Part 5

1531 Kata
Keesokkan harinya di hari Minggu pagi yang cerah ini, untuk mengisi kebosanan, Aletha berniat melakukan hobinya yang yang sekarang jarang ia lakukan yaitu melukis. Sudah lama ia jarang melakukan kegiataan kesukaannya itu karena terlalu sibuk kuliah. Aletha mulai mencari alat-alat lukisnya yang ia simpan di bawah kasur, namun sudah lebih lima belas menit ia belum juga menemukan beberapa alat lukisnya. Aletha keluar dari kamarnya untuk bertanya dimana alat lukisnya kepada Mamanya. Ia menghampiri Mamanya yang sedang menyiram bunga di halaman depan rumahnya. “Mamah…” panggil Aletha sembari berjalan menghampiri Dewi. “Iya Al ada apa?” tanya Dewi sambil menoleh ke arah Aletha. “Mamah liat alat lukisku yang biasanya aku simpen di bawah kasur nggak? Dari tadi aku cari nggak ada.” tanya Aletha. Dewi terlihat tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Aletha, ia baru ingat jika alat-alat lukis Aletha sudah ia pindahkan ke gudang karena Aletha sudah jarang memakainya. “Coba cari di gudang, kemarin Mamah pindahin semua barang yang jarang kamu pake ke gudang.” jawab Dewi. Aletha mengangguk paham dan langsung pergi berbalik arah menuju gudang. Ruangan yang dijadikan gudang terletak di ruangan paling belakang di rumahnya. Aletha membuka pintu gudang yang terlihat sudah berdebu. “Di simpen dimana ya alat lukis gue? Di situ kali ya.” Aletha menutupi hidungnya sambil mencari-cari alat lukisnya yang ia cari seperti kuas, cat air, dan yang lainnya. Sesekali ia bersin karena tak tahan dengan hidungnya yang sudah gatal karena tak sengaja menghirup debu di gudang. “Nah ini dia, dicari-cari juga dari tadi taunya nyelip di sini” Aletha menemukan alat-alat lukisnya di dalam kardus yang berisi tumpukan beberapa barang-barangnya yang sudah jarang ia pakai. Akhirnya ia menemukan alat-alat lukisnya setelah sepuluh menit mencari. Aletha mengambil beberapa barang lainnya yang akan ia pindahkan ke kamar. Saat Aletha akan pergi meninggalkan gudang, pandangan matanya tak sengaja tertuju pada sebuah kardus kecil di dekat pintu gudang. “Apaan tuh.” Aletha berjalan mendekati kotak kecil tersebut lalu mengambilnya. “Bawa ke kamar aja kali ya.” ujar Aletha sambil membawa kotak kecil yang belum sempat ia buka. Aletha keluar dari gudang dengan terburu-buru karena sudah tak tahan lagi dengan hidungnya yang gatal akibat debu di gudang. Aletha berjalan menuju kamarnya sambil membawa barang-barang yang ia ambil dari gudang yang jumlahnya lumayan banyak. Mbok Ning yang sedang menyapu di depan kamar Aletha melihat Aletha tampak kewalahan membawa barang-barangnya itu langsung menghampiri Aletha dan menawarkan bantuan. “Mbok Ning bantu sini Non.” ucap Mbok Ning kepada Aletha setelah meletakkan sapunya. “Nggak usah Mbok biar Aletha aja nggak papa, tolong bantu bukain pintu kamar Aletha aja ya Mbok.” balas menolak bantuan Mbok Ning dengan halus sembari tersenyum. “Siap Non.” Mbok Ning langsung membantu Aletha dengan membukakan pintu kamarnya. “Makasih ya Mbok.” ucap Aletha setelah pintu kamarnya terbuka. “Sama-sama Non.” balas Mbok Ning sembari meneruskan kegiatan menyapunya yang belum selesai. Aletha segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan dorongan kakinya. Ia segera meletakkan barang-barangnya ke lantai dan merapikannya. Barang-barang yang sekiranya belum akan diapakai, ia simpan di bawah kolong kasurnya. Aletha hanya mengambil alat-alat lukisnya saja, ia membawa beberapa alat lukisnya ke dekat jendela yang ada di kamarnya. Ia sengaja ingin melukis di dekat jendela karena ia ingin melukis sembari menikmati suasana pagi yang cerah ini dari jendela. “Ngelukis apa ya?” tanya Aletha bingung kepada dirinya sendiri. Aletha mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya untuk mencari objek yang akan ia lukis. Kedua matanya tertuju ke sebuah foto yang tertempel di mading kamarrnya. Aletha berjalan untuk mengambil foto itu. Ia tampak memandangi fotonya sejenak dan muncul ide yang muncul di otak Aletha untuk melukis gambar persis seperti foto yang ia pegang. Dalam foto itu terlihat foto dua anak SD yang sedang merayakan kelulusan SD dengan berfoto menggunakan toga wisuda untuk anak SD, dua anak itu tak lain adalah Aletha dan Edgar, foto itu diambil oleh Mamahnya ketika ia sedang bersama Edgar di halaman sekolah untuk merayakan kelulusan bersama. Aletha memandangi foto itu sembari tersenyum dan kembali ke kursinnya untuk memulai melukis. Aletha mulai fokus menggambar terlebih dahulu beberapa objek penting yang ada di foto tersebut. Setelah selesai menggambar, ia mulai mewarnai lukisannya dengan cat air agar lukisannya terlihat lebih berwarna. Ia melukis sembari memutar lagu-lagu kesukaannya untuk menemaninya ketika melukis agar tidak merasa bosan. *** Minggu pagi bagi Edgar ia pergunakan untuk mencuci motor di halaman rumahnya. Ia selalu rajin untuk membersihkan dan merawat motor kesayangannya. Baginya motornya ini sudah seperti separuh nyawanya jadi harus ia rawat selalu. Edgar mencuci motor sambil menyanyikan lagu kesukaannya, ia mulai membasahi motornya dengan air lalu menggosoknya dengan sabun dan kemudian ia bilas kembali dengan air mengalir, ia juga tak lupa membersihkan bagian-bagian motornya dengan teliti dan hati-hati. “Pagi-pagi udah rajin aja kamu Gar.” Adi yang tak lain adalah ayah dari Edgar itu tampak menggoda putranya yang sedang fokus mencuci motor. “Haha iya dong Pah ngerawat kesayangan.” balas Edgar. Edgar dan Adi memang sama-sama tertarik di dunia otomotif jadi jika mereka sedang duduk berdua pasti ada saja yang dibicarakan tentang otomotif. “Kamu sekarang udah semester 6 ya, bentar lagi skripsian terus nanti pas udah lulus, kamu udah kepikiran mau nyari kerja dimana?” tanya Adi yang terlihat memilih topik pembicaraan yang sedikit serius. “Belum kepikiran sih Pah mungkin ngelamar kerja di perusahaan deket-deket sini dulu, kenapa emangnya Pah?” tanya Edgar sembari mengeringkan motornya yang kini sudah bersih. “Temen Papah kemarin pas ketemu nawarin buat kamu disuruh ngelamar ke perusahaannya, tempatnya lumayan jauh sih, tapi kalo kamu mau kamu bisa coba ngelamar kesana.” ujar Adi. “Dimana emang tempatnya Pah?” tanya Edgar sembari menghentikan kegiatan mengelap motornya sejenak. “Jepang.” jawab Adi dengan nada singkat, padat dan jelas yang membuat Edgar seketika melongo. “Itu bukan lumayan jauh lagi Pah tempatnya, tapi udah jauh banget.” Jawab Edgar yang membuat Adi tertawa. “Ya Papah cuman nyampein tawaran temen Papah aja heheh semua keputusan ada di kamu, pikirin aja dulu baik-baik masih ada satu semester lebih.” balas Adi sambil tertawa. Ia lalu pergi masuk kembali ke rumah, meninggalkan Edgar yang masih mengelap motornya. Edgar meneruskan kegiatannya mengelap motor untuk mengeringkan motornya hingga benar-benar kering, setelah dirasa sudah kering dan tampilan motornya sudah kinclong, Edgar kemudian masuk ke dalam rumah untuk segera mandi karena merasa tubuhnya sudah gerah. *** Dewi datang ke kamar Aletha untuk mengajaknya makan siang karena ia sudah selesai memasak dan sudah masuk waktu untuk makan siang. Namun ketika ia membuka pintu kamar Aletha, Dewi melihat putrinya itu sedang fokus dengan kegiatannya melukis di kamar. Dewi berjalan pelan-pelan menghampiri Aletha. “Masih lama ngelukisnya?” tanya Dewi sedikit membuyarkan fokus Aletha. “Bentar lagi kok Mah.” balas Aletha sembari tersenyum. Dewi tampak mengamati kanvas yang sedang dilukis Aletha, ia bisa melihat jika yang sedang dilukis Aletha adalah foto masa kecil Aletha bersama Edgar. “Edgar kalo liat ini pasti seneng.” ujar Dewi yang langsung membuat Aletha menghentikan kegiatan melukisnya. “Sayangnya Edgar kalo liat ini pasti ketawa dan nggak percaya kalo aku yang ngelukis.” balas Aletha yang langsung membalas ekspektasi Mamahnya itu dengan reaksi yang biasa Edgar lakukan. Dewi yang mendengar balasan Aletha langsung tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Yaudah itu selesai in dulu terus nanti langsung makan ya, udah siang.” ucap Dewi memperingatkan Aletha untuk segera makan siang. “Oke Mah.” balas Aletha sambil menunjukkan jempolnya. Setelah mendengar jawaban Aletha, Dewi langsung keluar dari kamar putrinya, sedangkan Aletha meneruskan kembali lukisannya yang sebentar lagi selesai.  Kurang lebih setengah jam kemudian hasil lukisannya selesai. Aletha meletakkan kuas dan cat air di meja yang ada di sampingnya, ia kemudian memandangi sejenak lukisan itu. Lukisan itu terlihat sangat cantik. Aletha membiarkan lukisan tersebut agar kering terlebih dahulu sebelum ia pasang di dinding kamarnya. Ia lalu keluar dari kamarnya untuk makan siang karena perutnya juga sudah sangat lapar. *** Hari Minggu bagi Nara ia gunakan untuk bekerja di sebuah kafe, ia benar-benar mempergunakan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan juga bisa menghasilkan uang untuk membayar biaya kuliahnya. Nara hidup merantau ke Jakarta untuk meraih mimpinya berkuliah di kuliah yang sudah ia idam-idamkan sejak SMA dan kini sudah terwujud. Sembari menunggu pelanggan ia memasukkan es batu terlebih dahulu ke dalam sebuah wadah yang lumayan besar. Saat sedang memasukkan es batu ke wadah, Nara bisa melihat ada seseorang yang datang menghampiri mejanya untuk memesan. “Silahkan mau pesan apa?” tanya Nara sambil membalikkan badannya. Ia tampak sedikit terkejut setelah membalikkan badannya, ia bisa melihat seseorang yang pernah ia temui waktu itu, orang itu tak lain adalah Gilang, orang yang biasa Melody ceritakan tentang kepopulerannya di kampus. “Kamu? Ketemu lagi di sini.” Gilang menunjuk Nara dengan nada sedikit terkejut dan hanya dibalas Nara dengan senyuman. “Mau pesan apa kak? Silahkan ini menunya.” Nara mengulangi pertanyaannnya kembali. “Pesan kopi americano satu.” Gilang menyebutkan satu menu kopi yang akan ia pesan dan menyelesaikan pembayaran kopinya. “Baik terimakasih nanti pesanannya segera saya antar ke meja.” ujar Nara, entah mengapa ia tak memiliki keberanian lebih untuk berbicara dengan Gilang walaupun sahabatnya Aletha sudah sangat mengenal Gilang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN