Aletha masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan dirinya ke atas kasur, ia teringat dengan bajunya yang tadi ada sebuah bercak merah yang sebenarnya itu adalah bercak darah, bukan bekas liptint yang tadi ia pakai, untung saja Edgar langsung percaya dengan perkataannya tadi karena ia tak mau membuat Edgar khawatir. Walau tadi ia sempat panik karena darah yang terus mengalir dari hidungnya tapi untungnya ia bisa mengendalikan semua ini dengan baik. Dewi yang baru saja menyelesaikan pekerjaan langsung keluar kamar untuk memastikan kalau Aletha sudah pulang atau belum.
“Aletha sudah pulang Mbok?” tanya Dewi kepada Mbok Ning yang tampak sedang mencuci piring di dapur.
“Sudah Bu, barusan Non Aletha masuk ke kamarnya.” Balas Mbok Ning.
Dewi langsung mengangguk paham dan berjalan menuju kamar Aletha. Dewi membuka kamar Aletha dengan pelan, ia melihat putrinya sudah tertidur pulas. Dewi langsung mendekati putrinya dan mengelus rambut putrinya itu, ia merasa bersalah karena jarang mempunyai waktu bersama Aletha karena kesibukannya. Air mata Dewi tak sengaja menetes dan membasahi pipinya, Dewi langsung mengusap air matanya dan langsung keluar dari kamar Aletha karena tidak mau kalau Aletha terbangun ketika mendengar suara tangisannya.
Dewi kembali ke kamarnya, ia terlihat mengambil sebuah album kenangan yang diambil belasan tahun lalu. Ia membuka lembar demi lembar foto di album itu, air matanya kembali menetes ketika melihat sebuah keluarga yang utuh dan harmonis harus berpisah karena keegoisan dirinya dalam membuat keputusan untuk bercerai tanpa memikirkan buah hatinya. Dewi langsung menutup album itu dan memeluknya erat-erat.
***
Nara berjalan menyusuri koridor kampus sambil memainkan ponselnya, langkahnya terhenti ketika ia tak sengaja menabrak seseorang yang ada di depannya. Ketika Nara berjalan melewati lapangan bola basket, tiba-tiba saja bola basket mengarah ke arahnya dan mengenai kepalanya.
“Aduuuh, sakit banget kepala gue, kurang ajar banget nih ngelempar.” Nara mengaduh kesakitan. Tak lama kemudian seseorang datang menghampirinya dan mengambil bola basket tersebut. Nara mengernyitkan dahinya ketika seseorang datang ke arahnya untuk mengambil bola basket tersebut, ia mengenali siapa yang menghampirinya yang tak lain adalah Gilang, salah satu anak basket di kampusnya, dan Gilang adalah seseorang yang selalu diceritakan oleh Melodi saat sedang di kelas.
“Gue minta maaf ya, gue nggak sengaja tadi, lo nggak papa?” tanya Gilang memastikan keadaan Nara.
“Nggak kok nggak papa.” Nara terpaksa bilang dirinya tidak kenapa-kenapa karena tidak ingin berurusan lebih panjang lagi dengan Gilang, apalagi banyak beberapa pasang mata yang melihat dirinya dan Gilang disini, kalau dirinya tidak segera pergi pasti akan menjadi bahan gosip anak lainnya karena Gilang cenderung dikenal cuek oleh banyak orang.
“Beneran nggak papa? Atau mau gue anter ke UKS ?” tanya Gilang sekali lagi.
“Nggak papa kok beneran, kalo gitu gue pergi dulu ya.” Nara langsung pergi meninggalkan Gilang.
Nara langsung buru-buru masuk ke kelas dan segera duduk karena kepalanya sangat pusing setelah terkena lemparan bola basket.
“Kenapa kepala lo?” tanya Aletha kepada Nara yang terlihat memasuki kelas sambil memegangi kepalanya.
“Sakit kena bola basket.” jawab Nara.
“Lah kok bisa?” tanya Aletha sekali lagi.
“Mana gue tau, orang tadi gue jalan sambil main hp terus kepala gue kena bola basket dari yang pada main tuh di Lapangan.” balas Aletha.
“Makanya kalo jalan tuh fokus, nggak usah main hp.” ucap Aletha menasehati Nara.
“Ya tapi kan itu salah dia juga ngelempar bola basket tapi ngarahnya keluar lapangan.” balas Nara.
“Stooooppp, kalian pada ngomongin apaan sih kok gue nggak diajak-ajak.” Melodi tiba-tiba datang langsung mengagetkan Aletha dan Nara.
“Lagi ngomongin lo.” balas Aletha santai.
“Wait wait emang yang perlu diomongin dari gue apa? Mmm kecantikan gue ya? Aduh jadi malu kan.” ujar Melodi sambil berpose sok genit.
“Dih ge-er lo.” balas Nara.
“Ya kalian ditanyain juga jawabnya nggak bener.” Balas Melodi dengan tatapan cemberut.
***
Gilang kembali ke lapangan basket sambil membawa bola basketnya yang tadi sempat terlempar ke luar lapangan.
“Lama amat ngambil bola doang.” ucap Egar kepada Gilang.
“Tadi bolanya kena kepala orang jadi gue mastiin dulu dia nggak kenapa-kenapa.” Jawab Gilang.
“Siapa? Cewe?” tanya Edgar.
“Iya tapi gue nggak tahu namanya sih dan pernah ketemu beberapa kali doang itu pun cuman papasan aja.” balas Gilang. Gilang sebenarnya adalah kaka tingkat Edgar namun karena Gilang dan Edgar seurmuran jadi Gilang memintanya memanggil nama saja tanpa ada embel-embel kak di depannya.
“Kenapa nggak lo ajak kenalan aja?” tanya Edgar mencoba memberi Gilang pertanyaan yang cukup menggelitik.
“Enak aja, emangnya lo yang suka tebar pesona sama cewek di kampus ini.” balas Gilang.
“Hahaha enak aja ya gue orangnya nggak kayak gitu juga kali, gue tuh bukan tebar pesona gue tuh friendly.” balas Edgar.
“Halah sok iye lo.” balas Gilang.
“Yaudah deh gue mau cabut dulu ke kelas, baek-baek lo ya disini, hahaha.” Edgar langusng cabut meninggalkan Gilang yang masih duduk dan mencoba melemparrnya dengan botol paltik kosong bekas minuman ke arah Edgar yang sedari tadi menganggunya.
Gilang mengusap keringatnya yang mengucur di pelipis dahinya menguunakan kaos yang ia pakai karena ia tak membawa handuk kecil. Permainan basketnya barusan cukup menguras tenaga tapi ini memang hobinya jadi ia melakukannya dengan penuh kesenangan. Setelah beristirahat sejenak di lapangan basket, Gilang langsung pergi ke kantin untuk membeli minuman sebelum ia kembali ke kelas untuk mengikuti kuliah hari ini. Sebelum ke kelas, Gilang mengurus pendaftaran semester pendeknya karena beberapa turnamen lomba basket yang ia ikuti membuatnya tidak bisa fokus kuliah selama beberapa waktu, maka dari itu ia berencana untuk mengulang beberapa mata kuliah.
Setelah selesai kuliah, sembari menunggu jam mata kuliah berikutnya yang masih sekitar dua jam lagi, Aletha memutuskan untuk pergi ke perpustakaan yang berada di dekat fakultasnya. Sesampainya di perpus, Aletha memilih tempat duduk yang masih sepi, Aletha mengambil bukunya dan mulai mengerjakan tugas-tugasnya yang belum selesai sambil mendengarkan musik lewat headset. Ketika Aletha mulai menulis, tiba-tiba ia melihat cairan merah yang menetes ke kertasnya, cairan merah itu ternyata adalah tetesan darah yang keluar dari hidungnya, ia mimisan kembali. Aletha langsung buru-buru mengambil tissue yang ada di dalam tasnya dan segera mengelap hidungnya. Tak lama kemudian, ia melihat Edgar yang masuk ke perpus, Aletha langsung segera menyobek kertas yang tadi terkena tetesan darah saat ia sedang mimisan sebelum Edgar melihatnya lebih dulu. Benar saja, ketika Edgar masuk ke perpustakaan, Edgar langsung mengetahui keberadaan dirinya dan langsung menghampiri Aletha.
“Gue cariin dari tadi ternyata lo di sini.” Edgar langsung duduk di kursi kosong sebelah Aletha. Untung saja sebelum Edgar menghampirinya, Aletha sudah sempat merobek kertas itu.
“Ada apa?” tanya Aletha.
“Nggak papa sih, gua lagi bosen aja nunggu pergantian mata kuliah masih dua jam lagi.” jawab Edgar.
“Biasanya main basket.” ujar Aletha terheran.
“Tadi udah main sama si Gilang, lo ngapain di sini sendirian?” tanya balik Egar.
“Lagi nugas.” jawab Aletha singkat.
“Yang lain kemana?” tanya Edgar.
“Palingan ke kantin, atau nggak ya masih di kelas.” jawab Aletha.
“Lo nggak laper?” tanya Edgar yang sebenarnya memberikan kode pada Aletha bahwa dirinya sudah sangat lapar.
“Bilang aja lo yang laper, pake basa-basi nanyain gue laper apa ngga.” jawab Aletha yang seakan-akan sudah tau kalau Edgar lapar.
“Tau aja sih lo heheh.” ujar Edgar meringis kelaparan.
“Yaudah ayo kita ke kantin.” ajak Aletha sambil mengemasi alat tulisnya. Senyum Edgar langsung merekah sempurna. Mereka berdua langung beranjak dari kursi perpustakaan menuju ke kantin.
“Lo mau makan apa?” tanya Edgar sesampainya mereka di kantin.
“Mmm samain aja deh kayak lo.” jawab Aletha yang tampak berpikir sejenak, karena Aletha tak mau berpikir lama akhirnya ia memilih untuk menyamakan menu saja dengan yang Edgar pesan.
“Oke deh gue pesenin, lo duduk aja dulu sana.” Edgar menyuruh Aletha untuk memilih tempat duduk terlebih dahulu karena kantin cukup ramai, takutnya mereka tidak kebagian tempat duduk.
Selang lima menit, Edgar datang dengan membawa dua porsi nasi uduk di tangannya dan diikuti ibu kantin di belakangnya yang membantu membawakan dua gelas es teh ke meja Aletha.
“Makasi ya Bu.” ucap Aletha setelah Ibu kantin meletakkan dua gelas es teh ke mejanya, Ibu kantin tersenyum dan kembali ke mejanya untuk melayani pembeli lain.
“Mari makan.” ujar Edgar mengajak Aletha untuk segera makan karena dirinya sudah sangat lapar dari tadi. Edgar mulai memasukkan nasi ke mulutnya dan mengunyah dengan tergesa-gesa hingga membuat Aletha terheran.
“Pelan-pelan kalau makan, nanti kesedak baru tau rasa lo.” ucap Aletha menyuruh Edgar untuk makan pelan-pelan, benar saja belum sampai satu menit ia bisa seperti itu tiba-tiba Edgar langsung tersedak.
“Tuh kan dibilangin juga apa, nih minum dulu.” Aletha langsung menyerahkan segelas es teh ke arah Edgar, Edgar langsung mengambil es teh itu dan buru-buru meminumnya.
“Makasih.” ucap Edgar setelah meminum es teh nya. Aletha terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan melahap makanannya kembali.
Setelah mereka berdua selesai kuliah di sore hari, Edgar mengantarkan Aletha pulang ke rumahnya, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka berdua jika harus saling menunggu satu sama lain hingga jam kuliah diantara mereka selesai baru pulang bersama.