Chapter 31

1518 Kata
"Aku ingin berduel klewang denganmu untuk mendapatkan Finisa." Alan, "!!!" What?! Aku tidak salah dengar, kan? Laki-laki ini bilang dia ingin duel klewang untuk mendapatkan Finisa? batin Alan. "Aku rasa pikiranmu benar-benar tidak jernih sekarang. Tolong jangan buat hal yang tidak perlu, dan ah, jangan mengusik suasana hatiku yang sedang senang hari ini," balas Alan, dia mengabaikan ajakan dari Hamdan itu. Hamdan tersenyum sinis. "Kamu takut kalah?" "Maaf, aku tidak perlu takut kalah dengan orang sepertimu," jawab Alan. "Kalau begitu ayo berduel klewang. Aku dan kamu lalu kita pastikan siapa pemenangnya lewat duel ini, yang menang akan memiliki Nisa," ujar Hamdan. Duel klewang. Klewang adalah salah satu *senjata tajam yang berbentuk seperti golok. Benda tajam ini berasal dari suku Melayu. "Aku menolak," jawab Alan tegas. Hamdan malah terkekeh sinis. "Kamu penakut," ujar Hamdan. "Dule klewang ini ilegal dan dilarang oleh negara dan hukum. Sebab, duel ini dapat menyebabkan salah satu orang atau bahkan dua pesertanya terluka atau mati. Sepertinya Tuan Muda Farikin ini pendek pikiran," balas Alan. Wajah Hamdan malah berubah sombong. "Kamu pengecut," ujar Hamdan. Alan menahan emosinya. Pagi-pagi seperti ini dia sedang senang, malah didatangi oleh pria pembawa masalah ini. Kemarin membuat masalah sejagat maya dengan menyinggung keluarga Nabhan, sekarang malah datang ke sini dan membuat masalah dengannya, apakah dia tidak puas terus-menerus membuat masalah? apakah hidup pria ini hanya didedikasikan untuk membuat masalah pada orang lain? Alan tidak tahu jalan pikir pria ini. "Terserah apa katamu, aku tidak akan menerima duel yang tidak masuk akal ini," balas Alan. "Jadi hanya sebatas ini keberanian dari Tuan Muda Basri untuk mendapatkan gadis yang disukai?" tanya Hamdan sinis. Dia berkata lagi, "Di daerahku, jika ingin mempertahankan harga diri seorang pria maka dia harus berduel, lalu tentukan siapa yang lebih lelaki. Kamu telah melukai harga diriku sebagai seorang pria, jika kamu benar-benar seorang pria sejati, mari kita berduel klewang." Alan merasa bahwa pria ini memang sudah tidak bisa dibujuk atau bicara secara baik-baik, tetap saja bersikukuh untuk duel klewang yang berbahaya. "Aku tidak ingin menyakiti siapapun, apakah kamu tidak sadar bahwa duel ini sangat berbahaya? bisa saja kamu rugi nyawa," ujar Alan masih dengan alasan menolak dan alasannya memang logis. "Tidak sama sekali. Aku tidak merasa rugi nyawa, justru aku merasa kamu menghindar karena takut melawanku," balas Hamdan. Alan diam selama beberapa detik setelah ucapan Hamdan. Dia sedang berpikir. "Duel lain saja, tidak termasuk duel *senjata tajam," ujar Alan pada akhirnya setelah berpikir. Setidaknya dia sudah berkompromi untuk menerima duel dari si Hamdan ini. "Hahahaha!" Hamdan malah terbahak sombong dan sinis menatap ke arah Alan. Alan mengerutkan keningnya. Apa yang salah dengan pria ini? "Ada apa?" tanya Alan. "Sudah aku bilang kan, di daerahku, jika ingin mempertahankan harga diri seorang pria, maka dia harus berduel klewang," ujar Hamdan. "Ini bukan di daerahmu jadi jangan bertingkah seperti di daerahmu. Kalau mau berduel, ambil duel lain," balas Alan. Wajah Hamdan berubah datar melihat ke arah Alan. "Tidak, aku tetap ingin kita duel klewang." Alan hampir memutar bola matanya di depan Hamdan ini. "Tolong minggir dari jalan saya, saya sudah terlambat untuk mengantarkan pacar saya ke tempatnya kerja," ujar Alan. Dia tidak lagi peduli dengan ajakan dari Hamdan. "Aku tidak akan menghindar dari sini sebelum kamu setuju untuk duel klewang denganku," ujar Hamdan tetap bersikukuh. Alan melirik ke arah dalam gerbang di mana ada tiga orang bodyguard yang sedang berjaga. "Tolong minggirkan dia, saya mau ke kantor. Jangan menghalangi jalan mobil saya." Tiga bodyguard keluar dari pos jaga dan mendekat ke arah Hamdan. "Jangan berani-beraninya kalian menyentuhku! hei! lepaskan!" Hamdan berseru. Namun, apa daya, tiga bodyguard berbadan tegap dan berotot itu malah tidak mempedulikan Hamdan dan menyingkirkan Hamdan dari tengah jalan agar tuan muda mereka dapat kembali mengendarai mobilnya ke kantor. "Hei! hei! lepaskan!" teriak Hamdan. Alan dengan perasaan tanpa bersalah pada Hamdan, dia masuk ke dalam mobil. Dia mengendarai mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Hamdan yang sedang berteriak. "Tidak aku sangka, Tuan Muda Basri takut padaku!" teriak Hamdan. °°° Finisa memasuki mobil Alan. "Apakah macet hingga jam segini baru tiba?" tanya Finisa. "Bukan macet. Tapi aku dihalangi oleh Hamdan untuk mengajakku duel klewang," jawab Alan tanpa menyembunyikan apapun. "Hah?" Finisa langsung melirik ke arah wajah Alan. "Dia kenapa? maksudku ada apa dengannya?" "Pagi-pagi sudah berdiri di depan gerbang rumah dan menghalangi jalan mobilku. Aku tidak tahu otaknya itu sudah rusak apa tidak, tapi dia tetap bersikeras meminta untuk duel klewang," ujar Alan. "Lalu kamu menerima ajakan duel dari dia?" tanya Finisa. Alan menatap serius ke arah mata sang kekasih, kemudian dia menjawab, "Tidak." Finisa mengangguk setuju dengan jawaban Alan terhadap ajakan duel dari Hamdan. "Aku setuju denganmu." "Tapi aku mengatakan dia bisa memilih duel lain selain dengan *senjata tajam," ujar Alan sedetik setelah ucapan Finisa. "Apa?!" Finisa terbelalak ke arah Alan. "Otak kamu taruh di mana? tidak perlu meladeninya, Alan!" Finisa ingin sekali menjambak telinga Alan. "Dia bilang di daerahnya jika ingin mempertahankan harga diri seorang pria. Maka mereka harus duel klewang, makanya dia tidak ingin menyerah untuk mengajakku duel klewang. Yang membuatku kesal, dia mengajak duel klewang bukan untuk mempertahankan harga dirinya sebagai lelaki tapi malah ingin mendapatkanmu seakan kamu itu adalah barang taruhan," balas Alan. Finisa diam beberapa saat setelah mendengar ucapan Alan. "Tidak perlu peduli padanya. Jangan duel apapun dengannya. Dia itu telah membuat banyak masalah pada hubungan kita, kemarin juga membuat masalah, dan sekarang dia ingin mencari masalah lagi." Alan tidak menyahut ucapan sang kekasih, dia hanya diam dan mengendarai mobilnya. °°° Pada sore hari, Finisa meminta Alan untuk tidak mengantarnya ke apartemen Alan. Finisa memilih pulang sendirian ke rumahnya, dan Alan menyetujui hal itu. Melihat sang cucu masuk ke dalam rumah, Naila mendongak mengangkat dagunya. "Selama sebulan lebih baru ingat rumahmu?" tanya Naila. Finisa melihat ke arah sang nenek, dia berkata, "Aku minta nomor telepon Bang Hamdan." Naila agak terperangah setelah mendengar ucapan sang cucu. "Kamu ingin menelpon dia?" tanya Naila. "Aku ingin bertemu secara pribadi dengan Bang Hamdan tanpa gangguan siapapun termasuk Oma," balas Finisa. "Apa yang ingin kamu bahas dengan Hamdan?" tanya Naila. "Baiklah jika Oma tidak mau memberi nomor teleponnya, aku akan dapatkan sendiri," ujar Finisa yang sama sekali tak menjawab pertanyaan dari sang nenek. "Kamu, heum!" Naila mendengkus. °°° Hamdan melangkah memasuki kafe. Waktu telah menunjukan petang, apakah Nisa mengajaknya ketemuan untuk makan malam bersama? apakah Finisa telah berubah pikiran dan memutuskan untuk mulai menerimanya? hati Hamdan yang tadinya sedang marah dengan banyaknya masalah yang mengikatnya, kini berubah senang saat melihat Finisa. Dia tidak menyangka bahwa Finisa yang lebih dulu ingin bertemu dengannya. "Nisa," panggil Hamdan pelan. Dia duduk berhadapan dengan Finisa. Melihat wajah Hamdan yang sekarang berada di depannya, Finisa berkata, "Langsung saja saya ingin mengatakan bahwa Bang Hamdan tolong jangan banyak tingkah." Hamdan mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa aku jangan banyak tingkah?" tanya Hamdan. "Jangan sembarangan mengajak orang untuk duel klewang. Tidakkah Bang Hamdan memikirkan konsekuensinya jika duel itu terjadi? bisa-bisa nyawa Bang Hamdan yang terancam," jawab Finisa. Hamdan tersenyum. Ya, dia tersenyum setelah mendengar jawaban Finisa. "Nisa, kamu khawatir padaku jika aku terluka?" What?! Finisa hampir melotot ngeri ke arah Hamdan ini. Dia khawatir jika Hamdan itu terluka? Oh Tuhan! tolong sadarkan pria ini, dia telah terlalu jauh bermimpi. "Untuk apa aku mengkhawatirkan Bang Hamdan? aku hanya tidak ingin karena duel yang tidak masuk akal dari Bang Hamdan malah merugikan orang lain dan diri sendiri," jawab Finisa masih tetap terdengar logis. Namun, yang namanya Hamdan ini malah tidak sadar-sadar juga. "Tapi itu tetap tidak menutup kebenaran bahwa kamu memang khawatir jika sesuatu akan terjadi padaku," ujar Hamdan "Bang Hamdan, tolong pikirkan baik-baik kata-kataku. Aku tidak ingin Bang Hamdan melangkah terlalu jauh untuk menghalangi hubunganku dengan Alan. Jangan membuat masalah padaku lagi, cukup sudah masalah yang lalu-lalu, jangan ada lagi masalah di masa depan. Aku permisi." Finisa tidak lama-lama bicara dengan Hamdan untuk tidak melanjutkan niatnya itu pada Alan, yaitu berduel klewang. Hamdan tersenyum saat melihat Finisa pergi. …. "Maksudmu Nisa mengkhawatirkan kamu dan memintamu untuk tidak duel klewang dengan Tuan Muda Basri?" tanya Naila melalui telepon. "Ya, Oma," balasan Hamdan dari seberang. "Tapi Tuan Muda Basri itu tidak menerima ajakan duel dariku, dia takut melukai siapapun," ujar Hamdan. Naila tersenyum sinis. "Aku akan buat pria muda itu untuk menerima ajakan duel darimu," ujar Naila. "Benarkah? bagaimana cara agar dia menerima?" tanya Hamdan. "Aku punya cara," ujar Naila, dia tersenyum tipis. Saat itu, Derian sudah terlihat di depan wajah sang ibu. "Mah, berhenti membuat masalah lagi." Naila yang melihat kepulangan sang anak itu menaikkan sebelah alisnya, dia berkata, "Sampai di sini dulu percakapan kita." "Baik, Oma." Telepon diakhiri oleh Naila. Setelah itu dia melirik ke arah sang anak. "Jangan sok mengaturku." "Mah, cukup bertingkah. Aku tidak mau *kurang ajar pada Mamah. Apa Mamah punya akal sehat? duel itu ilegal, Mah. Bisa membahayakan nyawa orang. Apa Mamah tidak bisa berpikir jernih? ada apa dengan Mamah yang bersikeras terus ingin agar Hamdan itu menjadi suami Nisa? jujur saja, aku tidak mau Mamah ikut campur lagi masalah pernikahan Nisa. Dia itu anakku, bukan anak Mamah. Yang berhak untuk mengurus pernikahan Nisa adalah aku yang sebagai orangtua Nisa" "Jangan sok mengaturku, kamu hanya anak-anak!" °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN