Bab 7: Kesepian di Puncak dan Kehangatan yang Terlarang

1074 Kata
​Dua minggu berlalu sejak Reno menghilang. Aurelia telah menandatangani kontrak kemitraan penuh dengan PT. Wiratama Karya, menjamin stabilitas Aura Design & Co. selama lima tahun ke depan. Di mata dunia profesional, Aurelia berada di puncak: sukses, disegani, dan menjadi mitra bisnis dari konglomerat konstruksi. ​Di rumahnya, ia hanyalah seorang wanita yang tidur sendirian di ranjang sebesar king size. ​Reno tidak meninggalkan pesan. Ponselnya aktif, tetapi ia tidak menjawab panggilan atau membalas pesan Aurelia, bahkan setelah tiga hari pertama. Kehidupan Reno, yang dulu penuh warna dan kekacauan, kini menjadi lubang hitam yang hampa dan dingin dalam hidup Aurelia. ​Realitas Hidup Tanpa Beban ​Aura bekerja dengan intensitas yang lebih tinggi dari sebelumnya. Tanpa beban kekhawatiran tiba-tiba tentang tagihan kartu kredit Reno atau 'modal mendadak' untuk proyek seninya, Aura benar-benar bisa fokus. Kinerjanya melesat. Angka-angka di spreadsheet keuangannya kembali sehat. Maya, asistennya, berulang kali mengucapkan syukur atas stabilitas yang baru ini. ​Namun, keberhasilan ini terasa hambar. ​Malam hari, setelah menyelesaikan revisi desain yang sempurna, Aura sering berdiri di balkonnya, memandang lampu-lampu kota. Dulu, jika Reno ada, ia akan datang, memeluknya dari belakang, dan mereka akan menghabiskan waktu membicarakan hal-hal kecil, dari film konyol hingga filosofi fotografi. Cinta Reno mungkin tidak stabil, tetapi ia hangat. ​Kini, yang ada hanyalah keheningan. Ia mencapai puncak yang ia dambakan, tetapi ia kesepian di sana. ​Kehadiran Juna yang Intens ​Sementara Reno memilih untuk menjauh, Arjuna semakin mendekat, meskipun secara profesional. Juna menggunakan haknya sebagai mitra untuk selalu memantau Aurelia, memastikan tidak ada gangguan pribadi. ​Rapat-rapat mereka menjadi lebih sering dan personal. Juna tidak hanya bertanya tentang budgeting dan timeline; ia bertanya tentang kesehatan Aura, tentang apakah ia cukup tidur, dan apakah ia sudah makan. ​“Anda terlihat semakin kurus, Ra,” kata Juna suatu sore, saat mereka rapat di kantor Aura. ​“Aku baik-baik saja, Juna. Aku hanya sibuk,” jawab Aura, mencoba mempertahankan batasan. ​Juna meletakkan pena dan menatapnya lurus. “Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Aku tahu suami Anda menghilang setelah Anda memberinya ultimatum. Aku melihat Anda bekerja seperti robot. Ra, kamu memilih untuk mempertahankan dia, aku menghormatinya. Tapi kamu tidak harus melalui ini sendirian.” ​Aura merasa air matanya akan tumpah. Juna, pria yang dingin dan logis ini, adalah satu-satunya yang melihat rasa sakit di baliknya. ​“Aku akan baik-baik saja,” bisik Aura. ​“Tidak,” potong Juna, suaranya melembut. “Kamu tidak akan baik-baik saja jika kamu terus memendamnya. Kita adalah mitra bisnis yang solid. Tapi kita juga manusia.” ​Juna mengajak Aura makan malam, kali ini bukan untuk membahas kontrak, melainkan hanya untuk bersantai. Aura menolak, tetapi Juna bersikeras, mengatakan bahwa kesehatan mentalnya adalah risiko bagi proyek mereka. Aura akhirnya setuju, mengakui bahwa ia butuh bernapas. ​Makan malam di restoran Jepang mewah itu terasa berbeda. Juna menceritakan kisah masa lalunya—betapa kerasnya ia harus berjuang untuk keluar dari bayang-bayang ayahnya. Ia bercerita tentang kegagalan pernikahannya, yang ironisnya, bubar karena istrinya tidak tahan dengan fokus dan kesuksesannya. ​“Aku kehilangan istriku karena aku terlalu fokus membangun stabilitas. Dan kamu, Ra, kamu hampir kehilangan stabilitasmu karena kamu terlalu fokus pada cinta yang rapuh,” kata Juna, menyesap sake dengan elegan. “Kita sama, Ra. Kita sama-sama mencari sesuatu yang seimbang.” ​Juna tidak pernah menyentuh Aura, tetapi kehangatan emosional yang ia berikan terasa jauh lebih intim dan berbahaya daripada sentuhan fisik. Ia menawarkan pemahaman dan pengakuan yang tidak pernah diberikan Reno di masa-masa sulit karirnya. ​Ulang Tahun yang Kosong ​Di akhir minggu kedua, adalah hari ulang tahun Aurelia. Hari yang selalu dirayakan Reno dengan kejutan konyol, prank yang romantis, atau road trip mendadak. ​Aura memutuskan untuk lembur. Ia tidak ingin pulang ke rumah yang kosong. Tepat pukul 19.00, Maya dan timnya datang membawa kue dan menyanyikan lagu ulang tahun. Aura tersenyum, merasa sedikit terhibur. ​Setelah timnya pulang, Aura kembali ke mejanya. Ponselnya berdering. Bukan Reno, melainkan Juna. ​“Selamat ulang tahun, Ra,” suara Juna terdengar hangat. “Aku tahu kamu sedang di kantor. Aku akan datang sekarang.” ​“Tidak perlu, Juna. Aku akan segera pulang,” kata Aura. ​“Aku tidak menerima penolakan. Aku akan memberimu hadiah yang pantas untuk wonder woman sejati.” ​Dua puluh menit kemudian, Juna muncul dengan membawa tas kecil dari butik perhiasan mewah, dan sekotak macarons kesukaan Aura. ​“Aku harap kamu suka,” kata Juna, menyerahkan tas itu. ​Di dalamnya ada kalung berlian kecil, sederhana namun elegan. Itu adalah hadiah yang melambangkan status dan stabilitas. ​“Juna, ini terlalu mahal. Aku tidak bisa menerimanya,” kata Aura, merasa sangat tidak nyaman. ​“Ini bukan sogokan, Ra. Ini adalah pengakuan atas kerja kerasmu. Terimalah. Aku tahu Reno selalu memberimu hadiah yang ‘penuh makna’ dan ‘buatan tangan’. Tapi kadang, kamu juga pantas mendapatkan sesuatu yang stabil dan bernilai, kan?” Juna menatapnya, memecah semua batasan. ​Air mata Aura tumpah. Bukan karena hadiahnya, melainkan karena Juna tahu persis luka mana yang harus disentuh. Reno selalu memberinya ‘ketulusan’ yang tidak bernilai materi, sementara Juna memberinya ‘nilai’ yang sangat ia butuhkan saat ini. ​Juna mendekat, tidak memeluk, tetapi hanya memegang bahu Aura dengan hangat. “Menangislah, Ra. Aku di sini. Jangan menanggung semua beban itu sendirian.” ​Aura menangis di kantornya, di bawah cahaya lampu neon, dalam pelukan profesional seorang pria yang bukan suaminya, tetapi yang memberinya stabilitas emosional yang jauh lebih nyata daripada yang pernah ia rasakan dalam pernikahan. ​Pukul 22.00, Juna mengantar Aura pulang. Di depan rumah, Aura mengucapkan terima kasih, memegang kalung berlian itu. ​Tiba-tiba, lampu teras rumah menyala. Reno berdiri di sana. Matanya bengkak, penampilannya lusuh, jelas ia baru kembali. Ia tidak menjawab panggilan Aura, tetapi ia pulang tepat di hari ulang tahunnya. ​Reno melihat mobil mewah Juna, melihat Juna keluar dari mobil, dan melihat kalung berlian yang melingkar di leher Aurelia. ​Reno memandang mereka, lalu tertawa getir. Tawa yang penuh keputusasaan. ​“Kamu benar-benar tidak memberiku waktu, Ra,” bisik Reno, menunjuk kalung itu. “Kamu memilih stabilitas dan harga yang bisa dibeli. Selamat ulang tahun, Aurelia. Aku harap dia bisa memberimu semua yang tidak bisa aku berikan.” ​Reno berjalan masuk, dan kali ini, Aurelia tahu: krisis kali ini bukan lagi tentang uang. Ini adalah tentang pilihan definitif yang telah ia buat, dan konsekuensi emosionalnya telah dimulai. ​[Akhir Bab 7]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN