3. Tentang Hati

1325 Kata
Mendung meliputi wajah cantik dari seorang gadis bernama Amara Putri Arkana. Padahal diluar sana cuaca sedang begitu terang dengan matahari yang memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru bumi. Tetapi mengapa wajah sang gadis cantik terlihat mendung? Jawabannya adalah, karena lelaki yang selama ini selalu ia perjuangkan namanya dalam doa telah memiliki pasangan. Dan yang lebih menyakitkan lagi pasangannya ternyata saudari kembarnya sendiri. Ibarat pepatah mengatakan 'sudah jatuh tertimpa tangga pula'. Mungkin ia tidak akan se-frustasi ini jika sang pujaan hati memilih wanita lain. Bahkan ia berharap tidak akan pernah bertemu Kemal dan juga pasangannya. Namun, sepertinya tuhan sedang menguji kekuatan hatinya, dengan cara menjodohkan Kemal dengan Amira saudari kembarnya. Amara akan sering melihat Kemal dan Amira bersama. Ia tidak akan bisa menghindari pasangan tersebut. Entah bagaimana nanti nasib hatinya, ia hanya berdoa semoga selalu bisa menutupinya dari semua orang, Agar tidak terlihat menyedihkan. Tadi malam Amara tahu bahwa keluarga Kemal datang untuk membahas masalah perjodohan antara Amira dan juga Kemal. Ingin rasanya ia bertanya mengapa bukan dirinya yang dijodohkan dengan Kemal? Mengapa harus Amira? Apa karena Amira memakai hijab sehingga lebih pantas mendampingi Kemal dengan segala kesempurnaannya? Tapi ternyata semua pertanyaan itu tidak pernah mampu keluar dari mulutnya. Semua pertanyaan itu hanya akan selalu bersemayam di dalam otak dan pikirannya. Tadi malam Amara sengaja memilih pergi menuju toko bunganya untuk menenangkan diri, agar keluarganya tidak tahu jika ia tengah dilanda patah hati hebat. Ya, hatinya hancur setelah mendengar bahwa Amira dijodohkan dengan seorang Kemal Arjuna. Amara pulang pada pukul sepuluh malam dari toko bunga miliknya. Dengan perasaan tak menentu, datang ke rumah ia langsung menuju kamarnya. Setelah membersihkan diri Amara langsung menuju ranjang kesayangannya untuk menutup hari ini dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Alarm nyaring yang keluar dari mulut si Jacky ayam peliharaan ayahnya membuat Amara menutup kepalanya menggunakan bantal. Sungguh ia masih ingin melanjutkan tidurnya, berharap mimpi indahnya tidak pergi karena ulah si Jacky. Tapi tetap saja walaupun bunyi kokok si Jacky tidak terdengar lagi mimpinya tak kunjung kembali. Membuatnya menggerutu dengan kesal. "Jacky ngeselin!" teriaknya di balik bantal yang menutup kepalanya. "Mimpi gue buyar gara-gara tuh ayam!" Dengan malas akhirnya ia bangun, duduk di tepi ranjang sambil menunduk untuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah kesadarannya penuh ia mengalihkan pandangannya ke tembok sebelah kiri tempat jam dinding menggantung dengan rapi. Jam baru menunjukan pukul lima lebih lima menit. Amara bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, Amara berniat untuk melanjutkan tidurnya sebelum pintu kamarnya diketuk dari luar, terdengar suara Angga sang kakak laki-laki memanggilnya. "Mara! bangun Dek, udah subuh ini! Udah sholat belom?" Dengan malas Amara berjalan menuju pintu dan membukanya. Dilihatnya sang kakak sudah rapi dengan pakaian olahraganya. "Mara udah sholat, Kak. Ini mau tidur lagi." jawabnya memberitahu sang kakak. Angga menggeleng pelan kepalanya. "Jangan tidur lagi, Dek. Tidur setelah subuh itu sangat berbahaya bagi badan karena melemahkan dan merusak badan, karena sisa-sisa metabolisme yang seharusnya diurai dengan berolahraga/beraktivitas. Mangkanya ayo kita olahraga, cepetan gih siap-siap Kakak tunggu di bawah ya." Perintah kakaknya tidak mau dibantah, membuat Amara dengan malas mengurungkan niatnya untuk tidur kembali. Setelah kakaknya pergi Amara pun kembali menuju kamar mandinya untuk menyikat gigi dan berganti pakaian dengan pakaian olahraga. Lima belas menit kemudian Amara pun keluar kamar dengan menggunakan celana training dan sweater berwarna grey, sebuah topi berwarna hitam menutup kepalanya dengan rambut yang di kuncir menyerupai ekor kuda dan dimasukkan kebagian lubang di belakang topi. Sebuah handuk kecil berwarna putih menyampir di pundaknya, dan jangan lupakan sneaker berwarna hitam merk brand favoritnya berlambang huruf N. Sebuah handset terselip di kupingnya. Amara berjalan menuruni undakan tangga menuju kakaknya. "Ayo kak! Loh, Kak Mira gak ikut?" ucapnya ketika sudah sampai di hadapan sang kakak. Angga berdiri dan menghampiri adiknya, "Mira lagi ga bisa ikut, datang tamu bulanannya." Mendengar jawaban Angga membuat Amara menganggukkan kepalanya. Setelahnya mereka berdua keluar rumah untuk berlari sampai ke taman yang ada di seberang rumahnya. Disepanjang perjalanan banyak warga yang juga berolahraga, sesekali mereka menyapa. Dan tentunya banyak para gadis bahkan ibu-ibu bersemangat begitu melihat Angga. Tidak jauh beda dengan Kemal, Angga pun selalu menjadi incaran para kaum hawa. Hanya saja Angga tidak bersembunyi seperti Kemal. Jika melakukan lari pagi mereka hanya akan diam dan mendengarkan musik sepanjang jalan. Karena menurut Angga berlari sambil mengobrol itu membuat napas tidak teratur. Maka ketika sampai di taman dan berlari sebanyak tiga putaran mereka duduk di sebuah bangku yang terdapat di taman tersebut. Angga menyerahkan sebotol kecil air mineral pada Amara. Setelah meminum hampir setengahnya Angga mulai bertanya. "Semalam kamu kemana,Dek?" Amara yang tengah memperhatikan anak kecil yang sedang bermain bola menolehkan kepalanya menghadap sang kakak. "Dari rumah Lusi, Kak." "Pulang jam berapa?" "Sampe rumah sekitar jam sebelas malem." "Lain kali kalo pulang malem gitu minta jemput sama Kakak, bahaya perempuan pulang malem." "Siap Bos!" Amara menjawab dengan memberikan hormat pada Angga, membuat Angga terkekeh. "Pulang yuk, bentar lagi panas nih." Mereka kembali melakukan lari menuju rumahnya. Sesampainya di rumah mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Setelah beristirahat sebentar dan membersihkan diri mereka kembali menuruni tangga dan berkumpul di meja makan untuk sarapan. Selesai sarapan Amara tidak langsung berangkat menuju toko bunga nya, Amara menghampiri Amira yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Setelah Amara mengetahui jika Amira yang merupakan kembar dengan nya akan dijodohkan dengan seorang Kemal Arjuna, Amara tersenyum dan menghampiri sang kakak yang sedang duduk sambil membaca buku. "Selamat ya, Kak Mira. Aku senang akhirnya kakak mau menikah," ucap Amara dengan senyum yang tak luntur di bibir nya. Amira tersenyum, "Makasih ya, Mara. doain semoga semua nya lancar ya, Dek." "Pasti Kak, Aku selalu berdoa yang terbaik untuk kakak dan juga keluarga kita." Amira menarik adik nya kedalam pelukan nya, "Nanti kalau kakak sudah menikah, jangan berubah ya, kakak mau Mara tetep kaya gini sama kakak, jangan ada yang ditutup-tutupin." Amara mengangguk dalam dekapan sang kakak, "Iya Kak, doain Mara juga supaya dapat jodoh kaya Kak Kemal." "Kakak doakan kamu dapat yang lebih baik dari Kak Kemal, Dek." "Kak Kemal itu sudah lebih dari sempurna buat Aku Kak." Angga sang kakak laki-laki dari Mereka berdua melihat dari tangga, bagaimana kedekatan adik kembarnya. Angga berniat menghampiri Amira yang tengah sibuk dengan buku ditangan nya, tetapi melihat Amara menghampiri Amira terlebih dahulu membuat Angga menghentikan langkahnya. Keluarga mereka memang terkenal dengan hangat dan harmonis di seluruh kalangan. Tidak ada yang mengetahui bagaimana perasaan Amara setelah mendengar kabar Amira dijodohkan dengan Kemal. Angga meneruskan langkahnya mendekati Amira setelah Amara masuk kedalam kamarnya. Angga duduk tepat di samping Amira, Amira tersenyum melihat sang kakak. "Gimana perasaan nya, Dek?" tanya Angga sambil mendudukkan dirinya. Amira tersipu, wajahnya merona jika ada yang bertanya bagaimana perasaan nya. Tanpa perlu ditanyakan pun, semua orang akan tahu bagaimana perasaan Amira saat ini, jelas terlihat binar di matanya,melihat tingkah sang adik, Angga tersenyum dan menarik sang adik dalam pelukan nya. "Kakak bahagia lihat Adek kaya gini, pipi nya merah gitu, cuma karena ditanya perasaan nya." Amira memukul pelan d**a Angga, "Apaan sih, Kak!" Angga semakin senang menggoda Amira yang terus tersenyum. "Segitu dahsyat nya pesona Kemal, sampe ngalihin dunia Adek kakak yang satu ini." Amira menatap sang kakak, "Tapi, Kakak beneran nggak apa-apa kalo Mira yang duluan Nikah?" tanya Amira dengan perasaan bersalah. Angga tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Angga sangat tahu bagaimana sifat sang adik yang selalu merasa tidak enak pada orang lain, bahkan pada keluarganya sekalipun. "Kakak ini laki-laki, tidak akan jadi masalah bila di langkah oleh adik perempuan, kecuali di langkahnya sama adik laki-laki lagi, itu baru jadi masalah. Itu pun menurut kepercayaan para orang tua, sedangkan kakak percaya jika jodoh, rezeki, dan maut itu sudah diatur oleh Allah Swt." Jawaban panjang dari sang Kakak membuat Amira merasa lega, Amira juga tidak percaya akan omongan bahwa jika seorang kakak dilangkahi dalam pernikahan oleh sang adik, mangka jodoh nya akan susah, itu semua hanya mitos menurut Amira, karena tidak ada surat maupun hadits yang menyatakan tentang itu. Amira bertanya hanya karena menghormati sang kakak, bukan untuk mempercayai mitos tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN