“Kak?”
“Ya?” Panggilan Dee menarik Simon kembali dari lamunannya.
“Ada apa? Kamu sakit?”
Simon tersenyum, “Tidak, aku hanya berpikir apakah aku akan mengajakmu ke kolam dulu atau mungkin kita bisa jalan-jalan ke tengah kota. Mana yang kamu pilih? Atau kita bisa menyusul Aram?”
Dee terbahak,“Apa sih? Kenapa kita harus menghancurkan usaha Vee menarik Aram? Em…aku mau ke kolam dulu, lalu mungkin berenang disana dulu? Lalu kita ke kota, terus kita…” Dee menjabarkan satu-persatu rencananya pada Simon dengan Simon yang memimpin keduanya berjalan. Dengan sabar Simon mendengarkan, sesekali dia akan melihat genggaman tangan mereka seolah memastikan bahwa Dee masih dalam genggamannya.
“Aku tidak akan mengijinkanmu berenang di malam hari.”
“Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku berenang di malam hari, itu hanya akan membuatku kena rematik.”
“Percayalah di dalam penelitian tidak ada hubungannya rematik dengan mandi malam atau berenang. Itu hanya mitos.”
Langkah Dee berhenti sejenak hanya untuk menatap wajah Simon yang terlihat serius. Dengan heran dia berkata,“kak, seharusnya kau mengatakan jangan berenang, aku tidak mau kamu sakit. Bukan malah mengatakan rumus kedokteran di acara kencan.”
Simon terkekeh, “ Sebagai seorang dokter, aku harus mengatakan fakta yang dibenarkan oleh sebagian besar orang.”
“Ck, baiklah dokter, kamu benar.”
Tidak butuh waktu lama hingga keduanya sampai pada tempat tujuan. Pada akhirnya Simon hanya memperbolehkan Dee mencelupkan kakinya ke tepi kolam alami. Simon mengatakan meskipun tidak akan rematik, namun suhu malam di tempat asing tidak akan baik untuk tubuh karena mereka baru saja menyesuaikan suhu dari iklim tropis ke empat musim. Keduanya hanya bermain air di kolam Piscina es cau de Begur sebelum Dee memilih mengajak Simon kembali ke apartemen. Dee tahu bahwa Simon sama sekali belum istirahat sejak dia berangkat. Jika tidak salah, Raka mengatakan padanya meskipun seminar dihadiri oleh Raka, namun Simon terus memantau Raka dan sesekali akan memberikan Raka materi yang berkaitan. Dee takut Simon masih lelah dalam perjalanan, dia yakin jalan-jalan ini dia lakukan demi dirinya hanya karena Dee menginginkannya.
Sambil bergandengan tangan, keduanya berjalan menuju apartemen diiringi obrolan ringan.
“Aku sungguh sangat kagum pada tunanganku yang satu ini yang bahkan dapat menyewa apartemen yang biasanya sulit untuk reservasi.”
Simon berdehem, menyembunyikan fakta bahwa dia telah melakukan reservasi setahun yang lalu, “ Tentu saja.”
Dee baru mengetahui bahwa kolam alami yang baru saja dia kunjungi bukanlah destinasi yang dibuka oleh umum dari salah satu pengunjung yang sempat bertemu dengannya tadi. Seorang turis yang berasal dari London mengatakan padanya bahwa hanya orang yang tinggal atau menyewa di apartemen Es Cau saja yang dapat memasukinya. Dee sungguh mengagumi bagaimana seorang Simon dapat merencanakan apapun dalam hidupnya dengan sangat detail.
“Jangan-jangan kakak memang sudah mempersiapkan ini sejak lama? Jadi sengaja membatalkan rencanaku ke pulau Vadhoo. Kamu kan orang yang sangat terencana hingga untuk ke toilet saja masuk dalam agenda.”
Simon terdiam, rasanya seperti de ja vu dengan kalimat terakhir yang dilontarkan tunangannya ini.
“Mana mungkin? Kan kamu tahu sendiri aku sangat sibuk tahun ini bukan?”
Mata Dee menyipit curiga, “Benarkah?”
Ditatap demikian oleh Dee, membuat lelaki dua puluh tujuh tahun itu gugup. Bagaimanapun pulau Vadhoo adalah pulau yang sangat ingin di kunjungi Dee sejak lama. Namun Simon tidak bisa membiarkan gadis itu berkunjung kesana setidaknya untuk tahun ini. Jika Dee tahu bahwa pergantian tempat ini telah Simon rencanakan sejak lama, dia tidak tahu bagaimana menghadapi amarah gadis itu. Simon bukanlah orang yang pandai dalam berbohong, sangat beruntung bahwa mereka telah sampai di depan pintu apartemen mereka sehingga Simon dapat mengalihkan pembicaraan keduanya.
“Kamu masuk dulu, besok pagi aku akan menjemputmu setelah mengantar papi dan mami ke museum.”
Dee mengangguk, “Memang mereka tidak bersama mama dan papa?” Mama dan papa adalah panggilan Dee dan Simon pada John dan Amel. Sejak resmi bertunangan, kedua orang tua mereka sepakat meminta mereka memanggil dan menganggap mereka seperti orang tua mereka.
“Aku rasa papa akan menemani mamamu ke fashion show kalau aku tidak salah ingat. Jadi besok kamu mau ikut dengan mereka atau ingin pergi jalan-jalan sendiri?”
“Tentu saja jalan-jalan sendiri. Kenapa juga aku harus mengikuti mereka yang bahkan bekerja di liburannya? Mereka sama sekali tidak tahu bagaimana menikmati hidup.”
“Baiklah, berhenti mengomel. Sekarang masuklah dan istirahat. Aku juga akan segera istirahat.”
Dee mengangguk, “ Eh kak, coba menunduk.”
“Kenapa?”
“Ish! Menunduk saja!”
Simon pikir Dee akan membisikkan sesuatu yang aneh seperti yang biasa gadis itu lakukan. Tapi siapa yang menyangka bahwa saat Simon menunduk, gadis itu dengan gesit mengecup bibir Simon dan langsung kabur masuk ke dalam apartemen secepat kucing.
“Aku masuk! Aku mencintaimu!” teriakan itu terdengar bersamaan suara bantingan pintu terdengar meninggalkan Simon yang masih mematung. Dia menyentuh bibirnya, lalu terbahak.
“Apa sih yang ada di kepala kecilnya itu?” Simon masih tertawa. Ini bukanlah pertama kali mereka berciuman, tapi mengapa gadis itu bersikap seolah remaja yang baru pertama kali pacaran. Dee memang gadis ajaib yang selalu membuat Simon merasakan harinya berwarna bahkan dengan hanya tingkah kecilnya. Setelah memastikan Dee aman masuk ke dalam apartemen, Simonpun segera bergegas masuk ke kamarnya.
Di sisi lain, Dee yang baru saja menstabilkan detak jantungnya oleh aksinya sendiri, mendapati dirinya hanya sendiri di apartemen. Saat mengecek ponselnya, ternyata kedua orang tuanya saat ini sedang berjalan-jalan, sedangkan Aram kemungkinan belum kembali. Dee baru saja memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil miliknya sebelum dia mendengar bel dari luar. Dee pikir itu adalah Simon yang kemungkinan berencana menemaninya, mungkin saja orang tuanya juga mengirim pesan pada Simon bahwa mereka sedang tidak ada di apartemen. Jadi dengan ceroboh Dee segera membuka pintu apartemen tanpa mengecek terlebih dahulu siapa yang datang dari door viewer.
“Kakak akan menemani- kamu siapa?” Dee segera mengubah bahasanya menggunakan bahasa inggris setelah melihat orang asing di depannya. Dee mengamati penampilan lelaki itu. dia tinggi, lebih tinggi dari Simon dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam. Lebih aneh lagi lelaki itu membawa tongkat seolah lelaki itu buta. Keseluruhan penampilan lelaki itu terlihat mencurigakan. Namun Dee masih berpikir positif karena di lingkungan ini tidak ada orang sembarangan yang dapat masuk.
“Calista Dian Efendy, bukankah dulu aku selalu bilang padamu bahwa kebiasaanmu membukakan pintu tanpa kewaspadaan adalah perbuatan yang bodoh?” Daripada berbahasa inggris, lelaki yang terlihat bukan orang Asia itu justru berkata dalam bahasa Indonesia dengan fasih.
Dee cukup kaget mendengar pernyataan lelaki itu,“Sepertinya anda benar, aku memang tidak boleh membukakan pintu sembarangan.” Dee berbalik dan hendak menutup pintu namun kaki lelaki itu terjulur menghalangi kusen pintu menutup.
Oi oi…apa ini? Modus penculikan untuk penjualan organ ilegal kah? Kenapa dia tahu namaku? Aku sudah menjadi target sejak lamakah?
“Asal kamu tahu, dagingku tidak ada! aku menderita paru-paru basah, gagal ginjal, dan mataku hasil operasi! Aku sangat tidak layak untuk diperjualbelikan!”
Sambil berteriak, gadis itu terus berusaha untuk menutup pintu, namun tubuhnya yang kecil sepertinya kalah dengan sosok tegap di hadapannya. Dee mendengar lelaki itu terkekeh dan terdengar menyenangkan dan familiar.
Wah apa ini? Bahkan otakku mulai berhalusinasi dan terpesona oleh penculik! Ini kenapa pintu juga susah sekali di tutup sih?
Dee ingin menangis, tapi tidak bisa. ingin dia berteriak, tapi entah kenapa pita suaranya seolah tidak dapat meninggi.
“Tuan-”
“Alex, aku Alexander Maximiliam, dan aku adalah suami di masa depanmu,”lelaki itu memotong perkataan Dee.
“Hah?” fix, lelaki ini sepertinya gila.
“Calista Dian Efendy, ikut aku.” Lelaki itu memegang tangannya, bahkan sebelum Dee dapat membuka bibirnya, Dee merasakan pandangannya kabur dan tubuhnya seolah tersedot oleh sesuatu.