Chapter 34

1635 Kata
Alan menutup telepon. "Apa yang empat hari lagi?!" ini adalah suara Liham yang penuh dengan rasa penasaran. "Akh!" Alan terkaget. Dia berbalik ke belakang dan melihat ke arah wajah sang adik yang menatap penuh tatapan menyelidik ke arahnya. "Ayo ngaku! tadi Kak Alan sempat bilang duel, duel apa? itu yang telepon laki-laki busuk yang hina Nenek Lia, kan?" tanya Liham. Mendengar suara sang adik yang terdengar agak keras saat mengintrogasinya, Alan buru-buru mendekat ke arah sang adik dan membekap mulut Liham. "Mhhpphh!" Liham berontak minta dilepaskan. "Kalau kamu tidak diam, maka aku akan mencubit bibirmu hingga monyong," ancam Alan. Liham menggelengkan kepalanya tanda tak mau hal itu terjadi. "Jangan ribut," ujar Alan. Liham mengangguk. Alan melepaskan bungkaman tangannya pada sang adik. "Kak Alan-" Alan menatap tajam ke arah sang adik, Liham buru-buru me-rem kata-katanya dan dia mulai berkata pelan. "Kak Alan, itu tadi duel apa?" "Duel klewang," jawab Alan jujur. "Aaastagahmpph!" Alan membungkam mulut sang adik karena Liham hendak berteriak histeris. Alan menggertakkan giginya kesal karena kelakuan sang adik yang tidak dapat dipercaya. "Sudah aku bilang jangan ribut," desis Alan. Liham masih terlihat syok saat mendengar bahwa sang kakak akan segera duel klewang dengan pria yang bernama Hamdan Farikin itu. Ini adalah hal serius. "Kakak tahu apa yang kamu pikirkan, tenang saja. Ayah menyarankan dengan menggunakan *senjata kayu," ujar Alan setelah tahu jalan pikir sang adik. Liham malah melotot ngeri. Fokusnya bukan di *senjata kayu tapi kata 'Ayah' yang diucapkan oleh sang kakak. Jadi ayah mereka tahu bahwa kakaknya akan duel klewang, bahkan menyarankan menggunakan senjata* kayu. Eh? senjata* kayu? Liham melirik ke arah wajah sang kakak, dia dengan mudah melepaskan bungkaman tangan sang kakak dengan dua tangannya dan berkata, "Jadi Ayah Ran tahu yah?" Alan mengangguk. "Karena klewang itu merupakan senjata* tajam mirip golok, jadi aku tidak mau mengambil resiko yang berbahaya, aku tidak ingin membahayakan orang lain dan diri sendiri, apalagi jika Bunda tahu, itu tidak akan bagus untuk Bunda," jawab Alan bijak. "Karena itu senjata* tajam, makanya Ayah Ran menyarankan pakai senjata* kayu saja?" tanya Liham. Alan mengangguk. "Ingat, jangan bilang-bilang Bunda. Awas saja kalau kamu bilang, Ayah Ran akan sangat marah padamu." Liham mengangguk kuat. "Masalah ini serius. Apalagi menyangkut Bunda, mana berani aku lancang kiri kanan membeberkan rahasia ini? aku akan menutup mati mulutku." Liham bahkan membuat gerakan resleting bibir agar sang kakak percaya. Alan merasa bahwa kali ini mungkin sang adik dapat dipercaya, yah karena dia berkata atas nama Ibu mereka. Alan berjalan mendekat ke arah gazebo diikuti oleh Liham. Mereka bergabung dengan keluarga dan melanjutkan menikmati kebersamaan mereka. Randra tak melirik lagi ke arah sang anak, dia memilih untuk memotong kue tart untuk diberikan pada sang istri. Sementara itu, Finisa melirik ke arah Alan, dia hendak berkata apa yang dia dan Hamdan bicarakan lewat telepon, namun itu tak tepat karena ada keluarga besar Alan. "Ran, kira-kira baju kita kapan selesainya yah?" tanya Moti sambil menyendok kecil sepotong kue tart coklat stroberi. "Dua hari akan selesai pengerjaan, kita membutuhkannya untuk dipakai tiga hari lagi," jawab Randra. "Tapi apa mereka bisa membuat baju banyak seperti itu dalam waktu dua hari?" tanya Moti. "Itu mudah saja, banyak tenaga penjahit yang direkrut, apalagi mereka juga memiliki pabrik dan karyawan yang cukup banyak. Sehari mereka bisa memproduksi sekitar dua ratus baju," jawab Randra. Moti manggut-manggut mengerti. "Keluarga Baqi banyak, keluarga Basri banyak, keluarga Gea, Gilan, terus Kak Bisma di Lampung … dan masih banyak lagi … itu lebih dari dua ratus orang kalau ditotalin," ujar Moti. "Jangan khawatir, setelah Bisma dan kerabat lainnya sampai di sini, mereka langsung mendapatkan baju mereka," ujar Randra. Moti manggut-manggut. Moti ingin acara lamaran besar untuk Alan, mengingat dulu Popy tak sempat mengadakan lamaran sama sekali. Pernikahan Popy dan Ben memanglah kategori kawin lari, namun Randra memilih ikhlas dan melengkapi rukun dan syarat nikah dari Ben dan Popy. Randra memberi pilihan pada anak perempuannya, apakah ingin diadakan resepsi, namun Ben dan Popy menolak. Moti juga tak memaksa resepsi anak perempuannya, sebab Ben memutuskan hubungan dengan keluarga Ruiz, tidak enak dengan perasaan Mali dan Silvio yang adalah orangtua dari Ben, apalagi Mali itu adalah teman lama dari sang kakak. Jadi, pada lamaran Alan kali ini, Moti sangat bersemangat untuk mengurus ini dan itu, dia ingin agar lamaran yang sekaligus tukar cincin atau pertunangan diadakan meriah dan semua keluarga hadir. °°° Hamdan tersenyum tipis saat meletakkan ponselnya di atas nakas kamar hotel milik Farikin. Karena dia bersinggungan dengan keluarganya, dia tidak lagi kembali ke rumahnya. Hotel yang disinggahi olehnya itu adalah hotel gabungan dari Farikin dan Nabhan setelah Lia dan Agri menikah. Setelah pernikahan antara Agri dan Lia menikah, beberapa properti dan bisnis digabungkan dan kerjasama, salah satu perusahaan keamanan IT terbesar yaitu gedung keamanan IT yang merupakan gabungan dari Farikin dan Nabhan, ada bodyguard gabungan dua keluarga itu. "Empat hari lagi kita akan melihat, siapa di antara kita yang lebih kuat, apakah kamu atau aku." Tatapan mata Hamdan melirik ke arah dua foto yang berukuran sama namun berbeda model. Foto pertama adalah foto dari seorang perempuan muda dan cantik, senyum ke arah kamera, dia adalah mendiang istri dari Hamdan yang tiga tahun lalu meninggal karena sakit yang diderita, sementara foto yang kedua adalah foto dari Finisa yang terlihat muda dan tatapan matanya terlihat serius dan tak ada senyum. "Aku mencoba meraih kebahagiaanku setelah Filisa pergi, aku merasakan kebahagiaan baru pada Finisa," ujar Hamdan. Dia melangkah mendekat ke arah jendela kaca yang menyediakan pemandangan spektakuler dari lantai atas ke arah bangunan kota Jakarta. Matahari mulai masuk sebagian ke arah barat, membuat sinar cahaya orange menimpa wajah Hamdan, pemandangan emas yang indah dari sebuah kamar hotel president suit. °°° Naila mengerutkan keningnya ke arah Siun yang menyiapkan makan malam untuknya. "Dimana Rian dan Rina?" tanya Naila. "Saya tidak tahu, Nyonya," jawab Siun. "Dari aku keluar rumah tadi pagi, kamu lihat jam berapa mereka keluar rumah?" tanya Naila. "Sekitar lima belas menit setelah Nyonya keluar rumah," jawab Siun apa adanya. Naila sedang berpikir tentang anak dan menantunya yang akhir-akhir ini jarang sekali di rumah. …. Derian dan Rina sedang melihat tempat untuk acara pertunangan anak mereka, itu dilaksanakan di salah satu resort Jakarta Utara. Salah satu kerabat dari Rina berkata, "Jadi mertuamu tidak tahu ini?" dia adalah seorang wanita yang berusia beberapa tahun lebih tua dari Rina. Rina mengangguk. "Itulah sebabnya Mbak Reika, Mas Rian ingin menggelar pertunangan ini diam-diam dan hanya keluargaku saja yang tahu, akan rumit dan bermasalah jika kerabatnya ada yang tahu, sebab mereka pasti akan memberi tahu mertuaku dan lamaran ini akan kacau," jawab Rina. Rieka mengangguk membenarkan. "Aku lebih suka kamu tidak usah tinggal dengan ibu mertua kamu, tidak pernah menghargai kamu, selalu bertingkah seperti nyonya besar padahal jika dirunut masa lalunya toh dia menikah karena memaksa ayah mertua kamu, sudah memperdaya almarhum suaminya," balas Rieka. Rina hanya tersenyum kecil. "Tapi aku bersyukur, Nisa bisa mendapatkan Tuan Muda Basri, ibu mertuamu pasti kalang kabut karena tidak bisa mempengaruhi Basri, coba saja kalau dia bisa, makan ayah dari calon menantumu akan merobeknya menjadi potongan daging manusia segar dan diberi makan ke kandang macan," ujar Rieka, dia mencebik. Rina hanya tersenyum masam. "Jangan kira aku tidak tahu maksud mertuamu memilih anak bungsu dari keluarga Farikin. Semua keluargamu juga tahu. Mertuamu itu sudah melirik Ibas untuk dijadikan suami Nisa, tapi karena ada Kakek Ibas yang begitu tegas dan tak mudah dipengaruhi, juga Ibas terlihat tidak memiliki perasaan suka atau spesial pada Nisa, jadilah mertuamu mengurungkan niatnya, dia takut pada penguasa Nabhan saat ini," ujar Rieka. Rina menunduk dan berwajah masam. "Aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajah mertuamu saat tahu bahwa Nisa dan Tuan Muda Basri telah bertunangan dan dia bahkan tidak ada di hari penting itu, wajahnya tidak nampak di kamera dan diupload ke sosial media resmi perusahaan Basri, pasti wajahnya terlihat bengkak dan hitam karena terlalu marah, hahahah!" Rieka malah tertawa saat membayangkan wajah Naila nanti. "Eh, aku tadi diminta kirimkan ukuran baju, apakah semua kerabat kita diminta hal yang sama oleh keluarga Basri?" tanya Rieka. Rina mengangguk. "Nyonya Moti Basri ingin agar seluruh kerabat beliau dan kerabat Nisa hadir dalam acara pertunangan, awalnya kan kita mau adakan di rumah Mbak Chenda, tapi setelah diberitahu oleh Nyonya Moti Basri mengenai banyaknya kerabat dan pertunangan diadakan meriah, kami mengganti lokasi di sini. Semua biaya ditanggung oleh Basri, kami sebagai pihak perempuan hanya menerima saja," jawab Rina apa adanya. "Rina, coba katakan berapa budget yang diberikan oleh Basri pada kalian suami istri ini untuk mempersiapkan acara lamaran ini, maksudku tempat di resort ini?" tanya Rieka dengan nada penasaran dan ingin tahu. Rina menunduk dan menahan senyum. "Oh ayolah! jangan sembunyi-sembunyi seperti itu, kamu membuatku bertambah penasaran!" desak Rieka. Rina memilih diam. "Ah, kamu tidak mau memberi tahuku! hei, aku ini sepupumu!" Rieka melotot. "Jika aku katakan, Mbak Rieka berjanji tak akan katakan pada siapapun," ujar Rina. Rieka mengangguk. "Aku berjanji, tidak akan memberitahu pada siapapun, sumpah! ayo beritahu sekarang, berapa yang diberikan oleh Basri dalam acara lamaran ini?" Rina menahan senyum senang dan bangga. Dia bangga karena dia sebagai Ibu dari seorang gadis dapat menerima uang pertunangan dari seorang pria yang melamar anak perempuannya. "Untuk biaya resort di sini dan semua persiapannya itu diberikan sebesar sepuluh milyar oleh Basri, tidak termasuk biaya media massa, karena itu adalah urusan mereka." "What?!" Rieka melotot. "Um … kelebihan biaya memang, tapi itu tak apa kata Basri, toh itu kan demi hari bahagia Basri dan Jovian," ujar Rina. "Rina, acara pertunangan apa yang memakan biaya sebesar sepuluh milyar?! hei! itu bukan untuk biaya nikah kan?!" tanya Rieka. Rina menggelengkan kepalanya. "Tidak termasuk. Menurut Nyonya Moti Basri, biaya pernikahan akan diserahkan pada hari itu juga setelah Alan dan Finisa memakai cincin pertunangan." "Akh?! kaya, kalian akan kaya raya!" histeris Rieka Kalau biaya pertunangan saja diberikan sebesar sepuluh milyar, lalu apa kabar dengan biaya pernikahan yang akan diberikan nanti? °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN