Amira Sadar

2140 Kata
Bagaikan sebuah permainan teka-teki yang tidak memiliki clue sama sekali, begitulah kasus yang kini dihadapi para polisi tersebut. Para polisi datang bersamaan dengan mobil Angga. "Selamat sore, Bapak Angga." Kedua polisi itu menjabat tangan Angga. "Sore. Mari silahkan masuk, saya tunjukan tempat kejadiannya." Angga menjawab dan menerima jabatan tangan kedua polisi tersebut, para polisi itu mengangguk. Setelah memasuki rumah Ani beserta Sarti melihat dari arah dapur dan ikut mendekati, sampai di taman belakang. "Bisa diceritakan bagaimana kejadiannya?" Salah satu polisi yang berpangkat AKBP itu mulai mengintrogasi. Dan mengalir lah cerita dari Angga. "Kami akan membawa jus ini untuk tes di lab." Seorang polisi memakai sarung tangan dan mulai memasukan gelas beserta isinya ke dalam sebuah plastik. "Ada siapa saja di rumah ini ketika kejadian." "Di dalam rumah tidak ada siapa-siapa selain Amira pada saat saya masuk, diluar ada dua orang satpam yang sedang bermain catur dengan ditemani beberapa warga." Pintu gerbang rumah Amira memang selalu terbuka untuk para warga yang ingin sekedar bermain catur dengan satpam. "Sedangkan Bi Ani sama Bi Sarti mereka baru kembali satu jam yang lalu dari berbelanja." "Apakah ada yang menyentuh barang-barang yang ada di meja ini?" Kedua pembantu itu menggeleng karena sudah diperintahkan oleh Angga, untuk tidak menyentuh barang barang yang ada di meja taman belakang. Karena akan dijadikan barang bukti. "Baik, sekarang kita ke depan, untuk bertanya pada kedua satpam Bapak," perintah polisi itu dan di angguki oleh Angga. Sampai di depan rumahnya Angga segera memanggil kedua satpam rumahnya. "Pak karman, Pak Amin kesini sebentar." Kedua satpam itu segera menghadap. "Kami hanya akan bertanya tolong jawab jujur ya, diantara bapak berdua ada yang memasuki rumah tidak?" tanya salah satu polisi. "Setelah sarapan pagi Kami berdua berada di pos Pak, dan sekitar jam setengah sembilan Kami ditemani Pak Rt, pak Andi, dan pak Anas bermain catur Pak, sampai menjelang dzuhur." Para polisi itu mengangguk. "Baiklah untuk sementara cukup, kami akan membawa ini ke laboratorium untuk diselidiki. Jika nanti kami membutuhkan keterangan dari pak Karman dan bapak yang lainnya, kami harap anda bersedia." Kedua satpam itu hanya mengangguk. "Baik kami pergi dulu, kami akan kabari segera. Selamat sore Pak Angga, mari Bapak Ibu semua." Kedua polisi itu pergi meninggalkan rumah Angga. *** Hembusan angin terasa begitu menusuk sampai ke tulang. Langit mendung membuat malam semakin gelap tanpa hadirnya bintang dan bulan, seakan begitu mengerti perasaan Kemal yang sedang sedih. Dadanya terasa sesak melihat orang yang dicintainya terbaring lemah dengan wajah pucat nya. Ingin rasanya menggenggam tangannya membawa ke bibirnya untuk ia kecup, tetapi ia sadar belum saatnya untuk semua itu, mereka belum menikah. Dengan ditemani kopi yang mulai menghangat Kemal duduk termenung sendiri di cafe seberang rumah sakit. Calon istrinya belum sadar, sudah hampir dua jam Kemal berada di rumah sakit. Dengan badan lengket berbalut keringat tapi tetap tak memudarkan ketampanan seorang Kemal Arjuna. "Assalamualaikum." Angga datang dan menarik kursi untuk ia duduki setelah mengucapkan salam. "Waalaikumsalam, baru datang, Ga?" Kemal yang melamun tidak menyadari kapan Angga menghampirinya. "Gimana penyelidikannya?" tanya nya langsung. Pramusaji datang menghentikan obrolan mereka dengan membawa segelas jeruk hangat pesanan Angga. Setelah pramusaji itu pergi baru Angga menjawab pertanyaan Kemal. "Udah diselidiki sama polisi, saat kejadian nggak ada orang dirumah, hanya ada security di pos. Pak Karman dan Pak Amin, Bi Ani sama Bi Sarti belanja, jadi di rumah Amira sendirian." Kemal menghembuskan nafas nya dengan kasar, "Semoga segera terungkap." "Amin, lo pulang aja, istirahat, biar gue yang jaga Amira, kalo sadar langsung gue kabarin." Angga memperhatikan kondisi calon adik iparnya yang terlihat sangat lelah, Angga tahu Kemal belum beristirahat. "Ya udah, kalo Amira sadar langsung beritahu. Gue pulang sebentar, nanti kembali lagi." Kemal beranjak pergi setelah berpesan pada Angga. Sepeninggalan Kemal Angga memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, dengan ditemani segelas jeruk peras hangat kesukaannya. Polisi tidak menemukan bukti apapun, di gelas yang menjadi tempat minuman Amira tidak ditemukan sidik jari siapapun selain sidik jari Amira. Angga beranjak pergi dan menuju rumah sakit untuk menjaga Amira. "Assalamualaikum, Mah, Yah." "Waalaikumsalam," jawab orang tuanya bersamaan. "Bagaimana, apakah ada petunjuk dari polisi?" Ayahnya langsung bertanya. "Polisi tidak menemukan petunjuk apapun, Yah!" jawabnya dengan nada frustasi. Orang tuanya mendesah lelah. "Ayah sama Mamah pulang saja, biar Angga yang jaga Amira, nanti kalau Amira sadar Angga langsung kasih kabar." Melihat wajah mamahnya yang sedikit pucat membuat Anga Khawatir. "Tapi Mamah mau nungguin Amira sadar," Keukeh Ananda. "Wajah Mamah pucat, sekarang kita pulang dulu, besok pagi kita kesini lagi," bujuk Andri yang akhirnya disetujui oleh Ananda. "Kami pulang dulu, kalau sadar langsung kasih kabar, jaga adik kamu, Ga." pamit Ananda dengan berat hati. Sepeninggal orang tuanya, Angga duduk di samping ranjang Amira. "Kenapa bisa kayak gini, Dek? Siapa yang tega sama kamu," Angga yakin adiknya diracuni, karena tidak ada makanan atau minuman lain di meja tempat kejadian selain segelas jeruk peras. Bahan yang ada di dalamnya hanya jeruk peras dan gula serta racun, setelah uji laboratorium. Karena tidak mungkin Amira sengaja meracuni dirinya sendiri, di rumah mereka tidak terpasang cctv karena tidak pernah terjadi apapun selama 30 tahun orangtuanya menempati rumah itu. "Tapi kamu tenang saja, kakak masih akan terus menyelidiki sampai orang yang berniat mencelakai kamu tertangkap." Angga berbicara dengan menggenggam tangan adiknya. Terdengar handle pintu yang berputar, setelah nya Kemal datang dari balik pintu itu. "Assalamualaikum, Ga." Kemal mengucapkan salam dan berjalan mendekati ranjang Amira "Waalaikumsalam, kenapa lo kemari lagi, bukannya istirahat aja di rumah!" "Gue nggak tenang, Ga, sebelum Amira sadar." Angga beranjak menuju sofa tempat Kemal berada, "Apa yang harus kita lakukan tentang kasus ini? Tidak ada petunjuk satupun tentang semua ini!" "Kita berdoa saja dan serahkan pada Allah, cepat atau lambat, kita akan mengetahui siapa yang ingin mencelakai Amira." Angga mengangguk setuju. "Tapi gue gak akan mengampuni orang itu kalo gue yang mengetahui lebih dulu siapa pelakunya." Kemal berbicara dengan tenang tetapi Angga melihat kemarahan di sorot mata Kemal, rahangnya yang mengetat, menandakan ia sedang emosi. "Istighfar, lo terlihat bukan seperti seorang Kemal Arjuna yang selalu sabar dan alim." "Gue hanya manusia biasa yang mempunyai amarah, melihat seseorang yang selama ini gue perjuangkan dalam doa terbaring lemah tak berdaya hati gue sakit." Angga menaikan sebelah alisnya, apakah ia tidak salah dengar 'orang yang selama ini diperjuangkan dalam doa' itu berarti orang tuanya tidak salah menjodohkan Amira dengan Kemal "Jadi selama ini lo mencintai Amira?" Kemal tersenyum, mengingat bagaimana di setiap doanya selalu ia selipkan nama Amira, "Gue selalu menyebut namanya dalam doa, gue selalu berdoa semoga Amira yang menjadi makmum dalam shalat gue." Mendengar ucapan Kemal membuat Angga tersenyum, ia bahagia adiknya dicintai oleh lelaki seperti Kemal. Lelaki sempurna di mata para kaum hawa bahkan tak sedikit laki-laki pun memuji seorang Kemal Arjuna. *** Amira mengerjapkan kedua matanya, kepalanya terasa berat, tubuhnya terasa lemas tenggorokannya terasa sedikit panas. Amira mencoba beberapa kali berdehem untuk mengurangi rasa haus dan panas. Kemal yang mendengar deheman Amira bangun, dan segera menghampirinya. Kemal mengingat pesan dokter jika jangan mengajaknya berbicara, sebelum Amira yang memulainya. "A-" Amira ingin memanggil Kemal tetapi tenggorokannya seperti tercekat, dan membuatnya terbatuk. Tangannya menggapai air, Kemal yang melihatnya segera mengambilkan air itu dan mendekatkan pada bibir Amira. Amira minum dengan posisi setengah duduk yang dibantu oleh Kemal. "Te- ehem, ri- ehem, ma- ehem, ka- ehem, sih.ehem." Amira mengucapkan 'Terima kasih' dengan setiap kata diselingi oleh deheman untuk menetralkan tenggorokannya. Hal itu membuat hati Kemal terluka. Kemal memalingkan wajahnya, untuk mengusap sudut matanya yang basah. Angga yang mendengar Amira terbatuk akhirnya bangun, dan segera menghampiri adiknya. "Sudah panggil dokter?" Kemal hanya menggelengkan kepalanya, Angga segera keluar dan memanggil dokter. Dokter yang datang dengan suster mulai memeriksa keadaan Amira. "Kondisi nya bagus, hanya saja jangan terlalu memaksakan untuk bicara ya, jika sudah merasa ringan baru mulai berbicara. Cukup seperti berlatih oke." Amira hanya menganggukkan kepala. "Baik saya permisi dulu, Pak." Dokter dan suster itu membungkukkan badan berjalan keluar. Setelah dokter dan susternya pergi Kemal mendekati Amira dan duduk di kursi sebelah ranjangnya, sedangkan Angga keluar untuk membeli minuman dan makanan. "Jangan seperti ini lagi, Aa khawatir, Mira." Kemal menundukkan kepalanya, tangannya memegang sisi ranjang yang dipakai Amira. Ucapan Kemal membuat Amira sedih, dan tanpa bisa dicegah air matanya menetes. Amira hanya bisa menggelengkan kepalanya, bibirnya menggumamkan kata Maaf. Kemal yang mendengar isakan Amira tersadar dan mendongakkan kepala. Tanpa bisa dicegah Kemal berdiri dan memeluk Amira. Membiarkan Amira menangis di pelukannya. Berulang kali Kemal mengucapkan kata Maaf. Ini bukan salah ataupun kemauan Amira, tidak sepantasnya Kemal berbicara seperti itu, Kemal hanya merasa takut. Entah mengapa setiap yang berhubungan dengan Amira selalu membuat Kemal takut setelah ia resmi bertunangan dengan Amira. Berulang kali Kemal beristighfar, ia tahu ini dosa, tapi Kemal tidak mampu menahannya untuk tidak memeluk Amira. Angga yang melihat dari balik pintu bisa merasakan ketakutan yang dirasakan Kemal. Angga pun takut jika terjadi hal buruk pada Adiknya. Tapi Angga tidak bisa membiarkan mereka berada dalam dosa lebih lama lagi Angga masuk dan berdehem. "Ehem! Kemal!" Kemal melepaskan pelukannya. "Maaf," ucapnya pada Angga dan Amira. "Gue ngerti, tapi belum saatnya, kalian belum muhrim." Kemal hanya mengangguk, Angga menyerahkan segelas espresso panas padanya. "Terima kasih." "Sama-sama." "Baring aja, Dek. baru jam setengah dua pagi." Angga membantu Amira untuk berbaring kembali, sedangkan Kemal masih berdiri di sisi sebelahnya. "Tidur ya, Kakak nunggu di sofa." Angga berjalan menuju sofa, sedangkan Kemal kembali duduk di kursi sebelah ranjang Amira. "Dari pagi perasaan Aa nggak tenang, gelisah banget, sampe telepon ibu. Ibu bilang itu cuma perasaan. Tapi sekarang Aa tau kenapa Aa gelisah, ternyata itu ikatan batin kita. Dengar Mira masuk rumah sakit buat Aa panik." Kemal bercerita tanpa diminta, ia sudah tidak memikirkan dosa ketika matanya terus memandang Amira. Amira memberanikan diri menggenggam tangan Kemal dan tersenyum lalu menggeleng, seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. "Sekarang Mira istirahat lagi, cepat sembuh, pernikahan kita tinggal tiga minggu lagi, Aa disini menemani." Amira tersenyum dan kembali mengangguk, ia selalu bahagia ketika Kemal menyebutkan kata 'kita' dan juga 'pernikahan', karena dua kata itu seperti sokongan energi untuk tubuhnya. Amira mulai memejamkan matanya, hatinya tenang dan bahagia mendapati Kemal ada disampingnya. Amira tahu ini dosa, akal sehat nya kalah oleh bisikan setan. Mereka berdua seolah lupa jika mereka belum menjadi suami istri. Kemal yang melihat Amira mulai lelap dalam tidurnya mulai menyandarkan tubuhnya pada kursi. Tangannya masih di genggamannya, ia enggan melepaskannya. Tetapi dengan tidak mengikuti nafsunya, perlahan ia melepaskan tangan Amira, dan membenarkan selimut yang sedikit turun. Dengan masih setia mandang wajah calon istrinya. Wajah cantik itu kini pucat. Kemal pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, Ia tidak bisa melaksanakan shalat tahajud karena belum sempat tidur sama sekali, karena itu adalah pendapat terkuat para ulama. Mangka dari itu Kemal hanya akan membaca Al-qur'an melalui ponselnya. *** Keesokan harinya orang tua Amira dan orang tua Kemal datang untuk menjenguk. Angga sudah rapi dengan pakaian kantornya. Sedangkan Kemal masih tertidur di atas sofa, karena ia baru tidur setelah sholat subuh. "Assalamualaikum," terdengar salam yang diucapkan secara bersamaan. "Waalaikumsalam," jawab Angga mengulurkan tangan untuk menyalami orang tuanya dan orang tua Kemal. "Bagaimana kondisinya, Nak?" tanya Ananda. "Dini hari tadi Amira sadar, dengan ditemani Kemal terus tertidur lagi." Ananda mendekat dan mengusap kepala anaknya dengan sayang, Amira yang merasakan usapan lembut di balik kerudungnya perlahan mengerjapkan matanya. "Mah." Amira berkata dengan lemah, Ananda langsung mengecup kening Anaknya dengan bibir yang tak henti mengucap syukur. "Alhamdulillah Sayang, kamu udah sadar." Ananda berkata dengan tersenyum. Sandra mendekat dan mengecup kening Amira. "Apa yang kamu rasakan, Sayang?" Amira tersenyum pada calon mertuanya. "Pusing, lemes, tenggorokannya masih sedikit panas." Amira sudah mulai bicara lancar walaupun tenggorokannya masih terasa tidak nyaman "Haus, Mah." Ananda yang mendengar ucapan Anaknya, segera mengambilkan Air didalam botol dan menuangkan pada gelas baru yang tersedia. Amira bangun dengan perlahan untuk duduk, "Pelan-pelan Sayang." Sandra membantu calon menantunya untuk duduk. Ananda mengarahkan gelas ke mulutnya. "Jangan terlalu banyak bicara dulu, Nak." Seno dan Andri mendekat. Kemal terusik mendengar suara banyak orang, ia mulai membuka mata, dan melihat kedua orang tuanya dan orang tua Amira yang berada di dekat ranjang pasien. "Ibu Peri" Panggil nya dengan manja dan langsung memeluk ibunya, membuat semua orang tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan. Semua orang tidak akan percaya jika ada yang menceritakan sikap manja Kemal terhadap ibunya, jika tidak melihat secara langsung. Hal itu pun membuat Amira tersenyum. "Kamu nggak malu sama Amira dengan sikap kamu yang kaya gini?" pertanyaan ayahnya membuat Kemal mengalihkan pandangannya. "Ayah syirik!" jawabnya santai. "Ck! seorang Kemal Arjuna yang di idolakan para wanita bahkan sampai ibu-ibu ternyata Aslinya seperti ini." Angga menyindir pamor Kemal yang selalu di banggakan para kaum wanita, membuat Kemal mencebikkan bibirnya. "Iri…. Bilang bos!" jawaban kemal semakin membuat yang lain tertawa. Kemal memang sengaja ingin menghibur dengan sikap manjanya pada sang ibu. karena Amira pasti akan terheran dengan sikap yang sebenarnya. Ia tidak pernah menunjukan sikap manjanya di depan orang lain seperti ini, hanya saja ia berpikir semoga Amira terhibur, dan caranya berhasil, ia bisa melihat senyum cantik dari calon istrinya bahkan tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN