Chapter 38

1491 Kata
Pada jam delapan malam, acara berakhir. Para tamu undangan mulai pulang dan hanya tersisa beberapa kerabat dari dua keluarga saja yang masih setia mengambil beberapa gambar di beberapa tempat dekorasi sebagai kenang-kenangan bersama keluarga besar. Moti memegang tangan Rina dan berkata, "Mama Nisa, saya harus pulang dan istirahat, maklum tidak bisa lelah dan banyak bergerak. Kapan-kapan main yah ke rumah saya, sekalian kita bahas pernikahan Alan dan Nisa sama-sama di rumah saya." Rina mengangguk. "Baik, Nyonya-" "Ah! jangan panggil Nyonya, panggil saja saya Bunda Alan atau nama saya saja," potong Moti keberatan atas panggilan dari Rina padanya. Rina mengangguk dan tersenyum. "Baik Bunda Alan. Saya akan datang ke rumah untuk membahas pernikahan dua anak kami. Bunda Alan harus banyak istirahat biar bisa sehat terus, kalau sakit bagaimana mau mengatur pernikahan anak kita?" "Nah benar, saya harus sehat terus." Moti mengangguk. "Kalau begitu saya pulang yah, ingat datang ke rumah." "Baik, Bunda Alan." Rina mengangguk. Mereka saling berpelukan sayang dan berpisah. Randra dan Derian saling memberi salam perpisahan lalu Randra menggendong istrinya masuk ke dalam mobil. Derian dan yang lainnya melihat bahwa Tuan Basri yang ini benar-benar mencintai istrinya, dia sangat setia dan tidak mudah berpindah hati, terlihat dari begitu sabarnya Randra merawat dan memperlakukan Moti dengan baik. Derian mengingat ucapan sang ibu tempo hari pada Alan yang menurutnya memang sudah kelewat batas. Pantas saja Randra marah dan berhati dingin pada orang lain, sebab istrinya cacat permanen hingga seumur sisa hidupnya. Begitulah pasangan, saling melengkapi. Laras dan Rina saling berpelukan. "Mama Nisa, kami pulang yah, ingat apa kata menantu saya, datang ke rumah, pintu rumah kami selalu terbuka untuk keluarga Anda," ujar Laras. "Baik, Nenek Alan. Saya dan suami pasti datang," balas Rina. Yuni memeluk Rina sambil berkata, "Tiga minggu lagi kami akan datang untuk merayakan pernikahan dua anak kami, ah, cucu kami maksudku, hehehe!" Rina mengangguk dan membalas pelukan dari Yuni. Malam ini dia dan kerabat Basri begitu dekat dan menerima satu sama lain, tidak ada intimidasi untuk keluarganya meskipun status kebangsawanan Basri yang tinggi di mata orang-orang, namun mereka tetap memperlakukan keluarga Rina dan Derian dengan rendah hati. Setelah keluarga dan kerabat Basri telah pulang, tinggallah Alan di resort itu. "Nisa, besok pagi dia ingin berduel denganku di aula olahraga IT Nabhan," ujar Alan pada Nisa. Finisa terlihat tidak suka setelah mendengar ucapan tunangannya. "Tidak perlu datang, dia tidak penting. Kita harus mempersiapkan pernikahan kita, ingat, waktu tiga minggu, kita harus membahas mengenai gaun, dan sebagainya," balas Finisa dengan nada tidak suka. "Hanya duel dengan *senjata kayu, ini sama sekali tidak berbahaya," ujar Alan. "Hum, aku harus datang dan melihat dengan mata kepalaku sendiri untuk memastikan kalau itu benar-benar *senjata kayu," balas Finisa. "Baik, Sayang." Finisa menahan senyum senang. Derian menghampiri Alan dan berkata, "Nak Hamdan tetap memaksa untuk duel?" Alan mengangguk. "Aku telah menolak, Om. Tapi Oma Naila datang ke rumahku tiga hari lalu pada pagi hari dan tetap memaksa untuk menerima duel itu. Ayah menyarankan untuk memakai *senjata kayu karena …," ucapan Alan terjeda beberapa detik, wajahnya berubah agak sedih, "karena Bunda Aichmophobia, beliau takut dengan benda-benda tajam karena trauma tragedi masa lalu." Wajah Derian dan Rina berubah iba. Derian menyentuh bahu Alan. "Jangan dipaksakan untuk menerima desakan dari Mamah Om. Abaikan saja." "Tapi Alan sudah berjanji, Om. Dan kita setuju besok pagi kami akan berduel," balas Alan. "Om tidak tahu, apa yang diinginkan Nak Hamdan dalam duel ini, sudah jelas bahwa Nisa tidak memiliki perasaan yang serupa dengannya, tapi dia tetap saja memaksa bahkan ingin berduel denganmu. Om sudah melarang Mamah Om untuk berbuat hal yang tidak diinginkan, namun kamu tahu sendiri betapa keras kepalanya Mamah Om," ujar Derian dengan nada menyesal. Alan mengangguk mengerti. "Alan ngerti, Om." "Pa, Nisa dan Alan ingin waktu berdua dulu, boleh kan?" tanya Nisa. Derian mengangguk. "Boleh." Finisa meraih tangan Alan dan membawa Alan ke tempat sepi, yaitu di depan pintu penginapannya. "Besok pagi kita akan pergi bersama ke gedung IT Nabhan, aku ingin melihat duel kalian," ujar Nisa. Alan mengangguk. Melihat pintu kamar, tangan Alan membuka gagang pintu dan langsung menarik Finisa masuk ke dalam kamar. "Hei, ada Papa-" Alan membungkam bibir Finisa dengan bibirnya. Namun, meskipun begitu, Finisa tak menolak. Dia dan Alan terlena dalam hasrat cumbuan bibir mereka yang semakin panas tiap detiknya. Lipstik yang menempel pada bibir Finisa telah ludes dihisap keras oleh Alan. Napas Finisa tidak stabil karena hasrat cumbuan Alan yang makin menjadi-jadi. Dia tiba-tiba merasa gerah dan matanya terlihat fly menikmati sensasi yang Alan lakukan padanya. Alan berganti objek cumbuan dari bibir Finisa turun ke lehernya, hal ini membuat Finisa menahan mati-matian suara agar tak terdengar di luar. Jika saja orangtuanya tahu apa yang dia dan Alan lakukan di kamar ini, maka bisa habis mereka. Tok tok tok! Bunyi ketukan pintu. Alan tiba-tiba menghentikan cumbuannya. Dia mengambil jarak dari leher Finisa. "Nisa, ada banyak keluarga Papa kamu yang datang ke sini, mereka sekarang sedang terlibat adu mulut dengan Papa kamu!" ini adalah suara dari Rina. Alan dan Finisa melirik serentak ke arah pintu lalu mereka saling melirik. Finisa buru-buru memperbaiki gaun yang kusut dan penampilannya yang sempat diacak-acak oleh Alan. Alan hendak membuka pintu, namun tangan Finisa menghentikan tindakan Alan. "Tunggu," ujar Finisa. "Ada apa?" tanya Alan. "Kita harus keluar, Papa kamu sedang dalam masalah." Finisa buru-buru melap bibir Alan dengan telapak tangan kanannya. "Bibir kamu merah, bekas lipstikku menempel." Alan, "!!!" Dia cepat-cepat melap bibirnya dengan dua tangan. Setelah itu dia membuka pintu kamar dan melihat wajah khawatir dari Rina. "Nak Alan, itu, ada kerabat dari suami saya yang datang, ada sedikit debat," ujar Rina. Alan mengangguk mengerti. "Nisa, ayo ke sana." Finisa mengangguk. Mereka bertiga melangkah ke tempat di mana tempat berlangsungnya pertunangan tadi, terdengar suara ribut. "Rian, aku tidak menyangka kamu bisa melakukan ini tanpa sepengetahuan dari Tante Naila. Apa kamu tidak menghargai beliau sebagai ibu kamu lagi!?" suara seorang pria paruh baya kepada Derian. "Mamah sebenarnya sudah tahu dari satu bulan yang lalu mengenai lamaran dari keluarga Basri, namun Mamah tidak setuju, bahkan aku dan Nisa tidak tahu kalau Mamah telah berjanji untuk menikahkan Nisa dengan pria lain. Itu tindakan tidak benar," bantah Derian. Alan memberi kode pada salah satu orang Basri yang berada di situ. "Tolong amankan tempat ini dari jangkauan siapapun, jangan sampai perseteruan ini bocor ke lain pihak." "Baik, Tuan," sahut pria itu. Dia buru-buru melakukan pengamanan di daerah itu, beruntung bagian resort itu disewa oleh pihak Jovian. Naila datang ke tempat itu. "Derian!" teriak Naila. Derian melirik ke arah sang ibu. Wajah Naila terlihat marah. Melihat Naila datang, Alan merogoh ponselnya dan melangkah ke bagian sudut untuk menelpon seseorang. °°° Moti menggenggam tangan sang suami sambil menghembuskan napas lega. "Lega rasanya lihat lamaran sukses. Jadi begitu yah sensasi jadi orangtua yang sibuk ngurus lamaran anaknya, Momok jadi kepengen cepat pulang ke rumah, istirahat dan besoknya mulai bahas pernikahan dengan Mama Nisa," ujar Moti dengan nada senang. Randra mengusap sayang pipi sang istri dengan ibu jarinya yang lain. "Yang penting kamu sehat-sehat, Moti. Kamu bisa sesuka hati mengatur pernikahan anak kita." Moti mengangguk senang. Dia memeluk erat sang suami karena kesenangan. Randra membalas pelukan sang istri. Ponselnya berdering. Randra merogoh ponsel dari saku jas dan melihat siapa yang memanggilnya. "Siapa yang telpon, Ran?" tanya Moti. "Alan," jawab Randra. "Angkat! angkat! ayo angkat, siapa tahu itu penting," ujar Moti. Randra mengangguk. Memang itu adalah panggilan penting dari Alan. "Halo," ujar Randra. "Halo, assalamualaikum Ayah." "Waalaikumsalam, ada apa?" balas Randra. "Kamu yang keterlaluan! bisa-bisanya aku sama sekali tidak diberi tahu tentang pertunangan ini!! kamu anak yang tidak tahu diuntung! aaaa!" ini adalah suara amukan dari Naila. "Derian, kamu tega sekali tidak memberi tahu kami! kami juga sepupu, kami berbagi nenek yang sama!" suara seorang pria. Tanpa bertanya apa yang terjadi, Randra telah tahu apa itu. "Ayah Ran mengerti," Randra. "Baik, Ayah," balas Alan. Randra menutup panggilan telepon. "Alan bilang apa? itu kayak ada suara ribut yah? kayak ada yang teriak-teriak gitu nyebut nama Papanya Nisa," tanya Moti. "Hanya masalah kecil, ternyata ada sebagian kerabat yang lupa diberi tahu tentang lamaran ini, jadilah mereka ingin penjelasan. Tapi tenang saja, itu hanya kekesalan sementara, di pernikahan nanti mereka akan datang." Moti manggut-manggut mengerti. °°° Pada jam sembilan malam setelah Moti beristirahat di kamar dan tertidur, Randra dan beberapa orang mengikutinya dari belakang. Mereka adalah kepala pelayan Basri, sekretaris Randra, dan asisten dari Randra. Seorang urusan rumah tangga yang ditugaskan mendampingi kepala pelayan untuk mengurus pertunangan Alan dan Basri turut hadir. Setelah perjalanan selama setengah jam, Randra dan yang lainnya memasuki resort. Mereka melihat ada sekitar lima pria paruh baya dan tiga orang wanita paruh baya sedang mencecar Derian, yang paling mencolok adalah Naila yang masih saja mengamuk pada Derian "Kamu benar-benar anak durhaka!" cecar Naila. "Dia yang durhaka atau Anda yang durhaka, Nyonya Jovian?" Semua tiba-tiba melirik ke arah Randra yang tiba-tiba berkata dingin pada Naila. Melihat wajah Randra yang sama sekali tidak bersahabat, Naila mundur selangkah ke belakang, dia tiba-tiba menggigil takut. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN