"Dwika hamil, Bran." Ucap Bang Satrio membuatku terkejut.
"Anak lo?" Tanyaku. Bang Satrio hanya mengangguk. Kalau seperti ini, apakah Bang Satrio akan setuju dengan rencanaku? Atau ia akan tetap dengan ucapannya yang ingin kembali ke penjara?
"Besok lo mau balik ke penjara?"
Lagi-lagi Bang Satrio mengangguk.
"Gue boleh minta tolong ke elo gak sih Bran?"
"Kok lo nanya sih? Ya bilang aja, apa? Lo mau apa?"
"Jagain Dwika, gue bakal usahain gue keluar dari penjara secepatnya, tapi selama gue gak ada, gue mohon sama lo jagain dia."
"Pasti Bang!" Seruku, walaupun aku tahu si Dwikampret itu kan nyebelin banget.
Malam ini Bang Satrio menghabiskan waktunya denganku di halaman rumah, kami berdua mengobrol soal kondisi negara yang tidak stabil.
Singkatnya, Genosida yang akan dijalankan musuhnya Bang Satrio gagal, kami yang melawan gerakan itu semua diberikan tanda kehormatan oleh Presiden. Dan Bang Satrio? Hukuman penjara seumur hidupnya berkurang drastis menjadi 4 tahun dan dipotong masa tahanannya.
Angin segar untukku karena tahu Bang Satrio tidak akan membusuk di penjara dan akan menempati posisinya kembali di perusahaan. Tapi dengan berita hamilnya Dwika, aku rasa semua rencana menjadi nomor sekian.
"Bang, gue urusin ke Pak Yoga ya?" Kataku.
"Gak usah, gue sama Retno aja yang ngurus urusan penjara, lo udah pusing Bran ngurus kerjaan gue dan ditambah gue minta lo jagain Dwika, gue gak bisa ngasih banyak beban ke elo."
"Tapi Baang---"
"Gak ada tapi-tapian, besok gue balik ke penjara, gue titip Dwika sama lo. Dah yaa, gue mau balik ke kamar, ngabisin waktu sama Dwika dan anak gue."
Aku diam, ikut sedih juga.
Aku tahu Bang Satrio baru sekali jatuh cinta, ya sama Dwika ini. Dan sialnya, mereka harus terpisahkan karena status Bang Satrio sebagai tahanan.
"Bran?" Aku menoleh, Bang Satrio memanggil dari pintu depan.
"Yes?" Aku berdiri, berjalan mendekat.
"Lo coba tanya-tanya orang catatan sipil ya? Kalau bisa daftarin nikah gue sama Dwika, tanya juga soal akta lahir anak, itu nanti jadi nama ibunya doang atau nama gue bisa ikutan? Pokoknya harus nama gue bisa masuk ya?"
"Siap, Bang!" Seruku.
"Thank you Bran. Buat semuanya."
"Pleasure is mine,"
Bang Satrio masuk ke kamarnya, aku balik lagi ke kursi di teras, membuka ponselku dan mencari kontak kenalan yang bekerja di bagian catatan sipil.
Bertanya banyak hal, aku mendapatkan kontak KUA, biar bisa daftar nikah langsung daah.
Heran juga aku, Bang Satrio mau daftar nikah, emang mbak Dwika-nya udah setuju apa yak?
Kembali ke Pak Okto dari catatan sipil, beliau mengatakan kalau anak yang lahir setelah ada perkawinan yang sah, ya nama bapaknya bisa ikut, sesuai dengan surat nikah, gak peduli hamilnya dari sebelum atau setelah menikah.
Mantap emang hukum negara ini, hahahahaha, sangat fleksibel kepada yang bisa.... bisa apa hayo?? Hahahaha!
*****
Aku menangis dalam hati ketika melihat Bang Satrio untuk kedua kalinya dibawa polisi ke penjara, dan sekarang berasa double perihnya karena tahu ada perempuan yang ia tinggalkan dengan hati berdarah-darah.
Well, aku gak tahu sih Mbak Dwika tuh sayang apa engga sama Bang Satrio, tapi aku bisa liat gimana tadi sedihnya dia melepas Bang Satrio, apalagi kondisinya yang tengah hamil muda.
Gosh!
Seharian ini aku bekerja dari rumah, mengurus bermacam-macam dokumen sekaligus menjaga Dwika yang mengurung diri di kamar.
"Mas Bran?" Panggil Bi Ipeh, ART yang bekerja di rumah ini.
"Iya Bi? Kenapa?"
"Bibi denger suara nangis terus dari kamarnya Bang Satrio, gimana dong?"
"Saya gak enak Bi kalau masuk kamarnya, biarin aja kali ya nangis? Udah gede, yang penting gak macem-macem aja deh."
"Kalo Bibi anterin makanan gimana? Non Dwika belum makan dari pagi."
"Yaudah kalo itu sini deh saya aja yang bawa makanannya."
Kutinggalkan berkas-berkas yang harusnya ku urusi, lalu mengetuk pelan pintu kamar Bang Satrio yang ditempati Dwika.
"Ini Mas kunci cadangannya." Ujar Bi Ipeh.
"Percuma Bi kalau di dalem kuncinya gantung." Kataku.
"Kan di dalem diputer Mas, gak pake anak kunci."
"Oh iya, lupa hehehehe." Aku membuka pintu dengan kunci yang diberikan Bi Ipeh lalu masuk ke kamar dengan sebuah nampan berisi sup ayam hangat, nasi dan dan aneka jenis lauk.
"Mbak Dwika? Makan yuk!" Kataku meletakkan makanan di meja, lalu menarik kursi agar dekat dengan kasur.
Mbak Dwika bergerak, ia bangun dan duduk di kasur.
"Makan Mbak, laper kan pasti?"
"Iyaa, tapi aku males makan."
Aku diam, gak mungkin banget kan aku nawarin suapin makanan? Atau ngunyah-in sekalian. Lagian jadi orang ada-ada aja, pake males makan, apa pula, huh.
"Makan Mbak, nanti anaknya kelaperan loh, kan gak lucu kalau busung lapar sejak dalam kandungan."
"Bran!!"
"Ya makan, Mbak." Kataku.
Mbak Dwika melirikku kesal, tapi akhirnya ia mengangguk, aku mengambilkan nampan tersebut lalu meletakkannya di kasur.
Kubiarkan Mbak Dwika makan, menunggunya untuk memastikan ia menghabiskan makanannya ini.
"Kamu tuh siapanya Satrio sih, Bran?"
"Waduh, gak tau Mbak, bukan apa-apa." Jawabku. Pada dasarnya aku juga gak tau. Bodyguard? Bukan, badanku bahkan lebih kecil dari Bang Satrio. Asisten? Dihh ogah jadi asisten makhluk itu. Adek? Well, setahuku aku anak tunggal, dan Bang Satrio kan siblings-nya berceceran gak tau di mana aja, huh, jangan disama-samain lah.
"Kok kamu mau sih disuruh Satrio ini itu?"
"Kan dibayar, Mbak." Jawabku asal. Lebih dari uang, aku merasa dekat secara emosional juga dengan bosku itu. Jadi kayanya kalau Bang Satrio bangkrut, aku akan ikut bangkrut bersamanya, bukan pergi cari majikan baru.
Tapi ya semoga aja Bang Satrio gak usah bangkrut.
"Kamu 24 jam ngikut dia?"
"Iya Mbak, mekdi aja kalah."
"Nih udah abis."
"Mau nambah gak Mbak? Atau mau dessert? Ada cheesecake, puding cokelat, strawberry shortcake, vanilla ice cream, atau mau yang lain?"
"Mau semua tapi dikit-dikit aja yak?"
"Oke Mbak, bentar saya bawain ya." Kuambil nampan berisi piring dan mangkok kosong ini, lalu keluar kamar untuk membawakan makanan manis.
Mantap, merangkap pelayan juga nih aku.
***
"Mas Bran, bangun sebentar mas!"
Aku membuka mata sedikit, ada Kiran, anak dari Bi Ipeh membangunkanku.
"Kenapa Ran?"
"Di depan ada yang cari Mbak Dwika, namanya Trinity."
"Trinity?" Aku langsung bangkit, memandang Kiran dengan tatapan tajam.
"Kenapa Mas?"
"Suruh tunggu aja dulu, saya mandi sebentar."
"Pake mandi, Mas? Gak langsung ke bawah?"
"Ya mandi lahhh, nanti saya dikira dari kandang kalo gak mandi."
"Mas Bran gak bau."
"Udah keluar, saya mau mandi, suruh Trinity tunggu, Mbak Dwika gak usah dibangunin dulu. Suguhin apa gitu kek sambil nunggu, oke?"
"Oke Mas, bye!" Kiran keluar dari kamarku, aku sendiri langsung beranjak ke kamar mandi, mandi secepat kilat biar yang nunggu gak kelamaan.
Setelah rapi dan gak bau kasur, aku keluar kamar, menuruni anak tangga dua-dua agar segera sampai ke ruang tamu.
"Hay Trinity." Sapaku.
"Eh? Kok Mas Bran ada di sini?" Serunya kaget.
Aku hanya tersenyum, melirik jarinya aku melihat cincin yang waktu itu kami beli melingkar di jari manisnya, dua-duanya. Bagus banget, sumpah.
"Heheh iya, mau ketemu Dwika?"
Trinity mengangguk, bertepatan dengan itu Bi Ipeh datang membawakan minum.
"Bi, panggilin Dwika ya? Saya mau ke luar."
"Ke mana mas?" Tanya Bi Ipeh.
"Ke rumah samping, ngecek yang lain." Kataku.
Bi Ipeh mengangguk, lalu kembali ke bagian dalam, memanggil Dwika.
"Ditinggal ya, Tri. Tunggu sebentar aja kayanya Dwika belum bangun deh."
"Kenapa gak di sini aja Mas?"
"Eh? Gak enak kalau Dwika tahu kita kenal akrab."
"Oh iya yaudah oke Mas."
Tersenyum, aku langsung pamit ke luar rumah. Di rumah samping aku banyak bertanya soal kabar dari Retno tentang masalah kepulangan Bang Satrio.
"Bener-bener Pak Yoga, mentang-mentang udah selesai dia bisa seenaknya, gue samperin tu orang nanti."
"Gak usah Mas, nanti Bang Satrio marah kalau ini diurus sama Mas Bran."
Aku mengangguk, lalu meminta satu group pergi ke penjara untuk berjaga, biar Pak Yoga tahu Bang Satrio masih punya power.
Kembali ke rumah utama, aku lihat Mbak Dwika dan Trinity sudah siap-siap seperti hendak pergi.
"Mbak Dwika mau ke mana?" Tanyaku.
"Mau berenang, kenapa?"
"Di mana?"
"Ya di kolam renang lah, masa di kolam ikan!" Seru Trinity. Lha? Kok dia jadi ngegas? Kan perjanjiannya pura-pura gak akrab, bukan musuhan.
"Tapi mbak... Bang Satrio gak izinin Mbak Dwika kemana-mana." Aku sedikit gak menghiraukan Trinity. Berabe kalau Mbak Dwika pergi dalam pengawasanku.
"Ohh, karena dia di penjara aku harus jadi tahanan rumah juga gitu, kaya dia?"
Aku diam sesaat. Bukan itu sih maksudnya.
"Bukan gitu, tapi kan mbak Dwika lagi--"
"Apa? Lagi apa? Masa berenang aja gak boleh, itu Satrio mau posesif juga kaya mantannya Mbak Dwika?" Potong Trinity. Serius, kok Trinity jadi kaya pembalap sih ngegas mulu?
"Satrio gak ada di sini, jadi perintahnya gak berlaku. Aku mau pergi sama adekku, kamu gak usah larang-larang aku Bran!!"
Mereka berdua berjalan melewatiku, berbalik aku menyusul kedua anak gadis ini yang berjalan ke sebuah motor yang terparkir di depan rumah.
"Mbak Dwika, seenggaknya naik mobil ya?" Pintaku lembut.
"Gak mau!" Dwika malah langsung naik ke atas motor itu lalu mereka berdua meluncur.
Kakak adek sama aja ternyata. Sama-sama sableng.
Keributan itu dilihat oleh beberapa pengawal dari rumah sebelah, aku melirik mereka yang cuma diem aja, gak bantuin.
"Siapin mobil, ikutin mereka!" Seruku memberi instruksi.
Dengan mobil sendiri, aku membuntuti motor yang dibawa Trinity. Sesuai yang mereka bilang, motor ini mengarah ke sebuah waterpark yang ada.
Aku tetap menjaga jarak, sambil terus membuntuti.
Mengambil ponsel, kuhubungi Bang Satrio, menanyakan keadaannya langsung.
Mobil sudah parkir dengan aman, aku keluar membuntuti dua cewek ini tapi panggilanku ke Bang Satrio belum diangkat juga.
Mengulangi kesekian kali, barulah panggilanku diangkat.
"Kenapa Bran?"
"Bini lo udah gila, Bang."
"Dwika kenapa?" Suara Bang Satrio mendadak panik.
"Dijemput adeknya dia, eh ini ke waterpark mau berenang."
"Lo ikut kan?"
"Gue gak diajak, tapi ya iyaa gue buntutin mereka."
"Good, thanks Bran. Heuh ya ampun susah yaa jauh gini gue. Jagain ya Bran."
"Siaap!"
"Bilang Dwika jangan makan yang aneh-aneh Bran."
"Gue usahain, tapi kayanya ini cewek kepalanya sama batunya kaya lo,"
"Hehehehe!"
"Ketawa lagi lo, dah yaa laporan gue segitu doang,"
"s**t! Kepala gue mau pecah rasanyaaa."
"Udah Bang, gue jagain cewek lo."
"Yoo, merci Bran."
Panggilan selesai, aku berjalan berkeliling-linging, mencari spot yang enak buat dipake duduk nungguin duo k*****t ini berenang.
Sekian lama berenang, aku menghampiri keduanya yang tengah menunggu makan. Kaget aku pas tahu Mbak Dwika pesen indomie.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi sih ini?
Dengan sigap, ku tarik jauh mangkok tersebut dari Mbak Dwika, agar ia bisa memakan makanan lain.
"Apaan sih? Orang mau makan juga!' serunya
"Jangan makan mie instan dulu, Mbak. Gak baik. Kata Bang Satrio, mbak Dwika harus makan makanan sehat."
"Satrio gak ada di sini, jadi aku gak mau denger omongannya, balikin sini mangkoknya?!"
Aku menelan ludah, kan... jadi aku yang dimarah-marain.
Mbak Dwika menarik kembali mangkoknya, dan aku pun hanya bisa pasrah.
"Kamu kok bisa sih mbak, berhubungan sama orang-orang begini? Gak mau biasa aja gitu?" Tanya Trinity dengan nada kesal.
Bikin salah apa ya aku sama Trinity? Kok dia juga kaya yang marah gitu sih?
"Aku juga maunya begitu. Tapi ya gimana? Nasib aku kan jelek terus." Jawab Mbak Dwika ketus.
Ya lord, daripada nasib dia, jelekan nasib aku kali, harus meladeni orang macem dia? Gosh.
Kutunggui kakak beradik yang sedang makan ini. Begitu selesai, aku langsung mendekat.
"Mau apa lagi Bran?" Buset, belom ngomong apa-apa, Mbak Dwika udah gas aja.
"Mbak Dwika pulangnya ikut saya aja ya? Jangan naik motor, Mbak." Kataku, ngeri ihh, aku gak bilang Bang Satrio soalnya kalau ceweknya ini tadi dibonceng motor. Karena pikirku ya cuma sekali, tapi kalo baliknya juga? Mati aja aku.
"Gak mau!"
"Mbak, jangan bikin Bang Satrio khawatir, dan nanti... Saya takut Bang Satrio marah kalau tau mbak Dwika naik motor."
"Yaudah biarin aja dia marah-marah di penjara, gak ngaruh juga kan dia marah? Gak bisa langsung marah! Aku juga gak dibolehin ke sana sama dia, jadi bilang sama Satrio... BODO AMAT!!"
Aku menelan ludah, gini amat dah ya? Dwika tuh emang nyebelin tapi kayanya baru kali ini dia marah sebegininya.
Akhirnya kubuntuti lagi mereka berdua, tapi sialnya motor ini gak mengarah ke rumah, malah ke arah kostan lama Dwika.
Ajegile aja ni cewek bikin aku stress mulu. Tidak mendekat, ku parkir kan mobil lalu turun, memerhatikan mereka dari jarak sekian belas meter.
Panggilan berbunyi, nama Bang Satrio muncul di layar.
"Dwika di mana Bran?"
Mampus, Bang Satrio tau kali ya ceweknya gak balik ke kandang? Hohoho.
"Baru sampe kostan nya dia Bang, gue nunggu di luar, takut risi doi kalo gue ngintil sampe dalem."
"Yaudah kalo di sini selesai, gue ke sana. Jangan sampe dia ke mana-mana lagi ya? Udah di kostan aja, jagain."
"Hah? Udah bisa lo?"
"Nekat, belom deal sama Pak Yoga tadi bodo amat, yang jaga di sini sama orang yang lo kirim buat jagain gue juga banyakan orang gue, kalah jumlah dia."
"Yaudah nanti gue beresin, lo urus aja nih cewek lo sebelom gue murka."
"Lha kenapa?"
"Nihh anaknya barusan ledekin gue sebelum masuk kamar, kesel, mau diladenin tapi cewek, mau marah tapi dia cewek lo!"
"Hahaha oke-oke, tunggu yaa."
"Yooo!"
Panggilan selesai, kulihat pintu kamar kost Dwika tertutup dari dalam, lalu tak lama sebuah motor berhenti tepat di depan aku berdiri.
"Mas Bran?" Ternyata Trinity
"Eh, kenapa?"
"Maaf yaa kalo aku jahatin Mas Bran."
Aku melongo, seriusan dia minta maaf? Dia nyadar juga dia ngegas terus sama aku dari tadi?
"Oh iya gak apa, kamu pasti belain kakak kamu."
"Aku ngajak naik motor soalnya aku gak tahu Mbak Dwika hamil, terus udah gitu, agak aneh aja kalau apa-apa bergantung sama Bang Satrio dan orang-orangnya. Kita jadi keliatan gak mandiri. Maaf ya Mas."
Aku mengangguk. Gak tau mau ngomong apa.
"Mas Bran di sini?"
Aku mengangguk lagi.
"Yaudah, aku pulang ya Mas, titip Mbak Dwika."
Mantap, ketitipan orang yang sama oleh dua orang yang kuhargai.
Syurga memang.
*****
TBC