Chapter 6

1623 Kata
Mobil berhenti di depan pintu rumah. Supir dengan gerakan segesit mungkin turun dari kemudi dan membuka pintu mobil, keluarlah seorang wanita tua. Setelah itu, sang supir menutup kembali pintu mobil dan berjalan ke bagasi dan membuka isi bagasi yang ada dua koper pakaian. Derian dan Rina menyambut kepulangan sang ibu dari berlibur di luar negeri. "Mah," panggil Derian. Sang ibu mengangguk. "Biarkan aku istirahat sebentar." "Baik," sahut Derian. Setelah beberapa saat kemudian, Derian dan Rina duduk berhadapan dengan Ibu Derian. Aroma teh hangat masih tercium sangat harum di ruangan itu. "Ada urusan penting apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya ibu dari Derian. "Begini, Mah. Tiga hari yang lalu, keluarga Basri datang dan telah melamar Nisa sebagai menantu mereka," jawab Derian. "Apa?!" mata sang ibu melotot. "Kamu bilang keluarga Basri datang melamar Nisa sebagai menantu mereka?" tanya sang ibu dengan tatapan kaget dan tak percaya. Derian mengangguk. Suara mobil terdengar berhenti di depan pintu rumah. Sang ibu dari Derian berdiri dari posisi duduk dan berjalan melihat dari arah kaca jendela. Matanya terlihat sangat marah saat melihat cucu perempuannya sedang berciuman dengan pria yang baru saja dikatakan oleh anaknya. Amarahnya benar-benar membuncah. °°° "Batalkan lamaran Tuan Muda Basri itu dengan cucuku Nisa." Ini adalah suara dari seorang perempuan tua yang telah berumur lebih dari tujuh puluh tahun. "Oma," panggil Nisa. Rupanya wanita tua itu adalah nenek dari Nisa. Nisa berjalan maju mendekat ke arah sang nenek, Nisa ini adalah tipikal orang yang tak takut diintimidasi oleh siapapun, termasuk sang nenek yang adalah orang paling tua di rumah ini. "Maksud Oma apa?" tanya Finisa. Tangannya masih memegang kotak kecil es krim. "Kamu tidak dengar Derian apa kata Mamah?!" ujar nenek Nisa terdengar agak kasar pada anak lelakinya, yaitu Derian. Derian melirik ke arah anak perempuannya yang menaikkan sebelah alisnya. "Mah, ini … masalah ini Derian tidak bisa melakukannya, Nisa dan Tuan Muda Basri itu sudah saling suka-" "Aku tidak peduli!" potong nenek Nisa. Wajah Finisa terdengar tidak enak dipandang pada saat ini. Di saat hatinya senang dan berbunga-bunga. Sang nenek malah memerintahkan orangtuanya untuk membatalkan lamaran Alan padanya, apa sudah tidak waras sang nenek itu? "Oma jangan ambil keputusan sendiri, pernikahan dan masa depanku bukan Oma yang tentukan," ujar Finisa, dia tak mau kalah dengan momentum sang nenek yang terlihat sangat berkuasa atas keputusan ayahnya. Sang nenek menatap tajam ke arah cucunya. "Nisa! kamu tidak berhak memerintahkanku, di rumah ini, aku yang berhak menentukan kamu menikah dengan siapa," balas Nenek Nisa. Finisa meradang setelah mendengar ucapan sang nenek. "Maaf-maaf saja untuk Oma, aku tidak mau mengikuti apa mau Oma. Ingat, aku tidak mau mengikuti apa mau Oma. Dan jangan mencoba mengancamku," ujar Finisa. Sudah dibilang bahwa Finisa ini tak mau kalah momentumnya dengan sang nenek. "Kamu hanya cucu! bahkan Papamu saja tidak berani membantahku! aku bilang batalkan lamaran dengan Tuan Muda Basri itu dan kamu akan segera menerima lamaran dari keluarga Farikin!" ujar Nenek Nisa tegas. Mata Finisa terbelalak. "Apa?!" Derian dan Rina melirik ke arah wajah anak perempuan mereka yang terlihat kaget. Mereka juga kaget. Hal ini adalah hal baru bagi mereka. "Maksud Oma apa?" tanya Finisa. Jujur saja, dia tak tahu apa maksud dari sang nenek. Membatalkan lamaran dari kekasihnya dan menerima lamaran dari orang lain? itu adalah hal tergila bagi Nisa. "Aku sudah berjanji pada Hamdan, anak dari Tuan Tua Farikin yaitu Davin Farikin. Kamu dan Hamdan akan menikah," jawab Nenek Nisa dengan tanpa tatapan bersalah sedikitpun. Dalam hati Finisa tambah meradang ganas. Sang nenek ini benar-benar sudah tidak waras. "Tidak!" tolak Finisa mentah-mentah. "Nisa, jangan membantah Oma!" balas Nenek Nisa. "Aku tidak mencintai Hamdan itu, dan aku tidak suka padanya. Aku telah memiliki pria yang aku cintai, dia bernama Alan Basri," ujar Finisa tetap keras kepala dengan pendirian dan argumennya. "Jangan menjadi pembangkan, kamu hanyalah anak perempuan, tidak punya hak untuk mengatur dan mengambil keputusan untuk dirimu sendiri," ujar Nenek Nisa pedas menusuk hati. Finisa tersenyum sinis dan membalas, "Sebelum mengatakan hal itu padaku, coba lihat dulu dirimu Oma. Apa Oma adalah laki-laki jadi bisa seenaknya memerintahku? Oma juga perempuan, tidak berhak mengatur ini itu tentang masa depanku. Dan ingat ini, sekarang ini bukan zaman feodal yang adalah perempuan harus taat pada perintah tetua!" Finisa berjalan meninggalkan sang nenek dengan tatapan bagaikan kebakaran rambut. "Nisa! dengarkan aku! Finisa!" teriak nenek Nisa. Namun Finisa tetap tak ingin berbalik untuk menengok ke arah sang nenek. Dia tidak selemah dan serapuh itu pada neneknya. Dia bukan ayahnya yang terlalu patuh untuk sang ibu. "Finisa! hei! berbalik ke sini! datang ke sini!" teriak nenek Nisa membahana di seisi rumah. Finisa dengan cepat masuk ke kamarnya yang berada di lantai satu dan mengunci pintu. Hal berikutnya yang dilakukan olehnya adalah meletakan kotak es krim di atas meja nakas di pinggir ranjang tidur dan mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya, dia hendak menekan layar ponsel namun rupanya, jejak langkah kaki mendekat ke arah pintu kamarnya. "Berani sekali kamu meninggalkan Oma yang sedang bicara padamu? Oma belum selesai bicara!" ujar nenek Nisa. Pintu diketuk oleh sang nenek, namun Finisa tak menggubris neneknya yang berada di luar pintu kamar. "Buka! buka pintu kamarmu dan dengarkan Oma baik-baik. Jika kamu tidak mau membuka pintu kamarmu, Oma sendiri yang akan menelpon ke keluarga Basri untuk membatalkan lamaran ini!" ancam Nenek Nisa. Tuhan, tidak bisa dideskripsikan lagi betapa jengkel atau kesalnya hati Finisa saat ini. Nenek tua itu mengancamnya. Wajah Finisa berubah jelek dan dia melangkah mendekat ke pintu kamar dan membuka pintu. Tepat di depan pintu, raut wajah sang nenek juga seperti raut wajahnya, yaitu sama-sama dongkol dan kesal terhadap satu sama lain. "Oma, aku tidak ingin *kurang ajar pada Oma. Jadi, tolong hentikan ocehan dan kemauan Oma ini," ujar Nisa. Dia berusaha sabar menghadapi sang nenek. Mungkin saja dengan sedikit kata-kata halus dan tidak kasar, dia dapat melunakkan hati sang nenek. "Kamu harus ikuti apa kata Oma. Menikah dengan Tuan Muda Basri itu tidak akan bisa membuat kamu menguasai rumah mereka. Tuan Basri yang sekarang, kamu tidak tahu masa lalunya yang amat mengerikan," ujar Nenek Nisa. Dibilang dengan kata-kata halus tidak mempan, Finisa malah tambah kesal. Masa lalu, jangan pernah ungkit masa yang sudah berlalu. "Oma, tolong jangan ungkit atau bahas mengenai masa lalu Om Randra, hal itu tidak akan baik bagi Oma dan untuk kita semua," ujar Finisa memperingati sang nenek baik-baik. Alan pernah berkata pada sang pacar bahwa, jangan pernah mengungkit masa lalu ayah atau ibunya, karena itu adalah hal yang paling sensitif untuk sang ayah. "Tidak, kamu yang harus dengarkan Oma. Justru tidak baik bagi kita semua, Oma tidak mau kamu menjadi bagian dari keluarga itu. Mereka itu adalah keluarga yang keras aturan dan ini itu, mereka akan mengekangmu di kemudian hari bahkan mengintimidasi kamu," balas Nenek Nisa. Cukup sudah! Finisa sekarang sudah benar-benar jengkel. "Justru sekarang Oma yang berusaha untuk mengintimidasi aku. Jangan lakukan intimidasi itu padaku. Aku tidak takut!" balas Finisa. Sang nenek terlalu keras kepala dengan kemauannya sendiri. "Kamu membantah lagi!" ujar Nenek Nisa dengan suara lantang. "Oma bilang padamu sekali lagi, ini untuk yang terakhir kali, batalkan lamaran dari Tuan Muda Basri itu dan kamu harus menerima lamaran dari keluarga Farikin!" ujar nenek Finisa tega. Raut wajah Finisa berubah dingin. "Tidak akan. Jika Oma mau, Oma saja yang menerima lamaran dari keluarga Farikin dan Oma saja yang menikahi Handam itu," balas Finisa dingin. Astagfirullahaladzim. Ini akan menjadi perseteruan terbesar cucu dan nenek. "Kamu!" nenek Finisa melotot ke arah cucunya. Dia hendak mengayunkan tangannya untuk menampar sang cucu namun sesuatu terjadi. Pum! Klik klik. Pintu langsung dikunci oleh Finisa. Brak! "Aaakh! Finisaaa!" nenek Finisa berteriak kesakitan saat telapak tangannya memukul daun pintu kamar Finisa. Jadi, tamparan itu sama sekali tak mendarat di pipi Finisa melainkan di daun pintu kamar Finisa. Poor Oma. Untuk saat ini, Finisa benar-benar tidak ingin lagi mendengar suara ocehan sang nenek yang menginginkan dia untuk melakukan ini dan itu. Jujur saja, dia tidak mau menuruti apa perintah sang nenek, bukan untuk kebaikannya, justru untuk kesengsaraannya. Menikahi pria lain? oh tidak! hal itu tidak akan pernah terjadi padanya. Finisa yang sudah merogoh ponselnya itu, melihat ke arah layar ponsel dengan tatapan lama. Dia berusaha untuk menenangkan emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Dia juga menunggu hingga sang nenek yang masih mengetuk bahkan menggedor pintu kamarnya. Akan rumit jika dia menelpon seseorang dengan suara ribut gedoran pintu kamar. Bisa-bisa orang yang ditelepon olehnya akan berpikir bahwa di dalam rumahnya ada kerusuhan. Tok tok tok! Tok tok tok! "Oma belum selesai bicara!" "Mah, sudahlah, tenang dulu," ujar Derian. "Diam kamu!" bentak nenek Nisa. Wajah Derian juga terlihat tidak enak dipandang saat dibentak oleh sang ibu. "Mah, coba tenang dulu. Jangan teriak-teriak seperti ini, Mamah tidak malu suara Mamah sampai didengar oleh tetangga sebelah?" tanya Derian. Karena dia sedang berbicara dengan ibu kandungnya, Derian berusaha untuk sabar. Nenek Finisa mendengkus dan berjalan meninggalkan pintu kamar Finisa. Tak berapa lama terdengar suara bantingan pintu kamar. Pum! Itu adalah suara bantingan pintu kamar dari kamar sang ibu. Rina melihat raut wajah sang suami yang terlihat serba salah dan serba bingung. Di satu sisi, dia harus berbakti pada sang ibu, di sisi lain, kebahagiaan anak perempuan dan masa depannya dipertaruhkan. Derian mengusap frustrasi wajahnya dengan dua telapak tangan. Rina mendekat dan mengusap punggung sang suami, dia berkata, "Pa, ayo kita istirahat dulu. Cari solusinya, siapa tahu dengan meredanya amarah masing-masing, membuat kita bisa berpikir jernih dan menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin." Derian mengangguk setuju. …. Alan baru saja memasuki pintu rumahnya. Ponselnya berdering. Dia merogoh ponsel pintar di saku celana kasual yang dipakai. 'My Nisa' calling. Dengan penuh senyum cinta kasih, Alan mengangkat panggilan itu. "Ah, baru saja berpisah tidak lama dari rumahnya, dia sudah merindukanku," gumam Alan. Dia mengangkat panggilan. "Halo, sayang- "Alan, gawat! Oma ingin agar lamaran kamu dibatalkan!" °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN