124. Kegilaan

1127 Kata

Hana memandang pisau tajamnya dengan tatapan berapi-api. Tidak ada solusi lain. Dia harus mengakhiri hidupnya sekarang sebelum semuanya semakin tambah rumit. Pada akhirnya perempuan yang harus menanggung semua akibat. Hana menyesal telah bersikap kasar dan terang-terangan menolak perasaan Devian. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari karmanya. Ujung pisau itu mulai menggores. Permukaan kulit robek. Darah merembes keluar. Hana meringis, berusaha untuk menahan rasa sakit. Dia lanjut menggores lebih maju sekaligus dalam. Perih. Dia sebisa mungkin menahan. Tubuhnya terperanjat kala terdengar suara pintu kamarnya didobrak. Hana panik. Pasti Ayahnya yang datang dan akan memarahinya lagi. Dengan cepat, dia menyanyat pergelangan tangannya. Hana mendesis kecil. Darah yang keluar semakin ban

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN