Chapter 35

1596 Kata
Dua hari kemudian. Keluarga dekat Moti yang berada di Lampung datang ke Jakarta untuk menghadiri pertunangan Alan dan Finisa pada besok hari. Mereka yang datang dari Lampung adalah sepupu dekat yang merupakan anak dari saudara kandung mendiang Nulani, yaitu ibu dari Moti. Yuni yang adalah kakak dari Nulani kini yang telah berusia lebih dari 70 tahun itu mengusap sayang punggung tangan sang ponakan, matanya memerah setelah mereka saling berpelukan. "Momok, Ya Allah, Tante Yuni kangen kamu. Sudah lama kita nggak bertemu, sudah berapa tahun? dua atau tiga?" tanya Yuni. Moti tersenyum. "Baru satu tahun, Tante Uni. Kan waktu itu datang ke sini buat akikahnya Chana," jawab Moti. Yuni mengangguk. "Alhamdulillah kamu sehat-sehat, Nak. Oh anak perempuanku," ujar Yuni lalu memeluk Moti lagi. Keluarga Basri tahu, betapa sayangnya Yuni pada Moti sebelum kematian adik perempuannya, Yuni telah menganggap Moti sebagai anak perempuannya karena dia hanya memiliki anak laki-laki. Apalagi setelah kematian tragis sang adik, Yuni bertambah sayang pada Moti. Laras yang melihat Yuni dan Moti berpelukan itu merasa terharu. "Yun, Momok selalu berpikir positif, makanya dia selalu sehat," ujar Laras pada Yuni. Umur mereka tak beda jauh, Yuni mengecup pipi Moti lalu melirik ke arah Laras. "Ya, selalu berpikir positif, jangan pikir yang macam-macam. Jauhkan pikiran buruk darimu, sekarang ini kamu hanya perlu bersenang-senang," balas Yuni. Laras mengangguk membenarkan. "Aku sudah terlalu tua, jadi tidak bisa banyak berjalan lagi. Ingin sekali datang mengunjungi Momok sesering mungkin, namun apa daya, jalanku saja agak pincang karena asam urat, beruntung Bisma membawaku berobat dan kontrol ke dokter setiap berkala," ujar Yuni. "Ya ampun, jangan makan sembarangan! oh mari aku beritahu obat asam urat!" Laras malah memanggil Yuni, dan mereka berdua terlibat percakapan seputar penyakit lansia. Iqbal yang melihat sang istri bicara dengan besannya itu hanya geleng-geleng kepala, sementara itu suami Yuni yang bernama Andri terkekeh. "Biasa perempuan, apalagi jika mereka sudah tua, yah kerjaannya hanya cerita saja," ujar Andri. Iqbal tertawa. "Kalau begitu mari kita main catur," ajak Iqbal. "Nah! itu yang pas! aku menunggu main catur! ayo kita buktikan siapa pemenangnya!" balas Andri setuju. Bisma dan Hendra malah geleng-geleng kepala, bilang perempuan ternyata mereka juga punya kesibukan sendiri. "Oh yah, Kakak Andre tidak datang yah?" tanya Moti. "Sore dia akan tiba. Dia kan tidak di Lampung lagi, sudah jadi suami wakil walikota Lhokseumawe," jawab Bisma. Moti terkekeh. "Keren Kak Andre, bisa dapet istri wakil walikota," ujar Moti. Bisma mendengkus sombong. "Aku juga sebenarnya dinaksir oleh Walikota Lampung, tapi aku tidak tertarik ah!" Sarah yang adalah istri dari Bisma melirik dengan ekor mata ke arah sang suami. Moti malah tertawa geli. "Biasa aja mukanya, Sar. Orang cuma bercanda," ujar Bisma. Hendra dan yang lainnya tertawa. Chana datang berlari kencang tanpa rem menabrak paha Bisma. "Oh oh oh! coba Kakek Bisma lihat, siapa ini?! aaah! cantik sekali!" Bisma menggendong Chana dan mengecup wajah Chana. Hal ini membuat Chana agak geli namun dia terkekeh. "Oh, coba aku gendong," ujar Hendra. "Aku belum semenit," tolak Bisma. Ben hanya pasrah melihat anak perempuannya yang berusia satu tahun lebih itu dioper sana sini macam bola, sudah dioper, dicium kiri kanan lagi. Alamat mandi lagi anaknya. Penuh liur orang. °°° "Aku mau pulang lebih awal," ujar Gea. "Loh Sayang, nggak nunggu aku selesai shalat Jumat?" tanya Busran yang berada di dalam ruangan. "Tante Yuni dan yang lainnya udah tiba di rumah Kak Momok," jawab Gea. "Tungguin aku yah? ini udah jam sebelas, dikit lagi shalat jumat, setelah sholat, kita berengan ke rumah Randra," ujar Busran. "Ok," sahut Gea setuju. Busran hendak keluar ruangan, namun suara Gea terdengar. "Sudah beberapa hari ini, aku nggak dengar kabar anak bungsu dari Bang Davin, apa dia sudah pulang ke Padang, yah?" Mendengar kata 'anak bungsu' dari Bang Davin, membuat mood Busran turun. "Tidak perlu menghiraukan dia. Jangan bahas anak itu, moodku jadi turun." "Ok." Gea menyahut. °°°° Di kediaman Busran Nabhan. "Pokoknya harus kameramen yang profesional dan fotografer yang profesional untuk acara ini. Saya membutuhkan lima kameramen untuk merekam video dan lima fotografer untuk mengambil gambar dari berbagai sisi dan gaya," ujar Gaishan yang sedang bicara dengan wakil pemimpin perusahaannya. "Baik, Pak Gaishan. Saya akan menugaskan orang-orang yang diminta oleh Pak Gaishan," balas wakil pimpinan Gaishan Entertainment. "Hum, dan juga di sana akan ada konferensi pers yang hanya akan diliput oleh Gaishan's Entertainment saja. Nanti katakan pada reporter yang saya pilih, kasih pertanyaan yang logis dan tidak rumit, awas yah jika singgung-singgung pihak manapun," ujar Gaishan. "Baik Pak Gaishan, saya mengerti," balas wakil pimpinan. Gaishan mengangguk puas. Bukankah konferensi pers itu dihadiri oleh beberapa media massa? lalu kenapa di konferensi pers yang dikatakan oleh Gaishan ini hanya akan diliput oleh Gaishan's Entertainment? Jawabannya yah karena ini adalah acara pertunangan dari sepupunya sekaligus pewaris Basri, jadi Gaishan yang sebagai kerabat dekat dipilih oleh Moti untuk menyiarkan berita mengenai pertunangan Alan. Toh itu juga bagus, dia sendiri yang punya berita eksklusif. "Ok, saya tutup teleponnya, saya mau shalat Jumat, assalamualaikum," ujar Gaishan. "Baik Pak Gaishan, waalaikumsalam," balas sang wakil pimpinan. Setelah Gaishan menutup panggilan telepon, dia berdiri dari kursi santai menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk mandi. °°° "Jadi sudah banyak kerabatmu yang datang ke rumah?" tanya Finisa. Alan mengangguk. "Ya. Saudara sepupu Bunda yang dari Lampung, beberapa memilih menginap di hotel milik Basri, sementara yang lainnya memilih menginap di rumahku," jawab Alan. Mereka sedang berada di dalam mobil. "Aku akan mengantarmu ke resort lalu akan kembali ke rumah untuk bersiap-siap besok sore acara kita," ujar Alan. Finisa mengangguk. "Ada yang kamu butuhkan?" tanya Alan. "Tidak ada, semua sudah terpenuhi," jawab Finisa. "Jika ada yang dibutuhkan, segera beritahu agar langsung disediakan oleh pihakku," ujar Alan. "Ya, kamu tenang saja," balas Finisa. "Aku ingin bertanya," ujar Alan. "Silakan," balas Finisa. "Apa betul pada acara pertunangan kita besok, tidak ada dari kerabat Papa kamu yang tahu?" tanya Alan. Finisa mengangguk. "Ya, tidak ada. Hanya keluarga Mama," jawab Finisa jujur. "Apakah itu tidak masalah? biar bagaimanapun juga, mereka itu adalah kerabat Papa kamu," ujar Alan. "Tidak masalah, toh yang penting Papa ada dan setuju. Jika aku menikah nanti tidak butuh wali dari mereka, mereka hanya saudara sepupu dari istri dari Opa Chris, tidak ada nasab denganku, Opa Chris juga tak punya anak selain Opa Farel, keluarga dekat Opa Farel jauh berada di Italia sana, itupun mereka tidak bisa jadi wali nikah karena perbedaan keyakinan. Yang penting ada Papa," ujar Finisa. Alan mengangguk mengerti. Tak berapa lama mereka sampai di resort. Meskipun itu hanya resort buatan, namun tetap saja itu cantik. Dan yang menjadi uniknya, itu adalah salah satu resort buatan di bawah naungan Nabhan. "Kamu langsung pulang ke rumah?" tanya Finisa. "Coba aku lihat dekorasi tempat pertunangan kita," ujar Alan. "Ayo!" ajak Finisa. Dia dan Alan berjalan sambil bergandengan tangan mendekat ke arah tempat yang akan dilaksanakannya pertunangan mereka. Semi outdoor, di mana ada dinding kaca yang memisahkan bagian dekorasi luar dengan bagian dalam bangunan. Jadi nanti pada sore hari, tamu undangan atau sanak keluarga dapat menikmati sunset. Ada Rian dan Rina yang hari ini tidak ke kantor, Rian mengambil cuti beberapa hari untuk mempersiapkan acara lamaran sang anak. "Om Rian," sapa Alan. "Ah, Nak Alan, kamu datang?" Rian buru-buru mendekat ke arah calon menantu. Alan tersenyum. "Bagaimana Om? siap?" tanya Alan. Derian mengangguk. "Semua sudah siap. Besok sore tinggal acaranya saja," jawab Derian. Alan tersenyum. "Saya mau lihat-lihat sedikit dekorasi tempat ini, setelah itu saya harus kembali pulang ke rumah, Bunda menelpon bahwa keluarga dari Lampung telah tiba tadi pagi jam sepuluh." "Baik, Om ngerti," balas Derian. "Baju untuk keluarga pakai sudah diberikan pada Om dan yang lainnya kan?" tanya Alan. "Sudah, orang butik sudah bawa tadi setengah jam yang lalu sebelum kamu dan Nisa ke sini," jawab Derian. Alan mengangguk. Dia dan Finisa berkeliling sesaat untuk melihat resort itu, setelah setengah jam kemudian, Alan memutuskan untuk pulang ke rumah sementara itu Finisa tetap di resort. Dia dan keluarganya akan menginap di resort yang telah disewa oleh keluarganya. Pada malamnya, di rumah Basri terasa ramai. Moti dan keluarga Besar makan malam bersama. Dihadiri oleh Gea dan Gilan, sementara itu Agil masih dalam kunjungan resmi ke negara lain. Dia akan dijadwalkan kembali ke tanah air pada besok pagi. "Gea, kamu makin cantik," puji Yuni. "Nah, Tante Yuni benar, istriku tambah cantik kan?" timpal Busran. Yuni mengangguk. "Wajah tidak berubah. Masih sama seperti dulu, muda terus, Tante Uni heran, kamu pakai perawatan apa hingga anti tua begitu?" Gea tertawa. "Rajin-rajin marah dan ngomel sama suami aja Tante, di jamin bakal terus awet muda," jawab Gea. Yuni dan keluarga tertawa geli. Chana dan beberapa kerabat yang masih anak-anak terlihat berada di meja makan anak-anak. Beberapa baby sitter berusaha untuk menenangkan anak-anak agar diam dan tak banyak bergerak. Toh sama saja, yang namanya anak-anak memang banyak pecicilannya. Makanan yang diberikan pada mereka malah dihambur-hamburkan. Malah Chana yang paling bersemangat untuk meremas dan mencakar makanan yang diberikan oleh baby sitter. Ben setiap menit melirik ke arah anaknya, mungkin karena sudah menjadi bapak rumah tangga dan menjaga anaknya selama satu tahun lebih, insting Ben merasa bahwa para baby sitter tak akan bisa membujuk sang anak untuk diam. Alhasil dia yang turun tangan sendiri untuk memberi makan anaknya. "Papa Ben!" teriak Chana saat melihat sang ayah mendekat ke arahnya. "Papa Ben!" teriak anak-anak yang lain pada Ben. Ben, "...." anaknya hanya Chana, kenapa yang lainnya memanggilnya Papa juga? "Om Ben!" nah, ini baru benar. Beruntung ada seorang anak yang sadar bahwa Ben bukanlah ayahnya. Namun suara Chana malah membuat Ben ingin terjungkal ke belakang. "Om Ben! Om Ben! Om Ben!" panggil Chana pada sang ayah. Ben, "!!!" °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN