Pagi ini matahari seperti enggan menampakkan dirinya, karena ditutup oleh segerombolan awan hitam yang berjalan beriringan. Cuaca mendung dan gerimis kecil setelah hujan deras yang terjadi semalam, membuat siapa saja enggan menyingkirkan selimut di tubuhnya.
Seperti Kemal yang kembali menarik selimut setelah melaksanakan shalat subuh. Kemal kembali melanjutkan tidur mengarungi mimpi indahnya. Hari ini Kemal berencana bangun lebih siang sedikit untuk mengistirahatkan tubuhnya, yang satu minggu kemarin begadang demi menjaga calon istrinya dan juga bekerja.
Jika setiap hari Kemal selalu menghitung mundur hari pernikahannya, setiap pagi saat Kemal bangun dari tidurnya, maka hari ini ia akan melewatkan hal tersebut. Kemal tidak akan menghitung lagi, Kemal hanya akan menunggu sampai hari bahagianya bersama Amira.
Setelah kemarin Ia membahas persiapan pernikahannya dengan pihak WO yang merupakan teman sekolahnya dulu, hari ini Kemal berencana akan bersantai saja di rumah.
Jika dihitung mundur maka pernikahannya sekitar lima belas hari lagi. Namun khayalan Kemal untuk bersantai kembali gagal ketika Bima menelponnya tepat pukul delapan pagi. Dengan malas ia mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum, ada apa sih Bim?" Kemal menjawab dengan kesal telepon dari sahabat sekaligus tangan kanannya.
"Wes! Selow Bos, udah siang ini!" Bima menjawab dengan santai.
"Gue 'kan udah bilang semalem, hari ini gue mau santai seharian. Kenapa lo malah telpon gue, pagi lagi."
Kemal memang sudah memberitahu Bima sebelumnya. Bahwa hari ini ia tidak mau diganggu. Tapi Kemal juga tahu sahabat yang sudah merangkap menjadi saudaranya itu tidak akan mengganggunya jika itu tidak penting.
"Hello! Bapak Kemal Arjuna. Ini udah jam delapan lewat ya, tumben sekali anda bilang masih pagi. Lo ga sholat subuh?"
Bima yang belum pernah mendapati Kemal bangun sesiang itu menjadi heran.
"Enak aja lo, sholat lah. Cuma gue tidur lagi. Ada apa sih? Ini hari minggu loh!"
Kemal mendengus kesal kepada Bima yang menuduhnya tidak melaksanakan sholat subuh. Dalam keadaan sakit pun Kemal tetap melaksanakannya, apalagi dalam keadaan sehat. Jadi dia tidak memiliki alasan untuk tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Semalem gue dapet email dari sekretarisnya Mr.Jack. Dia minta kita buat terbang ke sana." Bima mulai menjelaskan maksudnya menelpon Kemal di minggu pagi ini.
"Loh kok tiba-tiba berubah gini sih? 'Kan katanya dia yang mau kesini, sekalian mau tinjau lokasi."
Kemal yang mendapatkan perubahan jadwal tiba-tiba menjadi bingung. Pasalnya ia sudah berjanji tidak akan kembali ke Jakarta apalagi ke luar negeri sebelum pernikahannya digelar. Tetapi jika ia tidak pergi maka pengajuan kerjasama yang ia ajukan pada Mr.Jack akan sia-sia.
Mr.Jack merupakan owner dari NEOS Group. Perusahaan raksasa skala internasional yang berpusat di Jerman. Dan pengajuannya diterima langsung oleh Mr.Jack. Suatu keberuntungan yang didapatkan Kemal, yang jarang sekali terjadi. Dan tentunya memberikan efek buruk bagi citra perusahaannya jika sampai ia tidak bisa menghadiri meeting tersebut. Perusahaannya akan dicap tidak profesional.
"Rencananya emang gitu. Tapi karena kesehatannya yang sedang menurun, mangkanya dia batalin. Dan nyuruh kita yang ke sana."
Bima menjelaskan alasan tentang perubahan jadwal tersebut. Mr.Jack memang sudah cukup berumur. Dan masih memegang penuh kendali perusahaannya. Karena ia hanya mempunyai satu anak perempuan dan belum menyerahkan tanggung jawab pada anak perempuannya.
"Ya udah. Kapan rencananya kita berangkat?" dengan berat hati akhirnya Kemal menyetujui.
"Gimana kalau hari selasa kalau ga rabu deh, biar Lo ngomong dulu sama keluarga Lo, terutama sama Ayang Mira."
Bima memberi saran, dengan biasa dia memanggil Mira dengan sebutan 'Ayang' yang artinya Sayang. Yang membuat Kemal mendengus karena panggilan Bima kepada calon istrinya.
"Ck! Cebiasaan manggil calon istri gue Ayang, gue slempat baru tau rasa lo." Peringatan Kemal untuk kesekian kalinya yang tidak pernah digubris oleh Bima.
"Dih! Mulut-mulut gue, serah gue lah, udah ah gue mau kerja lagi. Gue 'kan bukan bos yang bisa bangun siang, bos gue 'kan penjajah!" balasnya menyindir Kemal. Dan membuat Kemal tertawa.
"Selamat bekerja Kakak Bima assalamualaikum. Hahaha."
"Sialan lo, waalaikumsalam." Setelah menjawab salam dari Kemal, Bima langsung mematikan telponnya.
Sedangkan Kemal dengan terpaksa harus bangun. Hari minggu seperti ini di depan kompleks perumahannya dipastikan akan ramai, sampai kira-kira jam sepuluh pagi. Banyak yang akan berolahraga. Dan sudah bisa dipastikan banyak kaum hawa baik gadis maupun ibu-ibu yang sedang berjoging, maupun hanya sekedar jalan-jalan santai.
Kemal tidak ingin mengambil resiko untuk pergi ke rumah Amira di minggu pagi ini. Akan membuat heboh para kaum hawa nantinya dengan meneriakkan memanggil namanya, dan Kemal tidak menginginkan hal tersebut.
Kemal bangkit dari tempat tidurnya dengan malas, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. berjalan menuju lemari mengambil kaos polos berwarna hitam dan juga celana chinos selutut berwarna abu. setelah dirasa rapi Kemal pun turun ke bawah untuk menemui kedua orang tuanya yang sudah bisa dipastikan sedang berada di taman belakang rumahnya.
Dari tangga terdengar suara musik aerobik, tahu kedua orang tuanya pasti sedang melakukan senam ringan.
"Pagi Yah, Pagi Bu." Kemal memberikan ucapan selamat pagi kepada kedua orang tuanya.
"Pagi juga, katanya mau bangun siang. Ini baru jam sembilan kurang loh?" tanya ibunya setelah Kemal mendudukkan diri di sampingnya.
"Si Bima tuh ganggu mulu!" Kemal mengadu yang hanya di tanggapi dengan gelengan kepala oleh ibunya.
"Emang ngapain si Bima?" tanya Sandra dengan lembut sambil memberikan potongan buah apel pada anaknya.
"Udah dibilangin dari semalem jangan ganggu, malah Pagi-pagi udah telpon," jawabnya dengan manja.
"Tapi nggak mungkin nggak penting, 'kan? biasanya 'kan Bima pergi ke pantai kalau weekend tuh!"
Seno Arjuna menyela perkataan kemal, karena bagaimanapun ia tahu sifat kedua anaknya tersebut. Seno memang sudah menganggap Bima seperti anaknya sendiri. Sehingga tak jarang ia memperkenalkan Bima sebagai anaknya.
"Iya sih, Yah. Bima ngabarin tentang pertemuan dengan Mr.Jack. Rencana di awal Mr.Jack yang akan kemari, tetapi Bima bilang tadi malam sekretarisnya kirim email, bahwasanya kami yang harus ke sana karena kesehatan Mr.Jack sedang menurun."
"Loh, bukannya kamu sudah janji sama Amira kalau misalnya kamu nggak bakalan pergi kemana-mana sebelum pernikahan kalian diselenggarakan?" Sandra bertanya dengan menunjukkan wajah tidak setujunya.
"Iya, Bu. api kalau misalnya Kemal nggak berangkat perusahaan kita akan dicap tidak profesional. Apalagi pengajuan kemarin yang menanggapi langsung Mr.Jack. jadi kayaknya terpaksa harus berangkat," jawabnya dengan lesu.
"Ya sudah, kalau misalnya itu penting sekali kamu pergi saja, toh acaranya masih sekitar lima belas hari, 'kan?" Seno Arjuna menimpali sambil mendudukkan diri di samping istrinya.
"Iya, tapi bicarakan dulu sama Amira." Sandra berkata dengan memberikan segelas teh hangat kepada Kemal.
"Makasih, Bu. Iya nanti Malam Kemal telepon Amira."
jawabnya setelah menyesap teh pemberian ibunya.
"Jarak rumah kita sama rumah Amira hanya terhalang lima rumah, kenapa gak ke rumahnya aja sih?" Seno memprotes Kemal yang hanya memberi kabar lewat telepon.
"Iya, lebih baik kamu ke rumahnya aja!" tegas Sandra seakan tidak mau dibantah.
"Ya udah, nanti malam Kemal ke rumah Amira. Kalo sekarang yang ada Kemal jadi artis dadakan lagi," ucapnya dengan percaya diri.
"Pede kamu tuh," cibir Sandra
"Loh beneran 'kan? Tuh Ibu liat aja di luar, penuh dengan kaum hawa, Nanti Amira liat 'kan bahaya urusannya."
"Tenang aja. Ayah juga dulu merasakan seperti itu, bahkan mungkin sampai sekarang."
Seno berkata dengan sombong, yang membuat Kemal tertawa, sedangkan Sandra hanya mencebikkan bibirnya.
"Ayah sama anak ko sama narsisnya," ucapan Sandra yang membuat Kemal semakin tertawa.
"Loh, bener 'kan? Kalo yang para gadis mengidolakan Kemal, terus kalo para ibu-ibu ya mengidolakan Ayah dong. Iya ga Mal?" balasnya sambil menarik kedua kerah bajunya.
"Bener banget, Yah. Kita 'kan Arjuna!" Kemal dengan senang hati mengiyakan pernyataan ayahnya.
"Haduh, pusing Ibu lama-lama liat kelakuan kalian berdua ini. Udah Anaknya narsis gak ketulungan, satu lagi bandot tua ikut-ikutan." Sandra menggerutu dengan kesal melihat kelakuan anak dan suaminya.
"Tapi tetap, cinta Ayah hanya untuk Ibu seorang!"
Seno berkata dengan tangannya yang merangkul pinggang istrinya. Membuat Sandra memutar kedua bola matanya. Heran dengan kelakuan suaminya yang sudah tua namun tetap saja romantis.
"Cinta mati ya, Yah?" tanya Kemal
"Iya cinta mati. Tapi kalau Ibu meninggal Ayah kamu kawin lagi." Sandra menjawab dengan kesal dan membuat kedua lelakinya tertawa dengan ucapannya. "Kamu belum sarapan 'kan? Ibu masak makanan kesukaan kamu. Makan gih!"
"Terbaik." Kemal memeluk Sandra sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. "Ya udah Kemal makan dulu. Ibu sama Ayah udah makan?" tanyanya sebelum beranjak menuju meja makan.
"Jam berapa ini Bos. Nunggu kamu bangun bisa pingsan Ibu kamu tuh."
Seno menjawab dengan sindirannya. Yang dibalas dengan cengiran oleh Kemal. Setelahnya Kemal berjalan masuk menuju dapur.
Sampai di meja makan Kemal melihat nasi putih, sayur asem, tempe goreng, ayam goreng, ikan asin, sambal terasi, dan juga lalapan. Melihat menu favoritnya Kemal langsung mengeksekusi makanan tersebut menuju perutnya.
Walaupun terlahir dari keluarga konglomerat, menempuh pendidikan di luar negeri, dan mendapatkan cap sebagai idola para gadis dan calon menantu idaman para ibu-ibu komplek. Tetap saja makanan sederhana khas sunda menjadi favoritnya. Dan lagi Kemal selalu membayangkan jika sudah menikah nantinya ia akan ada yang melayani semua kebutuhannya, dari mulai makan sampai ia akan tertidur. Hanya dengan membayangkannya saja selalu menciptakan senyum hangat dan bahagia di bibirnya dan juga hatinya.
Setelah selesai dengan urusan perutnya Kemal segera membawa piring kotornya menuju wastafel. Sekali lagi walaupun ia terlahir dalam keluarga konglomerat tidak menjadikannya angkuh dan sombong. Sedari kecil ia diajarkan jika setelah makan, maka piring kotornya harus ia cuci sendiri.
Walaupun ada tiga pembantu di rumahnya. Kebiasaan itu sudah tertanam di otaknya. Yang terkadang membuat para pembantunya merasa tidak enak hati melihat sang majikan melakukan pekerjaan kotor tersebut.
Setelah piring tersimpan di rak penyimpanan, barulah ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Untuk memeriksa email yang dikirim Bima, Sahabat sekaligus asisten pribadinya. Nanti malam rencananya ia akan mengunjungi rumah Amira untuk memberitahukan perihal kepergiannya ke Jerman.