Terkadang kita memang harus menutup mata pada kenyataan yang ada. Seperti yang dilakukan oleh Kemal, bukannya ia tidak tahu pada perasaan Amara. Kemal terlalu peka pada perasaan seseorang, serapih apapun Amara menyembunyikan rasa sakit di hatinya tetap saja bisa Kemal rasakan.
Kemal sengaja selalu menekankan kata tentang statusnya yang akan menjadi calon suami Amira, yang berarti calon kakak iparnya juga. Hal tersebut untuk menekan perasaan Amara terhadapnya. Berharap Amara menghilangkan perasaannya segera. Karena bagaimanapun Kemal tetap merasa kurang nyaman mengetahui calon adik iparnya memiliki perasaan lebih terhadapnya. Kemal pun mengagumi sosok Amara yang mampu menyembunyikan perasaan luka dan sedihnya dengan begitu rapi.
Malam itu setelah selesai makan malam Amara langsung beranjak ke kamarnya, seperti biasa dengan alasan lelah. Sedangkan Kemal beserta keluarga Amira beranjak menuju ruang keluarga untuk membahas acara pernikahan mereka nanti.
Setelah pembahasan selesai, orangtuanya dan Angga beranjak menuju kamar masing-masing. Sedangkan Amira dan Kemal diberikan kesempatan untuk mengobrol berdua.
"Ngelamun mulu sih?" Amira menghampirinya dengan senyum yang selalu menjadi keindahan tersendiri bagi Kemal. "Mikirin apa?" tanya nya lagi setelah mendudukkan diri di sofa singel di hadapannya yang di halangi sebuah meja.
"Mikirin kamu."
Dua kata yang mampu membuat pipi Amira merona walau sedikit karena wajah pucat nya.
"Apasih, Aa kenapa berubah jadi banyak tingkah sih?"
"Aa, nggak banyak tingkah Mira. Aa memang begini kalau sama orang-orang yang dekat sama Aa!"
"Masa iya? Ko selama ini kak Angga nggak bilang sama Mira?"
"Berarti selama ini Mira ngepoin Aa ya?" Kemal balik bertanya sambil menaik turunkan alisnya untuk menggoda Amira.
"Sedikit sih!" jawab nya dengan menempelkan jari telunjuk dan jempolnya sebagai tanda 'sedikit'
"Hasil kepo nya dapet apa aja?"
"Ga dapet apa-apa, kak Angga 'kan nggak pernah cerita apa-apa juga," jawaban jujur dan polos Amira membuat Kemal tersenyum.
"Mira polos banget sih? Jujur banget lagi dan Aa suka," balasnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Amira tertawa pelan melihat kelakuan Kemal. "Serius deh Aa beda banget sama yang selama ini Mira tahu, plus denger dari rumor di luaran. Apa mungkin karena Mira nggak kenal Aa secara benar kali ya?" tanya nya dengan sisa tawa nya.
"Mangkanya ada peribahasa bilang, 'tak kenal maka tak sayang' ya itu, Mira cuma tahu Aa yang kaku, alim, pendiam, padahal mah Aa juga sama kaya cowok yang lainnya. Cuma memang itu hanya berlaku untuk para lelaki dan orang-orang terdekat aja sih."
"Gimana Mira bisa kenal Aa lebih dekat, kalo Aa nya aja kayak yang jaga jarak gitu sama perempuan."
"Mangkanya nya mulai sekarang kenali Aa lebih dalam."
"Sedalam apa?"
"Sumur boleh."
"Cetek amat, A."
"Ya gali lagi kalo pengen tambah dalem." Amira tertawa mendengar jawaban asal dari Kemal.
Jam yang terasa begitu cepat bergulir membuat mereka terpaksa harus menghentikan obrolan.
"Aa pulang sekarang yah, Mira istirahat sekarang, sholat isya dulu, abis itu langsung tidur ya, jangan lupa minum obatnya." Ocehan Kemal sebelum berpamitan.
"Bawel banget sih. Udah pulang sana."
"Aa diusir nih?"
"Tadi 'kan Aa yang mau pulang, ih ga jelas Aa tuh."
"Hahaha. Ya udah Aa pulang dulu ya, jangan lupa sampein pamit Aa sama Om dan Tante ya, assalamualaikum."
"Iya, bawel, waalaikumsalam."
Setelah puas menggoda Amira Kemal beranjak pulang dengan diantar Amira sampai pintu.
"Jangan lupa minum obat langsung tidur jangan mikirin apapun, oh iya lupa tolong bilangin ke Bi Ani mang Diman kirim salam."
Kemal kembali mengingatkan Amira, dan membuat Amira memutar bola matanya jengah.
"Ih! Makin bawel aja Aa tuh! Insyaallah nanti Mira sampein."
Amira berkata dengan kesal mendengar peringatan Kemal. Dan ditanggapi dengan tertawa oleh Kemal.
Kemal berjalan santai menuju gerbang rumah Amira. "Mau pulang, Den?" tanya Kedua satpam rumah Amira secara bersamaan.
"Iya, Mang, udah malem, assalamualaikum,"
Kemal bergegas mengucapkan salam, karena tidak ingin mendengar godaan kedua satpam Amira.
"Waalaikumsalam," jawab mereka dengan kompak.
Sepi, satu kata yang Kemal rasakan saat sampai di dalam rumahnya. Orangtuanya tidak ada, pembantunya pasti sudah tidur.
Maka dari itu Kemal langsung menyetujui permintaan ayahnya untuk segera menikah. Apalagi ketika ia tahu bahwa yang dijodohkan denganya adalah gadis yang selama ini menjadi cinta dalam doanya.
Setiap sepinya malam yang Kemal rasakan, ia selalu membayangkan kehidupan harmonis dan bahagia bersama Amira, dan betapa bersyukurnya ia ketika tahu dijodohkan dengannya.
Setelah melaksanakan shalat isya Kemal berjalan menuju ranjang nya dan mulai merebahkan dirinya.
Niat hati Kemal ingin mengirim pesan pada Amira, namun ia urungkan, karena nanti pasti akan mengganggu istirahatnya.
Setelah menyetel suhu Ac dalam kamarnya, Kemal mulai membaca doa, memeluk guling seperti biasa sebelum ia bisa memeluk Amira. Menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata untuk mengarungi alam mimpi yang ia harapkan akan bermimpi indah.
***
Sakit yang paling terasa adalah melihat anak yang paling disayang harus bersedih karena patah hati. Anak yang selama ini membuatnya bahagia hanya dengan melihat senyumnya. Anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang. Anak yang menjadi semangat hidupnya, walaupun bukan lahir dari rahimnya. Anak yang mampu membuat dunianya hanya berpusat padanya. Ia berjanji akan selalu membuat anak itu bahagia dan tersenyum.
Ketika anaknya patah hati karena seorang Kemal Arjuna, ia pun tak bisa hanya berdiam diri melihat anaknya terpuruk dalam kesedihan. Ia berjanji akan melakukan apapun untuk sang putri agar bisa bersama dengan pangerannya. Bahkan jika harus menyingkirkan Amira maka akan ia lakukan demi melihat putrinya bahagia.
"Aku harus melakukan sesuatu lagi untuk membatalkan pernikahan mereka." Ia memerintahkan pada dirinya sendiri. "Tapi apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.
Dengan memeluk guling nya ia memutar otaknya, mencari cara untuk membatalkan pernikahan Amira dan Kemal yang akan diadakan kurang dari tiga minggu lagi. Seketika ia menemukan ide untuk menyingkirkan Amira. Ia memainkan ponselnya mencari kontak seseorang yang bisa membantunya, begitu menemukan kontak orang tersebut segera ia mengirim pesan.
Saya:
Siapkan orang untuk menculik Amira anak dari Andri Arkana. Nanti saya beritahu waktunya
Setelah menekan tombol kirim ia langsung merebahkan diri tanpa menunggu balasan dari orang yang ia perintahkan.
Ia yakin dan berharap bahwa rencana nya kali ini akan berhasil. Ia pun tersenyum membayangkan Kemal yang gagal menikahi Amira, karena calon pengantinnya tidak ada. Setelahnya ia pun mulai memejamkan matanya untuk bermimpi.
***
Sementara dikamar Amara, gadis itu sedang menutup telinga nya dengan menggunakan headphone yang di sambungkan dengan handphonenya guna mendengarkan musik, untuk menenangkan pikirannya.
Menyandarkan tubuh di kepala ranjang dengan bantal yang ditumpuk, tangannya memeluk guling, matanya terpejam menghayati setiap bait lagu yang berjudul Risalah Hati yang dinyanyikan oleh Tata Janeta, yang seperti menggambarkan perasaanya.
Semenjak Kemal resmi di tunangkan dengan Amira, Amara mulai menyukai lagu yang menggambarkan perasaannya dan juga cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Astaghfirullah, kenapa rasanya setiap hari bertambah sakit melihat Kemal."
Amara berkata sambil menepuk dadanya yang terasa sesak mengingat perhatian dan tatapan penuh cinta dari Kemal untuk Amira.
Kemal yang selalu menundukkan kepalanya dengan berani memandang bahkan memeluk Amira. Membuat Amara merasa hatinya digenggam dengan sangat erat, sehingga menimbulkan rasa sakit dan sesak yang teramat.
Entah Amara belajar akting dari mana, sehingga ia mampu menyembunyikan rasa sakit dengan sangat baiknya. Padahal seringkali matanya berkaca-kaca ketika di hadapan keluarganya. Entah keluarganya yang tidak memperhatikan atau mungkin ia yang terlalu pandai menyembunyikan nya.
Setelah dirasa cukup menenangkan diri dengan musik, Amara membenarkan posisi tidur nya, menarik selimut dengan tetap memeluk guling, Amara mulai memejamkan matanya setelah membaca doa.
Mara kenapa nangis, Dek?
Mara mau mainan yang itu, Kak!
Yang ini?
Bukan, tapi yang itu!
Oh… jangan nangis, ambil ini, kalau mau apa-apa ngomong sama kakak, jangan nangis ya.
Makasih kak Mira.
Amara tersenyum dengan ceria ketika mendapatkan mainan yang ia inginkan, yaitu mainan kepunyaan Amira.
Amira selalu mengalah pada Amara. Walaupun mereka lahir hanya berbeda waktu tiga menit, tetapi Amira benar-benar menempatkan dirinya sebagai kakak yang melindungi adiknya. Begitupun Amara yang bersikap manja menandakan dia adik bungsu kedua kakaknya.
Seketika bayangan mimpi masa kecilnya hadir, dimana Amira selalu mengalah dan memberikan apapun yang diinginkan Amara. Terlintas pikiran konyol Amara meresapi otaknya. 'bagaimana jika ia meminta Amira melepaskan Kemal dan memberikan kepadanya? Pertanyaan itu berkeliaran di otaknya, bukankah selama ini Amira selalu memberikan apapun yang ia mau?
Tetapi dengan cepat ia menepis jauh pikiran itu, Kemal bukan lah sebuah barang yang dengan mudahnya bisa ia minta pada Amira. Kemal mempunyai perasaan. Amara jelas melihat cinta dan kekaguman dari Amira maupun Kemal. Mengingat bagaimana cara Kemal memandang Amira dengan penuh cinta, berbanding terbalik dengan cara Kemal memandangnya yang hanya sebagai adik, menggantikan posisi Aishi yang merupakan adik kandungnya.
"Astaghfirullah."
Amara terus merapalkan istighfar untuk meredam pikiran konyolnya.
Ia tersenyum sinis pada dirinya sendiri, yang benar-benar menjadi bodoh dan seperti tak berakhlak dengan pemikirannya sendiri.
"Cinta itu satu kata dengan berjuta makna. Cinta akan membuat akal dan pikiran menjadi bodoh bahkan nyaris tak berguna jika kita terus mengikuti tanpa ingin mencegah. Berdzikir dan berdoalah sesering mungkin di setiap kesempatan, agar kamu tidak mengikuti hasutan setan dengan mengatasnamakan cinta."
Amara teringat akan perkataan yang diucapkan oleh Bian, seseorang yang berada di masa kecilnya.
Argetta Bian Candra Dwi Mikail. Sosok teman sekaligus pelindung masa kecilnya. Yang setelah belasan tahun lamanya menghilang, kini hadir kembali di hidupnya yang rapuh karena cinta.
Ketika ia kembali mengingat Bian seketika ia sadar akan kata-kata yang diucapkan Bian. Dari mana Bian mendapatkan kata-kata seperti itu?
Bian seorang umat Kristen, tetapi perkataannya seperti seorang ustadz. Lima belas tahun lebih tidak bertemu membuat perubahan besar pada diri seorang Bian.
Amara ingin kembali seperti masa kecilnya, hidup yang tanpa beban dan berteman dengan sangat dekat dengan Bian. Amara ingin kembali dekat seperti dahulu dengan Bian.
Namun, Amara takut Bian sudah memiliki kekasih bahkan istri. Mengingat bagaimana Bian sekarang. Jika disandingkan dengan Kemal tidak ada yang beda. Sama-sama tampan, tinggi, sukses, berkelakuan baik. Hanya satu yang menjadi perbedaannya, yaitu keyakinan. Yang membuat Kemal tetap berada diatasnya. Mungkin jika Bian seorang Muslim tidak akan ada perbedaan antara dirinya dan Kemal.