Bab 8: Kebenaran Pahit dan Perpisahan yang Dingin

974 Kata
Pagi setelah Reno kembali dan menyaksikan Aurelia menerima hadiah dari Arjuna, rumah mereka terasa seperti medan perang yang beku. Reno tidak berbicara, ia hanya mengemasi barang-barang pribadinya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. ​Aurelia mencoba mendekat, dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan. ​“Reno, tunggu. Itu hanya hadiah ulang tahun. Juna adalah klienku. Tidak ada apa-apa di antara kami,” jelas Aura, mengikuti Reno ke kamar tidur. ​Reno berhenti melipat kaus lamanya, menatap Aura dengan mata yang kosong. “Aku melihat cara dia melihatmu, Ra. Dan aku melihat cara kamu membiarkannya. Aku melihat kelegaan di wajahmu saat dia ada. Aku melihat pembelian stabilitas yang kamu lakukan.” ​“Aku tidak membelinya, Reno! Aku mencintaimu, aku sudah bilang aku menolak tawaran sahamnya! Aku mempertahankan pernikahan ini!” protes Aura. ​Reno tersenyum getir. “Kamu mempertahankan pernikahan ini, tetapi kamu menarik semua fondasinya. Kamu mencintai ide aku, Ra. Kamu mencintai potensiku, tetapi kamu membenci diriku yang nyata—yang tidak stabil, yang miskin, yang bergantung. Dan aku mengerti.” ​Reno mengeluarkan buku tabungan yang dulu diberikan Aura sebagai ultimatum. Saldo di dalamnya masih utuh. ​“Aku tidak menggunakan uangmu, Ra. Sedikit pun. Aku tahu, jika aku menggunakan ini, aku akan terus bergantung,” kata Reno. “Aku tidak pergi ke Bali. Aku tidak mengambil pekerjaan korporat. Selama dua minggu ini, aku tinggal di studio temanku, dan aku bekerja sebagai kuli angkut di pasar seni. Aku tidak ingin menjadi seniman gagal yang terus berhutang padamu. Aku ingin membayar utangku padamu dengan keringatku sendiri.” ​Aura terkejut. Ia mengira Reno menghilang karena merajuk, tetapi ia ternyata mencari pekerjaan yang keras dan stabil, meskipun jauh dari idealnya sebagai seniman. ​“Aku mencari bukti bahwa aku bisa berjuang, Ra. Dan aku menemukannya,” lanjut Reno, suaranya lebih tenang. “Aku bisa stabil. Aku bisa bertanggung jawab. Tapi aku sadar satu hal: kamu tidak percaya padaku.” ​“Itu tidak benar!” ​“Benar. Kamu memberiku ultimatum, tetapi saat aku berjuang, kamu mengambil dukungan dari pria lain. Kamu tidak memberiku waktu untuk bangkit, karena kamu terlalu takut aku akan jatuh lagi. Kamu memilih untuk bekerja di bawah kendali Juna, pria yang menghina harga diriku, karena dia menawarkan kepastian yang tidak perlu kamu pertanyakan.” ​Reno menutup kopernya. “Aku membayar utangku, Ra. Aku sudah menghubungi ibuku, dan aku meminta pinjaman darinya, bukan darimu. Total utangku padamu, termasuk kartu kredit yang kamu talangi, adalah $120.000. Aku sudah transfer setengahnya ke rekening bisnismu. Sisanya akan ku transfer dalam enam bulan.” ​Aura terpaku. Reno tidak hanya menunjukkan tanggung jawab, ia menunjukkan harga diri yang selama ini ia sangka telah hilang. Ia telah bekerja keras, bahkan sebagai kuli, hanya untuk membayar utang itu, dan membuktikan dirinya. ​“Reno, aku minta maaf. Aku hanya takut,” bisik Aura, mendekat. ​“Aku tahu kamu takut, Ra. Tapi cinta itu butuh keberanian, bukan ketakutan,” kata Reno. Ia mendekati Aura, membelai pipinya. “Aku mencintaimu, dan aku akan selalu mencintaimu. Tapi aku tidak bisa tinggal di sini dan menjadi beban yang kamu benci, hanya karena kamu takut sendirian.” ​Reno mengambil cincin peraknya, cincin yang dulu ia berikan saat melamar Aura. Ia meletakkannya di nakas. ​“Aku harus pergi, Ra. Aku harus menemukan siapa diriku tanpa bayang-bayang uangmu. Aku harus membangun fondasiku sendiri. Kalau aku berhasil, aku akan kembali, dan kita bisa mulai lagi, tanpa hutang, tanpa rasa takut.” ​“Jangan pergi,” pinta Aura, air matanya tumpah. “Aku butuh kamu di sini, sekarang.” ​Reno menggeleng. “Kamu tidak butuh aku, Ra. Kamu butuh stabilitas. Dan selama aku di sini, dengan kondisi mental dan finansialku yang seperti ini, aku hanya akan menjadi alasan bagimu untuk memilih dia.” ​Reno mencium kening Aura dengan lembut, ciuman perpisahan yang terasa sangat final. Ia mengambil kopernya dan berjalan keluar. ​Aura tidak menghentikannya. Ia berdiri di sana, hancur. Ia tidak pernah ingin berpisah. Ia hanya ingin Reno berubah. Namun, ultimatum yang ia berikan, yang didorong oleh rasa takut kehilangan uang dan didukung oleh kenyamanan Juna, justru mendorong pria yang ia cintai pergi. ​Kebenaran di Kantor ​Aura pergi ke kantor, matanya sembab, tetapi tekadnya keras. Ia harus bekerja, karena kini, pekerjaannya adalah satu-satunya hal yang tersisa dalam hidupnya. ​Juna menyambutnya di ruang rapat. Aura menceritakan segalanya, tentang utang yang dibayar Reno, tentang Reno yang bekerja sebagai kuli, dan perpisahan mereka. ​Juna mendengarkan dengan sabar, tanpa menghakimi. ​“Dia pria yang penuh gairah, Ra. Sayang sekali ia hanya menyadari nilainya saat ia sudah kehilanganmu,” ujar Juna. “Sekarang, kamu bebas. Tidak ada lagi beban, tidak ada lagi rasa bersalah. Kamu bisa fokus 100% di sini.” ​Aura menatap Juna. “Aku tidak merasa bebas. Aku merasa hancur. Aku mencintainya, Juna.” ​“Cinta yang membuatmu bangkrut itu bukanlah cinta yang sehat, Ra,” balas Juna, suaranya berubah menjadi sangat lembut dan penuh pengertian. ​Juna mengulurkan tangannya di atas meja. “Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku di sini, Ra. Aku adalah stabilitas itu. Aku menawarkan fondasi yang tidak akan pernah goyah. Kamu tidak perlu lagi khawatir soal uang, atau hutang, atau janji-janji kosong. Kamu hanya perlu menerima kebahagiaan yang pantas kamu dapatkan.” ​Aura menatap mata Juna. Di sana, ia melihat janji keamanan, masa depan yang terjamin, dan kemitraan yang seimbang. Juna menawarkan solusi untuk semua masalahnya. ​Aura meletakkan tangannya di atas tangan Juna. Kehangatan yang ia rasakan terasa asing, tetapi juga menghibur. ​“Apa yang akan terjadi selanjutnya, Juna?” bisik Aura. ​“Kita akan membangun. Membangun gedung ini, dan membangun kembali dirimu,” kata Juna. “Tinggalkan masa lalumu yang rapuh. Aku adalah masa depanmu yang kokoh, Ra.” ​Aura tahu. Reno telah memilih harga dirinya. Sekarang, ia harus memilih harga kebahagiaannya. ​[Akhir Bab 8]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN