"Kamu benar-benar anak durhaka!" cecar Naila.
"Dia yang durhaka atau Anda yang durhaka, Nyonya Jovian?"
Semua tiba-tiba melirik ke arah Randra yang tiba-tiba berkata dingin pada Naila.
Melihat wajah Randra yang sama sekali tidak bersahabat, Naila mundur selangkah ke belakang, dia tiba-tiba menggigil takut.
Derian melirik ke arah Randra yang melangkah mendekat ke arahnya.
"Tuan Randra," panggil Derian pelan. Dia terlihat gugup dan bingung ingin menjawab atau membalas ucapan dari siapa yang lebih dulu, sebab para kerabatnya menuntut penjelasan disertai dengan cacian dan makian padanya.
Beberapa kerabat Derian melirik ke arah Randra yang berwajah dingin.
Suara Randra terdengar lagi.
"Apakah kalian yang berhak memutuskan urusan masa depan Nona Finisa ataukah orang tua kandung dari Nona Finisa yang berhak?" tanya Alan.
Para kerabat Derian saling melirik dan mereka diam. Mereka tahu jawabannya, namun mereka takut untuk menjawab pertanyaan dari Tuan Basri yang ini.
Naila menelan susah air ludahnya, dia hendak membuka mulut namun suara dingin dari Randra lebih dulu menusuk harga dirinya.
"Termasuk Anda, Nyonya Naila Lasria Jovian, Anda tidak berhak mengatur dan memutuskan masa depan Finisa, entah itu dengan siapa dia harus menikah atau mengatur harus dengan siapa dia bertunangan. Jangan karena Anda lebih tua dari keluarga yang lain, Anda bisa seenaknya memutuskan masa depan orang lain, meskipun itu cucu Anda sendiri. Finisa telah dewasa, tidak perlu diatur-atur oleh Anda," ujar Randra.
Semua kerabat Derian yang datang untuk mencecar Derian kini terlihat malu.
"Berapa banyak yang Anda dapatkan dari Hamdan Farikin hingga ingin mengacaukan kebahagiaan cucu Anda sendiri? satu bulan lima ratus juta? satu bulan satu milyar? atau tiket berlibur eksklusif ke luar negeri setiap berkala?" tanya Randra menusuk ke arah Naila.
Naila langsung terlihat mati kutu dan wajahnya terlihat agak memucat karena ucapan Randra benar-benar menusuk ke arahnya.
Derian dan Finisa melihat dengan tatapan tidak percaya pada Naila. Jadi selama ini sang nenek atau ibu mereka telah mendapatkan tunjangan uang dari Hamdan hingga membuat nenek atau ibu mereka memutuskan sendiri masa depan Finisa?
Finisa tertawa sinis tanpa suara memandangi wajah mati kutu sang nenek.
"Camkan perkataan ini Nyonya Naila Lasria Jovian, anak saya bukan kerbau yang dicocok hidungnya yang bisa Anda perintahkan untuk mengikuti keinginan Anda. Jangan kira saya tidak tahu tabiat dan niat Anda sebenarnya memilih anak dari Davin Farikin untuk Finisa nikahi, itu karena dia mudah dimanipulasi dan diperintah sana-sini. Anak saya tidak mudah dibodohi oleh Anda yang berniat untuk memerintah keluarga suami cucu Anda nanti dan Anda dengan percaya diri akan menjadi nyonya dibalik keluarga suami dari cucu Anda," ujar Randra dengan nada dingin yang menusuk hati dan jantung Naila.
Mata Randra menatap tajam ke arah Naila.
"Kenapa memangnya kalau saya seorang pembunuh?"
Naila langsung terlihat kalang kabut.
Alan dan Finisa saling melirik dan mereka terlihat terkejut.
Derian dan yang lainnya menatap ke arah Randra dengan tatapan rumit dan takut.
"Masalah bagi Anda memiliki besan seorang pembunuh?" tanya Randra.
Naila tidak menjawab, dia benar-benar ketakutan sekarang setelah mendengar pengakuan langsung dari Randra.
"Saya akui telah membunuh banyak orang," aku Randra.
"Ayah," panggil Alan. Dia mendekat ke arah sang ayah.
"Membunuh mereka yang telah membantai keluarga istri saya," sambung Randra dingin.
Alan menahan lengan sang ayah.
Mata Randra menatap dingin ke arah Naila dan para kerabat Derian secara bergantian. "Dan saya tidak keberatan melakukannya lagi jika ada yang ingin mengganggu kebahagiaan dan ketenangan dari istri saya."
Naila mundur tiga langkah ke belakang dan berusaha berlindung di belakang anaknya. Sementara itu para kerabat Derian menggigil takut, bulu kuduk mereka berdiri tegak.
Finisa berjalan maju dan memberanikan dirinya menyentuh lengan tangan lain dari Randra yang berlawanan dengan Alan yang menyentuh lengan sang ayah.
"Om … Tante Momok akan selalu sehat dan bahagia. Tidak akan ada yang mengganggu kedamaian beliau. Finisa janji, Tante Momok akan bahagia dengan pernikahan Alan dan Finisa."
Randra melirik ke arah kiri, di mana Finisa menyentuh lengannya atasnya. Lalu melirik ke arah Finisa. Karena ada Finisa yang telah dengan sopan padanya dan keluarganya, Randra mengangguk pelan. Kemudian Randra melirik ke arah para kerabat Derian yang berusaha menunduk takut karena tatapan mata Randra.
"Hari pernikahan nanti, saya izinkan para kerabat dari Jovian untuk datang, namun tidak lebih dari tamu undangan. Jangan membuat ribut atau mengacaukan pernikahan anak saya."
Randra berkata pada Derian.
"Mereka datang ke sini mungkin untuk membayar semua tagihan sewa di resort ini, kan mereka datang padamu menuntut sebagai keluarga. Biarkan mereka yang membayar tagihan di sini."
Para kerabat Derian buru-buru mundur beberapa langkah, mereka ingin tidak terlihat di pandangan Randra.
"Pak Santo, menurut tagihan dari resort ini, berapa biaya yang harus dibayar?" tanya Randra.
Kepala pelayan maju selangkah dan dia menjawab, "Total tagihan empat milyar dua ratus juta rupiah, Tuan."
Randra mengangguk pelan dan melirik ke arah para kerabat Derian.
"Datang ke sini, silakan bayar jika kalian menganggap diri kalian kerabat dari Tuan Derian Jovian."
Mereka menggigil takut.
Empat milyar dua ratus juta itu adalah tergolong murah bagi Basri, namun itu merupakan harga selangit untuk orang lain.
Derian dan Rina hanya diam saja. Itu adalah kata-kata Randra untuk menggertak para kerabat Derian yang sombong dan tunduk pada ibunya. Nyatanya, uang pertunangan yang berjumlah sepuluh milyar telah masuk ke rekening Derian dan Rina yang sebagai orangtua dari Finisa.
Melihat wajah-wajah mati kutu dan wajah penuh kepanikan dari Naila dan antek-anteknya, Randra berkata pada derian. "Tuan Jovian, sekretaris dan bendahara keuangan keluarga Basri yang akan mengurus masalah pengiriman biaya pernikahan untuk anak kami."
Derian mengangguk mengerti.
"Baik Tuan."
Randra melirik ke arah Naila dan berkata, "Jika tiga puluh milyar itu sedikit dan tidak cukup untuk biaya pernikahan anak kami, silakan hubungi sekretaris dan atau kepala pelayan Basri," ujar Randra.
"Baik, Tuan Randra," sahut Derian.
"Jangan khawatir, itu lebih dari sisa, bahkan sisa dari biaya pertunangan yang diberikan oleh Basri masih ada setengahnya dari jumlah tagihan yang diberikan pihak resort," ujar Derian.
Randra mengangguk mengerti.
"Saya permisi," ujar Randra pada Derian lalu dia melirik ke arah Finisa dan Alan. "Om permisi pulang."
"Baik, Tuan Randra," sahut Derian.
"Baik, Om. Hati-hati di jalan," balas Finisa.
Alan mengangguk atas kepergian sang ayah.
Randra melangkah pergi dari resort itu hanya dengan ditemani oleh para bodyguard yang mengawalnya, sementara itu beberapa orang yang datang dengannya tadi tidak beranjak pergi. Mereka menaikkan dagu mereka ke arah para kerabat dari Derian.
Kepala pelayan berkata, "Jika ada dari para Bapak atau Ibu yang ingin membayar biaya tagihan acara pertunangan ini, saya persilakan angkat tangan dan mari ikut saya ke bagian keuangan untuk segera membayar lunas tagihan dari acara pertunangan ini yang sebesar empat milyar dua ratus juta rupiah."
Semua orang diam, termasuk Naila yang menelan susah air ludahnya yang bagaikan bongkahan batu kasar besar.
"Tante Naila, saya permisi pulang, ini sudah malam," ujar kerabat perempuan a.
"Saya juga, ayo Mas kita pulang, sudah malam," timpal kerabat perempuan b.
"Rian, kita mungkin akan bertemu di hari pernikahan nanti," ujar kerabat pria a.
"Ya. Saya permisi pulang, istri saya sudah menelpon untuk segera pulang," ujar kerabat pria b.
Semua kerabat Derian pamit pulang dengan berbagai macam alasan. Entah itu sudah larut malam, entah itu mereka merasa kurang sehat dan sebagainya. Yang penting mereka tidak digiring oleh orang-orang Basri ke tempat keuangan untuk membayar tagihan acara yang mencapai hampir empat setengah milyar itu. Maaf-maaf saja, mereka masih waras dan memiliki akal sehat tidak ingin menguras habis tabungan mereka yang telah bertahun-tahun mereka isi.
Tinggallah Naila yang menghadapi anak, menantu dan cucunya.
Derian berkata pada sang ibu. "Apa Mamah mau menginap di sini? besok pagi Derian dan Rina akan pulang."
"Tidak perlu, aku punya rumah!" Naila buru-buru berjalan menjauh dari Derian dan yang lainnya.
Setelah melihat sang ibu pergi, Derian melihat ke arah Alan.
"Nak Alan, maaf harus membuat Nak Alan melihat hal memalukan ini, Om tidak enak hati melihat Ayah dari Nak Alan harus datang ke sini dan menyelesaikan masalah membungkam mulut para kerabat Om."
Alan mengangguk.
"Tidak apa-apa, Om. Kita tak lama lagi akan menjadi keluarga, hal seperti ini harus Alan tahu mengingat tidak lama lagi Alan dan Nisa nikah."
"Apa Nak Alan mau pulang dan beristirahat?" tanya Derian.
Alan melirik ke arah Finisa.
"Saya rasa menginap di resort ini barang semalam itu lebih baik. Saya dan Nisa mungkin ingin membahas hal-hal lain terkait urusan pribadi dan sebagian pekerjaan kami."
"Baik kalau begitu. Om dan Tante permisi untuk istirahat," ujar Derian.
"Baik Om," sahut Alan.
°°°
Pagi telah datang.
Tori membawa barang kebutuhan sang bos seperti sepatu kasual dan pakaian kasual yang akan digunakan hari ini. Ah, rupanya sang bos ingin memakai sepatu sport dan baju kaos kerah.
Alan menghabiskan waktu sarapan pagi bersama orangtua Finisa.
"Setelah ini, Om dan Tante ingin pulang ke rumah?" tanya Alan.
"Mamah Om masih marah. Jadi Om dan Mama Nisa memutuskan untuk ke tempat lain. Ada rumah gadis dari Mama Nisa yang dari dulu kosong setelah Mama Nisa menikah dengan Om, kami akan di sana untuk sementara," jawab Derian.
Alan mengangguk mengerti.
"Saya dan Nisa akan ke gedung keamanan IT Nabhan, saya dan Hamdan akan berduel."
Wajah Derian dan Rina terlihat agak masam.
Hamdan ini memang pembuat masalah.
°°°
Liham terlihat mengunyah roti bakar dan minum *s**u dengan gerakan cepat yang tak wajar, seakan ada macan liar yang mengejarnya dari belakang.
"Liham, makannya kok gitu? pelan-pelan dong, nanti kesedak! Bunda dulu sering kesedak dan masuk rumah sakit loh!" Moti melotot ke arah anak bungsu.
Yuni dan suaminya melirik ke arah Liham.
Liham yang keasikan makan itu menelan makanan dan membalas, "Jangan sampai telat, Bun. Liham mau lihat Kak Alan duel senjata-hmpppphh!"
Bilal langsung memasukan roti bakar sebanyak-banyaknya ke arah mulut Liham. Bahkan Ben membantu dengan menahan dua tangan Liham.
Liham! anak ini benar-benar tidak bisa dipercaya!
°°°