Chapter 92: Menghindar

1413 Kata

"Ibu, aku berangkat sekarang!" Chesa mencondongkan badan, menyalimi tangan Rumaisa. "Kamu habis nangis?" bukan tanpa alasan, Rumaisa melihat mata Chesa yang begitu sembab sekaligus memerah. "Enggak kok. Tadi malam tuh aku nonton film, Bu. Terus sad ending. Jadi gini deh," gak ada bedanya kayak hubungan aku sama Raka, lanjutnya dalam batin. "Kamu begadang lagi? Ya ampun, Nak. Udah berapa kali Ibu bilang, Ja--" "Iya, Ibu. Sekali-kali…" sudut bibir Chesa tersenyum lebar. "udah, ya! Sebentar lagi masuk, nih. Hari ini terakhir aku ujian. Do'ain aku, ya, Bu!" dia lari, sambil melambaikan tangan. Rumaisa balas melambai. Entah kenapa, firasatnya tidak enak. Tadi malam apa terjadi sesuatu pada putrinya itu? Tapi mengapa dia tidak cerita apa-apa? "Hana, tunggu, Nak." Rumaisa mencekal lengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN