Luka Tanpa Hubungan

1850 Kata
Sebutan apa yang pantas untuk seseorang yang berhasil menorehkan luka yang begitu dalam, tapi tidak pernah berstatus menjadi mantan? Bahkan tidak pernah berhubungan layak nya seperti teman. Perasaan terluka yang seperti itulah yang Amara rasakan terhadap Kemal. Kemal tidak pernah menjadi teman apalagi memiliki hubungan khusus dengan Amara. Tetapi pertunangan antara Kemal dan Amira berhasil menorehkan luka yang teramat dalam pada hatinya. Menyedihkan sekali seorang Amara Putri Arkana. Amara seakan mempunyai dua sisi yang berbeda. Ia harus bersikap ceria seperti biasanya ketika bersama keluarganya. Sedangkan jika Amara sedang sendiri atau bersama Sarti pengasuhnya, ia akan menjadi wanita rapuh karena patah hati. Cintanya yang tak terbalas oleh Kemal membuatnya nyaris frustasi. ketika memulai hari dengan bahagia di hadapan keluarganya, tapi begitu sampai di tokonya Amara langsung mengurung diri di ruangan pribadinya. Terkadang ia akan pergi ke taman untuk menenangkan diri, melihat kemesraan orang-orang sekitarnya. sedangkan ia hanya akan berdiam diri sendirian duduk di bangku kosong yang tersedia, dengan pandangan lurus ke depan dan sesekali ia akan menarik nafas kasar dan lelahnya. Seperti pagi ini Amara tengah berada di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari tokonya. Taman yang tidak terlalu ramai membuat banyak bangku yang kosong. Orang-orang yang berlalu lalang seolah tidak terlihat olehnya. Raganya duduk di bangku itu, tetapi jiwa nya berkelana entah kemana. Pandangannya kosong dengan menatap ke depan, tanpa disadarinya ada seseorang yang duduk di sebelahnya. "Setan akan dengan senang hati masuk ke dalam tubuh dan pikiran mu, jika kamu tetap seperti ini," ucapnya dengan pandangan yang sama lurusnya dengan pandangan Amara. Amara yang mendengar perkataan orang tersebut langsung menoleh, tapi hanya sebentar dan setelahnya ia kembali meluruskan pandangannya. "Saya tidak mengenal anda, jadi anda tidak perlu mengurusi saya!" Amara tidak suka ketika ia sedang menyendiri ada orang lain yang mengganggunya, terlebih ia tidak mengenal orang tersebut. "Saya tidak bermaksud mengurusi hidup Anda, saya hanya menyayangkan kehidupan Anda. Anda tidak tahu saya, tapi saya tahu siapa anda," jawaban orang itu membuat Amara kembali menolehkan kepalanya. "Siapa disini yang tidak mengenal keluarga saya?" tanyanya dengan sombong, entah kenapa ia kesal dengan orang yang sedang duduk di sebelahnya. Orang itu berekspresi seperti terkejut. "Wow! saya baru tahu jika seorang Amara Putri Arkana ternyata begitu sombong. Tapi tidak apa, saya paham, kamu melakukan itu karena keadaan mu yang sedang terluka." Amara tersenyum miring, siapa orang ini, yang seolah mengetahui permasalahan hidupnya bahkan hatinya. "Terima kasih untuk pujiannya." Amara hanya menanggapi dengan singkat, setelahnya Amara berdiri bermaksud untuk pergi, tetapi belum ia melangkah tangannya sudah dicekal oleh orang itu. "Duduklah dulu, kamu bisa cerita apapun padaku. Kamu mungkin melupakanku, tetapi aku tidak pernah melupakanmu. Ceritakan lah padaku, aku siap mendengarkannya." Mendengar ucapan orang itu membuat Amara berpikir siapa pria yang sedang bersamanya sekarang? "Maaf saya tidak mengenal anda, saya harus segera pergi." Amara ingin melepaskan cekalan di tangannya, tetapi pria itu tetap menahannya. "Tolong lepaskan tangan saya!" Amara berucap dengan nada tenang dan ekspresi datar. "Kamu nggak inget siapa, Kakak?" tanya nya setelah melepaskan tangan Amara. "Perkenalkan saja diri anda, saya sedang tidak ingin bermain teka-teki," jawabnya dengan tetap berekspresi datar. "Argetta Bian Chandra Dwi Mikail." (Getta yang sama di cerita Gita & Enam Anak Onta, disini Getta dipanggil dengan nama Bian) Mendengar nama laki-laki di hadapannya membuat mata Amara membulat sempurna. Amara tidak menyangka teman masa kecilnya kembali. 15 tahun lebih mereka tidak pernah bertemu, tidak pernah sekalipun berkomunikasi. Jadi wajar jika ia tidak mengenali siapa pria yang ada di hadapannya. Seketika air mata Amara meluncur begitu saja, tanpa ragu Amara berhambur ke pelukannya dan menumpahkan tangis kesedihan berbalut bahagia. "Kamu jahat, Kak!" gumam nya di sela tangis yang membasahi kemeja Bian. "Maaf, maaf, Kakak baru bisa kembali sekarang." Bian juga tidak menyangka dia bisa kembali ke tempatnya tinggal dulu. Andra sahabat sekaligus atasannya memintanya untuk menangani masalah perusahaan yang ada di kota tersebut. Amara masih menumpahkan tangis nya di pelukan Bian. Sampai ia merasa puas baru ia melepaskan pelukannya. "Kenapa baru sekarang Kakak kembali? Kenapa bukan dari dulu? Bagaimana kakak tau ini aku?" deretan pertanyaan Amara membuat Bian tersenyum, gadis itu masih sama yang selalu cerewet. "Kakak bingung jawab yang mana dulu. Yang penting kakak sudah kembali, 'kan?" Amara tersenyum dan mengangguk. "Maaf ya, Mara tadi ketus. Terus asal peluk aja," ucapnya dengan menampilkan senyum manis, yang selalu Bian rindukan. "Kamu kenapa?" pertanyaan Bian menampilkan perubahan pada wajah Amara. "Mara lelah, Kak!" Amara yang lelah dengan hatinya yang tidak pernah berhenti untuk mengagumi sosok Kemal, mungkin bukan hanya dia seorang, tetapi semua wanita pemuja Kemal. "Lelah Kenapa?" Patah hati ya?" Bian bertanya sambil menggoda dengan menaik turunkan kedua alisnya. "Dukun ya? Kok tau kalo Mara lagi patah hati?" Bian tertawa. "Semua orang yang lewat juga tau kalo Mara pasti lagi patah hati. Orang kusut gitu muka nya. Galau banget sih?" "Au ah gelap," jawabnya dengan nada merajuk. Pertemuan singkat dengan Bian membuatnya sedikit melupakan masalah patah hatinya. Amara mendengar bahwa saudara kembarnya sedang berada di rumah sakit. Bukan nya Amara tidak peduli, hanya saja Amara tidak siap melihat raut cemas yang pasti akan Kemal tunjukkan dihadapannya. Sungguh Amara belum siap untuk itu semua. Untung saja kemarin ia berpamitan pada keluarganya akan pergi keluar kota bersama Yuka temannya. Padahal ia berbohong untuk semua itu, entah firasat atau apa, ia hanya ingin menghindar dari keluarganya. Sudah dua hari ia mengurung diri di tokonya yang berada di daerah lain. Semua pegawai nya ia amanat kan untuk tidak mengatakan keberadaannya. Sore ini Amara berniat untuk pulang dan menjenguk kembarannya. Bagaimanapun ia tetap harus menutupi patah hatinya. *** Sedangkan di rumah sakit Amira sedang memperhatikan Kemal yang sedang membereskan barang-barangnya. Kondisinya sudah lebih baik hanya tinggal pemulihan. Amira merengek ingin pulang karena tidak suka mencium bau obat-obatan. "Maaf ya 'A kalo Mira ngerepotin Aa." Kemal tersenyum dan menatap Amira. "Jangan pernah mikir kalau Mira ngerepotin Aa. Aa seneng ngelakuin ini buat calon istri Aa!" jawaban Kemal membuat pipi Amira merona. "Makasih," balas nya dengan nada manja. Kemal berjalan mendekati Amira, duduk di ujung ranjang dengan jarak sekitar setengah meter. "Maaf ya, sekarang Aa nggak bisa jaga pandangan Aa. Aa terus liatin Mira, Aa udah berani pegang tangan Mira bahkan peluk Mira." Dengan menundukkan kepala, Kemal malu pada kelakuannya yang tidak bisa mengendalikan diri. "Mira juga minta maaf, karena Mira pun sama tidak bisa menolak perlakuan Aa." Mereka memang bukan berasal dari keluarga Alim Ulama, hanya saja Keluarga mereka taat akan agama. Mereka tahu mana yang boleh dan tidak boleh. Selama ini mereka mampu mengendalikan diri, tetapi setelah pertunangan mereka diselenggarakan, entah mengapa mereka tidak bisa mengendalikan diri. Apalagi dengan adanya musibah seperti ini. "Berarti kita sama-sama salah ya?" tanya kemal dengan nada sok polos nya. Amira tertawa melihatnya, "Ekspresi Aa lucu kalau sok polos gitu. Hahaha." Dan mereka tertawa bersama. Sedangkan dibalik pintu ruang rawat Amira, ada Amara yang mendengarkan percakapan mereka berdua. Dengan berat hati Amara mengetuk pintu, setelah merubah ekspresi sedihnya menjadi ceria seperti biasa. Begitu mendengar nada perintah masuk yang berasal dari suara Kemal, Amara memutar handle pintu. Dengan sedikit berlari menuju Amira mengabaikan Kemal yang ada di dekatnya. "l "Kakak!" Panggilnya dengan nada manja dan langsung memeluk Amira. "Maaf Mara baru bisa datang," ucapnya dengan nada sedih. "Nggak apa-apa, Sayang. urusan kamu udah selesai belum?" "Udah kok, mangkanya Mara langsung pulang begitu urusan Mara selesai." "Ehem… ehem, permisi disini ada manusia juga loh," ucapan Kemal membuat kakak adik itu menoleh. "Oh ada Aa Kemal juga, kirain Mara kak Mira sendirian. Hehehe." Amara mencoba mengajak Kemal bercanda. "Astaghfirullah, ternyata hamba tak kasat mata di hadapan calon adik ipar hamba." Deg! Kemal yang menyebutnya dengan kata 'calon adik ipar' membuat daada Amara terasa sesak, harus kah di perjelas sedemikian rupa akan statusnya yang tidak akan bisa memiliki Kemal? Tetapi sebisa mungkin Amara bersikap biasa, "Maaf kan calon adik iparmu ini, Aa." balasnya dengan nada bercanda sambil menangkupkan kedua tangannya di d**a. Dan detik berikutnya mereka tertawa bersama. "Kakak udah mau pulang ya?" tanya Amara basa-basi. Amira mengangguk semangat, "Tinggal masa pemulihan aja. Kalo lama-lama Kakak disini bukannya sembuh malah tambah sakit, bau obat kakak nggak tahan." Amira memang paling tidak suka bau obat-obatan. "Oh… kebetulan kalau begitu kita pulang sama-sama ya. Lagian nggak boleh Kak Mira sama Aa Kemal berduaan belum sah." Amara menegaskan kata 'sah' sebenarnya untuk menyenangkan hatinya sendiri. Setidaknya ia masih bermimpi cintanya terbalas, sebelum ia benar-benar melihat mereka berdua menikah. Kemal yang melihat keakraban saudara kembar tersebut tersenyum bahagia dan hanya berkata. "siap Bos!" dengan gerakan tangan hormat. Setelah semua beres Kemal memanggil suster dan meminta kursi roda. "Suster. Tolong bawakan kursi rodanya ya." Suster yang dipanggil oleh Kemal tersenyum, "Baik, Tuan." "Aa kenapa minta kursi roda sih, Mira 'kan bisa jalan." Amira berkata dengan manja pada Kemal. "Aa tau mira bisa jalan sendiri, tapi badan Mira masih lemas, jadi daripada Aa gendong, mending pake kursi roda, 'kan?" Amira memanyunkan bibirnya. Amara memperhatikan kemesraan mereka berdua dengan perasaan yang sulit diartikan. "Emang nya Aa berani gendong Kak Mira?" Amara sengaja memancing Kemal. "Ya kalau Amira nya bandel terpaksa Aa gendong," jawab Kemal dengan santai. Amira yang mendengar kata 'bandel' menjadi tertawa. "Emang nya Mira anak kecil apa, pake dikatain bandel segala." Ketika Kemal ingin menjawab perkataan Amira, suster datang dengan membawa kursi roda. "Permisi, ini Tuan kursi rodanya." Suster yang hanya fokus kepada Kemal membuat Amara jengah. "Liatnya biasa aja, Sus. itu calon kakak ipar saya!" Suster tersebut tersenyum kikuk. "Terima Kasih Sus. Biar saya yang dorong sendiri kursi rodanya, silahkan tinggalkan kami." Kemal berkata dengan lembut tanpa menatap suster tersebut. "Baik, saya permisi dan maaf." Setelah menundukkan tubuhnya sebagai permintaan maaf, suster tersebut meninggalkan ruangan rawat Amira. "Mara, Nggak boleh gitu," peringatan dari Amira membuat Amara memonyongkan bibir nya sebentar. "Salah sendiri matanya jelalatan." Amara membela diri dengan kesal. "Mau Aa gendong ke kursi rodanya?" tanya Kemal dengan nada menggoda. "Mira bisa sendiri 'A!" Amara membantu Amira turun dari ranjangnya menuju kursi roda. "Ko sekarang Aa genit sih? Belum nikah tau, jadi nggak boleh pegang-pegang!" perkataan Amara membuat Kemal tersenyum kikuk. "Biar Aa aja yang dorong. Mara tolong bawain tas ya." "Siap Bos, Tapi Mara nggak mau jalan di belakang ya. Nanti dikira pembantu lagi," jawabnya dengan nada manja. "Mana ada sih pembantu cantik begini?" tanya Kemal dengan nada bercanda. "Kalau Mara cantik, nggak mungkin Mara jomblo akut, A!" Kemal dan Amira tertawa mendengar penuturan adiknya. "Itu bukan berarti Mara jelek, cuma kriteria Mara nya aja yang terlalu tinggi." Jelas Kemal yang disetujui oleh Amira. "Apaan sih, emang Mara pernah pasang pengumuman kriteria Mara ya? Aa sok tau nih," balasnya dengan nada merajuk. "Kriteria Mara itu nggak jauh kaya Aa deh." Jelasnya lagi dengan nada bercanda. Tetapi di hatinya memang sangat menginginkan Kemal seutuhnya. "Siapa sih yang nggak mau sama Aa?" Kemal mengatakan dengan percaya diri. "Astaghfirullah, ternyata calon kakak iparku yang terkenal dingin, kalem, alim, percaya dirinya setengah Mati." Amara berkata sambil mengusap d**a. "Ternyata selama ini kita ditipu yak, Dek?" tanya Amira dengan terkekeh. "Bener banget, Kak. Ternyata rumor diluar itu semua nya bohong ya tentang Aa Kemal." Perjalanan dari ruang rawat Amira sampai parkiran tidak terasa karena obrolan mereka, setiap petugas yang melihat mereka mengangguk sopan, yang dibalas hanya dengan senyuman dan sedikit anggukan kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN