kedelapan

1607 Kata
Tanpa terasa akhirnya ia masuk ke area pesantren, ia melihat papan bertuliskan "PONDOK PESANTREN AR-RASYID" agar ia tak salah alamat. ia segera masuk dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang sederhana namun dapat membuat hatinya tenang, perkiraan rayyan rumah ini milik kyai usman. Rayyan segera keluar dari dalam mobil dan membawa tas perlengkapannya, sesaat ia terpaku melihat kesekitaran dan belakang rumah kyai usman dan dekat bangunan bertulisan " ASRAMA PUTRI" nampak sederhana namun masih asri dan udaranya sangat sejuk, banyak pepohonan rindang dibelakang rumah kyai usman membuat tempat ini sangat nyaman buat menuntut ilmu agama, ia melihat banyak santri yang berlalu-lalang membuat rayyan merasakan kedamaian ditempat tersebut. sesaat ia menyapa seorang santri untuk mengantarkan kedalemnya kyai Usman. "assalamualaikum boleh saya minta tolong?" tanya rayyan. "walaikumsalam boleh silakan mau minta tolong apa pak" jawab seorang santri. " tolong antarkan saya ke rumah kyai Usman" ucap rayyan. " mari ikut saya" jawab santri. Rayyan dan santri tersebut berjalan menuju ke dalem rumah kyai usman. "Assalamualaikum. . . " Salam rayyan. "Walaikumsalam. . ." Terjawab dari dalam rumah seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik diusianya yang tak muda lagi. santri yang mengantarkan rayyan pamit untuk melanjutkan kegiatan nya. " Ternyata pak dokter, ayo masuk dok duduk dulu saya panggilkan bapak sebentar ya" kata ibu nyai ramah. " Nggih bu saya tunggu disini" ucap rayyan sungkan. Ibu nyai masuk kedalam untuk memanggil suaminya, tak berselang lama ada seorang wanita masuk membawakan minuman untuk rayyan. " Terimakasih" ucap rayyan. "Iya sama-sama " ucapnya lalu berjalan menuju kebelakang. Ketika rayyan masih sibuk dengan ponsel pintarnya kyai usman datang. " Udah lama nak rayyan?" Tanya kyai Usman senyum "Belum pak kyai baru saja" jawab rayyan ramah. rayyan dan kyai usman sudah lama kenal menjadikan mereka akrab layaknya seperti anak dan orang tua, rayyan tak pernah keberatan jika ia menjadi anak beliau kyai usman, malah ia sangat senang merasa mempunyai orang tua yang sangat ia hormati. " Gimana keadaan pak kyai, sehat? Sudah lama tidak check up kerumah sakit?" Tanya rayyan. " Alhamdulillah nak rayyan sehat, akhir-akhir ini saya sibuk tidak sempat check up, makanya saya meminta nak rayyan datang kesini untuk mengecek kondisi saya " kata kyai usman. "Jangan terlalu dipaksa pak, tidak baik dengan jatung bapak" kata rayyan ramah. " Iya nak rayyan, oh iya silakan diminum nak rayyan seadanya" ucap kyai usman. Di jawab rayyan anggukan dan segera meminumnya. Matahari mulai bersembunyi terganti dengan munculnya bintang' dan bulan, tanpa terasa suara adzan berkumandang menandakan waktu magrib pun tiba. "Nak rayyan sholat dulu disini berjamaah" ucap kyai usman. " Nggih pak kyai" jawab rayyan. Setelah itu rayyan melepaskan jam tangan dan ponsel pintarnya ditaruh ke dalam tasnya lalu ia berjalan menuju ke masjid namun ditengah perjalanan menuju kemasjid tiba-tiba ia ditabrak seseorang perempuan yang sama akan menuju ke masjid brruukk. . . "aduh kakiku. . ." ucap gadis itu. "kamu gak pa pa?" tanya rayyan "sakit tau. . ." jawab gadis itu. Namun saat gadis itu mengangkat kepalanya ingin melihat siapa yang ia tabrak, betapa terkejutnya rayyan saat menyadari bahwa orang yang telah menaabrak tersebut gadis berkerudung putih yang telah membuat hatinya gundah. Ia menatap gadis itu juga terlihat kaget melihat yang ditabrak adalah dirinya. Gadis itu langsung memutuskan kontak mata dengan rayyan. tak berselang lama datang seorang perempuan menolong gadis yang menabrak dirinya, rayyan dapat menyimpulkan bahwa ia bersahabatan. " kamu gak pa pa nis?" tanya sahabat gadis itu. " iya aku gak pa pa fa"jawab gadis kerudung putih. gadis itu berdiri dan membersihkan baju yang ia pakai lalu meminta maaf kepada rayyan. " maaf saya gak sengaja menabrak anda, tadi saya terburu-buru"ucap Annisa menyesal. "kalau begitu saya permisi" ucap Annisa menunduk. Tanpa menunggu jawaban dari rayyan, kedua perempuan itu segera berlari menuju masjid karna sebentar lagi iqomah. Rayyan yang melihat tingkah kedua perempuan tersebut hanya tersenyum, akhirnya ia menuju ke masjid untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah. setelah selesai menunaikan kewajibannya rayyan segera keluar dari masjid menuju ke rumah kyai usman untuk pamit karna tugasnya sudah selesai. Sekilas rayyan membayangkan kejadian di depan masjid tadi terbit senyum di bibirnya. " ternyata gadis itu tinggal dipesantren sini" guman rayyan. " Astaghfirullah apa yang aku pikirkan" rayyan tersadar apa yang telah ia pikirkan membuatnya lupa untuk segera pulang. " Pak kyai saya pamit karena tugas saya sudah selesai,nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saya saja" kata rayyan. "Iya terimakasih banyak sudah mau datang kesini nak dokter" jawab kyai usman. " Ya sudah kalau begitu permisi, assalamualaikum. . ."salam rayyan dengan bersalaman kyai Usman. " Walaikumsalam. . ." Jawab kyai usman. Rayyan berjalan menuju parkiran segera masuk ke dalam mobil tak berselang lama ia segera menjalankan mobil meninggalkan tempat tersebut. "kenapa kamu disitu La" ucap kyai usman. sekilas kyai usman melihat putrinya yang berdiri didelakang pintu. "Apa yang kamu intipin nduk?"tanya bu nyai rahmawati. Namun yang ditanya tersenyum malu-malu karna tertangkap basah kedua orangtuanya. " Kamu suka sama dokter rayyan?" tanya kyai usman. lama Lala tak menjawab pertanyaan kyai usman, ia melihat raut wajah kyai usman yang tersenyum menatap dirinya. " Nggih bapak" jawab Lala lirih. " Oalah mbok ya bilang to nduk kalau suka sama nak rayyan, gimana nih pak putri panjenengan suka sama nak rayyan?"tanya nyai rahmawati. "Ya nanti bu bapak tanya dulu sama nak rayyan sudah punya calon apa belum"jawab kyai usman. " ya sudah kita masuk dulu" ucap kyai usman. mereka segera masuk kedalam rumah untuk segera melanjutkan kegiatannya mengajar santri-santrinya yang sudah menunggu di aula. °°°°°°°°°°° Alarm berbunyi diatas nakas kamar yang bernuansa coklat dan beraroma maskulin sangat cocok untuk dokter muda yang mulai membuka matanya karna terganggu suara alarm yang sangat nyaring. Ia duduk ditepi ranjang dan bangun berjalan ke kamar mandi menjalankan rutinitasnya sebagai dokter. Ia adalah dokter rayyan Abraham. Rutinitas sebagai dokter mempunyai tanggung jawab yang sangat besar menyelamatkan nyawa orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. terdengar suara pintu terbuka menandakan rayyan selesai mandi memakai handuk memperlihatkan perutnya yang sixpack berjalan kearah ruang closet untuk berganti pakaian. rayyan berdiri didepan cermin menatap dirinya yang begitu gagah memakai pakaian sensual untuk segera kerumah sakit karena pagi ini ia harus menangani pasien yang tadi malam mengalami kecelakaan yang harus segera ia operasi. suara deringan ponsel menandakan ada panggilan masuk ia segera mengambil ponsel diatas kasur dan menatap layar bertulis MAMA. sebenarnya ia malas untuk mengangkat telepon dari sang ibu namun ia menekan tombol warna hijau. " assalamualaikum ma?" salam rayyan lesu. " walaikumsalam sayang, akhirnya kamu angkat telfon mama juga" jawab Soraya ibu rayyan. " ada apa ma pagi-pagi sudah telfon?"tanya rayyan. " ya Allah ray kamu mau jadi anak durhaka, mama nya telfon bukannya ditanyain kabar malah bertanya seperti itu" jawab Soraya kesal. ini bukan pertama kalinya ibu dan anak bertengkar masalah sepele, namun mereka sama-sama saling menyayangi. "bukan gitu ma masuk ray, biasanya kalau mama ada sesuatu selalu pagi-pagi udah telfon rayyan"ucap rayyan menjelaskan. terdengar suara helaan nafas diseberang sana. " mama cuman mau tanya ray kapan kamu mau nikah?" tanya Soraya. "mama cuman mau segera menimang cucu dari kamu sayang"ucap soraya lirih. Terdengar suara nafas berat dari rayyan. ia sudah menduga kalau sang ibu telfon pasti menanyakan kapan nikah, sebenarnya bukannya rayyan tidak mau menikah namun yang menjadi masalah ia belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta. seringkali rayyan dijodohkan Soraya sama anak temannya, namun tetap saja rayyan tidak pernah tertarik sama anak teman mamanya itu. malah perempuan itu yang ngejar-ngejar rayyan yang membuatnya menjadi infil dengan mahluk yang bernama perempuan. rayyan mengacam mamanya kalau ia masih dijodohkan lagi ia bakalan tidak mau pulang kerumah sang ibu. " iya ma doain saja semoga rayyan segera bertemu dengan jodohku ya ma" ucap rayyan pelan. terdengar suara Isak tangis soraya membuat rayyan merasa bersalah dengan sang ibu tidak bisa mewujudkan apa yang sang ibu inginkan. "mama jagan nangis dong, Ray janji akan berusaha untuk mewujudkan keinginan mama" ucap rayyan lirih. " kamu selalu saja begitu, janji terus! mama sudah tua ray, kamu mau mama segera mati!" ucap soraya kesal. " jangan bilang gitu dong ma, pamali" ucap rayyan membujuk. tak ada jawaban dari sang mama, rayyan menghela nafas pasrah melihat layar ponsel ternyata telfonnya sudah dimatikan oleh sang ibu. ia segera beranjak dari duduknya dan mulai berjalan keluar dari apartemen menuju rumah sakit, dalam perjalanan rayyan masih terbayang kejadian tadi pagi telfon dengan sang mama membuat ia tak fokus menyetir, ia menepikan mobilnya dipinggir jalan " aakkhh " teriak rayyan memukul stir. " aku harus gimana ya Allah, nikah itu tak segampang yang dibayangkan" ucap rayyan lirik. ia sangat kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa membuat mamanya bahagia, sedari kecil ia hanya berdua saja dengan sang mama, papanya telah meninggal dunia waktu ia masih sekolah dasar. Rayyan terlahir dari keluarga kaya membuatnya menjadi orang yang cuek dan tak perduli sama sekitarnya, namun semua itu tak bertahan lama ketika sang papa mengalami kebangkrutan membuat papanya mengalami serangan jantung membuat beliau meninggal dunia. rayyan menjadi pribadi tertutup menjadi seperti saat ini, ia tak mempunyai banyak teman sedari kecil membuatnya menjadi pendiam tak banyak bicara, namun saat itu ia mempunyai tetangga yang selalu membantu keluarganya disaat ia susah dengan sang mama. rayyan masih sangat ingat perempuan kecil imut dan cantik umurnya sekitar 7 tahun, gadis itu yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi, membuat rayyan marah dan tak sengaja ia mendorong gadis kecil itu sampai jatuh membuat pergelangan tangannya terluka membuat rayyan terkejut lalu ia segera berlari memanggil sang mama untuk mengobati gadis tersebut. kisah itulah yang membuatnya rayyan merasa bersalah dan bertekad akan mengobati siapa pun yang terluka. " kenapa aku menjadi teringat gadis kecil itu" guman rayyan. ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. bersambung. . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN