Tom & Jerry

1987 Kata
Perjalanan tidak akan membosankan jika kita isi dengan obrolan santai dan senda gurau. Begitupun yang dirasakan oleh Amira, Kemal dan juga Amara. Selain jarak antar rumah sakit dan kompleks perumahan mereka dekat, dengan adanya Amara menjadikan suasana di dalam mobil terasa hangat dan ceria. Dengan posisi Kemal layaknya seorang supir bagi kedua putri kerajaan. Kemal yang duduk di balik kursi kemudi dengan sesekali memperhatikan keakraban wanita kembar dibaliknya. Amara dengan sikap cerianya, Amira dengan sikap lembut dan dewasanya membuatnya sering kali tersenyum akan hal itu. "Kak Mira tau nggak aku ketemu siapa tadi pagi?" pertanyaan yang Amara lontarkan membuat Kemal menyela akan jawaban Amira. "Mara selain cantik aneh juga ternyata ya," jawabnya dengan santai. "Memangnya kami ini paranormal bisa tau Mara tadi pagi ketemu siapa?" "Hellow! Mon maf ya pak Kemal. Mara tuh tanya sama kak Mira bukan Aa Kemal, huh." Amira tersenyum bahagia melihat adik dan calon suaminya yang terlihat akrab. "Sekarang Aa itu juru bicaranya Amira. Jadi kalau nanti semua pertanyaan Aa yang jawab," kekeuh Kemal yang membuat Amara mencebikkan bibirnya. "Sejak kapan ya? Emangnya kak Mira bisu apa, ga bisa jawab pertanyaan Mara?" Sebelum Amira menjawab Kemal lebih dulu menjawab nya. "Amira tidak boleh banyak bicara terlebih dahulu Mara." Amara menolehkan kepalanya pada Amira seakan meminta jawaban, seketika Amira menganggukkan kepalanya. "Oh… pantesan Kak Mira diem-diem bae," celotehan Amara membuat Kemal maupun Amira terkekeh. Mereka sampai di rumah Amira setelah menempuh perjalan kurang lebih 15 menit, karena Kemal berkendara dengan pelan. Kedatangan mereka disambut oleh orang tua Amira dengan bahagia. "Kenapa nggak di rawat di rumah sakit aja sih, Sayang. 'kan lebih intensif." Amira mengerucutkan bibirnya, "Bau obat, Mah. mual perut Mira nya." "Biarin aja, Tan. nanti akan ada suster yang kesini, buat pantau kondisinya." perkataan Kemal membuat Amira membulatkan matanya. "Ko Aa nggak bilang Mira dulu sih, kalo mau panggil suster." "Kalau Aa bilang dulu pasti kamu nolak, jadi mendingan begini." "Mamah setuju!" celetuk Ananda setuju. "Mah princess pulang loh ini." Amara yang merasa terabaikan memberitahukan keberadaan nya. "Astaga anak bandel Mamah udah pulang." Amara memanyunkan bibirnya. "Ko bandel sih?" tanyanya dengan nada manja. "Kalau nggak bandel harusnya kamu nggak pergi keluar kota" "Iya, iya, ya udah Mara ke kamar dulu ya." "Ya udah sana, Mira mau ke kamar apa disini dulu." "Disini dulu aja Mah." "Ya udah Mamah mau bikinin minum dulu buat kalian." "Nggak usah repot-repot, Tan. Kemal mau langsung pulang aja." Amira menolehkan kepalanya, "Kok, Aa langsung pulang sih? Duduk dulu aja disini." "Aa mau mandi dulu, sekalian mau bilangin ibu sama ayah, kalau calon menantunya ini udah pulang dari rumah sakit." "Oh… ya udah kalo begitu, bilangin sekalian nanti makan malem bareng disini aja ya." timpal Ananda. "Iya nanti Kemal bilangin, ya udah Kemal mau pulang dulu ya. Assalamualaikum Tante, Mira." Kemal beranjak dan menyalami punggung tangan calon mertuanya, tak lupa memberikan senyumnya untuk Amira. "Waalaikum salam," jawab Amira dan Mamahnya berbarengan. Setelah Kemal pergi, Ananda menyuruh Amira untuk beristirahat di kamarnya. "Mira istirahat di kamar aja ya, hayu mamah bantu." Amira menganggukkan kepalanya patuh. *** Sementara Kemal begitu sampai di rumahnya langsung disambut dengan kekosongan tanpa penghuni rumah. Kemal mencari ayah dan ibunya. Kemal mengeluarkan Hp nya untuk menanyakan keberadaan orang tuanya, baru Kemal akan mencari Nomor ibunya, ayahnya telah lebih dulu menelponnya. Ayah calling…. "Assalamualaikum, Yah, Ayah sama Ibu dimana?* "Waalaikumsalam Nak, Ayah sama Ibu lagi di jalan, mau berkunjung ke rumah temannya ibu yang sedang mengadakan acara. Kemungkinan kami akan menginap. Kamu hati-hati di rumah ya." "Oh...yasudah kalau seperti itu, tapi ini bibi pada kemana ya? ko sepi sekali di rumah, cuma ada mang diman saja di pos." "Bi siti sama bi isah sedang pulang kampung. Bi suli sedang membeli keperluan nya." Ibunya menjawab semua pertanyaan Kemal. "Oh… oke lah, hati-hati dijalan Bu, selamat bersenang-senang. Hehehe." "Kamu ini memangnya ibu mau jalan-jalan." "Nginep nya 'kan pasti di hotel, jadi bisa lah Kemal punya adik lagi. Hahaha" "Ibu sudah tua Kemal… yasudah kamu istirahat sana. Oh iya, gimana kabar calon menantu ibu?" "Tetap cantik, dan sudah lebih baik." "Alhamdulillah, kalo cantik memang sudah dari sananya. Yasudah ibu tutup dulu, titip salam sama calon besan dan calon menantu. Assalamualaikum." "Siap Ibu Peri. Waalaikum salam." Setelah mematikan teleponnya Kemal bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri. Jam sudah menunjukkan pukul empat lewat dua puluh lima menit. Kemal belum melaksanakan sholat ashar. Setelah melaksanakan sholat ashar Kemal pergi ke ruang kerjanya, untuk memeriksa pekerjaannya yang selama dua hari ini ia tinggalkan demi menjaga Amira. Kemal bukan seorang yang workaholic, tapi jika sudah berada di ruangan kerjanya ia seperti tenggelam dengan tumpukan file yang selalu berhasil menyita waktu dan perhatiannya. Hingga tanpa terasa adzan Maghrib terdengar berkumandang. "Alhamdulillah." ucapnya seraya mengusapkan kedua tangannya ke wajah. Dan langsung menuju kamarnya untuk melaksanakan sholat Maghrib. Setelah sholat dan berdzikir, Kemal bersiap untuk pergi ke rumah Amira untuk makan malam bersama atas paksaan Ibunya Amira. Dengan menggunakan celana chinos berwarna hitam kemeja lengan panjang berwarna marun membuat penampilannya sederhana namun tetap terlihat memukau. Pukul tujuh lewat lima belas menit Kemal menuruni tangga dengan perlahan. Sebelum berangkat Kemal menghampiri bi Suli untuk berpamitan. "Bi, Kemal mau kerumah Amira, bibi nggak usah siapin makanan ya." Bi Suli yang mendengar perintah majikannya mengangguk. "Oke Den, bagaimana keadaan non Amira Den?." "Alhamdulillah, sudah lebih baik Bi, doakan semoga cepat sembuh ya Bi." Suli mengangguk, "itu pasti atuh Kasep." "Ya udah, Kemal berangkat dulu ya Bi, Assalamualaikum." Setelah menyalami tangan dan mendengar jawaban salam dari pembantunya, Kemal berjalan santai menuju rumah Amira. Sampai di depan pos rumahnya Kemal menyapa security-nya. " Mang, Kemal ke rumah Om Andri dulu ya." Diman satpam di rumahnya memberikan hormat dan berkata. "Siap Den, hati-hati. Titip salam sama Bi Ani ya Den. Hehehe." Kemal terkekeh, "Siap Mang, nanti di sampein salamnya, ya udah Kemal jalan dulu ya, Assalamualaikum." Kemal melanjutkan lagi perjalanan nya, sampai di depan rumah Amira Kemal bertemu dengan Amin dan Karsam di pos jaga. "Assalamualaikum Mang." "Waalaikum salam, Den. Mau ngapel ya?" goda Amin salah satu satpam di rumah Amira. "Ngapel apa ngepel Mang?" tanyanya dengan bercanda. "Ngepel mah cape Den, kalo ngapel kan enak," jawab karman dan mereka tertawa. "Mamang ini ada-ada saja, ya udah Kemal masuk dulu ya." "Oke siap," jawab kedua satpam itu kompak. Dengan langkah santai Kemal berjalan menuju pintu rumah Amira. Belum sempat Kemal mengetuk pintu, pintu sudah terbuka terlebih dahulu dan munculah wajah cantik Amara. "Eh! ada Aa Kemal, Aa mau ngapain kesini?" Amara bertanya dengan tangan bersedekap di bawah dadanya. "Assalamualaikum, Amara." Kemal menjawab pertanyaan Amara dengan mengucap salam. Amara yang mendengarnya nyengir tanpa dosa, " hehehe, waalaikumsalam Aa, sekarang jawab pertanyaan Mara, Aa mau ngapain kesini?" Sebenarnya Amara sudah tahu maksud kedatangan Kemal. Hanya saja Amara sengaja menggodanya dan menahannya agar bisa lebih lama memandang wajahnya. "Aa mau numpang makan, Adik Ipar. boleh ya, ayah sama ibu Aa lagi pergi, jadi nggak ada makanan di rumah." Kemal menjawab dengan menampilkan wajah sedihnya, dan hal itu membuat Amara tertawa. "Muka Aa lucu kalo kayak gitu, emang Aa nggak punya duit ya? Pake numpang makan dirumah Mara segala?" Kemal yang akan membuka mulutnya untuk menjawab Amara, tidak jadi karena sudah lebih dulu di potong oleh calon ibu mertua nya. "Loh! Kemal kenapa nggak masuk, malah berdiri disitu?" "Nggak dibolehin masuk sama Amara, Tante." Amara menaikan alisnya tidak percaya akan tingkah Kemal. "Idih, belum apa-apa udah ngadu, huh cemen," ucapan Amara mendapat teguran dari Mamanya. "Hush! Mara kamu ini iseng banget sih. Ya udah hayu masuk, Amira udah nunggu di meja makan." Amara memberi Kemal jalan untuk masuk. Kemal melangkah kan kakinya masuk, ketika melewati Amara Kemal berkata. "Makasih yah, adik ipar." ucapnya dengan nada menjengkelkan di telinga Amara. "Calon woy, calon." teriaknya membuat semua yang berada di meja makan menggelengkan kepalanya. Mereka heran entah sejak kapan Kemal yang terkenal pendiam berubah menjadi seperti Tom & Jerry jika berada dekat Amara. Kemal sampai dimeja makan, di sana terlihat Andri, Angga, Amira, dan juga Ananda. Kemal menyalami punggung tangan calon mertuanya dan duduk di sebelah Angga. Disusul Amara yang duduk di sebelah Amira. "Kamu ini kenapa jadi seperti gadis bar-bar sih Mara, pake teriak-teriak segala?" pertanyaan Andri membuat Amara mengerucutkan bibirnya. "Apa sih Yah, tuh calon menantu ayah ngeselin?" tunjuk nya menggunakan garpu ke arah Kemal. "Dek, jangan nggak sopan begitu." Peringatan dari Angga membuat Kemal terkekeh melihat wajah cemberut calon adik iparnya. "Emang Aa ngapain Mara, ko ngeselin sih?" tanya nya dengan wajah sok polos, membuat Amira tersenyum. Dan senyuman Amira tentu saja penyejuk bagi Kemal. Hal itu tidak luput dari pengamatan Amara tanpa mereka sadari. "Tau ah, Mara lapar." "Oh pantesan Kamu galak, Dek, ternyata kamu lapar ya?" godaan Angga membuat mereka tertawa. "Dih, maksud kakak kalo udah kenyang Mara bego gitu?" tanya nya tidak terima. "Kakak nggak ngomong gitu ya," Angga membela dirinya. "Tuh Mah, kakak ngatain Mara bego, sebel ih!" rengek nya membuat orang tuanya menggelengkan kepala. "Kalian ini sudah besar, kenapa seperti anak kecil sih. Malu Mara sama Kemal, kamu udah gede loh." Andri merasa sungkan akan sikap anak-anaknya di hadapan Kemal. "Nggak apa-apa Om, Aishi juga gitu kalo pulang. Kemal ngerasa Amara kaya Aishi, mangkanya Kemal suka buat dia kesel." Deg! d**a Amara terasa sesak mendengar penuturan Kemal. Ternyata selama ini ia hanya dianggap seperti Aishi, adiknya yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Pantas saja sikap nya berubah sangat drastis. Amara tersenyum pahit dihatinya, jangankan untuk menyukainya, bahkan melihatnya sebagai wanita pun Kemal tidak.Kemal hanya menganggapnya sebagai pengganti adiknya yang tidak bisa ia jahili. Seusai makan malam bersama, Kemal tidak langsung pulang, ia harus membahas kasus keracunan yang menimpa Amira, dan juga membahas acara pernikahan Mereka. Sedangkan Amara pergi ke kamarnya dengan alasan lelah, ia tidak ingin membuat luka hatinya bertambah dengan mendengarkan persiapan pernikahan orang yang teramat dicintainya. Di Ruang tengah mereka berkumpul dan mulai membahas kasus Amira. "Ibu sama Ayah titip salam sama Om sekeluarga." Kemal memulai obrolannya. Posisi mereka saat ini, Amira duduk di tengah antara Ayah dan Mamanya, Angga duduk di sofa single di sebelah ibunya, sedangkan Kemal duduk di sofa single dekat dengan Angga. "Alaika salam," jawab Andri. "Gimana Ga, udah ada perkembangan kasusnya?" tanya Kemal, karena semua nya diserahkan pada Angga. Angga menggelengkan kepalanya. "Nggak ada bukti apapun, dan karena kita juga nggak pasang cctv jadinya ya gitu." Angga menjawab dengan nada sedikit putus asa. "Tutup aja kasus nya, Kak. Mira udah ikhlas." Kemal menatap Amira, dari sorot matanya jelas Kemal menyampaikan ketidaksetujuan nya. "Kenapa ditutup Mira?, Kita harus tangkap pelakunya?" seru Andri tidak terima. "Yah, memang saat kejadian nggak ada orang di dalam rumah, Amira sendiri, sedangkan mang Amin sama mang Karman ada di pos yang ditemani pak Rt dan dua warga lainnya. Amira hanya takut kita salah menuduh dan menangkap orang, Amira takut akan hal itu, Yah." Amira mencoba memberi pengertian pada orang-orang disekitarnya. Dan akhirnya mereka mengerti. "Benar yang dikatakan Amira, Om, Tante. Karena tidak ada bukti jelas lebih baik kita cabut saja laporannya. Daripada kita menghukum orang yang salah, itu lebih bahaya." Kemal menyampaikan pendapatnya. Amira tersenyum karena calon suaminya mengerti kekhawatiran hatinya. "Ya udah kalau memang itu keputusan kalian," Andri hanya bisa menyerahkan semua keputusan pada Amira. "Bagaimana dengan persiapan pernikahannya Ga?" tanya Kemal mengalihkan pembicaraan. "Sejauh ini lancar, kita pakai lapangan komplek untuk acara. Dan ya, karena kamu anak lelaki satu-satunya maka akan diadakan prosesi adat tembang ayun pengantin. Karena kalian hanya ingin mengubah adat perbedaan derajat, tapi tidak dengan prosesi semua adat, jadi kalian harus tetap melaksanakannya. Siap-siaplah pengantin baru tapi bau." Angga tertawa di akhir kalimatnya, membayangkan prosesi adat pernikahan yang masih sangat kental membuat kemal menelan ludahnya. Walaupun mereka sudah hidup di daerah yang termasuk kota. Kemal baru menyadari hal itu. Di daerah mereka tidak hanya adat perbedaan kasta yang mencolok, tetapi prosesi adat pernikahan yang masih sangat kental pun harus mereka jalani. Kemal bertanya dalam hatinya 'mengapa tidak ada yang mengingatkan nya dalam hal itu' jika ia ingat pasti ia akan memilih resepsi di hotelnya. Agar terhindar dari semua adat yang pasti akan menguras tenaganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN