Bab 6: Pengorbanan Logika dan Respon yang Hancur

1036 Kata
​Aurelia tidak tidur malam itu. Dua dokumen dari Arjuna tergeletak di meja kerjanya, berdampingan dengan foto pernikahannya. ​Kontrak saham Juna adalah tiket kebebasan dari rasa khawatir finansial seumur hidup. Itu adalah solusi logis yang sempurna. Namun, melihat foto Reno yang tertawa lebar, janji pernikahan yang pernah mereka ucapkan terasa mencekik. Bagaimana mungkin ia menjual perusahaan yang dibangunnya hanya untuk lari dari tanggung jawab pernikahannya? Bagaimana mungkin ia mengkhianati pria yang, meskipun cacat, mencintainya dengan tulus? ​Pukul 07.00 pagi, saat Reno bersiap-siap untuk berangkat ke Bali, Aura sudah mandi dan berpakaian rapi, siap untuk hari yang berat. ​Pilihan yang Menyakitkan ​Aura mendekati Reno, yang sedang mengenakan tas ransel usangnya. Ada aura optimisme palsu di wajah Reno, sebuah topeng yang ia kenakan untuk meyakinkan dirinya sendiri dan Aurelia bahwa kali ini akan berbeda. ​“Aku berangkat, Ra,” kata Reno, mencoba terdengar ceria. “Dua minggu, dan aku akan kembali dengan kabar baik. Aku janji.” ​Aura menghela napas, mendekap tubuh Reno, pelukan yang terasa seperti perpisahan. ​“Jangan pergi ke Bali, Reno,” bisik Aura, menenggelamkan wajahnya di d**a Reno. ​Reno membalas pelukannya dengan erat. “Kenapa, Sayang? Aku harus membuktikannya padamu. Aku harus buktikan aku bisa.” ​Aura melepaskan pelukan itu, menatap Reno dengan tatapan yang penuh rasa sakit dan penyesalan. ​“Aku sudah bertemu Juna lagi semalam. Dia tahu semua tentang kita, Reno. Tentang utang-utangmu, tentang masalah cash flow kita. Dia tahu segalanya. Dia bahkan tahu berapa kali kamu meminta uang dariku untuk ‘proyek’,” kata Aura, suaranya pelan tetapi penuh ketegasan. ​Wajah Reno memucat. Ia tahu Juna telah mengintervensi, tetapi ia tidak menyangka sedalam itu. ​“Dia menawarkan untuk membeli perusahaan ini, Reno. Dia menawarkan untuk mengambil alih semua hutang, memberiku gaji setinggi langit, agar aku bisa bebas dari semua beban,” lanjut Aura, matanya berkaca-kaca. ​Reno merasa dunia runtuh. Ia melihat pengkhianatan di mata Aura. “Dan kamu… kamu menerimanya?” ​Aura menggeleng cepat. Ia mengambil nafas dalam-dalam, mengambil keputusan yang mengorbankan logika finansialnya demi sisa cinta yang ia miliki. ​“Tidak. Aku tidak menjual perusahaan ini. Aku tidak akan membiarkan dia mengontrol hidupku sepenuhnya. Tapi aku tidak bisa terus menalangi hidup kita seperti ini,” kata Aura. Ia berjalan ke meja kerjanya, mengambil dokumen Kontrak Kemitraan Final dari Juna dan meletakkannya di hadapan Reno. ​“Aku menandatangani kontrak kemitraan penuh. Itu berarti fokusku harus 100% pada pekerjaan ini selama minimal lima tahun ke depan. Aku akan sibuk. Aku tidak akan punya waktu untuk menemanimu dalam ketidakpastianmu lagi. Aku tidak akan punya uang cadangan untuk menutupi hutang-hutangmu lagi.” ​Reno menatap kontrak itu, lalu beralih ke wajah Aura. Ia mengerti implikasinya. Aura memilih untuk mempertahankan perusahaan, tetapi dengan imbalan ia secara mental dan finansial harus menjauhkan diri dari suaminya. ​“Aku memilih untuk menyelamatkan apa yang aku bangun, Reno,” bisik Aura. “Dan aku memilih untuk tetap menjadi istrimu. Aku mencintaimu, dan aku tidak ingin kehilanganmu. Tapi kamu harus tahu, aku tidak bisa menjadi bankmu lagi.” ​Aura memberikan sebuah buku tabungan dengan saldo minimal, yang telah ia buka atas nama Reno, dan sebuah kartu ATM. ​“Ini semua yang aku sisakan untukmu. Ini cukup untuk hidupmu selama dua bulan, untuk makan, sewa tempat tinggal sederhana, dan transportasi. Setelah dua bulan, kamu harus berdiri sendiri,” kata Aura. “Jangan gunakan itu untuk tiket Bali. Ambil tawaran fotografi korporat itu, Reno. Ambil pekerjaan stabil itu, dan buktikan kamu bisa mandiri, bukan karena aku memaksamu, tetapi karena kamu menghormati pernikahan kita.” ​Reno menatap buku tabungan itu. Itu bukan jumlah yang besar baginya, tetapi itu adalah akhir dari ketergantungannya. Itu adalah ultimatum yang disamarkan sebagai kesempatan. ​Reno merasa marah, terluka, dan juga malu. Aura tidak meninggalkannya, tetapi ia menarik semua jaring pengaman. ​“Kamu menyiksaku, Ra,” kata Reno pelan, suaranya serak. “Kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpa kebebasanku.” ​“Dan kamu menyiksaku dengan ketidakpastianmu, Reno. Ini adalah satu-satunya cara kita bisa bertahan. Kamu harus memilih: kebebasan yang membunuhmu, atau tanggung jawab yang menyelamatkan pernikahan kita,” balas Aura. ​Reno mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar tanpa sepatah kata pun. Ia tidak pergi ke Bali, dan ia tidak menerima pekerjaan korporat. Ia hanya menghilang, membawa buku tabungan dan rasa sakit yang mendalam. ​Konsekuensi Pilihan ​Aura tiba di kantor Juna dengan Kontrak Kemitraan yang sudah ditandatangani, bukan dokumen Penjualan Saham. ​Juna menyambutnya dengan senyum tipis, tetapi matanya menunjukkan kekecewaan. ​“Aku tahu kamu tidak akan menjualnya,” kata Juna, mengambil dokumen itu. ​“Aku memilih kemitraan,” kata Aura tegas. “Aku menjamin profesionalisme dan fokusku penuh pada proyek ini. Kamu tidak akan kecewa, Juna.” ​Juna duduk di kursinya, mengabaikan dokumen itu sejenak. “Aku percaya pada kemampuanmu, Ra. Tapi kamu baru saja mengorbankan exit strategy teramanmu. Kamu memilih untuk mempertahankan sesuatu yang rapuh, hanya karena emosi. Dalam bisnis, emosi adalah risiko terbesar.” ​“Ini bukan bisnis, Juna. Ini adalah hidup,” balas Aura. ​Juna menghela napas. “Baik. Aku menghormati keputusanmu. Tapi sebagai mitra bisnismu, aku berhak tahu: Apa yang terjadi dengan suamimu? Aku tidak ingin gangguan emosionalmu muncul di tengah proyek.” ​“Dia sedang mencari pekerjaan. Dia akan stabil,” janji Aura, mencoba meyakinkan Juna dan dirinya sendiri. ​“Aku harap begitu. Karena sebagai mitra, aku akan selalu memantau risiko yang kamu bawa, Ra,” kata Juna. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak menenangkan. “Kontrak ini sudah efektif. Selamat, Bu Aurelia. Kamu baru saja mengamankan masa depan Aura Design & Co. Sekarang, tunjukkan padaku bahwa kamu bisa mengamankan masa depan pribadimu juga.” ​Aura meninggalkan kantor Juna dengan rasa bangga yang bercampur dengan ketakutan. Ia telah menyelamatkan perusahaannya dan mempertahankan integritas pernikahannya, tetapi ia kini sendirian. Ia telah melepaskan Reno dan menolak tawaran Juna. ​Ia melihat ponselnya. Tidak ada pesan dari Reno. ​Aurelia kini harus menghadapi badai tanpa jaring pengaman. Ia harus bekerja keras untuk Juna, dan pada saat yang sama, ia harus menunggu suaminya yang tercinta untuk tumbuh dewasa, atau menerima kenyataan bahwa ia mungkin telah mendorongnya pergi untuk selamanya. ​[Akhir Bab 6]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN