Perlahan Raphael memasuki diriku, dan aku bisa merasakan setiap inci lingganya yang tebal. Lengannya memelukku, nyaris menyakitkan. Saat dia meluncur ke dalam diriku sepenuhnya, dia membeku, hanya untuk menarik keluar dan menyerbu masuk lebih keras. Aku mengerang saat gairah dan kesenanganku bercampur dengan rasa sakit. Pinggulnya bergerak cepat, dan napasnya pun mengikuti. Gesekan luar biasa yang kurasakan beriak di seluruh tubuhku. Tiba-tiba, dia melambat, dan aku menghela napas lega. Tangan Raphael meluncur ke bawahku, mengangkat pinggulku, dan lututnya melebarkan kakiku. "Tunjukkan padaku b****g mu yang cantik itu," desahnya ke telingaku. Aku kaget. Apakah dia akan mencoba sesuatu yang aku belum pernah? “Raphael…” bisikku ketakutan, sambil kembali menatapnya. Dia menjambak rambutk

