Para kameramen mengambil video dari berbagai sudut yang telah ditentukan. Keluarga pelamar sang pria memasuki ruangan khusus setelah acara sambutan dan maksud dari kedatangan mereka, beberapa tetua dari keluarga Rina menyambut kedatangan keluarga Pria.
Para fotografer membidik gambar tiada henti, mereka memastikan bahwa tidak ada satu momen pun yang terlewat.
Moti melirik ke arah sang kakak lelaki yang hadir di bagian kursi depan, dia melambaikan tangannya ke arah Agil.
Melihat wajah sang adik perempuan, Agil permisi pada beberapa tamu yang hadir, dia dan istri berdiri dari barisan depan dan ikut masuk ke ruangan itu.
"Nyonya Basri senang sekali yah? anak lelaki pertama lamaran, lihat wajah beliau, tidak ada raut lelah atau pura-pura, dari tadi senyum senang terus," ujar tamu undangan laki-laki a.
"Basri akan mendapat menantu baru, dan tentu saja Nyonya Basri senang," balas tamu undangan pria b.
Agil menghampiri sang adik.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Agil.
"Momok senang, Kak Agil. Eh, Kak Agil ayo gabung ke kelompok tetua, cepat mau bahas adat dan yang lainnya!" jawab Moti.
"Baik," sahut Agil lalu tersenyum. Dia mengambil alih gagang kursi roda dari tangan adik iparnya yaitu Randra.
Orang-orang dapat melihat betapa sayangnya Agil pada saudaranya yang merupakan Nyonya Basri itu.
Busran dan Gea ikut bergabung, sama halnya dengan Gilan dan Anindya. Demi permintaan Moti, mereka bergabung dan mengikuti prosesi lamaran. Misya dan Febrian juga ada di tempat lamaran itu.
Davin melihat serius ke arah dinding kaca yang memisahkan tamu dan dua keluarga yang sedang duduk di karpet bulu halus itu.
"Bang, kenapa tidak beritahu aku kalau ini adalah acara pertunangan Basri dan Finisa?" tanya Dian.
"Jika aku katakan padamu, apakah kamu akan memberitahu anak itu? dan dia akan datang ke sini dan membuat kekacauan?" tanya Davin balik.
Dian hanya menelan kata-katanya yang ingin dikeluarkan.
Selama dua puluh menit mereka berembuk duduk bersama, akhirnya semua telah disepakati, dari tanggal pernikahan dan adat pernikahan dalam prosesi apa. Karena Alan dan Finisa berbeda dalam persoalan adat mereka, dan juga ayah Finisa yang pada dasarnya bukan asli dari Indonesia, jadilah mereka mengambil jalan yaitu nanti pada menikah yang akan diadakan tiga minggu lagi dengan menggunakan adat jawa dari tradisi Rina yang merupakan ibu dari Finisa.
Setelah berembuk, pembawa acara memberi beberapa kata pada para tamu undangan kemudian Alan dan Finisa naik ke atas panggung dan saling memasang cincin pertunangan di hadapan semua orang.
Prok prok prok!
Bunyi riuh tepuk tangan meriah dari hadirin. Setelah saling memasang cincin, Alan dan Finisa memperlihatkan jari manis mereka ke para hadirin, mereka memperlihatkan cincin pertunangan.
Tepuk tangan terdengar lagi. Bidikan kamera tiada henti berkedip.
Setelah sesi tukar cincin selesai, beberapa microphone diletakkan di meja, Alan dan Finisa mulai menjawab satu persatu pertanyaan yang telah disiapkan oleh reporter pilihan Gaishan sebelumnya.
"Jika berkenan, bolehkah saya memberi beberapa pertanyaan pada Tuan Basri dan Nona Jovian?" tanya reporter perempuan.
"Ya, silakan," jawab Alan dan Finisa bersamaan.
"Baik, Pak. Terima kasih," ujar reporter. "Tanpa membuang waktu, saya ingin bertanya. Pertanyaan pertama, bagaimana perasaan Tuan Basri dan Nona Jovian setelah terpasangnya cincin pertunangan di masing-masing jari manis?"
"Tentu saya senang. Saya dan kekasih saya sudah lama mendambakan pertunangan kami, kami berharap semuanya lancar sampai hari pernikahan kita nanti, mohon doa restu dari hadirin sekalian," jawab Alan.
Semua tamu undangan mengangguk.
"Mengenai lamaran ini apakah ada kendala sebelumnya?" tanya reporter.
"Hanya sedikit kendala, namanya juga kehidupan tentu saja ada kendala, namun alhamdulillah saya bersyukur berkat doa tulus dari masing-masing ibu kami, pertunangan ini dapat terlaksana sebagaimana mestinya, semua tidak lepas dari doa dua orangtua kami," jawab Alan.
Reporter mengangguk pelan.
"Untuk pernikahannya, saya pikir tadi para tetua sudah memutuskan, bagaimana pelaksanannya nanti?"
"Untuk pernikahan, kami memilih merahasiakan tanggal pernikahan. Namun, sedikit bocoran untuk para tamu yang sudah berkenan datang di acara kami, pernikahannya akan dilakukan dengan adat jawa," jawab Alan.
"Ah begitu." Reporter manggut-manggut, yang lain juga manggut-manggut mengerti.
"Tapi tentunya adat asli saya tidak akan hilang. Nanti ada kejutan di akhir pernikahan kami, namun kami harus merahasiakannya agar menjadi kejutan di kemudian hari," ujar Alan.
"Wah, membuat saya dan tentunya para tamu undangan penasaran, yah," ujar reporter.
Beberapa tamu undangan terkekeh geli.
Setelah beberapa pertanyaan dilontarkan lagi, sanak saudara yang hadir mengambil beberapa potret bersama Alan dan Finisa.
Banyak tamu yang berdatangan pada Moti dan Rina untuk mengucapkan selamat dan doa mereka agar pernikahan yang akan dilakukan lancar.
Moti dan Rina menyambut baik doa restu dari tamu undangan. Beberapa nyonya dari pejabat negara meminta izin untuk mengambil foto bersama Moti dan Rina.
Setelah itu, tamu undangan dipersilakan mencicipi hidangan yang ada sambil menikmati sunset yang indah.
°°°
Prang!
"Deriaaaan!" Naila melotot marah ke arah saluran televisi milik Gaishan's Entertainment. Layar kaca televisi pecah karena lemparan kasar Naila dengan menggunakan vas bunga.
"Berani-beraninya dia mengizinkan lamaran itu terjadi!" raung Naila.
Siun yang adalah asisten rumah tangga buru-buru ke ruang nonton, dia pikir sesuatu telah terjadi, nyatanya memang benar, sesuatu yang terjadi itu adalah televisi dirusak oleh sang Nyonya rumah.
"Anak tidak tahu diuntung! tidak ada baktinya padaku!" teriak Naila.
Senyum Rina dan Moti di layar televisi membuat hati Naila panas. Dia tak ada di situ.
Apalagi dia sempat melihat ada beberapa pejabat negara penting yang hadir. Dia yang statusnya Nyonya Jovian tertinggi malah tak ada dan semuanya beralih pada Rina sang menantu.
"Dasar *kurang ajar! berani-beraninya mereka berdua mengelabuiku!"
Naila sadar sekarang, mungkin saja beberapa hari ini anak dan menantu terlihat jarang di rumah, karena hal ini, mempersiapkan lamaran dari Tuan Muda Basri pada sang cucu.
Bunyi telepon rumah berdering. Naila melirik ke arah telepon itu. Siun buru-buru berlari ke belakang dapur karena melihat ekspresi marah dari Naila.
Naila mengangkat panggilan.
"Halo," ujar Naila.
"Tante Naila, mengapa Derian sama sekali tak memberitahu kita mengenai lamaran ini? kami sekeluarga tidak tahu dan sangat terkejut ketika melihat beritanya di media massa. Apakah kami tidak dianggap sebagai kerabat?" tanya seorang pria.
Naila benar-benar kesal. Pantas saja dia tak tahu semua kabar dari luar, sanak saudara dari sang suami dan dia bahkan tak diberitahu oleh sang anak.
Anak itu benar-benar membuatku marah!
"Aku tidak tahu kenapa Derian melakukan itu, aku yang bahkan ibunya saja tidak diberitahu sama sekali mengenai pertunangan ini," jawab Naila dingin.
"Apa?!"
°°°
Nibras merangkul pinggang sang istri, mereka menghampiri Alan dan Finisa yang baru saja selesai mengobrol dengan tamu undangan.
"Aku pikir ini hanya didatangi oleh kerabat saja, namun banyak sekali tamu undangan yang hadir, bahkan mencapai lima ratus orang lebih," ujar Nibras.
Alan dan Finisa melirik ke arah Nibras dan Atika.
"Bunda mengirim daftar tamu dan kerabat kami, jumlahnya memang banyak. Bisa kamu lihat, tamu sebelum kami datang saja mencapai ratusan, belum lagi sanak saudara yang datang bersama kami. Tapi meskipun begitu, aku tidak bisa apa-apa, toh semua ada di tangan Bunda," balas Alan.
Nibras tersenyum.
"Tante Momok sangat senang. Apalagi kamu anak lelaki pertama yang bertunangan."
Alan tersenyum.
"Selamat, aku dan Ibas menunggu undangan pernikahan kalian," ujar Atika.
Dia berjabat tangan dengan Alan dan Finisa.
"Terima kasih, segera," balas Alan.
"Aku rasa kalian tidak bisa mengejar kami, jagoan kami telah berusia enam minggu," ujar Nibras sombong sambil mengusap perut Atika.
Alan mencebik.
"Ini semua karena sepupumu yang menyebalkan itu, dia terlalu banyak tingkah dan membuat lamaran kami tertunda dan makan waktu. Jika saja tidak ada dia, mungkin yang kamu hadiri sekarang adalah pernikahan kita," balas Alan.
Nibras berwajah masam setelah Alan menyinggung sepupunya. Hal sensitif di keluarga Nabhan.
Adnan dan Davin datang menghampiri Alan dan Finisa.
"Alan, Om Davin ucapkan selamat atas suksesnya lamaran ini, cepatlah menikah agar kalian bisa hidup damai bersama," ujar Davin.
Alan menerima jabatan tangan dari Davin.
"Om Davin, terima kasih sudah berkenan datang ke acara ini, harap Alan dan Nisa, Om Davin tidak ada dendam karena masalah kemarin," balas Alan.
Davin menggelengkan kepalanya.
"Tidak, justru kata-kata itu yang harus Om Davin ucapkan padamu. Terima kasih telah sudi mengundang Om Davin untuk menghadiri acara kamu, itu tandanya kamu tidak berkecil hati mengenai apa yang terjadi sebelumnya. Sesungguhnya Om malu bertemu hadap denganmu dan ayah kamu."
Alan tersenyum tipis.
Adnan memberi selamat.
"Selamat, aku harap aku dan keluarga dapat segera hadir dalam acara pernikahan kalian."
"Terima kasih, Bang Adnan." Finisa dan Alan sama-sama membalas ucapan dari Adnan.
"Om tinggal dulu, mau bertemu ayahmu," ujar Davin.
"Baik, Om," sahut Alan.
Davin pergi menghampiri Randra dan mengucapkan selamat pada Randra dan Moti atas lamaran Alan pada Finisa yang diadakan meriah sore ini.
°°°
Tatapan mata Hamdan terlihat kaku saat melihat berita gosip di televisi yang menyiarkan pertunangan mewah ini.
Senyum yang tidak pernah ditunjukan oleh Finisa padanya, kini ditunjukan oleh Finisa dengan tulus dan sukarela ke arah kamera sambil memamerkan cincin pertunangan.
Apalagi di saat dia melihat Alan merangkul mesra pinggang ramping Finisa, membuat api cemburu tumbuh besar membakar dadanya hingga hangus berantakan.
Hamdan mengeraskan rahangnya, dua kepalan tangannya terkepal erat seperti batu.
Hati Hamdan saat ini merasakan perasaan hancur karena melihat perempuan yang dia sukai kini telah dilamar resmi oleh pria lain.
Seberapa kuat dia menghalangi hubungan dua orang itu, tetap saja tidak terpengaruh.
Seberapa kukuhnya dia ingin bersama gadis itu, tapi tetap saja dia ditolak berkali-kali.
"Aku dan dia tidak berbeda jauh, kami sama-sama Tuan Muda dari keluarga yang berpengaruh, kami sama-sama memimpin perusahaan dengan kemampuan kami, tapi mengapa Nisa lebih memilih pria yang lebih muda di bawahnya?"
Wajah Hamdan berubah jelek dan dia merasa seperti ingin marah, namun dia tidak berdaya.
Hamdan berdiri dari sofa dan berjalan dengan perasaan sakit hati masuk ke dalam kamarnya. Dia bersandar di pintu kamar lalu tak lama kemudian dia memasuki kamar mandi. Memutar shower dan membasahi seluruh badannya.
°°°