Chapter 95: Ruang

1977 Kata

Sayup-sayup kelopak mata laki-laki itu terbuka. Mendapati seseorang tengah menatapnya dengan gusar. Dia memegang kepalanya yang terasa berat serta pening. "Terimakasih sudah menyelamatkan anak saya." Suara tidak asing itu menggema di telinga Ragandra. Seketika dirinya terduduk. Dia tak sengaja melihat baju yang dia kenakan. Ternyata berbeda. Itu artinya diganti. Tangannya bergerak meraba kepala dan kini sudah dalam keadaan diperban. "Bagus, ya, sudah sadar." Pria paruhbaya itu berdiri. Ragandra menatap takut. Ayahnya itu berdiri tegap, jemarinya bergerak menarik daun telinganya. "Aduh-aduh! Pah!" pekik Ragandra. Chesa menunduk, ia merapatkan bibir, berusaha untuk menahan tawa. "Saya dan Putra saya pamit," "Hati-hati," sahut Rumaisa. "Pa! Lepasin woy!" rengek Ragan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN