sambil menganggukkan kepalanya perlahan. "Tapi, bagaimana kau akan melakukannya?" dia mengirimiku tatapan tidak percaya. “Kau akan pergi ke hotelnya dan memberitahunya bahwa kau pernah melihat dia saat kau hampir mati.. ” Brian terdiam, saat ku potong perkataannya. "Aku akan menculiknya". Tidak ada keraguan dalam suaraku. "Kirim orang ke apartemen itu" aku berhenti, mencari nama pria botak di catatanku. “Alvaro. Mereka harus mencari tahu siapa dia.” “Mungkin aku harus bertanya pada Eros? Dia ada di sana" kata Brian. "Bagus. Beritahu anak buahnya untuk mendapatkan segalanya pada pria itu. Aku harus menemukan cara untuk membawanya ke sini sesegera mungkin. ” Aku melirik ke pintu, dari belakang terdengar suara seorang wanita. Brian juga melihat. "Aku disini." Terdengar suara Areta. Semua tersenyum, ia berjalan ke arahku. Aku bersumpah dalam hati bahwa aku benar-benar sudah melupakannya. "Aku keluar, agar kalian berdua bisa mengobrol santai" Brian menyeringai bodoh, sambil berdiri dan menuju ke pintu. "Aku akan mengurus hal itu, dan kami akan menyelesaikan bisnis besok" katanya. Areta mendekatiku, dengan satu kakinya ia dengan hati-hati merentangkan kakiku. Aroma tubuhnya memabukkan, seperti biasa. Dia menarik gaun hitamnya yang terbuka dan duduk di depanku, mendorong lidahnya ke dalam mulutku. "Hukum aku" pintanya, menggigit bibirku, menggosok klitorisnya pada resleting celanaku, lalu menjilat dan menggigit telingaku. Aku hanya menatap foto-foto yang berserakan di atas meja. Aku bangkit dan mendorong Areta ke lantai, membalikkan tubuhnya dan menutup matanya dengan dasi. Dia tersenyum, lidahnya menelusuri garis di atas bibir bawahnya. Dia menemukan meja dengan tangan terentang, berdiri, kaki terentang lebar, dan membungkuk. Dia tidak mengenakan apa-apa di balik gaun itu. Aku berjalan ke arahnya dan memukul pantatnya dengan keras. Dia berteriak, kepala menoleh ke samping, membuka mulutnya lebar-lebar. Pemandangan foto tersebar di atas meja dan dan aku memikirkan kekasih hatiku, membuat sesuatu dibawah sana mengeras seperti baja. "ahh" dengusku, tetap terus memandangi foto-foto Valerie. Aku mencengkeram leher Areta, mengangkatnya sejenak dan membiarkan berbaring di atas meja lagi, mengangkat kedua tangan di atas kepalanya. Ku atur foto-foto itu semua menghadapku, lalu menarik celanaku ke bawah dengan cepat dan menyelipkan dua jari ke Areta. Dia mengerang, menggeliat di bawah sentuhanku, dia basah, panas dan begitu ketat. Tangan kiriku melesat untuk meraih lehernya, dan tangan kananku menampar pantatnya. Aku melirik lagi ke salah satu foto dan menamparnya lagi, bahkan lebih keras. Dia berteriak, tapi aku memukulnya lagi dan lagi, seolah itu benar-benar bisa mengubahnya menjadi Valerie. Aku mulai membuntuti lidahku di sekitar lubang manisnya, memvisualisasikan kekasih hatiku sepanjang waktu. "ahhh" suara Areta pelan. Aku harus memilikimu Valerie, aku ingin kau menjadi milikku pikirku. Ku luruskan dan menusuk Areta dengan penisku yang berdenyut-denyut. Dia membungkukkan punggungnya dan kemudian menurunkan diri ke meja kayu, sekarang ia basah oleh keringat. Aku melakukannya dengan keras, tetap menjaga pandanganku tertuju pada Valerie. Ini tidak akan lama lagi, kau akan segera menatap mataku saat berlutut di depanku. "Kau jalang!" merasakan tubuh Areta menjadi kaku, ku mendorong diriku ke dalam dirinya dengan keras dan agresif, tanpa menghiraukan gelombang o*****e yang beriak di sekujur tubuhnya. Aku tidak peduli, mata Valerie membuatku menginginkan lebih, tetapi pada saat yang sama aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. p***s ku luncurkan keluar dari vaginanya dan membantingnya ke p****t Areta yang kencang. Aku mendengar dia menjerit liar kesakitan dan merasakan dia mengencang di sekitarku. Aku meledak, tapi satu-satunya hal yang bisa kulihat adalah Valerie kekasih hatiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN