persiapan Pernikahan

1794 Kata
Hari yang cerah untuk hati yang berbahagia. Itulah kira-kira perasaan yang dirasakan Kemal maupun Amira. Pernikahannya pun kurang dari tiga minggu lagi, kondisi kesehatannya pun sudah pulih secara sempurna. Membuatnya bisa ikut mempersiapkan acara pernikahannya. Angga telah memilih WO untuk acara pernikahan Amira dan Kemal, tentu saja atas persetujuan calon mempelai. Pihak WO hari ini akan datang membahas detail dekorasi yang diinginkan oleh mempelai, baik untuk dekorasi dan desain undangan. "Pihak WO belum datang, Dek?" tanya Angga setelah mendudukkan diri di sofa samping Amira. "Tadi telepon katanya abis dzuhur." Amira menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di pangkuannya. "Kakak mau kemana udah rapi amat?" tanya setelah menyadari penampilan kakaknya. "Mau ketemu temen bentar, nanti kalo udah oke pilihannya kasih tau Kakak ya, Kakak pergi dulu, assalamualaikum." Angga beranjak setelah mengucapkan salam sambil mengacak pelan kerudung Amira. "Kakak ih! Berantakan nanti nya!" dibalas hanya dengan tertawaan oleh Angga. Setelah Angga pergi Amira melanjutkan kembali kegiatannya membaca laporan hasil dari kiriman orang kepercayaannya. Tak lama sebuah notifikasi pesan masuk ke handponenya. 081xxxxxxx Cewek munafik. Amira mengerutkan kening ketika membaca isi pesan tersebut, tidak berniat untuk membalasnya, karena Ia tahu itu hanya sebuah pesan dari orang iseng saja. Tapi tak lama kemudian satu pesan lagi masuk dengan no yang sama. 081xxxxxxx Gaya doang sok Alim tapi murahan. Amira hanya tersenyum membaca pesan lanjutan dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia yakin itu hanya nomor orang iseng saja, karena Amira tidak pernah memiliki musuh maupun lawan. Setelah beres memeriksa semua laporan Amira beranjak menuju kamarnya, jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Amira ingin beristirahat sebelum waktu dzuhur tiba. Amira beranjak menuju kamarnya dengan membawa serta laptopnya. Sesampainya di kamar diletakan laptop tersebut di sebuah nakas di sebelah ranjangnya. Ia pun segera merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya. Dokter berpesan walaupun kondisinya sudah pulih, Amira harus tetap banyak beristirahat untuk kesehatannya. Apalagi mendekati hari pernikahannya. Tanpa terasa waktu dzuhur telah datang, Amira terbangun ketika mendengar suara adzan dari masjid lingkungannya. Bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur Amira turun ke bawah untuk makan siang. Di Meja makan sudah tersedia nasi putih, capcay, ayam goreng, ikan bawal goreng, sambal dan juga setoples kerupuk. Amira berjalan menuju dapur untuk mencuci tangan dan juga mengambil air kobokan. Karena ia akan makan dengan tangannya langsung. Karena baginya akan sangat merepotkan memakan ikan menggunakan sendok. Setelah mengisi air dan juga memasukkan potongan jeruk nipis kedalam mangkuk kecil sebagai kobokan, ia melangkah kembali menuju meja makan. Mulai menyendok nasi dan juga lauknya. Setelah piringnya terisi ia pun memulai makannya dengan terlebih dahulu membaca doa. Setelah selesai makan Amira membawa piring kotornya untuk dibersihkan. *** Hal yang paling menyenangkan dari sebuah pernikahan adalah ketika kita mempersiapkan pernikahan impian kita sendiri. Terkadang lelah memang, tapi itu tidak akan terasa jika itu untuk pernikahan impian kita sendiri. Siang menjelang, pihak WO yang pemiliknya merupakan teman semasa putih abu-abu Angga dan juga Kemal datang ke rumah untuk membahas persiapan pernikahan. "Assalamualaikum, permisi Pak Nona Amira nya ada?" tanya salah seorang pria kepada satpam di rumah Amira. "Waalaikumsalam, ada Mas. Tapi maaf dengan Mas dan Mbak siapa, dan juga ada keperluan apa?" tanya Amin dengan ramah. "Saya Willy dan ini Risna, kami WO untuk pernikahan Nona Amira sekaligus temannya Angga, Pak." Jelas lelaki yang bernama Willy. "Oh… pihak WO, kalau gitu masuk aja Mas, Neng Amira nya ada di dalam." Amin mempersilahkan keduanya masuk. "Baik Pak, terimakasih." "Sama-sama." Setelah nya mereka berdua berjalan masuk. Tok...tok… assalamualaikum Setelah dua kali mengetuk pintu keluarlah seorang wanita berumur 40 tahun. "Waalaikumsalam. Maaf cari siapa?" tanyanya dengan sopan. Sarti salah satu pembantu di rumah Amira. "Kami dari pihak WO, Bu. Mau bertemu Nona Amira." Jawab Willy dengan sopan. Perempuan itu hanya mengangguk dan menggeser tubuhnya, tanda menyuruh masuk. "Silahkan duduk, tunggu sebentar Bibi panggil Neng Amira nya dulu ya." "Terimakasih Bu," setelah mereka berdua masuk, Sarti pergi menuju kamar Amira. "Neng Mira, ada pihak WO nungguin di bawah Neng," Tanpa menunggu jawaban Amira Sarti turun menuju dapur. "Sebentar lagi Neng Mira nya turun, mau minum apa?" "Apa aja asal tidak merepotkan Bi," jawab Risna sopan. "Ditunggu sebentar ya," balasnya sambil berlalu menuju dapur. Amira terlihat menuruni tangga dengan senyum manisnya. "Assalamualaikum," ucapnya memberikan salam setelah sampai di depan pihak WO. "Waalaikumsalam, Teh Amira?" tanya Risna dan dijawab dengan anggukan disertai senyuman oleh Amira. "Panggil Mira aja Teh." Mereka mengangguk pelan. "Saya Risna dan ini Willy teman saya, kami teman sekolah Angga dan juga Kemal, sekaligus WO yang ditunjuk Angga untuk pernikahan Mira dan Juga Kemal." Ucap perempuan yang bernama Risna sambil mengulurkan tangannya, dan disambut hangat oleh Amira. "Saya Amira, tapi Kak Angga nya lagi keluar sebentar Teh," jawab Amira dengan halus. "Iya tadi pagi Angga juga sudah chat kami, suruh nemuin Mira langsung aja." Setelah Amira duduk Sarti datang membawa nampan berisi 3 gelas jus jeruk dan juga cemilan. "Ini minuman sama cemilannya, buat temen diskusi. Silahkan dinikmati." "Terimakasih, Bu." Mereka bertiga kompak mengucapkannya. "Sama-sama, Ibu ke dapur lagi ya, kalau butuh apa-apa panggil saja." Setelah menyimpannya di atas meja Sarti kembali menuju dapur melanjutkan pekerjaannya. "Silahkan diminum Aa, Teteh," tawar Amira kepada tamunya. "Sebentar saya telpon Aa Kemal nya dulu ya." Amira mulai menghubungi Kemal panggilan pertama tidak dijawab, Amira mencoba menghubungi lagi. Tut...tut..tut… Di Dering ketiga untuk yang kedua kalinya Kemal baru mengangkat teleponnya. Assalamualaikum, Mira Waalaikumsalam, Aa dimana? Aa di rumah baru selesai makan, pihak Wo nya sudah datang? Kenapa telat sekali makannya? Udah, Aa bisa kesini, 'kan? Ya udah aa berangkat sekarang, aa tutup ya telponnya, assalamualaikum calon istri aa. Waalaikumsalam calon suami Mira. Setelah menutup telponnya Amira melanjutkan kembali obrolannya dengan pihak WO. "Kemal bisa mesra juga ya?" Willy dan Risna yang mendengar obrolan Amira ditelpon segera menggoda Amira, setelah sambungnya terputus. "Baru semingguan ini sikapnya berubah banget. Tiba-tiba bisa mesra," jawab Amira jujur dan ditanggapi dengan tertawaan oleh mereka berdua. Tidak lama setelah itu Kemal datang dengan mengucapkan salam. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab mereka bertiga kompak. Setelah sampai di ruang tamu keluarga Amira, Kemal menyalami Willy dan Risna pemilik WO sekaligus teman masa putih abu-abu nya dulu. "Widih kirain siapa yang jadi WO nya, ternyata Bos Willy." Mereka berdua bersalaman ala laki-laki dengan mengadukan kepalan tangan. "Bisa aja Bapak Kemal Arjuna ini, Bos teriak Bos." Jawab Willy yang membuat mereka tertawa. Sementara dengan Risna ia menangkupkan kedua tangan nya di d**a. "Risna ya? Apa kabar?" tanyanya sambil tersenyum hangat. "Alhamdulillah baik, calon pengantin auranya beda ya?" goda Risna membuat Kemal dan Amira terkekeh. "Udah nggak takut sama cewek?" tanyanya membuat Amira menatap bingung. "Maksudnya?" Amira menyela karena penasaran. Bukannya menjawab Kemal beserta yang lainnya hanya tertawa renyah, hingga membuat Risna terpukau akan tawa Kemal. "Ih! Aa ko gak di jawab sih?" tanya Amira lagi. "Aa gak takut sama cewek Mira. Aa hanya menjaga jarak dan pandangan. Aa gak punya temen cewek yang akrab, temen sekolah maupun kuliah cuma sebatas kenal dan tahu namanya saja." Penjelasan Kemal membuat Amira tersenyum. Amira kira Kemal mempunyai trauma terhadap wanita. "Ya udah duduk yuk." Ajaknya mempersilahkan mereka semua duduk kembali. "Mira sudah pilih?" tanyanya dengan lembut. "Belum, 'kan tadi langsung telpon Aa. Mira buatin minum buat Aa dulu ya, Aa mau minum apa?" "Apa saja asal gak ngerepotin Mira." "Cie manisnya." Willy memotong percakapan mereka berdua. Membuat pipi Amira merona. "Ya udah Mira buatin es jeruk aja ya." Kemal menganggukkan kepalanya, "Gulanya jangan banyak-banyak ya." "Iya." Amira menjawab singkat dan pergi menuju dapur. Sementara Kemal melanjutkan obrolan nya dengan kedua teman sekaligus pemilik WO tersebut. "Oke, Mal. Jadi kamu mau konsep yang seperti apa?" Willy mulai menyodorkan katalog kepada Kemal. "Tunggu calon Nyonya dulu, biar Amira yang milih, Aku mah ngikutin aja," jawabnya dengan halus "Kemal, Aku boleh nanya gak?" Risna bertanya dengan ragu, mengingat ia tidak pernah berbicara sedekat ini dengan Kemal. "Santai aja, Ris. Tanya aja." Melihat teman sekolahnya begitu canggung membuat Kemal tersenyum. "Maaf nih ya kalo Aku kepo, tapi aku penasaran hehehe. Sejak kapan kamu pacaran sama Amira sampe mutusin buat Nikah juga?" tanya Risna yang memang begitu penasaran. Kemal tersenyum, "Kita gak pernah pacaran, kita berdua dijodohin. Tapi Aku Alhamdulillah karena dijodohin sama Amira." Kemal berbicara sambil menatap Amira yang berjalan ke arahnya. "Kenapa liatin Mira aja?" tanya Amira kepada Kemal. "Mira cantik," jawabnya asal. Membuat Willy dan Risna membulatkan matanya mendengar ucapan Kemal. Sedangkan Amira pipinya merah merona dan memalingkan wajahnya karena malu. "Aa gak jelas!" ucapnya dengan tersenyum. "Hello, maaf Pak, Bu, kami bengek liat kemesraan kalian berdua." Willy berkata membuat Amira semakin malu menambah rona merah di pipi nya. "Ya udah, sekarang coba kalian liat katalog ini dulu, dan ini beberapa contoh desain undangannya." Risna menyodorkan katalog yang dibawanya. Diterima dengan antusias oleh Amira, membuat Kemal tersenyum. Dan semua itu tidak luput dari perhatian Willy. Membuat hatinya sedikit tercubit, karena sejujurnya ia menyukai Amira. Setelah Amira dan Kemal melihat katalog dari contoh dekorasi gedung dan juga undangan, mereka telah menemukan pilihan yang tepat. Dan mulai menginterupsi obrolan Willy dan juga Risna. "Kita berdua sepakat, kalau buat desain undangan yang ini, tapi pakai warna hitam. Dan jangan lupa tulis prosesi adat pernikahan, antara lain, Tembang Ayun pengantin, dan Paculan pengantin supaya masyarakat juga mengikuti prosesnya. Dan jangan lupa juga diberi tulisan 'Resepsi dibuka untuk umum' supaya masyarakat gak bingung sama warna undangannya." kemal mulai menyampaikan isi penting dalam persiapan pernikahannya. Desain undangan dengan tebal kurang lebih 2 cm berwarna merah, berbentuk persegi dengan ukuran 15x25 cm dibungkus seperti Amplop dan diikat dengan pita, desain undangan yang simpel tapi terkesan mewah. "Dan untuk masalah dekorasi, karena kita pakai outdoor Mira ingin pelaminan yang sederhana tetapi tetap elegan dan menciptakan kesan mewah. Untuk tenda warna putih dan untuk bunga warna pink dan juga putih, Mira juga ingin full bunga asli dan segar." Amira menambahkan apa yang menjadi pernikahan impiannya. Karena resepsi mereka diadakan di stadion mini yang ada di komplek tersebut. Lapangan seluas dua hektar akan menjadi tempat prosesi adat pernikahan mereka. "Untuk catering pakai western sama makanan indonesia juga, jangan lupa stand ice cream, potongan buah segar, Untuk kuenya sediakan aneka jenis bolu, dan juga puding, sedangkan untuk kue tradisional akan disiapkan oleh orang tua kami sendiri. Sedangkan untuk minuman sediakan air putih, dan minuman bersoda yang berwarna, tetapi harus yang halal, tidak ada minuman yg mengandung alkohol deh pokoknya." Kemal kembali menjelaskan keinginannya. Mereka memakai WO sekaligus catering yang sama. Untuk lebih menghemat waktu. Terlebih pemilik WO temannya sendiri, menjadikan mereka tidak canggung untuk menyampaikan keinginannya. Baik Risna maupun Willy memperhatikan dan mencatat bagian-bagian penting yang telah disebutkan oleh Kemal dan juga Amira. "Ada tambahan lagi?" tanya Willy setelah selesai mencatat. "Untuk sementara itu dulu aja, nanti kalau ada tambahan lagi kami sampaikan melalui telepon." Kemal menjawabnya. "Diminum sama dimakan dulu Teh, Aa," Setelah semua dirasa selesai Willy dan Risna segera berpamitan. Dan menjanjikan undangannya akan jadi 1 minggu kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN