Sepuluh

1338 Kata
Baru saja Mbak Dwika selesai curhat, ternyata dia juga sayang sama Bang Satrio. Bagus lah, kedua orang menyebalkan itu saling mencintai. "Maaf ya Bran, aku jadi marah-marahnya ke kamu." "Gak apa Mbak, udah kerjaan." "Kamu baik banget, aku jodohin sama Trinity mau?" Syok aku dengernya, jantung langsung mendadak disko gak jelas. "Hah?" "Hahahaha, gak jadi deh?" "Lha kok gak jadi?" "Ciyee ngarep!" Sial, aku dijailin. Baru aja dipuja-puji eh udah nyebelin lagi. "Udah Mbak, yuk balik lagi jangan kabur-kaburan, kasian Bang Satrio pusing, stress, kita-kita ikutan kena." "Yaudah iya ayok, Bran." Aku dan Dwika berjalan. Si Mbak ini tadi mendadak gila, lagi-lagi gak jelas keluar dari kostannya, bikin bosku yang baru keluar dari penjara teriak kesel saking pusingnya. Dwika nih gak tau apa ya, Bang Satrio tuh mengusahakan segalanya buat dia. Padahal dia cukup duduk manis aja loh, udah, gak usah bikin drama yang malah pusingin orang banyak. Cewek sih yaaa. Homo sapiens yang Tuhan aja saking keselnya sampe ngusir dari surga ke Bumi. Cowok mah cuma kena getahnya mulu. **** Datang ke penjara, kali ini tujuanku bukan untuk menjenguk Bang Satrio, bosku itu sudah menghirup udara segar, lagi leye-leye kelon sama ceweknya, niatku kali ini mau ketemu Pak Yoga. "Sudah janji, Mas?" Tanya seorang petugas. "Bilang aja Bran yang dateng, kalo dia punya nyali pasti dia mau ketemu saya!" "Baik, Mas!" Aku diminta menunggu sebentar, aku duduk di kursi yang disediakan. Hanya sesaat, petugas tadi datang dan ia mengatakan kalau Pak Yoga bisa ditemui. Tanpa basa-basi, aku langsung berjalan menuju ruangannya yang sudah kuhafal letaknya. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung masuk karena memang pintunya sudah terbuka. "Pak Yoga, selamat pagi." Aku memulai percakapan dengan nada biasa, santai. "Iya Mas Bran, selamat pagi. Jadi gimana nih?" "Saya mau lurusin urusan yang sama Retno." "Nah iya itu, kok belum masuk juga ya transferannya?" Tanyanya. Huh, dasar pejabat ece-ece, dia kira duit sebanyak itu bisa bebas ditransfer apa? "Bang Satrio atau Retno belum deal, Pak. Cuma Pak Yoga aja yang tiba-tiba ngasih nominal." "Yeah, Mas Bran kan tahu kalau dari Presiden pun Bang Satrio masih ada 3 tahun diem di sini." "Kita pernah bahas ini, Pak Yoga pernah setuju di angka 6M." Aku mengingatkan. "Yeah, tapi kan itu kalau Bang Satrio tinggal di sini beberapa lama, ini baru satu hari Bang Satrio udah dijemput." "24M ya kebanyakan lah Pak, satu tahun Bang Satrio di sini dihargai 8M gitu? Gila!" "Tapi kan Mas..." "Tapi apa?" "Kalo Mas gak setuju saya bisa loh jemput Bang Satrio lagi!" Ia sedikit mengancam. "Yaudah, jemput aja, asal bisa lewatin saya sama orang-orang saya dulu!" Pak Yoga diam sejenak. "24M itu udah angka yang bagus loh, Mas Bran. Bang Satrio bisa keluar, bebas." "Yeah, bebas, tapi harus kabur ke luar negeri. Saya bisa bayar 24M sekarang, tapi Pak Yoga bisa kasih jaminan gak kalau Bos saya bebas di negerinya sendiri? Dia bisa mimpin rapat di semua bisnisnya? Bisa diwawancarai majalah tanpa embel-embel status tahanan? Bisa gak? Kalau bisa saya bayar detik ini juga!" Kali ini Pak Yoga diam. Aku pun diam sejenak, menarik napas panjang untuk menurunkan emosi. "Gini aja, Pak. Kita pernah ada di kubu yang sama, saya gak mau kalau hubungan kerja sama kita berakhir gak baik. Saya tanya sekali lagi, Pak Yoga coba kasih harga yang rasional dan akan saya pikirkan." Kataku. Pak Yoga masih diam, ia terlihat berfikir sebelum menyauti ucapanku barusan. "15M gimana? Saya udah turun 9 tuh, Mas." "Dengan syarat harus ke luar negeri, jumlah segitu masih terlalu besar Pak Yoga." Ia menarik napas panjang. "10M?" "Oke!" Kataku, enggan berdebat lebih jauh lagi. "Kapan Mas Bran mau transfer?" "Saya gak bisa kalau langsung transfer sebanyak itu Pak. Mungkin nanti ada yang kesini anter uangnya dalam pecahan dollar, lalu saya transfer sekitar 2M itu pun berkala, gimana?" "Kok gitu Mas?" "Kalau ada suntikan dana sebanyak itu ke rekening pribadi Bapak yang hanya seorang kepala penjara, pasti akan dicurigai, saya nih lagi ngasih jalan aman buat Bapak." "Ohh jadi gitu ya?" "Iya gitu, Pak." "Yaudah, saya tunggu secepatnya ya?" "Siap Pak, makasi banyak!" Aku mengulurkan tangan dan Pak Yoga pun menjabat tanganku. Selesai, aku keluar. Meminta Pak Giyanto mengantarku ke kantor karena ada banyak urusan yang harus kuselesaikan. Sampai di kantor, aku langsung menuju salah satu bendahara utama, Bu Lana. "Hallo Bu, selamat siang!" Sapaku. "Apa lagi Bran? Duit lagi? Berapa? Buat siapa? Pak Jimmy?" "Bukaan." "Terus apa?" "Polisi, nebus Bang Satrio." "Oh iya gila!! Kemaren Retno bilang katanya 24M apa-apaan? Bang Satrio setuju?" "Bang Satrio gak tau apa-apa, kalau tau juga pasti iya-iya aja, lagi jatuh cinta dia Bu, otaknya gak ada." Kataku. "Hahaha kamu, saya laporin loh." "Laporin aja Bu, biar saya dipecat, pusing saya ladenin dia sekarang-sekarang ini." "Nikah makanya!" "Itu Bang Satrio mau nikah kok, udah urus dokumen biar nikahnya bisa di luar negeri." "Kamu yang nikah!!" "Buseet, nanti aja lah masih jauhh." "Ehh balik ke duit, gimana itu nebus Bang Satrio?" Tanya Bu Lana kembali ke topik seharusnya. "Tadi saya udah deal Bu, 10M jadinya. Padahal awalnya kesepakatan cuma 6M, ngelunjak emang ini orang satu." "Yeah namanya juga manusia, pasti memanfaatkan peluang." "Kebanyakan tapi." "Iya sihh." "Diurus kaya biasa ya Bu? Jangan ada jejak yang bisa terendus." Pintaku. "Siap Bran." Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih lalu keluar dari ruangan, berjalan santai menuju ruanganku. "Hallo, Mbak Siska!" Sapaku ramah kepada asisten pribadiku ini. "Mas Bran tadi ada telefon." "Apa lagi?" Tanyaku sambil membuang napas panjang. "WO-nya Bang Satrio di Aussie minta bayar DP, emang belum ya?" "Emang Calissta gak urus? Katanya Calissta yang mau urus nikahannya Bang Satrio?" "Gak tau Mas, telefonnya sampe ke meja saya, gimana?" "Ngurus yang lain dulu deh, nikahnya Bang Satrio gampang, gak pake nikah juga bakal tetep punya anak kok dia." Kataku kesal lalu mendorong pintu, masuk ke ruang pribadiku. Baru mau duduk santai, mataku melebar ketika melihat banyaknya tumpukan kertas yang harus kuselesaikan. Belum lagi berkas yang harus ditandatangan. Arggghhhhh!!!! Membaca setiap dokumen dengan hati-hati, semua berkas tersebut telah kutandatangani, kemudian lanjut memeriksa laporan yang dikirim dari daerah tentang bisnis yang tersebar di beberapa kota. "Mbak Siska!!" Seruku dari dalam dan tak lama Siska datang. "Kenapa Mas Bran?" "Beliin kopi dong, sama camilan, kesel banget liat kertas doang dari tadi." "Oke Mas, ada request rasa?" "Bebas apa aja, tapi kopi item yaa, kentel." "Kesurupan Mas? Hehehe!" "Iyee kesurupan kertas, udah sana cepet." "Oke, Oke Mas!" Sepanjang hari kuhabiskan di kantor, sampai satu buah undangan rave party masuk ke ponselku. Udah gila kali ya? Bikin party hari kerja begini. Tapi... Liat DJ-nya sih okee. Tanpa berfikir lama, aku langsung mengisi RSVP kehadiran, biar terdata gitu, kan enak. Dah lah, kayanya gak dosa-dosa banget dateng ke party begitu, kan seharian ini aku sudah njelimet, jadi wajar dong kalau aku cari hiburan. "Pak Giyanto gak apa nunggu? Lama loh." "Mas Bran mau minum kan pasti? Masa saya biarin bos saya bawa mobil sendiri padahal abis konsumsi alkohol? Lagian, ada yang lebih parah." "Apaan Pak?" "Ngeri Mas Bran diculik ani-ani." Ucap Pak Giyanto membuatku tertawa "Emang tampang saya om-om Pak? Sampe jadi mangsa ani-ani segala?" "Ya engga, maksudnya ceweknya ya sejenis itu hehehehe." "Yaudah saya masuk yaa!" "Oke Mas Bran, sebelom minum alkohol baca bismillah dulu, kali aja jadi halal." "Astagfirullah, ide bagus hahaha." Aku keluar dari mobil, masuk ke arena party, begitu masuk mataku langsung silau oleh lampu-lampu dan megahnya panggung, musik yang mengalun kencang pun terasa bising di telingaku. Bar mana bar? Kayaknya aku ke sini cuma mau nyari minum doang deh. "Hay ganteng, sendiri aja?" Aku menoleh ke seorang perempuan yang... wow, seksi juga. Aku tersenyum pada perempuan ini lalu menenggak habis minumanku. "Mau traktir aku minum?" "Hah?" Gak salah denger? Biasanya kan nawarin traktir minum, lha ini dia yang minta ditraktir? Ia mengulangi ucapannya, karena gak enak aku langsung panggil bartender dan memesankan minuman untuk kami berdua. Kami cheers, dan saat minum tatapan matanya menatapku tajam. Well, cewek ini oke punya sih, tapi.... kayanya belum pantas untuk jadi perempuan tempatku melepas status perjakaku ini. Yeah, mungkin nanti kali ya? Hari ini minum dulu aja, tanpa s*x, seperti biasa. ***** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN