Senin pagi aktifitas kantor sudah berdenyut sejak pukul tujuh tadi karena beberapa staff ada yang sudah datang di jam tersebut, walau jam kantor officialnya baru mulai di jam delapan.
Pagi ini rencananya Arimbi akan ke kantor pemerintah setempat untuk menggumpulkan data dan melakukan sedikit diskusi dengan pejabat dinas terkait seperti dengan dinas tata wilayah dan dinas pertanian serta bidang terkait di kantor bupati.
Arimbi sudah datang pukul setengah delapan tadi dan saat ini sedang menyiapkan berkas dan keperluan yang akan dibawa nanti. hari ini Arimbi akan di temani oleh bu Lilis dan mas Daden, mereka akan diantar dengan menggunakan mobil perusahaan pada pukul setengah sembilan nanti, jadwal pertemuan sendiri di atur dan dikomunikasi langsung oleh bu Diah kepada pihak kantor pemerintah mengingat suami bu Diah adalah salah seorang pejabat dilingkungan pemerintahan kabupaten tersebut sehingga hal tersebut cukup memudahkan perusahaan untuk koordinasi yang mendadak seperti saat ini.
Pukul delapan duapuluh menit, mas Daden sudah berdiri dan menghampiri kubikel Arimbi "Siap?..bisa kita berangkat sekarang?" tanya mas Daden.
"Iya mas..siap, aku tinggal masukin laptop ini aja ke tas." jawab Arimbi
"Bu Lilis..sudah siap bu?' tanya mas Daden ke bu Lilis yang kubikelnya berada diseberang Arimbi
"Sudah mas, ayok." jawab bu Lilis sambil berdiri dan keluar dari kubikelnya
"Saya sudah telpon driver, kita ditunggu di lobby." info mas Daden
Setelah berpamitan dengan bu Diah dan Pak Budi, mereka bertiga berjalan ke lift untuk turun ke lantai satu. Sesampai di lantai satu, ketika mereka keluar dari lift sudah terlihat sebuah mobil berdiri di teras lobby menunggu mereka dengan driver yang sudah ready di belakang kemudi. Mobil yang berlogo perusahaan ini memang merupakan mobil operasional perusahaan yang bisa digunakan oleh semua staff untuk keperluan pekerjaan, dan kantor pusat ini punya banyak unit mobil operasional dalam berbagai jenis dan type untuk berbagai kebutuhan. Mereka bertiga masing-masing mulai masuk ke mobil dengan mas Daden duduk di depan disamping sopir, bu Lilis sudah masuk dan duduk di belakang mas Daden, sedangkan Arimbi memutari mobil untuk masuk dan duduk di sisi belakang driver, drivernya sabar menunggu sampai semua penumpang yang akan dibawa mengatur duduknya dengan nyaman.
Sementara itu sebuah mobil yang bukan mobil perusahaan baru saja masuk ke area kantor dan saat ini sudah berbelok kearah lobby, sepertinya mobil ini akan parkir atau menurunkan penumpang di lobby, jenis dan ukurannya yang berbeda dengan SUV lainnya membuat kehadiran mobil ini cukup menyita perhatian, termasuk Mas Daden yang sudah duduk di mobil kantor sambil menunggu Arimbi yang sedang bersiap masuk ke mobil.
"Wah itu keren mobilnya!, jarang lihatnya disini, pasti itu tamu dari Jakarta ya.." ujar mas Daden sambil melihat ke kaca spion
"Bukan tamu mas, tapi mobil bos." ucap pak Jamin si driver kantor.
"Maksudnya? Pak Teddy pak? kok tumben turun disini biasanya yang saya tahu Pak Teddy selalu turun di pintu samping sebelum mobilnya masuk parkir basement dan mobil beliau itu selalu pake SUV putih bukan yang ini." ulas mas Daden.
"Yang ini Pak Ken, mas." sambung pak Jamin.
"Oiya..!" serempak mas Daden dan bu Lilis berseru sambil berbarengan memutar kepala mereka untuk melihat ke arah belakang. Mereka merasa surprised karena pak Ken di kantor pusat di awal minggu, biasanya si CEO itu akan banyak berada di kantor hub Jakarta dan baru akan ke kantor pusat ini di hari Jumat atau sesekali di hari Kamis, yang pasti boleh dibilang full timenya ada di kantor hub, bukan di kantor pusat.
Arimbi yang sudah masuk segera menutup pintu mobil dan mengatur duduknya agar nyaman, sedikit bingung dia ketika mendengar dan mellihat dua rekannya berseru dan melihat ke arah belakang.
"Kalau mobil ini datang dan langsung ke lobby seperti sekarang, berarti itu pak Ken langsung yang mengendarainya, nanti beliau akan parkirkan mobilnya disini lalu kuncinya akan dikasih ke security, nanti pak Maman akan datang ngambil mobil itu dan standby di parkiran."
Sementara itu mobil SUV yang dikemudikan oleh Kendratama baru saja masuk ke area lobby, ia lebih melambatkan lagi laju kendaraannya karena ia tidak bisa langsung parkir disebabkan masih ada mobil lain didepannya. Ia membiarkan tidak membunyikan klakson karena ia tidak sedang buru-buru, ia hanya melihat kesibukan mobil di depannya yang terlihat sedang menaikkan penumpang, sepertinya beberapa orang staff sedang naik ke mobil tersebut, tapi tidak terlihat berapa orang dan siapa saja staff yang sudah masuk di dalam mobil tersebut karena kaca mobil yang berwarna gelap, yang pasti saat ini tinggal hanya satu orang staff yang masih diluar dan terlihat staff tersebut sedang memutari mobil untuk masuk melalui pintu samping dibelakang sopir.
Tiba-tiba Kendratama menyipitkan matanya untuk bisa lebih fokus melihat yang ada di depan matanya, staff perempuan itu terlihat jelas wajahnya ketika dia berjalan kebelakang mobil untuk memutar menuju pintu samping dan Ken seperti pernah melihat wajah tersebut, lalu ia teringat sesuatu yang membuat ia tersenyum, tetapi ia merasa tidak pernah melihat staff ini sebelumnya, mungkin itu sebabnya ia tidak mengenali staff tersebut. Sebagai CEO, Kendratama masih mengenali staffnya yang satu gedung atau yang berada dilingkungan gedung kantor ini.
"Hmm...staff dari divisi mana itu yang aku gak tahu dan gak pernah melihat sebelumnya, dia terlihat berbeda" gumam Kendratama sambil memikirkan staff yang baru dilihatnya tadi.
Sementara itu di dalam mobil pak Jamin yang ditumpangi Arimbi dan rekannya "Sepertinya kita ditungguin pak Ken pak!" seru bu Lilis.
"Wah! kalau gitu kita harus cepat-cepat jalan pak, takutnya pak Ken nungguin kita jalan karena mau parkir disini." seru mas Daden.
Pak jamin yang mendengar ucapan mas Daden hanya tertawa sambil mulai mengendarai mobil tersebut keluar dari area lobby, dari kaca spion terlihat mobil SUV yang dibelakang tadi segera memasuknya hidung mobil tersebut ke pinggir dimana posisi mobil kantor tadi berada dan mengatur posisinya hingga akhirnya pas di pinggir paving lobby dan mematikan mesin mobil terebut.
Beberapa detik kemudian Kendratama keluar dari mobil dan berdiri menatap mobil kantor yang sudah sampai di gerbang utama. Ia lalu berjalan ke arah pintu lobby gedung dan menyerahkan kunci mobilnya ke security yang berjaga disana sebelum berjalan masuk kedalam lift untuk menuju keruangannya.
****
Setiba dikantor pemerintahan Arimbi dan rekan diantar keruangan suami bu Diah yang sudah menunggu mereka. Setelah beramah tamah beberapa saat, kemudian mereka berpindah ke bagian lain dari kantor pemerintahan tersebut untuk bertemu dengan petugas yang mengurusi pertanian, perkebunan dan tata wilayah. Di kantor ini Ari perlu mendapatkan data dan informasi mengenai rencana pembangunan jangka pendek dan menengah terutama dalam bidang pertanian, perkebunan dan rencana pengembangan kawasan wilayah pertanian dan perkebunan selain itu Arimbi juga memerlukan data dan informasi tentang pendapatan daerah yang di sumbang oleh pertanian, perkebunan baik yang disumbang oleh pertanian perkebunan rakyat maupun corporate seperti Will Agro Global Industries.
Arimbi juga membutuhkan informasi tentang sejarah pertanian perkebunan seperti jenis tanaman unggulan, cara pembukaan lahan, metode yang biasa digunakan masyarakat serta sejarah kebencanaan dan mitigasi yg ada. Selain mengumpulkan data, Arimbi melakukan diskusi dan interview dengan petugas dan pejabat terkait guna mengetahui komitmen pemerintah setempat, juga untuk mendapat masukan atau saran untuk kemajuan dan kerjasama dengan perusahaan.
Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan terkait data dan informasi, akhirnya mereka kembali ke kantor. Tepat pukul 13.50 mobil kembali masuk gerbang kantor dan melaju menuju lobby untuk menurunkan Arimbi dan rekan di lobby seperti tadi pagi waktu berangkat.
"Eh..pak Ken masih di kantor sepertinya..tumben ya." ucap bu Lilis ketika melihat mobil yang tadi pagi masih ada di lobby.
"Sepertinya mau berangkat bu,..itu sudah ada pak Maman di dalam." ujar pak Jamin.
Mereka akhirnya turun dari mobil, mas Daden yang turun duluan disusul bu Lilis yang langsung berjalan ke teras lobby, sementara Arimbi yang sudah turun masih mengemasi beberapa dokumen yang dia bawa dan juga tambahan dari kantor bupati tadi sehingga ia agak tertinggal dibelakang dari mas Daden dan bu Lilis.
Sementara itu Randi sudah keluar dari lift dan berjalan ke luar lobby untuk masuk ke dalam mobil yang sudah standby di kendarai pak Maman selaku driver CEO, sementara Kendratama ketika keluar lift masih asik dengan hp nya, dia sepertinya sedang membalas chat sehingga membuat langkahnya melambat. Sementara pak Maman yang melihat bos nya sudah keluar ke arah lobby segera membukakan pintu untuk CEO nya seperti biasa, sementara Randi akan duduk disamping driver.
"Berangkat pak Randi!" sapa mas Daden yang sudah berada disamping pintu mobil diikuti oleh bu Lilis, Randi masih berdiri di luar belum masuk ke mobil karena nungguin CEO nya yang masih berjalan pelan belum sampai ke mobil karena masih membalas chat.
"Oh..iya, betul..ini mau berangkat." jawab Randi kepada mas Daden sambil senyum dan menggangguk kepada mas Daden dan bu Lilis yang ada di samping nya, beberapa detik kemudian diwaktu yang bersamaan pak Ken sampai di depan pintu mobil yang sudah terbuka dan Arimbi muncul dari belakang mobil menyusul mas Daden dan bu Lilis.
"Mari pak Ken...pak Randi kami masuk dulu." pamit mas Daden sambil menggangguk kan kepala yang di ikuti oleh dua rekannya bu Lilis dan Arimbi kemudian mereka segera berlalu masuk ke dalam lobby menuju lift, sementara dua orang petinggi itu masuk ke dalam mobil dengan gerakan yang lebih lambat dari yang biasanya karena masih melihat ke arah pintu lobby melihat rombongan yang baru saja pamit pada mereka, hal ini juga membuat pak Maman harus menutup pintu dengan agak slow mengikuti pergerakan bosnya yang juga tiba-tiba jadi slow. " Hmm...aku tahu sekarang divisi staff yang kulihat tadi pagi." gumam Kendratama dalam hati.
"Gila! itu cewek ngapain coba kerja disini, gak cocok banget, harusnya wara wiri di tv...kok bisa aku gak tahu ya selama ini...?" monolog Randi dalam kepalanya.
"Gawat! jangan-jangan dia yang lagi di uber Andre...wah pantesan dia bela-belain banget...spek artis hollywood ternyata, aku harus cari tahu respon si bos ini nih." kembali monolog Randi berlanjut di kepalanya sambil tersenyum samar.
**********