Hari Pertunangan

1660 Kata
Hari berganti menjadi minggu, setelah acara makan malam dan pembahasan tanggal, kurang dari 5 hari lagi akan diadakan pertunangan resmi antara Kemal dan Amira. Tidak banyak yang hadir, hanya kerabat dan teman dekat dari pihak Kemal maupun Amira, ketua Rt, ketua Rw dan tokoh masyarakat yang ada di komplek perumahan tersebut. Dengan menggunakan batik couple keluarga, di padukan dengan celana bahan slimfit berwarna hitam, sepatu pantofel yang mengkilap, tatanan rambut yang rapi, ditambah wajah yang bercahaya dari wudhu nya, membuat penampilan Kemal sederhana tetapi berwibawa. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya menambah kesempurnaan penampilannya. Setelah siap, sebelum Kemal turun bergabung dengan keluarganya, Kembali Kemal melihat penampilannya di cermin. Senyum yang tidak luntur dari bibirnya, ucapan syukur yang tak henti-hentinya dalam hati atas segala Nikmat yang Allah berikan kepadanya. Kemal berjalan keluar kamar, menuruni tangga untuk bergabung dengan sanak saudaranya yang tengah asik mengobrol dan mempersiapkan kelengkapan hantaran yang akan mereka bawa. "Widih calon manten baru turun, abis luluran kayaknya lama banget dandannya. Sampe mau pulang kita nungguin nya," godaan dari Raksa sepupu nya, membuat Kemal dan semua nya tertawa. "Ngatur detak jantung dulu 'kan tadi buat ngilangin gugup. Ntar juga lo ngerasain kaya gue sekarang," balasan Kemal langsung dijawab. "Cie … Seorang Kemal Arjuna, punya rasa gugup juga ternyata.hahaha." Seno Arjuna menghampiri Kemal dan menepuk bahu Kemal. "Gimana udah siap berangkat belum?" Kemal menoleh pada ayahnya, Kemal mengangguk, "Siap, tapi masih deg-degan dikit,Yah." Ayahnya tertawa, "Kamu kayak bukan Kemal anak Ayah saja. Jangan lupa bismillah dan baca doa." Kemal tertawa mendengar ucapan ayahnya. Dari sudut lain terlihat Ibu Kemal sibuk memperhatikan barang bawaan yang akan dijadikan hantaran. "San, Coba dihitung lagi, udah kebawa semua belum itu?" Santi adik kandung dari Sandra kembali memperhatikan dan menghitung jumlah barang bawaan nya. "Udah pas, 27 parcel 'kan semuanya?" tanya nya memastikan. "Iya semuanya 27, jangan sampai ada yang ketinggalan!" jawab Sandra dengan tegas. Hari ini semua keluarga Kemal memakai batik senada dengan warna Coklat muda. Para laki-laki memakai kemeja, sedangkan para ibu-ibu memakai gamis atau dress dengan motif yang sama. Setelah semua siap mereka mulai berjalan menuju rumah keluarga Amira. Seperti acara makan malam kemarin, hari ini pun mereka berjalan kaki untuk ke rumah Amira. Karena jarak yang cukup dekat. Sampai di kediaman Amira, di sana pun sudah ramai keluarga Amira untuk menyambut calon besan mereka. "Assalamualaikum," salam dari keluarga Kemal serempak. "Waalaikum salam," jawaban dari keluarga Amira bersamaan. Disana ada Andri, Ananda, Angga, dan kerabat keluarga yang lainnya, "Yaudah Masuk yuk, mulai panas ini, kita langsung ke tempat acara aja oke." Arahan dari Ananda di angguki. Taman belakang rumah Amira digunakan untuk acara pertunangan resmi kali ini, taman yang sudah dihias secara sederhana dan cantik hasil karya dari tangan Angga dan Amara. Amira turun dari kamarnya dengan didampingi Amara, memakai baju gamis dengan warna dan model yang sama. Hanya saja ukuran yang dipakai Amira lebih besar dan tidak membentuk tubuhnya. Sedangkan untuk Amara terlihat lebih pas di tubuh indahnya. Sepasang kembar itu menuju tempat acara. Setelah bersalaman dengan keluarga Kemal mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Pertunangan yang diadakan secara outdoor. Kursi-kursi yang berjejer rapi di kanan dan kiri, di tengah terdapat karpet merah tergelar sepanjang jalan menuju sebuah podium kecil, tempat disematkannya cincin di jari Amira nanti, oleh Sandra Ibunda Kemal. Sampai di tempat acara rombongan Kemal menempati posisi barisan Kiri, sedangkan keluarga Amira di barisan Kanan. Amira duduk di samping mamanya dengan Anggun, kerudung segi Empat berwarna senada dengan bajunya, sepasang stiletto berukuran 7 cm berwarna hitam menghiasi kaki mulusnya. "Tes … tes ...Bisa kita mulai acaranya," Instruksi dari Angga sebagai Mc pada acara kali ini, membuat obrolan semua orang berhenti, ketika semua diam, Angga meneruskan pembicaraan nya. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" dimulai dengan salam oleh Angga. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang kompak "Puji syukur pada Ilahi Rabbi, yang telah memberikan Kita semua kesehatan, sehingga kita bisa berkumpul untuk menyaksikan acara yang membahagiakan kedua keluarga ini. Langsung saja pada acara pertama, Kita akan mendengar acara Sambutan atau pernyataan maksud rombongan dari keluarga Bapak Seno Arjuna, yang akan disampaikan oleh Bapak Seno Arjuna secara langsung, dengan hormat waktu dan tempat kami persilahkan." Dengan diiringi tepukan tangan, Seno Arjuna naik ke atas podium kecil yang ada. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Setelah salam nya di jawab Seno mulai menyampaikan maksud dan tujuannya. "Puji syukur kepada Allah SWT. Yang telah memberikan kita segala rahmat. Saya akan berbicara langsung pada inti kedatangan maksud rombongan keluarga Kami kemari. Yaitu untuk meminta Amira Putri Arkana anak dari Bapak Andri Arkana untuk menjadi istri dari anak Saya yaitu Kemal Arjuna, dan menjadi menantu di dalam keluarga besar saya. Sebagai tanda keseriusan anak saya, saya bawa kan hantaran seadanya, dan cincin yang akan disematkan di jari kiri Amira. Saya berharap semoga Pinangan keluarga saya terhadap Amira Putri Arkana diterima dengan tangan terbuka, ikhlas, dan tanpa paksaan. Cukup sekian dari saya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," terdengar jawaban salam dari ayah Kemal dengan diiringi tepuk tangan "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Seno turun dari podium dan mengembalikan microphone pada Angga, kembali Angga berbicara "Oke selanjutnya kita akan mendengarkan keputusan dari bapak Andri Arkana sebagai wali sah dari Amira Putri Arkana, Kepada Ayah, dengan hormat dipersilahkan naik." Kembali terdengar suara tepuk tangan. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Andri menarik napas terlebih dahulu sebelum berbicara. "Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada keluarga Bapak Seno Arjuna, yang telah memilih Putri Saya sebagai calon istri dan calon menantu untuk keluarga Beliau. Saya menerima lamaran saudara Kemal Arjuna dengan tangan terbuka, dan hati yang ikhlas." Andri menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ucapan nya. "Tetapi saya minta tolong, jaga hati, pikiran dan kehormatan Puteri Saya. Amira saya besarkan dengan penuh kasih sayang dan tanpa kekurangan sedikitpun, karena sangat berat rasanya bagi seorang ayah untuk melepaskan tanggung jawab kepada Putrinya. Bahagiakan lah dia, jadikan ratu di rumahnya. Dan juga, jika Nak Kemal sudah tidak mau atau mampu membahagiakan Amira, maka kembalikanlah dia secara baik-baik kepada saya, sebagai mana ketika Nak Kemal memintanya pada saya secara baik-baik pula. Maaf jika saya berbicara seperti ini, semua ini hanya semata-mata perasaan seorang Ayah yang sedih dan takut Putrinya tidak bahagia. Saya sengaja menyampaikan nya di acara ini, karena saya tidak ingin nanti disaat ijab qobul saya menangis harus menyampaikan ini. Terimakasih sekali lagi, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Amira begitu terharu mendengar penuturan ayahnya, Amira pun bisa merasakan perasaan ayahnya, karena sejujurnya bisa dibilang Amira belum siap untuk meninggalkan kedua orang tuanya dalam waktu dekat ini. Setelah Ayah Amira turun, Angga kembali mengambil alih acara. "Baik, cukup untuk acara mengharukan nya, kita lanjutkan acara selanjutnya, yaitu penyematan cincin yang akan dilakukan oleh Ibunda dari saudara Kemal Arjuna, kepada Amira Putri Arkana. Untuk kedua belah pihak silahkan naik." Amira beserta kedua orang tuanya, begitupun dengan Kemal beserta kedua orang tuanya, mereka berenam naik ke atas podium, Kemal mengeluarkan kotak perhiasan berukuran kecil berbentuk hati dan menyerahkan kepada ibunya. Dengan mengucapkan "BismillahHirrohmannirrohim." Sebuah cincin berlian dengan permata kecil di atas nya, yang di dalamnya terukir hari tanggal dan tahun pertunangan mereka, telah berhasil di sematkan di jari manis Amira. Desain Cincin sederhana yang terlihat begitu elegan dan mewah, setelahnya Amira mencium punggung tangan dan kedua pipi Sandra, Sandra memeluk dan mencium kedua pipi Amira. Kebahagian jelas terpancar, Kemal tidak lagi menyembunyikan senyum bahagianya. Setelah acara selesai, kini para keluarga mengobrol santai dan saling berbaur dengan yang lain. Ucapan selamat yang datang dari keluarga, tawa kebahagian nyata terlihat di dua keluarga tersebut. Amara yang merasa patah hati memilih berpamitan kepada semuanya, dengan alasan ingin beristirahat. Setelah berpamitan Amara menuju kamarnya. Amara bercermin dan memandang bayangan dirinya sendiri. "Kenapa harus Kak Mira yang dijodohkan, kenapa bukan Aku saja, apa kurang nya Aku?" Amara bertanya pada bayangan nya sendiri. Hari ini begitu panas menurutnya, walaupun diluar cuaca cukup sejuk dengan angin yang berhembus, tapi tidak dengan Amara, dia kepanasan, terlebih hatinya, apalagi ia harus mengenakan baju gamis dan kerudung, dia tidak terbiasa dengan pakaian seperti itu. Walaupun mereka kembar, tetapi pergaulan dan cara berpakaian mereka berbeda, Amara tidak memakai hijab, tetapi tidak memakai pakaian seksi juga. Sehari hari Amara terbiasa memakai celana jeans berbentuk pensil, baju potongan kemeja, blouse ataupun kaos. Rambut yang biasa tergerai rapi dan cantik. Berbeda dengan Amira yang terbiasa berhijab. Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Amira memutar kunci dan membuka pintu, seorang wanita paruh baya ada di depan kamarnya, di tangannya terdapat nampan berisi makanan dan segelas air. "Boleh Ibu masuk?" tanya nya pada Amara, Amara hanya mengangguk, setelah mereka masuk, Amara kembali mengunci pintunya "Makan dulu, buat tambah tenaga, pura-pura bahagia itu butuh tenaga ekstra loh." Amara menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu, "Ibu, apaan sih," ucapnya dengan nada merajuk. "Ibu tau apa yang kamu rasakan," ucapnya sambil membelai lembut rambut Amara. "Kenapa bukan Mara yang dijodohkan dengan Kemal, Bu?" tanyanya dengan nada sedih, "Apa lebihnya Kak Mira dari Mara?" orang yang dipanggil ibu itu tetap membelai rambut Amara. "Ibu tidak tahu Mara, tapi Kamu dan Amira sama, tidak mempunyai kekurangan," jawabnya dengan lembut. Wanita itu menyuapi Amara dengan sangat telaten sampai makanan yang ia bawa habis. Setelah minum, Amara kembali menyenderkan kepalanya di bahu wanita itu, Wanita itu mengusap punggung Amara dengan sayang. Amara gadis yang dirawatnya dari bayi kini telah menjelma menjadi wanita yang cantik pintar dan dewasa. Sikapnya yang selalu ceria menutupi segala kesedihan hatinya. Wanita itu berdoa semoga gadis yang sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya, untuk pertama kalinya ia melihat gadisnya rapuh karena seorang Kemal Arjuna. Hatinya pun ikut bersedih melihat gadis kesayangannya rapuh seperti ini. Ia sungguh tidak rela, tapi apa boleh buat, Andri dan Ananda memilih Amira untuk dijodohkan dengan Kemal bukan Amara. Wanita itu menyayangkan keputusan orang tua Amara yang tidak bertanya terlebih dahulu pada Amara. Menurutnya, seharusnya Andri maupun Ananda bertanya pada Amara juga, apakah Amara mau dijodohkan dengan Kemal? Jangan hanya Amira yang ditanya bersedia apa tidaknya. Gadis mana yang tidak mau jika dijodohkan dengan seorang Kemal Arjuna. Lelaki sempurna baik secara fisik, materi bahkan Akhlak sekalipun. Sungguh ia merasa tidak senang melihat gadis kesayangannya menderita karena patah hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN