Pada pagi harinya seorang utusan dari Basri, datang ke rumah Farikin dan meminta bertemu langsung dengan Davin.
"Saya ditugaskan langsung oleh Tuan Randra untuk menyampaikan langsung pesan dari beliau pada Tuan Davin," ujar pria itu.
Perawakannya dengan tinggi standar pria Indonesia, umurnya sekitar pertengahan 30-an.
Davin mengangguk mengerti.
"Ya, ada apa itu?" tanya Davin.
Pria itu membuka tas hitam yang modelnya seperti tas kerja pria. Lalu dia meraih sebuah undangan berdesain mewah dan memegang undangan itu dengan dua tangannya lalu dengan sopan memberikan undangan itu pada Davin.
Davin menerima undangan itu, namun dia belum membaca isi dari undangan itu.
"Tuan Randra mengatakan bahwa memang sudah agak terlambat untuk memberikan undangan pada Tuan Davin, tapi mengingat hubungan kedua keluarga yang cukup rukun dan stabil, beliau berharap Tuan Davin berkenan menyempatkan diri datang ke acara yang akan diselenggarakan sore ini," ujar pria itu.
Davin membuka cover undangan dan dia melihat bahwa itu adalah undangan pertunangan dari Alan dan Finisa. Agak terperangah namun dia telah menebak bahwa itu pasti acara anaknya. Biar bagaimanapun juga, Alan dan Finisa benar-benar saling cinta, cepat atau lambat mereka akan bertunangan lalu menikah.
Setelah membaca isi undangan, Davin melirik ke arah pria utusan dari Basri.
"Sampaikan salamku pada Randra, aku akan datang. Dia bisa tenang tidak akan terjadi keributan nanti," ujar Davin.
Davin memberi pesan tersirat bahwa anaknya tidak akan datang ke acara pertunangan itu agar tidak terjadi keributan, itu berarti dia merahasiakan pertunangan ini dari anaknya yang berselisih dengannya.
Pria itu mengangguk mengerti.
"Baik, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Davin."
"Ya, terima kasih atas undangannya," balas Davin.
"Sama-sama, Tuan. Mari, selamat pagi."
"Selamat pagi," balas Davin.
Pria itu pamit dan Davin melirik sekali lagi ke arah undangan di tangannya. Bentuk undangannya sangat elegan dan mewah, bagi Davin yang adalah orang kelas atas, harga sebuah undangan bisa mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan. Desainnya saja mewah, belum lagi pinggiran sudut undangan yang terbuat dari perak.
"Jodoh itu pasti tidak akan ke mana. Allah itu Maha sempurna, telah mentakdirkan maut, rezeki bahkan jodoh untuk kita," gumam Davin.
Adnan datang menghampiri sang ayah sambil menggendong anak perempuannya yang berusia satu tahun lebih.
"Dari mana itu, Ayah?" tanya Adnan.
"Sore nanti kita datang ke acara pertunangan Alan dan Finisa, yang turut mengundang bukan cuma Basri, tapi suami dari Gea yang merupakan kerabat kita," jawab Davin.
Adnan diam selama beberapa detik lalu dia mengangguk.
"Jangan beritahu adikmu. Hubungan adikmu dengan Nabhan sangat tegang, jangan sampai dia datang ke acara ini dan merusak suasana harmonis antar banyak keluarga. Beruntung Basri dan Nabhan masih menganggap kita sebagai keluarga dan teman," ujar Davin.
"Baik, Ayah." Adnan mengangguk mengerti.
°°°
"Ran, itu Kak Agil udah balik dari London, yah?" tanya Moti.
"Sudah, baru sampai di rumah dinasnya tadi jam tujuh, sekarang sedang istirahat. Harus banyak istirahat agar sore nanti dapat hadir ke acara Alan," jawab Randra.
"Nah iya, itu yang Momok mau bilang, Kak Agil harus istirahat. Nanti jangan lupa bilang ke Kak Agil bergaya yang tampan-tampan yah, jangan ada yang salah sedikit, misalnya tidak sisir rambut, masa Pak Kapolri datang ke acara lamaran ponakan dengan rambut acak-acakan," ujar Moti.
"Hahahaha!"
Keluarga lainnya tertawa geli setelah mendengar kecerewetan Moti.
"Alan, kamu tadi malam nggak begadang, kan?" tanya Moti.
Alan menggelengkan kepalanya.
"Nggak kok Bunda. Alan malah tidur awal."
"Jam berapa kamu tidur tadi malam?" tanya Moti.
"Jam sepuluh, Bun."
"Jam satu malam, Bun," ini adalah jawaban dari Liham.
Alan melirik ke arah sang adik. Adiknya ini benar-benar.
"Eh? jam satu?!" Moti melotot ke arah sang anak.
"Jangan begadang! Bunda kan sudah mengingatkan, hari ini adalah hari penting, kalau kamu ngantuk atau kecapean gimana?!"
"Pft!" Liham tertawa senang mendengar sang kakak diceramahi oleh ibu mereka.
Alan tersenyum masam dan bersalah.
"Itu … Alan nggak sabar nunggu sore nanti, makanya mau begadang sampai pagi," ujar Alan.
"Hei?!" Moti melotot pada sang anak.
Randra hanya diam saja mendengar sang istri mengomel pada anak lelakinya. Bahkan dia tersenyum kecil saat melihat wajah lucu dan mata melotot dari sang istri. Dulu waktu mereka masih pacaran, sang istri selalu cerewet bagaikan nyamuk yang berkaraoke di dua telinganya, namun dia malah menikmati saja kecerewetan sang istri.
"Pergi tidur setelah sarapan!" titah Moti.
"Baik, Bun." Alan hanya bisa menurut.
"Itu susunya diminum supaya tidak pusing nanti! eh, kamu kurang darah? aduh! itu obat kurang darahnya diminum!" Moti malah heboh sendiri.
Merasa sang ibu sangat memperhatikannya yang bahkan telah dewasa, Alan tersenyum lembut penuh ketulusan. Hatinya terasa hangat dengan perhatian dari sang ibu.
"Pegi tidul!" ucap Chana ke arah sang paman.
Alan terkekeh geli dan mencubit pelan hidung mancung sang ponakan.
°°°
Acara diadakan jam empat sore.
Moti telah berganti pakaian, gamis merah polos kristal bertaburan dan ujung gamis dipadukan dengan warna krem kesukaannya. Itu adalah merah stroberi yang terlihat segar, meskipun pengerjaan baju itu tak sampai tiga jam, namun tidak ada kecacatan. Desainer sengaja membuat dua baju sama untuk masing-masing ibu dari Alan dan Finisa, baju itu agak berbeda dengan baju desain kerabat yang lainnya.
Pada jam tiga, Moti dan keluarga telah bersiap untuk menuju ke resort, tempat di mana acara pertunangan berlangsung. Semua sanak saudara akan dari rumah Basri bersama Moti dan keluarganya. Para gadis-gadis cantik yang merupakan kerabat dekat Basri juga datang, mereka mengambil tugas membawa beberapa seserahan kepada keluarga perempuan. Beberapa dari mereka datang dari Bandung, tempat di mana keluarga Basri berasal.
Mobil terdepan ditumpangi oleh Moti dan sang suami. Sementara Alan berada di mobil belakangnya, dia duduk diapit oleh dua saudaranya.
"Liham, sudah aku bilang, duduk saja di depan, kenapa kamu pembangkan dan duduk di sini?! aku terjepit kalian berdua!" seru Alan.
Liham malah terlihat santai dan tak bersalah. "Suruh Kak Bilal saja duduk di depan," balasnya.
Bilal melirik ke arah sang adik.
"Mobil sudah berjalan jauh begini baru kamu suruh? ini jalan tol," balas Bilal.
"Tinggal langkah ke depan saja lalu duduk, apa susahnya sih?" tanya Liham.
Bilal dan Alan merasa ingin sekali menendang keluar adik mereka dari dalam mobil ini.
Liham dengan tebal muka merogoh ponselnya dan mengambil beberapa gambar. "Kak Alan, mukanya hadap sini."
Alan melirik ke arah kamera.
Liham mengambil gambar mereka bertiga yang duduk berdempetan di jok penumpang belakang yang hanya muat untuk dua orang.
Selama semenit kemudian, Alan tidak lagi merasa kesal karena dia asik berselfie dengan dua adiknya.
"Sekali lagi, gaya yang tadi kurang pas," ujar Alan.
"Senyumnya mana? katanya mau tunangan hari ini," ujar Liham.
"Ini lagi senyum, kamu nggak lihat?" balas Alan.
"Mana? lagi ngobrol sama Liham kok," balas Liham.
Alan mencebik dan menarik ponsel sang adik, lalu dia yang mengambil gambar mereka bertiga di dalam mobil.
Dari tadi, raut wajah Bilal hanya satu, diam saja dan tak tersenyum.
Alan dan Liham yang melihat ekspresi wajah saudara mereka di layar galeri hanya mencebik lalu melirik ke arah Bilal.
"Kak Bilal kayak orang yang sedang tahan beol garis keras di atas kloset," ujar Liham.
Bilal, "!!!" melotot ke arah adiknya.
"Muka kamu kok gini? dari tadi cuma satu ekspresi doang, diam aja!" Alan tidak menerima ekspresi dari sang adik.
"Aku sedang gugup," ujar Bilal.
"Gugup kenapa?" tanya Alan dan Liham.
"Kan mau tunangan," jawab Bilal polos.
Alan dan Liham, "!!!"
Mereka buru-buru mendempet badan Bilal.
"Woy! yang mau tunangan aku, bukan kamu!" seru Alan.
"Kak Bilal juga suka sama Kak Nisa yah? makanya gugup? oh patah hatikah?" tanya Liham tanpa filter.
"Lihaaaaam!" Bilal mengamuk.
Bodyguard yang mengendarai mobil itu menahan tawa melihat tingkah tiga bersaudara di belakangnya.
°°°
Rina tersenyum saat melihat wajah sang anak perempuan yang telah didandani hingga terlihat sangat cantik. Mereka memakai gamis dengan pola simpel namun tetap terlihat elegan.
Warna merah yang dipancarkan dari gamis sang anak terlihat sangat mewah. Sanggul indah dan beberapa aksesori rambut dari emas asli menempel di rambut sang anak.
Dia tidak memakai satupun perhiasan di badan, namun tetap terlihat manis. Ujung lengan tangan balon membuat gerakan tangan Finisa terlihat elegan. Sepatu krem yang dipakai terlihat sangat indah di kakinya.
"Anak Mama sudah cantik, hari ini sudah ada yang melamar, tidak lama lagi menikah, Mama senang sekali," ujar Rina.
Finisa tersenyum, gaya riasan natural membuat dia tidak bosan dengan tempelan mekap itu.
"Aku senang kalau Mama senang dengan pilihanku," ujar Finisa.
Rina mengangguk.
"Tentu saja Mama senang. Nak Alan itu sopan dan santun, menghargai para tetua, contohnya Oma kamu, meskipun masih bersikukuh untuk menolak, namun tetap saja Nak Alan tidak marah dan bahkan berusaha beberapa kali untuk membujuk Oma kamu, meskipun hasilnya tetap sama, tapi niat dan kesungguhannya telah terlihat di mata Papa dan Mama, makanya Papa memilih untuk merahasiakan pertunangan ini dari Oma kamu dan kerabat Papa kamu."
Finisa tersenyum.
"Yang penting kan Papa dan Mama setuju dan menerima. Kerabat Papa tidak penting toh sama saja, mereka itu tunduk di bawah perintah Oma," ujar Finisa.
"Aku tidak butuh kerabat yang seperti itu, tidak mendukungku."
Rina menggenggam tangan sang anak.
Beberapa kerabat Rina masuk ke kamar penginapan.
"Aduh, cantik sekali anakmu, Rin!" ujar Rieka.
"Ah, manis sekali!" puji kerabat perempuan a.
"Wah! lihat ini, manis sekali!" puji kerabat b.
Bunyi langkah kaki mendekat ke arah kamar itu.
"Rombongan pelamar sudah datang! ah, banyak tamu penting yah! saya lihat Kapolri juga ada! eh, itu banyak pejabat!" ujar seorang ibu.
"Wah! sudah datang!" ujar Rieka.
"Eh jangan salah, Pak Kapolri itu Om-nya si Alan loh. Beliau bersaudara kandung dengan Ibunya Alan yang mau lamar Nisa," ujar Rieka.
"Waaah! aku main kurang jauh!" ibu itu terbelalak heboh.
Derian datang menghampiri anak dan istrinya.
"Rina, mari sambut Alan dan keluarga. Sebelum acara pertunangan dimulai, kita harus berada di sebuah ruangan untuk membicarakan perihal pernikahan nanti," ujar Derian.
"Baik, Pa." Rina mengangguk.
°°°