Bab 1. Tiba-Tiba Menikah
“Apa kamu menyesal?”
Alexa Aliendra Adhitama menatap sosok tampan yang duduk di kursi roda itu dengan mata yang begitu tenang. Kedua manik mata itu berbinar lantas terbit senyum yang mempesona. Sempat membuat jantung Bariel Tantama Adhiyaksa menahan napas. Pertama kalinya pria cacat itu merasakan hentakan jantung yang begitu menggelepar di dadanya.
“Apa yang perlu aku sesali? Aku mendapatkan suami tampan dan kaya. Bahkan di hari pertama pernikahanku, aku sudah mendapatkan sebuah hotel bintang lima yang terkenal. Lengkap dengan sertifikatnya. Mahar yang begitu mahal, seperti ini apakah aku harus menyesalinya?”
Kalimat-kalimat manis itu meluncur deras dari bibir mungil Aliendra membuat sosok Bariel bergeming dan bahkan terpana. Mata birunya menatap wajah cantik yang masih sangat muda itu dengan binar yang sulit diartikan.
“Aliendra. Usiamu masih sangat muda. Baru 20 tahun lebih beberapa bulan. Kenapa kamu tidak menolak dan bahkan malah menyetujui pernikahan yang diinginkan nenek? Bukankah kamu sedang menjalin hubungan dengan Alejandro?”
Tawa renyah itu mendadak terdengar dari sudut bibir Aliendra. Gadis muda itu berjalan mendekat ke arah kursi roda yang ada di hadapannya. Duduk bersimpuh membuat Bariel terkejut.
“Jangan duduk di bawah. Nanti orang mengira aku menindasmu.” Lagi-lagi Aliendra tersenyum. Sangat memikat dan itu yang membuat Bariel betah memandang wajah indah di hadapannya itu.
“Itu artinya sudah takdir. Kamu ditakdirkan menjadi jodohku, Bariel.” Sempat terkejut mendengar namanya dipanggil, Bariel melakukan pergerakan sedikit. Mendorong kursi rodanya hanya untuk mengurangi kegugupan hatinya.
“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan itu?”
“Sadar. Sangat sadar malah.”
Bariel menghela napas. Kali ini kegugupannya berkurang.
“Aliendra. Yang kamu sukai itu Alejandro. Dia laki-laki sempurna. Sangat sempurna.”
“Aku tahu dia sempurna dan aku menyukainya. Tapi yang menjadi suamiku adalah kamu. Itu artinya mulai hari ini aku akan mencintaimu sepenuh hati. Berusaha mengabdi dan menciptakan rumah tangga yang manis dan indah bersamamu.”
Tidak dipungkiri Bariel hampir saja tersedak air ludahnya sendiri saat mendengar kata-kata manis dari Aliendra. Ini sudah ke sekian kalinya kalimat-kalimat yang sangat manis dan indah itu diperdengarkan gadis itu kepadanya.
“Aliendra__
“Sudah-sudah. Jangan dibahas itu. Sekarang aku sudah menjadi istrimu dan kamu menjadi suamiku. Tidak ada yang terpaksa. Aku rela menjalani kehidupan sampai dua tahun yang akan datang. Aku menghormati keputusanmu untuk Euthanasia. Kamu punya hak atas tubuhmu sendiri. Sayangnya nanti aku tidak bisa menemanimu ke Kanada. Karena__
“Karena apa?”
“Karena aku bakal sibuk menjalankan bisnis hotel yang kamu berikan setelah meninggal dan juga bisnis properti lainnya. Aku tidak akan sempat menyaksikan kematianmu.”
Jujur hati Aliendra merasakan sakit yang begitu dalam saat mengucapkan kalimat itu. Bahkan dia harus mengakui ketidakpekaannya saat pria itu akan melepas kematiannya karena keputusannya Euthanasia. Sebuah kematian yang diinginkan dengan kesengajaan oleh seseorang karena ketidakmampuannya menahan segala penderitaan di dunia ini. Apa bedanya itu dengan bundir atau bunuh diri.
Dada Bariel tiba-tiba merasa sesak mendengar kata-kata Aliendra. Dia tak menyangka gadis itu akan begitu tenang mengucapkan semua itu. Dia dengan hebatnya melepaskan dan merelakan kematiannya atas dasar menghormati keputusan pribadinya itu.
“Yah, kamu benar. Itu hak aku. Dan kamu setelah bercerai denganku bebas melakukan apapun yang kamu mau. Termasuk mengelola hotel dan sejumlah vila yang akan kuberikan padamu. Termasuk 30% saham yang ada di Perusahaan Adhiyaksa. Itu juga milikmu. Bahkan kalau Alejandro menggantikan posisiku di sampingmu seluruh saham Adhiyakasa akan menjadi milikmu. Itu sudah kesepakatan. Hanya menunggu dua tahun, Alejandro lulus menjadi seorang pewaris muda.”
Aliendra menundukkan wajah. Napasnya terlihat memburu bahkan tersengal. Namun gadis itu sepertinya menyembunyikan itu dari Bariel.
“Sudah, jangan bicarakan hal-hal yang menyedihkan di hari pertama pernikahan kita. Akan lebih baik kamu bantuin aku.”
Bariel menatap wajah cantik nan polos itu. “Bantu?”
“Hem! Bantu aku memegangi beberapa figura foto pernikahan kita. Aku akan memajang di dinding ruang utama.”
“Tapikan bisa minta tolong sama tukang.”
“Tidak perlu. Aku dan kamu bisa melakukannya sendiri. Hemat biaya. Bisa menabung di hari tua nanti. Siapa tahu sebelum kita benar-benar berpisah kita punya anak.”
Deg!
Jantung Bariel kembali berdetak hebat. Ada hentakan yang tak pernah dia inginkan sebelumnya.
“Aliendra. Sadar tidak dengan apa yang kamu katakan itu?”
“Sadar. Sangat sadar. Aku menginginkan punya anak dari kamu. Biar ketika aku merindukan kamu dia yang akan mengobatinya. Pasti laki atau perempuan akan menurun wajahnya dari kamu. Tampan.”
Beh!
Lagi-lagi Bareil harus menjaga jantungnya biar tetap aman dari semua kata rayuan dan gombalan Aliendra.
“Aliendra. Kamu itu masih kecil dan muda sekali. Tapi ucapanmu penuh dengan rayuan dan godaan.”
“Aku sudah 20 tahun lebih. Sudah menikah denganmu. Itu artinya aku sudah dewasa.”
“Tapi kamu tetap berjarak puluhan tahun denganku. Seharusnya aku menjadi pamanmu bukan suamimu.”
Aliendra menghentikan aktivitas tangannya yang memegang palu dan paku. Dia menoleh menatap wajah tampan di bawahnya. Sedangkan Bariel yang berdiri di atas bangku itu sedikit menunduk.
“Bariel. Ingat! Kita sudah menjadi suami istri. Bukan paman dan keponakan. Aku tidak mau mendengar kalimat itu lagi!”
Dengan tegas dan bernada jenaka Aliendra menjelaskan pada pria itu membuat Bariel terdiam. Dia menikmati kebersamaan yang diciptakan oleh istrinya yang sudah sah beberapa jam lalu.
Wajah ceria, imut dan cantik itu tak terlihat sedih atau menyesal. Gadis itu menikmati pernikahan yang sudah diatur oleh kedua pihak keluarga. Tanpa penolakan dan bantahan Aliendra menyetujui dirinya menikah dengan Bariel. Padahal sudah jelas Bariel cacat seumur hidup. Beberapa dokter dari rumah sakit terkenal menyerah untuk mengobati kaki pria tampan itu.
Padahal Bariel mendengar selentingan kalau saat sebelum perjodohan itu datang Aliendra sepertinya menjalin hubungan dekat dengan adik sambungnya yaitu Alejandro Adhiyaksa.
“Huh! Sudah selesai! Akhirnya kita bisa beristirahat. Kamu mandi duluan aku akan menyiapkan masakan untukmu. Nanti setelah selesai mandi kamu bantuin aku masak sayur bening buat kamu.”
Sekali lagi Bariel kaget mendengar asbun dari Aliendra. Gadis muda itu asal berkata saja.
“Aliendra. Mana bisa aku bantuin kamu masak?”
“Kenapa tidak bisa, kan cuma petikan sayur bayam dan juga kupas jagung manis. Tinggal ditaruh di pangkuan dan kamu petikin. Selesaikan? Aku yang akan memasak buat kamu. Karena memang sudah seharusnya seorang istri begitu.”
Bariel terpana sejenak. Dia belum sempat tersadar saat Aliendra mendorong kursi rodanya.
“Sudahlah! Sekarang saja masak sayur beningnya. Nanti tinggal mandi bareng.”
Bom!
Wajah Bariel berubah. Ada warna kemerahan di sana. Jelas pria dewasa itu salah tingkah seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta.
Dia baru terhenyak saat merasakan tangan Aliendra sudah menaruh beberapa ikat sayur bayam di pangkuannya.
“Leo yang saat itu masuk lebih kaget lagi. Pria yang menjadi asisten pribadi bosnya itu tak percaya kalau Aliendra akhirnya bisa meluluhkan batunya hati Bariel.
“Ternyata Nyonya Muda sangat hebat. Dia menganggap Tuan Muda Bariel sama seperti laki-laki normal lainnya.”