Chapter 91: First

1003 Kata

Chesa refleks mundur. Kedua tangannnya yang kini menggenggam kamera, bergemetar. Ini aneh. Mengapa dirinya gugup? “Sorry, tadi saya--” “Enggak pa-pa kok,” sahut Chesa, berusaha menutupi rasa gugupnya. “eum, jadi sekarag lo udah siap?” “Ya, tentu saja.” Aksa menciptakan jarak. Dia persiap untuk dipotret. Namun, bibirnya tidak sedikitpun terangkat. “Senyum,” kata Chesa. Aksa tetap saja seperti semula. Apa suaranya memang kecil? Mau tidak mau, Chesa menghampiri Aksa. "Senyum, Aksa." "Tidak. Adikku bilang, saya terlihat jelek ketika tersenyum." "Apa?" Chesa tertawa kecil. "yang ada seseorang tambah tampan atau ganteng ketika senyum kali." ia lantas geleng-geleng. "Tania ada-ada aja," "Lalu gimana caranya senyum?" "Lo nggak tau?" bibir Chesa berkedut. Sebisa mungkin dia tidak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN