Chapter 32

1645 Kata
Mata Dian memerah saat makan malam bersama keluarganya. Dia telah mendengar keputusan sang suami bahwa anak ketiga mereka tidak lagi berada di keluarga Farikin. Sebagai seorang ibu, tentu saja Dian tidak mau, namun setelah mendengar sendiri penjelasan suaminya bahwa anaknya itu tak taubat dan tak minta maaf pada keluarga Nabhan, hal ini justru membuat Dian terdiam. Ada apa dengan anaknya itu? "Kamu mau makan apa mau menangis di depan meja makan?" tanya Davin pada sang istri. Dian buru-buru menghapus air matanya yang tak sadar telah turun. Adnan dan Puspa memilih bungkam dan tidak ikut campur dalam masalah ini. Jujur saja, apa yang dilakukan oleh sang adik pada keluarga Nabhan, telah cukup membuatnya malu, namun setelah mendengar penjelasan sang ayah yang terjadi di rumah Nabhan, dia malah sangat menyesalkan kelakuan sang adik. Jika saja sang adik mau mengalah dan meminta maaf, mungkin masalahnya tidak akan sebesar ini, dia tidak akan dikeluarkan dari keluarga Farikin. Adnan merasa malu bertemu dengan para sepupunya yang berasal dari Nabhan. "Bang … tolong bujuk Amdan lagi untuk minta maaf pada Bibi Lia dan keluarga Nabhan-" "Bujuk dia?" potong Davin sinis atas ucapan sang istri, "memangnya dia itu anak kecil yang harus diingatkan kalau buat ini salah, harus berbuat seperti ini, begitu?" potong Davin. Dian menutup mulutnya. "Jangan buat aku lebih marah lagi. Kamu mau membelanya? silakan." Davin terlihat mulai kesal. Dian menggelengkan kepalanya. "Tidak seperti itu, maksudku, kita harus mengatakan padanya lagi untuk pergi minta maaf agar masalahnya selesai, agar keluarga Nabhan tidak lagi marah padanya." "Keluarga Nabhan marah padanya. Mau seberapa banyak dia minta maaf, Om Agri tetap akan menolak maafnya itu. Dian, kamu jangan membuatku marah lagi!" Davin malah ingin marah, namun dia berusaha untuk menahan ledakan amarahnya terhadap sang istri. Tidak baik marah pada istri. Dian membungkam mulutnya agar tak lagi membalas ucapan sang suami. Davin melanjutkan makan malam dengan wajah menahan marah. °°° Busran dan Farel tak sengaja sampai di gedung keamanan IT Nabhan secara bersamaan. Gedung keamanan itu adalah milik Nabhan dan Farikin sejak Agri dan Lia menikah. "Kak Farel," ujar Busran. Farel mengangguk. "Kamu di sini?" Busran mengangguk. "Adnan meminta bertemu." "Aku juga," ujar Farel. …. "Om Farel dan Om Busran, Adnan minta maaf atas apa yang dilakukan oleh Hamdan. Adnan tahu, perilaku dari Hamdan itu benar-benar tidak terpuji. Sungguh sama sekali tidak terpuji. Adnan merasa malu jika bertemu dengan Om Farel dan lainnya. Tapi meskipun demikian, Adnan harus meminta maaf pada Om Farel dan yang lainnya agar rasa bersalah di hati Adnan dapat sirna," ujar Adnan memulai pembicaraannya. "Kamu tidak perlu merasa bersalah, yang berbuat tidak terpuji itu adalah adik kamu, bukan kamu," balas Farel "Tapi tetap saja dia membawa nama Farikin dan Nabhan, apalagi membawa nama Nenek Lia," ujar Adnan. "Memang perilaku Hamdan itu membuatku marah," ujar Busran. Andan menunduk menyesal. "Sampai-sampai Ayahku tidak ingin keluarga Farikin datang lagi ke rumah, tapi Ibu tetap menanyakan Bang Davin karena menangis tadi, jadilah Ayah sedikit berkompromi untuk menerima kedatangan Bang Davin di rumah. Jika tadi aku ada di sana saat Bang Davin datang membawa Hamdan untuk minta maaf dan dia melakukan hal yang tidak terpuji lagi seperti tadi, maka aku pastikan membuat Hamdan itu tahu diri dan tahu di mana tempatnya. Aku sebagai anak tidak menerima baik ibunya dihina seperti itu, itu menyakiti hatiku," ujar Busran tegas. Wajah Adnan terlihat sangat menyesal. Farel melirik ke arah sang adik. Dia juga marah atas apa yang diucapkan oleh Hamdan tadi. "Aku tahu Kakek Agri menolak kami datang ke sana, Ayah … saat ini sangat marah karena perbuatan Hamdan …," ujar Adnan. "Tapi, aku berusaha untuk memperbaiki hubungan kita lagi. Aku ingin Om Farel, Om Busran dan yang lainnya tidak menyamaratakan aku atau saudaraku yang lainnya dengan Hamdan," ujar Adnan. "Mau bagaimanapun juga, kalian kan sedarah. Tapi tenang saja, Om masih punya akal logis untuk membedakan mana dari kalian yang salah dan mana yang benar, jadi kamu tidak termasuk dalam permasalahan yang dibuat adikmu itu, hanya saja untuk yang kedua kalinya tadi pagi, bisa-bisanya dia mengatakan bahwa Ibuku benar-benar dipaksa menikah, omong kosong macam apa itu? tidakkah dia lihat? dari dulu hingga sekarang, Ibu selalu bahagia memiliki Ayah di sisinya sebagai seorang suami. Tidak bisa dia lihat sendiri? di mata Ayahku, Ibuku adalah satu-satunya wanita yang sempurna hingga sangat mencintainya. Semua aset jika beliau tiada esok lusa lebih dulu dari istrinya, semua jatuh pada Ibuku, atas dasar apa dia berkata seperti itu?" ujar Busran. Suasana hatinya memang tidak senang saat ini karena kelakuan dari Hamdan. Wajah Adnan begitu terlihat bersalah. Melihat wajah Adnan, Busran berkata, "Kamu adalah kamu, adik kamu adalah adik kamu. Om tidak marah padamu tapi pada adikmu, lain cerita jika kamu meminta Om datang ke sini untuk membela dan ingin agar Om memaafkan adikmu, jangan harap." Adnan menggelengkan kepalanya. "Itu tidak akan terjadi, Om. Dia salah tetaplah salah, tidak mungkin Adnan membelanya," balas Adnan tegas. Busran mengangguk. "Ya, Om mengerti. Kamu dapat tenang, Om dapat membedakan dia dan kamu." …. Farel melirik ke arah sang adik. "Setidaknya Bang Davin dan Adnan masih punya akal sehat untuk minta maaf atas masalah yang bukan mereka lakukan," ujar Farel. Busran mengangguk. "Aku menyesal, mengapa tadi malam aku tidak menginap saja di rumah? saat dia mencoba untuk melontarkan kata-kata buruk pada Ibu, aku orang pertama yang mematahkan kaki tangannya agar dia berhati-hati dalam bersikap pada Ibu," balas Busran. "Bang Davin menendangnya tadi pagi hingga terjungkal ke belakang, tapi dengan tanpa rasa bersalah dia justru melangkah pergi tanpa menghiraukan kita, kamu bahkan tidak melihat betapa menangis kerasnya Bang Davin di depan Ibu tadi. Anaknya yang bernama Hamdan itu entah telah sangat berubah sekarang," ujar Farel. Busran mencebik. "Kami juga tidak butuh maafnya kalau maaf itu hanya untuk sebagai formalitas saja." "Dia pembangkan dan keras kepala, bahkan dia berani melawan Bang Davin," ujar Farel. "Aku kasihan pada Bang Davin yang memiliki anak berkelakuan seperti dia. Beruntung Bang Davin hanya dirawat semalam saja di rumah sakit dan sekarang tidak apa-apa." Busran masih merasa kesal. °°° "Jadi Adnan meminta maaf secara langsung padamu dan Kak Farel," ujar Gea. Busran mengangguk. "Aku pikir yang hanya bermasalah itu adalah Hamdan. Dia sama sekali tidak memiliki itikad baik bahkan untuk minta maaf," ujar Gea. "Ah, dari rumah Basri menelepon tadi pagi setelah kita ke kantor dan menyelesaikan Surya Manggarai bangkrut," ujar Gea. "Ada pesan dari rumah Basri?" tanya Busran. "Kak Randra yang menelpon ke rumah, itu adalah pesan dari Kak Momok bahwa hari Sabtu malam, atau tepatnya malam minggu, Alan akan mengadakan lamaran resmi, mau diadakan meriah karena untuk menyenangkan hati Kak Momok, kita harus datang sebagai kerabat dekat," jawab Gea. Busran mengangguk. "Lalu Tante Naila bagaimana?" "Mana aku tahu, mungkin sudah menerima karena lamaran tinggal empat hari lagi. Ini saja malam rabu. Ah lagian karena Tante Naila, lamaran jadi tertunda, untung Kak Momok nggak tahu masalah ini," gerutu Gea. "Aku rasa sesuatu telah terjadi antar Tante Naila dan Hamdan, tidak mungkin beliau terus mempertahankan keputusannya untuk menikahkan Nisa dan Hamdan kalau tidak ada apa-apa," ujar Gea. "Tidak perlu apa yang tak terjadi pada mereka, yang penting mereka berdua tidak lagi menghalangi hubungan Alan dan Finisa," balas Busran. Gea hanya manggut-manggut. "Dan yang penting kakakku senang karena anaknya akan menikah." °°° "Jangan sok mengaturku, kamu hanya anak-anak!" ujar Naila pada Derian. "Basri hanya bernyali kecil jika tak menerima duel ini," ujar Naila lagi. "Pikiran Mamah sama seperti Hamdan, berbuat sesuatu tak berpikir," balas Derian. "Jangan lancang padaku!" tegur Naila. Derian geleng-geleng kepala. Sang ibu ini sepertinya tidak akan berubah. "Terserah Mamah saja, yang penting sudah aku ingatkan bahwa jangan berbuat sesuatu yang memalukan lagi," ujar Derian berlalu meninggalkan sang ibu. Rina masuk ke rumah menyusul sang suami, melihat wajah sang menantu yang beberapa hari ini jarang di rumah, Naila mendengkus. "Aku pikir kamu dan suami serta anakmu tidak ingin tinggal di rumah ini lagi hingga tidak menampakkan batang hidung kalian," ujar Naila. Rina hanya menunduk dan berlalu masuk menyusul sang suami. "Heum! lihat dia, sombong." °°° "Alan, jangan pergi ke kantor awal, ada orang yang datang ke sini untuk mengukur ukuran baju kita, jadi nanti ke kantor siangan dikit, yah." Moti mengingatkan anaknya. "Baik, Bunda." Alan menyahut. "Ah, ini roti *s**u. Enak, mari Bunda ambilkan!" Moti terlihat sangat bersemangat pagi ini. Dia dan keluarga menikmati sarapan. "Mau konsep apa nanti? eh, itu akan dilaksanakan di rumah kerabat Nisa? di mana itu?" tanya Laras. "Di restort, Mama Laras, kemarin diubah oleh Papanya Nisa karena Momok telepon dan bilang kalau kita ini keluarga besar, jadi semua keluarga Momok harus datang untuk lihat sesi lamaran itu, jadi kalau di rumah saja, takutnya agak nggak muat buat saudara-saudaranya Momok, apalagi Kak Bisma, Kak Hendra dan yang lainnya juga mau datang dari Lampung ke sini, belum lagi anak-anak Tante Liska, terus kerabat dekat lainnya! hiii banyak banget!" heboh Moti geregetan sendiri. Laras dan yang lainnya tertawa geli setelah melihat tingkah Moti. Beberapa saat setelah sarapan, tepatnya pada jam sembilan, empat mobil dari rombongan designer dan tukang jahit, tiba di rumah Basri. Moti yang melihat kedatangan desainer itu buru-buru bicara pada adiknya lewat telepon. "Gea! aduh! desainernya udah datang, buruan kamu ukur ukuran badan kamu dan Busran, eh semuanya, Gaishan, Ghifan dan Sira juga!" "Baik, Kak." Terdengar suara Gea dari seberang telepon. "Ok, Kak Momok tutup teleponnya, mau telpon Gilan!" Randra tersenyum melihat sang istri. "Mari masuk! mari masuk! Rina, tolong disuguhi minuman dan camilan!" ujar Moti. Desainer tersenyum. "Tidak perlu, Nyonya. Kami datang bukan untuk bertamu, tapi untuk bekerja," ujar desainer pria. "Oh, hehehe, maaf saya agak gugup! Ran! kok Momok malah gugup yah!" Moti terlihat geregetan. "Ah, tapi tetap saja harus sediakan teh dan camilan," ujar Moti. Randra terkekeh. "Mari ke ruang dalam, mau ukur badan kan? ayo! ayo!" ujar Moti. Saat Randra mendorong kursi roda istrinya ke dalam sebuah ruangan ganti, seorang bodyguard datang berbisik. "Nyonya Naila Jovian ingin bertemu dengan Tuan Muda Alan, Tuan." °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN