"Hah?!" Alan merasa bahwa pendengarannya tidak berfungsi dengan baik.
"Nisa, apa maksud kamu, coba ulangi lagi, Oma kamu kenapa?" tanya Alan.
"Oma nggak mau kamu lamar aku. Kamu tahu? aku dan Oma sekarang lagi bentrok dan masing-masing dengan pendapat dan keinginan kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Oma, tapi yang pastinya untuk sekarang situasi di dalam rumahku tidak harmonis. Besok kita harus bertemu dan membahas mengenai hal ini," jawab Nisa.
"Nisa, aku tidak percaya ini, Oma kamu kok bisa gitu?" tanya Alan. Dia baru terjatuh dari ketinggian karena terlalu terlena akan mengasah masa depan bersama wanita pujaan hatinya, kini hampir amblas.
"Aku dalam suasana hati tidak baik, Alan. Aku tutup teleponnya," ujar Nisa.
Dia memutuskan panggilan secara sepihak, hal ini membuat kepala Alan nyut-nyutan tak karuan karena memikirkan masalah apa sebenarnya yang terjadi.
"Ck! dimatikan," decak Alan agak kesal.
Alan mencoba untuk menelpon balik Finisa namun sayangnya hanya terdengar suara operator wanita yang bagaikan robot, suara itu mengatakan bahwa nomor yang anda tuju tidak dapat tersambung.
Hal ini malah membuat Alan benar-benar kesal dan menggertakkan giginya kesal.
Dia berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu. Mondar-mandir di sepanjang ruang kamar yang tersisa. Hal ini dilakukan oleh Alan selama setengah jam, entah apa yang dipikirkan oleh anak nomor dua dari pasangan Randra dan Moti itu, yang jelas hati dan pikirannya sekarang tidak dalam baik-baik saja.
Di tempat lain yaitu tepatnya di dalam kamar Finisa. Gadis 26 tahun itu sudah terlihat agak mereda amarahnya setelah satu jam terlibat perseteruan yang sengit antara dia dan sang nenek.
Finisa berjalan masuk ke dalam kamar mandi, dia duduk di dudukan kloset dan terlihat diam selama beberapa saat.
"Oma benar-benar keterlaluan, Oma pikir aku mudah dikendalikan seperti Papa," ujarnya.
Finisa mengepalkan dua kepalan tangannya.
"Menerima lamaran dari Hamdan Farikin? tidak, Finisa tidak sepatuh itu hanya untuk membahagiakan hati Oma. Maaf, masa depan Nisa, Nisa sendiri yang tentukan."
Setelah mengatakan ini, Finisa keluar dari tempat wc dan pergi mendekat ke wastafel tempat mencuci wajah.
Karena hatinya tadi panas, dia memutuskan untuk membasuh wajahnya beberapa kali lalu mengeringkan wajahnya dengan handuk lembut. Dia tak lagi berselera untuk memakai krim kecantikan malam atau perawatan wajah malam lainnya, jangan dulu untuk malam ini sebab hatinya belum benar-benar tenang.
Dia hendak naik ke atas ranjang, namun melihat ke atas nakas, ada kotak es krim yang dibawa dari rumah Basri. Finisa memutuskan untuk menghabiskan semua es krim yang berada di dalam kotak kecil es krim itu lalu naik tidur ke atas ranjang. Lampu dimatikan dan lampu tidur menyala, Finisa tidur miring dan menutup mata.
Di dalam kamar Alan, jujur saja, pria 23 tahun itu tidak merasa tenang sama sekali. Alan mencakar rambutnya saat dalam posisi tidur telentang.
"Ah! sebenarnya apa yang terjadi? ada apa dengan Oma Naila? pulang-pulang dari Perancis langsung bilang batalkan lamaranku."
Alan bangun dari posisi tidur, dia melirik ke arah nakas dan meraih ponselnya. Alan berniat untuk menelpon lagi Finisa, namun sayangnya panggilan masih tak tersambung.
°°°
Pagi telah datang.
Hari ini adalah hari senin.
Alan bangun dari tidur, karena semalam tak bisa tidur, dia duduk-duduk di pinggir ranjang hingga jam satu dini hari dan merasa mengantuk dan jatuh tertidur. Jam menunjukan pukul tujuh pagi.
Hal pertama yang dicari oleh Alan adalah ponselnya yang berada di atas ranjang.
Dia meraih ponsel dan membuka pesan chat yang dikirimkan oleh Finisa beberapa menit yang lalu.
'Bertemu di restoran Farikin's Seafood New Style jam sembilan'
Hanya itu pesan chat yang dikirimkan oleh Finisa. Alan memutuskan untuk menelpon Finisa namun rupanya sang kekasih mematikan ponselnya
"Ck! tidak mengaktifkan hp!" Alan buru-buru turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi, dia bergegas untuk mandi.
Lima belas menit kemudian Alan keluar dari kamarnya.
Suara keluarganya terdengar dari arah ruang makan, mereka memulai sarapan seperti biasa.
Alan menuju ke ruang makan dan menyapa orang tua dan keluarganya.
"Ayah, Bunda. Kak poko, Nek, Kakek," sapa Alan.
Randra dan Moti mengangguk, begitu juga dengan Laras dan Iqbal.
Moti tersenyum ke arah anak lelakinya.
"Ayo sarapan dulu baru ke kantor, Alan," ujar Moti.
Alan menggelengkan kepalanya.
"Bunda, pagi ini Alan janjian akan bertemu di restoran, jadi nanti Alan akan sarapan bersama Nisa saja," jawab Alan, dia menolak halus agar sang ibu tak tersinggung.
Moti manggut-manggut mengerti, dia tersenyum penuh arti ke arah anaknya.
"Hum hum, Bunda tahu kok. Udah pergi ketemu Nisa gih."
Alan mengangguk setelah menyalami sang ibu.
Raut wajah khawatir Alan dapat disembunyikan dari ibunya, namun tidak dengan sang ayah yang telah berpengalaman dalam membaca raut wajah orang selama bertahun-tahun.
Randra tahu, ada yang salah dengan raut wajah sang anak. Dia hanya diam saja menunggu apakah anaknya akan berbagi sesuatu padanya ataukah tidak.
Alan berjalan pergi ke restoran tempat janjian. Terlalu awal memang, namun dia merasa tak tenang sebelum bertemu langsung secara tatap muka dengan sang kekasih.
°°°
Pada jam delapan, Finisa telah siap berangkat keluar rumah. Baju kantoran yang dipakai oleh gadis itu adalah kemeja biru muda bersulam bunga pink, lengan kemeja itu adalah bentuk balon. Dipadukan dengan rok pensil biru dongker dan high heel kantoran, permukaannya tidak lancip.
Dia berjalan pamit pada orang tuanya namun tidak dengan sang nenek. Mungkin sisa-sisa kejengkelan Finisa dari tadi malam berseru dengan sang nenek masih tersimpan di hati gadis itu.
"Ma, Pa, Nisa pergi," pamit Nisa.
"Sarapan dulu, sayang," ujar Rina.
"Nanti saja di restoran bareng Alan," jawab Finisa. Dia tidak mau tahu, nama sang kekasih ditekan agar sang nenek melirik ke arahnya.
Rina mengangguk kikuk. Jangan buat perseteruan pagi-pagi begini, batin Rina.
"Um ya sudah. Hati-hati di jalan," ujar Rina. Dia tak ingin menahan sang anak lama-lama, sebab Rina merasakan bahwa mulut Ibu mertuanya siap memberondong kata-kata lagi pada sang anak.
Finisa mengangguk dan dia melangkah meninggalkan meja makan.
"Anak itu benar-benar keras kepala," ujar Naila.
Derian dan Rina melirik ke arah Naila.
"Rian, ajaran apa yang telah kamu ajarkan pada anakmu itu hingga dia berani-beraninya melawanku?" tanya Naila.
Derian menarik dan menghembuskan napas frustrasi.
"Aku mendidiknya seperti ayah lain yang mendidik putri mereka, hanya saja, ajaranku pada putriku tenggelam berkat ajaran keras kepala dari ibuku sendiri," jawab Derian.
"Apa?" Naila menatap tajam ke arah anaknya.
"Kamu berani menyinggungku?" tanya Naila.
"Bukan menyinggung Mamah, tapi ini kebenaran. Di sini, Mamah yang terlalu memegang kendali, jadi Finisa mengikuti keras kepala yang diturunkan oleh Mamah sendiri," jawab Derian.
"Omong kosong!" bantah Naila.
"Mamah bisa lihat sendiri, keras kepalanya Nisa sama seperti keras kepala Mamah, tak ada dari kalian yang ingin mengalah. Apa Mamah tahu bahwa Finisa itu ditakuti di kantornya? karena dia tegas dan tidak lemah, sama seperti Mamah yang tegas dan berani-"
"Jangan menceramahi aku!" potong Naila tidak menerima dia dan sang cucu disamakan oleh anak lelakinya.
Derian berdiri dari kursi makan dan dia berkata, "Aku tidak sarapan di sini. Di kantor saja. Rina, aku pergi."
Rina mengangguk.
Jadilah dia dan sang ibu mertua saja yang berada di meja makan. Ini adalah situasi awkward yang sama sekali tidak diinginkan oleh Rina. Jujur saja, dia ingin menjauh dari meja makan ini, tapi itu tak bijak karena akan menyinggung sang ibu mertua.
Naila dengan raut wajah datar menikmati teh pagi dan menu sarapan.
Dia berkata tanpa melihat ke arah sang menantu.
"Keluarga Basri itu terlalu kuat. Jika kalian membiarkan Finisa menikah dengan Tuan Muda Basri, maka selama ayah dari Tuan Muda Basri itu hidup, kalian tak akan bisa mengendalikan mereka. Yang aku bicarakan ini kenyataan, Finisa akan seperti b***k yang hanya bisa mematuhi ucapan ayah dari Tuan Muda Basri itu."
Rina hanya diam saja dan mendengar ucapan sang ibu mertua. Dia tidak ingin membalas ucapan Naila karena dia tahu, sekali kamu membalas ucapan dari wanita tua itu, maka dia akan membalasmu dengan segala macam cecaran.
Satu yang tidak Naila sadari bahwa, sifat keras kepala dan egois darinya itu telah menurun pada sang cucu perempuan. Mendiang suaminya yang merupakan sepupu dekat dari Agri, Tuan Besar Nabhan saat ini. Bahkan sang suami tidak seegois istrinya yang ingin menguasai segala urusan orang.
"Kalian itu *bodoh. Kenapa pada saat lamaran pertama, tidak kalian tolak saja dengan alasan bahwa anak kalian telah memiliki calon suami?" tanya Naila.
Rina menyendok kue dengan gemetar tangannya.
"Aku bertanya padamu, di sini hanya ada kita berdua, apa kau *tuli?" tanya Naila, dia menghardik sang menantu.
Naila berusaha untuk tidak mendongak menatap mata sang ibu mertua, jujur saja, tatapan mata ibu mertuanya benar-benar tajam bak mata elang.
"Kita tidak tahu mengenai calon suami yang Mamah maksudkan. Mama selama ini tak pernah mengatakan atau menceritakan mengenai keluarga Farikin padaku dan Mas Rian," jawab Rina.
"Heum, tidak berguna," cecar Naila.
"Memangnya kenapa aku tidak memberitahu kamu dan suamimu? masalah untukmu?" tanya Naila dengan nada mencemooh.
Rina berusaha agar tetap terlihat sabar di pandangan semua orang. Sang ibu mertua ini memanglah bukan mertua yang baik. Selalu saja mencemooh anak menantu. Bahkan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Jovian pun merasa iba dan kasihan pada Rina yang adalah menantu rumah Jovian.
"Mah, Nisa adalah anaku dan Mas Rian, tentu saja kami yang adalah orangtua dari Nisa harus tahu dengan siapa saja Nisa akan menikah nanti. Keluarga Basri beritikad baik dengan datang langsung ke sini untuk meminang anak kami, tentu saja ini adalah suatu kehormatan pada anak kami dan kami tidak merasa direndahkan oleh keluarga Basri-"
"Diam!"
Brak!
Meja digebrak oleh Naila.
"Jangan sok mengaturku. Kamu hanya menantu di sini. Pernikahanmu dengan anakku tentu itu aku yang mengatur, sudah seharusnya pernikahan anak kalian aku juga yang mengatur. Kamu dan suamimu ingin agar calon suami Nisa datang sendiri untuk melamar Nisa di rumah ini? baik. Dia akan datang," ujar Naila.
Rina merasa benar-benar marah di dalam hatinya. Namun dia tak bisa membalas ucapan pedas sang mertua.
Naila berdiri dari kursi makan dan meninggalkan ruang makan meninggalkan sang menantu sendiri.
Hal ini justru membuat Rina bisa menarik napas lega karena tak melihat wajah mertuanya.
°°°