ketujuh

1648 Kata
" kak. . . kak. . . Kak Aisyah!"seru Annisa kepada sang kakak yang masih di dunianya sendiri. " Eh apa sih nis kok teriak-teriak kaya dihutan aja" jawab Aisyah. " Habisnya kakak malah melamun sih" kata Annisa malas. "Maaf deh tadi kakak kepikiran skripsi aja" bohongnya. Terdengar suara lirih yang berasal dari sang ibu menyebut nama anaknya. "An-nisa . . . Annisa" ucap maryam lirih dengan mata terpejam. Annisa yang mendengar ibunya memanggil ia menuju ke ranjang tempat sang ibu terbaring lemah dan duduk disebelah kursi kosong seketika annisa menyentuh tangan sang ibu untuk mengengam. "Alhamdulillah ibuk sudah sadar Annisa disini buk, Annisa gak kemana-mana kok" ucap Annisa khawatir tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipi, sambil menatap Aisyah yang ada disebelahnya. Perlahan sang ibu membuka mata melihat sekelilingnya sudah kumpul anak-anaknya kecuali Rangga. "Dimana kakak kamu nis?"ucap maryam lemah. " Kakak Rangga sebentar lagi kesini buk tadi lagi ada kepentingan"ucap Annisa. Tanpa terasa Maryam meneteskan air matanya melihat annisa tersenyum kepadanya. Ia tak mau berbagi anak kepada siapapun termasuk kepada adiknya sendiri. Rahasia ini akan ia simpan sampai ia menutup mata, namun melihat mata itu milik Annisa yang persis seperti milik Heru ia menjadi tak tega menyembunyikan rahasia ini. Perlahan tangan maryam mengusap lembut tangan annisa, sedangkan Aisyah merasakan bahwa ibunya Sangat sayang kepada annisa, ia melihat cara maryam menatap annisa begitu dalam. Namun bagi Aisyah tidaklah iri atas apa yang ibunya lakukan kepada annisa, ia juga merasakan tatapan itu kepadanya dan juga kepada kakak Rangga. "Assalamualaikum mbak" salam raisha. Raisha bersama Heru masuk keruangan rawat maryam untuk menjenguk kakaknya yang sedang dirawat. Annisa menyambut mereka berdua dengan senyum dan langsung bersalaman sudah lama bagi Annisa tidak bertemu dengan om dan Tante nya itu. "Bagaimana om dan Tante kabarnya?" tanya annisa sambil bersalaman. "Alhamdulillah sehat nis" jawab Heru. Sedangkan raisha hanya diam saja. Annisa menatap raisha heran kenapa tantenya hanya diam saja pikirnya, namun tak berlangsung lama akhirnya suami istri itu duduk di sofa dekat Aisyah. " Gimana kuliah kamu Syah?" Tanya Heru. " "Alhamdulillah om sebentar lagi aisyah sidang" kata Aisyah. "Selamat ya semoga sukses selalu, kalau kamu gimana nis dengan sekolah kamu?" Tanya Heru. "Alhamdulillah om beberapa bulan lagi Annisa mau ujian om, doain ya om dan tante Annisa bisa lulus dengan hasil yang memuaskan"ucap Annisa. "Aamiin" ucap semua yang ada diruangan. Setelah berbincang-bincang ringan raisha mendekat ke arah maryam. " Bagaimana mbak sudah mendingan?"tanya raisha. "Alhamdulillah sudah mendingan sha" jawab maryam lemas. "Aku kesini juga ada tujuan lain"kata raisha berbisik. "Maksud kamu apa sha?" tanya maryam. " Maksud aku yang kemaren kita bicarakan tentang tes DNA" jawab raisha berbisik. Kedua mata maryam membulat sempurna, jantungnya berdetak lebih cepat tak seperti biasanya, apakah ini saatnya rahasia yang ia simpan bertahun-tahun harus terbuka sekarang pikir maryam. Ia sudah pasrah kalau ini sudah takdir yang maha kuasa. Sedangkan raisha hanya tersenyum melihat wajah Maryam pucat, ia tahu kalau kakaknya itu sangat khawatir rahasia terbesar ini sampai terbongkar, mungkin saja bukan cuman anak-anaknya yang marah besar tapi juga suami raisha yaitu Heru. " Jangan terlihat kaget mbak ini baru permulaan, nanti aku akan kasih hadiah yang istimewa"bisik raisha tersenyum licik. Sementara yang lain tidak mendengar percakapan antara adik kakak tersebut. " Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya mbak sama mas Heru, cepat sembuh " kata raisha ramah sehingga tidak membuat orang disekitar merasa curiga. Raisha dan Heru pamit dan segera keluar dari kamar maryam, tak berselang lama Rangga datang membawa makanan untuk adik-adiknya. " Assalamualaikum gimana keadaan ibu?" Tanya rangga sambil berjalan menuju ranjang sang ibu. " Alhamdulillah ibu sudah lebih baik"jawab maryam lemah. " Ibuk istirahat dulu nanti biar cepat sembuh, nanti Rangga ajak jalan-jalan" ucap Rangga. " Yang benar kak?" tanya annisa antusias. Rangga hanya menjawab anggukan. Annisa merasa sangat senang sudah lama ia tidak jalan-jalan dengan keluarga. "Kapan kamu pulang ke pesantren lagi nis?"tanya rangga. " Belum tau kak, ya kalau ibuk sudah sembuh" jawab annisa enteng " Bukannya sebentar lagi kamu ujian? tanya Aisyah. " Iya sih kak tapi aku masih pengen nemenin ibuk" ucap Annisa sedih menuju ranjang ibunya. " Annisa boleh kan bu disini dulu?" Tanya annisa kepada ibunya. " Tapi kan kamu sebentar lagi ujian nak" jawab maryam. " Janji deh cuman seminggu setelah ibuk pulang kerumah aku kembali ke pesantren" ucap Annisa sedih. Melihat tingkah annisa yang masih kanak-kanak membuat satu ruangan tersenyum. " Kamu masih aja belum dewasa " ucap Rangga dengan gelak tawa. " Biarin annisa memang masih kecil" seru annisa malas. °°°°°°°°° Ketika annisa menuju ke kantin ia merasa melihat seorang yang sangat familiar namun ia tak ambil pusing segera menuju kepenjual untuk memesan karna perutnya sudah merasa lapar. Ketika annisa mainan hp tiba-tiba ada orang duduk disebelahnya tapi annisa tak menghiraukan orang tersebut ia masih asik dengan ponsel pintarnya. "He'em" dehem orang duduk disebelah annisa. Annisa yang merasa terganggu ia menengok kesamping "kurang kerjaan banget sih ganggu sa. . . ." Annisa tak melanjutkan kata-katanya karena ia terkejutnya melihat orang yang waktu dipesantren tak sengaja ia bertabrakan lalu ia menutup mulutnya hingga tak bersuara. " Assalamualaikum"ucapnya dengan senyum sangat manis. annisa yang masih shock tak menjawab salamnya. " Ternyata dunia ini sangat sempit ya, kita ketemu lagi" ucap rayyan. Sedangkan annisa yang sudah menguasai dirinya ia mulai berdehem untuk mengurangi degup jantungnya yang shock. "Walaikumsalam"jawab annisa singkat. "Maaf kalau saya menggangu permisi" ucap annisa lagi lalu ia beranjak dari tempat duduknya. Namun tangan annisa ditarik oleh rayyan hingga ia terduduk kembali. " Apa yang anda lakukan?" tanya annisa kesal dengan menarik tangannya "maaf aku tak bermaksud untuk memegang tangan kamu" ucap rayyan menyesal. Annisa kembali duduk dengan mulut monyong. Rayyan memperhatikan tingkah annisa yang kanak-kanak kan membuat ia tersenyum. " Boleh kenalan?" tanya rayyan dengan rasa penasaran dengan gadis yang duduk disebelahnya, sedangkan yang ditanya cuek tak menanggapi. " Namaku rayyan " kata rayyan mengulurkan tangannya, ia melihat annisa masih terdiam tak menghiraukannya sama sekali, ia merasa malu langsung ia menarik kembali uluran tangannya. " gadis ini memang beda" batin rayyan. Meraka duduk tanpa ada percakapan sama sekali. tibalah pelayan mengantarkan pesanan Annisa yang sedang ia tunggu dari tadi akhirnya datang juga " Mbak ini pesananya"ucap pelayan. "Terimakasih mbak" jawab annisa. "selamat menikmati"ucap pelayan lalu pergi. Ia segera menyantap makanan yang ada didepannya itu, tanpa rasa malu atau sungkan dengan rayyan yang masih aja setia duduk disebelahnya. Annisa makan sangat lahap sedangkan rayyan melihat annisa merasa takjub tubuh kecil namun makannya sangat banyak tanpa merasa malu atau jaim. Annisa memesan soto, batagor dan jus jeruk, tanpa terasa makanannya tandas masuk ke dalam perut Annisa. "Alhamdulillah" ucap annisa beranjak dari duduknya tanpa sepatah katapun lalu berjalan meninggalkan rayyan yang masih duduk memperhatikan annisa yang telah tertelan kerumunan orang-orang, memang ini waktunya jam makan siang maka tak heran kantin rumah sakit penuh. " Cantik" ucap rayyan. Deringan ponsel milik rayyan membuyarkan lamunannya. Ia segera mengangkat telfon tersebut bahwa ia telah ditunggu oleh pasien untuk segera diperiksa. Rayyan segera beranjak dan berjalan menuju ke ruangannya. rayyan sudah 1 Minggu ditugaskan di RS Kariadi oleh kepala rumahsakit Bhayangkara Kediri, karena banyak pasien membuat ia dikirim untuk membantu rumah sakit tersebut. kemungkinan ia di Semarang satu bulan kurang lebih, karena ia dokter yang sangat ahli dalam spesialis jantung. Rayyan Abraham adalah dokter muda spesialis jantung, walaupun ia masih muda tapi ia sudah sangat ahli dalam menangani penyakit dan menyelamatkan pasiennya. Dokter adalah hobinya dari kecil, ia sangat senang bisa menolong orang yang membutuhkannya. Walaupun rayyan telah tercapai cita-citanya ia masih lanjang sampai sekarang, dalam hubungan asmara ia sama sekali tak memikirkannya apa lagi untuk menikah? belum terlintas dalam pikirannya, rayyan telah memasuki kepala tiga sudah sepantasnya ia membina rumah tangga namun ia belum menemukan seseorang yang bisa menggetarkan hatinya. Banyak wanita yang mendekatinya secara terang-terangan bahwa mereka suka dan mengagumi dokter muda tersebut. Namun yang dikagumi cuek tak menanggapi sama sekali. Sampai akhirnya ia melihat gadis kecil yang tidak sengaja menabrak dirinya di pesantren Ar-Rasyid. Waktu itu ia dihubungi oleh bapak kyai Usman untuk mengontrol kesehatan yang sudah satu bulan beliau belum sempat check up kerumah sakit. Ketika ia hendak menuju ketempat beliau ia tak tau dimana rumah kyai usman, alhasil ia melihat perempuan berseragam SMA berjalan sendirian untuk tanya alamat, rayyan segera menghentikan mobilnya dan turun untuk bertanya. "assalamualaikum. . . boleh tanya tempat pesantren Ar-Rasyid itu dimana ya?" tanya rayyan kepada gadis berkerudung putih. "walaikumsalam. . . iya saya tau, nanti mas nya belok kanan mentok disitu ada masjid besar mas masuk aja nanti ada yang mengarah kan mas" kata gadis berkerudung putih. "ohh terimakasih mbak dan saya paham, kalau begitu saya permisi" kata rayyan. ketika gadis itu tak sengaja menatap wajahnya, sesaat rayyan terpaku melihat wajah gadis berkerudung putih itu, setelah tersadar ia segera pamit dan masuk kedalam mobil untuk menuju ketempat kyai Usman. " Kenapa jantungku berdetak seperti mau copot" guman rayyan sambil tangannya memegang dadanya. Ia bertanya-tanya dalam benaknya, ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya sendiri yang selama ini tak pernah ia rasakan. "masa aku suka sama anak kemarin sore, astaghfirullah" batinnya. Hanya melihat wajahnya saja ia bisa merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. ia tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, banyak gadis yang lebih cantik dan pintar namun tak dapat membuat hatinya menghangat, tak seperti gadis berkerudung putih tadi hanya melihat wajahnya sekilas saja membuatnya jatuh hati. sekilas bayangan gadis itu muncul di dipikirannya "cantik juga gadis itu" batin rayyan mengulum senyum. Tanpa terasa akhirnya ia masuk ke area pesantren, ia melihat papan bertuliskan "PONDOK PESANTREN AR-RASYID" agar ia tak salah alamat. ia segera masuk dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang sederhana namun dapat membuat hatinya tenang, perkiraan rayyan rumah ini milik kyai usman. Rayyan segera keluar dari dalam mobil dan membawa tas perlengkapannya, sesaat ia terpaku melihat kesekitaran yang sederhana namun masih asri, banyak pepohonan rindang dibelakang rumah kyai usman dan dekat bertulisan " asrama putri" bersambung. . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN