Chapter 33

1557 Kata
Alan melangkah ke ruang tamu, di mana ada Naila yang duduk dengan gaya elegan sambil melirik ke arah isi ruang tamu. Mungkin karena baru pertama kali memasuki rumah Basri yang amat besar ini, membuat dua bola mata Naila tak henti-henti jelalatan kiri kanan. Dalam hati dia sangat mengagumi barang-barang berharga yang ada di ruang tamu ini. "Oma Naila," sapa Alan pelan. Naila tersadar bahwa orang yang ingin ditemui olehnya telah tiba. "Ah, datang juga." Alan duduk berhadapan dengan Naila. "Ada perlu apa Oma dengan saya?" tanya Alan langsung tanpa basa-basi. Naila mengangkat dagunya dan melihat dengan tatapan sombong seperti sang nyonya besar. "Saya rasa Tuan Muda Basri ini tidak suka berbasa-basi dengan saya." Setelah Naila mengatakan kalimat ini, seorang pelayan datang membawakan teh cryisan dan camilan enak. Kemudian sang pelayan mundur sopan kembali ke dapur. "Apa yang ingin Oma Naila katakan pada saya?" tanya Alan. "Langsung saja, saya tidak ingin buang waktu. Terima ajakan duel dari Nak Hamdan," jawab Naila tegas, ah dia seperti menyuruh Alan. Wajah Alan terlihat datar dan serius memandang Naila. Nenek tua ini datang ke rumahnya hanya untuk menyuruhnya menerima ajakan duel klewang dari si Hamdan itu. "Tidak." Satu kata ini jelas terdengar di pendengaran Naila. Naila tersenyum sinis. "Berarti Tuan Muda Basri bernyali kecil." "Terserah apa penilaian Oma Naila terhadap saya, tetapi saya tidak akan merubah keputusan saya, duel klewang itu, saya tetap menolak," balas Alan. Naila seperti memandang rendah Alan. "Jika benar Tuan Muda Basri mencintai cucu saya, maka saya ingin melihat seberapa besar perjuangan Anda. Tapi ah rupanya ekspektasi saya salah tentang Anda." "Melihat seberapa besar perjuangan seseorang untuk membuktikan dia mencintai seseorang tidak harus dengan duel yang berbahaya, bisa yang lainnya," ujar Alan. "Tapi saya menerima duel klewang antara Tuan Muda Basri dan Nak Hamdan. Tunjukan pada saya bahwa Anda layak untuk cucu saya," ujar Naila tetap bersikukuh pada keputusannya. "Anak saya sangat layak untuk cucu Anda, Nyonya Jovian." Ini adalah suara dingin dari Randra. Naila agak terperangah setelah mendengar suara yang menusuk ini. Dia dengan cepat melirik ke arah Randra, tiba-tiba Naila susah menelan air ludahnya setelah menatap langsung tatapan mata dingin itu. Randra melangkah pelan menuju sofa dan duduk di sofa tunggal. Tatapan matanya masih terlihat dingin dan sama sekali tak bersahabat dengan Naila. "Tuan Randra, saya hanya ingin … melihat seberapa serius anak lelaki Anda mencintai cucu perempuan saya," ujar Naila berusaha terlihat berani bicara pada Randra. "Apakah Nisa menerima duel klewang ini?" tanya Randra pada sang anak. Alan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ayah. Dia menentang duel ini, bahkan dia marah pada pria yang meminta duel ini," jawab Alan. Randra melirik ke arah Naila. "Tidak ada dari pihak kami yang ingin menerima duel yang tak masuk akal itu. Masa depan Nisa, biarkan dia yang putuskan sendiri." "Tapi … saya adalah orang tertua di dalam keluarga, saya berhak menentukan apa yang baik untuk cucu saya," balas Naila. "Apa yang baik menurut Anda, belum tentu baik menurut orangtua Nisa," ujar Randra. Naila langsung menelan kalimat yang ingin dia lontarkan lagi. "Ada hubungan apa duel ini dengan Anda hingga Anda mendesak putra saya untuk menerima duel ini?" tanya Randra. "Saya hanya ingin … melihat seberapa besar nyali dari Tuan Muda Basri," jawab Naila. Randra melirik ke arah Alan. "Keputusan ada di tanganmu, kamu bisa menolak dan bisa menerima." Alan masih diam, dia butuh berpikir. Namun, suara Randra terdengar lagi. "Jika kamu ingin menerima duel ini, boleh saja, tapi dengan cara lain." Alan dan Naila melirik ke arah Randra. "Apa itu, Ayah?" tanya Alan. "Duel Klewang menggunakan *senjata kayu," jawab Randra. "Pft!" Naila berusaha menahan tawa merendahkan. Randra merasa bahwa dia tidak dihargai oleh nenek tua ini. "Saya hanya ingin pria yang bernama Hamdan itu tidak memiliki nasib malang. Sebab kemampuan pewaris Basri bukanlah abal-abal, semua penerus Basri memiliki kemampuan di atas rata-rata." Naila diam. Sementara itu Alan melirik ke arah Naila. "Silakan Nyonya Jovian berpikir, dan ah, beritahu pria pilihan Anda mengenai duel ini jika dia ingin berduel," ujar Randra. Naila mengangguk. "Baik." Naila berdiri, dia merasa agak gemetar berdekatan dengan Randra. Masa lalunya yang *kejam membuat Naila takut dengan Randra. Bisa-bisanya pria kejam ini memiliki istri dan bahkan empat anak, batin Naila. "Saya permisi, Tuan Randra." Naila pamit. Randra mengangguk. Naila berjalan cepat keluar dari rumah Basri. Rumah ini sangat besar, namun dia takut berlama-lama, dia takut jika ada orang yang menculiknya dan malah berbuat jahat padanya, apalagi dia melihat ada banyak pria berjas berjaga di sekeliling rumah, membuat rumah ini seperti rumah dari seorang mafia kelas atas. Alan melihat ke arah sang ayah. "Alan tidak mau menerima duel itu karena ada *senjata tajam. Alan berusaha untuk terus menolak karena jika Bunda tahu, maka Bunda pasti akan ketakutan." Randra mengangguk. "Ayah Ran tahu itu, justru itu Ayah memberi pilihan, entah mereka menerima atau tidak." "Kalau duel menggunakan *senjata kayu, maka Alan setuju, Ayah. Tidak tahu apakah pria itu setuju atau tidak," balas Alan. "Dia pasti mau. Kalau tidak mau mengikuti, maka dia tidak akan bisa mewujudkan niatnya untuk berduel," ujar Randra. Alan mengangguk. "Katakan pada Nisa untuk segera mengukur ukuran bajunya dan keluarganya. Bunda kamu yang menyuruh," ujar Randra. "Sudah, Ayah. Aku sudah menelepon Nisa tadi setelah sarapan. Dia bilang dia akan segera mengukur ukuran badan dari kerabat dekatnya." °°° Pada siang hari, Finisa datang ke rumah Basri. Karena sibuk mengurus lamaran untuknya, Alan tidak jadi ke kantor. Finisa sendiri memilih untuk datang mengukur ukuran baju yang akan dipakai pada saat lamaran nanti. "Tante Momok," sapa Finisa. "Nisa calon mantu Tante Momok!" Moti membuka tangannya agar memeluk Finisa. Finisa memeluk Moti dan tersenyum. "Oh ya Mas desainer, ini calon mantu saya, nah ayo buruan ambil ukuran bajunya!" ujar Moti. "Baik, Nyonya." Desainer pria itu mengangguk. "Ayo ayo, biar cepet buat baju lamarannya," ujar Moti bersemangat. Finisa mengangguk. Alan benar tentang ibunya, bahwa sang ibu tidak pernah menunjukan sisi rapuh di depan mereka. Wanita ini adalah wanita terkuat. Finisa menggenggam tangan Moti dan mengecup punggung tangan Moti. "Harap Nisa, Tante Momok sehat selalu dan bahagia," ujar Finisa tulus. Moti tersenyum dan mengangguk. "Aamiin ya robbal alamin." Finisa berjalan ke ruang ganti untuk mengukur ukuran bajunya. Setelah mengukur ukuran baju, rombongan designer pergi ke sebuah rumah produksi baju, namun rumah ini seperti butik tapi agak besar. Butik itu tutup karena pemiliknya sedang membuat banyak baju yang seragam dan senada untuk acara lamaran besar dari Tuan Muda kaya, siapa lagi kalau bukan Alan. Waktu tiga hari lagi lamaran, itu tidak masalah bagi desainer dan asistennya. Banyak tukang jahit profesional yang bekerja di bawahnya, jadi mereka dapat menyelesaikan baju itu setelah sang desainer menggambar beberapa bentuk baju yang disukai oleh Moti. Tema yang diinginkan oleh Moti adalah krem dan warna merah stroberi. Sang desainer ikut saja apa mau kliennya, dia dibayar mahal dan berkali-kali lipat oleh Basri. °°° "Hahaha!" Hamdan tak bisa menahan tawa ketika Naila mengatakan bahwa keluarga Basri memilih duel dengan *senjata kayu. "Jika kamu tidak mau menerimanya maka tidak ada duel lagi," ujar Naila. "Jadi aku benar kan, Oma? dia itu penakut. Keluarga Basri itu penakut, mereka hanya berani karena punya kuasa uang," ujarnya. Naila tak menyahut, dia malah diam beberapa saat. Mungkin masih mengingat wajah dingin Randra yang sama sekali tidak bersahabat ketika melihatnya. "Terima saja duel itu dengan *senjata kayu," ujar Naila. Hamdan mengangguk. "Baiklah." Naila dan Hamdan bahkan tak tahu kalau Finisa dan Alan akan mengadakan lamaran resmi pada malam minggu nanti. Derian tak ingin sang ibu menghalangi lamaran pada anaknya. Sang anak telah membuang suara agar segera menerima lamaran resmi dari Alan karena Derian tahu, anaknya itu benar-benar serius. Biarlah setelah lamaran resmi dipublikasikan dan sang ibu tahu belakangan, tak apa dia dimarahi oleh sang ibu yang penting lamaran telah dilakukan. °°° Telepon rumah berdering. Seorang pelayan perempuan mendekat dan mengangkat gagang telepon. "Selamat sore, dengan kediaman Basri, dengan siapa di mana? ada yang bisa saya bantu?" "Dengan Hamdan Farikin, saya ingin bicara langsung dengan Alan Basri," jawab dari seberang. "Baik, mohon tunggu sebentar. Saya akan ke Tuan Alan," ujar pelayan. Sang pelayan berjalan ke gazebo belakang di mana Moti dan keluarganya sedang menikmati pemandangan sore dan bercengkrama ria. "Maaf, Tuan Alan, dari Hamdan Farikin ingin berbicara dengan Anda," ujar pelayan. Tiba-tiba banyak pasang mata yang melirik serentak ke arah sang pelayan. Mereka adalah, Ben, Popy, Bilal, Liham, Randra, Nisa, Alan, dan Cassilda yang diundang oleh Moti agar ikut menghadiri lamaran Alan. Pelayan, "...." tiba-tiba menjadi agak takut dan bulu kuduknya merinding. Apa ada yang salah denganku? salahnya di mana? Alan berdiri dan menerima telepon rumah. Dia berjalan menjauh dari gazebo dan menuju ke bagian taman belakang lain yang cukup jauh dengan keluarganya. Mata Liham yang menyadari gerak-gerik dari sang kakak, buru-buru berlari-lari kecil mengikuti sang kakak, sementara keluarga yang lain hanya melihat saja. Setelah dirasa sudah cukup jauh, Alan berkata, "Ada apa?" "Aku menerima duel itu," ujar Hamdan. Alan memutar bola matanya. "Bukan aku yang mengajakmu duel, tapi kamu." "Well, jadi mari kita lakukan duel itu tiga hari lagi," ujar Hamdan. Alan mengerutkan keningnya. Tiga hari lagi? "Maaf, untuk tiga hari ke depan aku tidak bisa," tolak Alan tegas. "Ah begitu rupanya, berarti empat hari lagi, hari Minggu ini," ujar Hamdan. Alan terlihat berpikir dan dia mengangguk. "Baik, empat hari lagi." Tiga hari lagi itu adalah hari pertunangannya, mana mungkin dia akan duel pada hari lamaran plus pertunangan itu? Tidak mungkin terjadi duel pada hari itu. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN