Dee merasakan cahaya matahari dengan kasar menyentuh pipinya. Telinganya mendengar suara gorden yang ditarik secara lambat dan suara mamanya yang membangunkannya. Sangat sulit membuat kedua mata Dee untuk sepenuhnya terbuka. Saat berhasil, Dee hanya merasakan bahwa pandangannya sedikit kabur. Samar-samar dia ingat kejadian malam tadi. Tapi mendapati dirinya di tempat tidur, Dee berasumsi bahwa dia memiliki mimpi yang cukup menyeramkan dan seolah nyata.
“Mama?” Dee memanggil untuk memastikan.
“Nah! Akhirnya kamu bangun juga. Cepat mandi dan sarapan. Hari ini papa akan meeting jadi kamu akan berangkat dengan mama.”
“Berangkat kemana?” Dee bertanya bingung. Apa ke museum kah?
“Anak ini, tentu saja sekolah.”
“Hah? Sekolah?” sekolah apa? Dee tidak ingat mendaftarkan magister tahun ini.
“Anak ini, kamu masih mimpi ya? Cepat mandi atau mama tidak akan mengantarmu.”
Amel menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh Dee. Ditariknya Dee dari tempat tidur dan menyeretnya masuk ke kamar mandi. Masih dalam kebingungannya, Dee ingin bertanya lebih pada mamanya namun saat dia tidak sengaja menoleh kearah cermin besar di kamar mandi, Dee tidak dapat menahan teriakannya dan memanggil mamanya.
“Ada apa?” Amel membuka pintu kamar mandi dengan wajah cemas. Dia mengira anaknya terjatuh atau apa.
“Mana yang sakit? Apa kamu terluka?”
“Mama! Aku rasa mataku mulai tidak beres ma! Apa perlu operasi mata lagi?”
“Hah? Apa sih yang kamu bicarakan?” Amel semakin bingung. Mendapati tidak ada satupun luka di tubuh anaknya setelah mengecek, Amel sedikit merasa lega.
“Mah lihat itu! masa aku melihat wajahku jadi muda lagi ma!” Dee serius menunjuk kearah cermin yang memantulkan bayangan dirinya dan mamanya. Bukan gadis seksi dengan tubuh proporsional, rambut panjang curly yang biasa dan wajah cantik yang biasa dia kagumi, tapi saat ini yang terpantul adalah gambaran gadis manis, dengan lemak bayi di kedua pipinya dan rambut cokelat gelap lurus sepinggang. Keseluruhan itu adalah gambaran dirinya di umur belasan tahun! Saat melihat pantulan mamanya di cermin, Dee kembali berteriak panik.
“Oh Tuhan! Mama! Mama juga terlihat muda! Mama mataku memang sudah tidak beres!”
Amel memukul bahu Dee dengan keras, “ Dasar anak ini! Apa sih yang kamu bicarakan? Berhenti bercanda dan segera mandi! Kamu membuat mama naik darah pagi-pagi ini.” Amel sungguh ingin mengomeli anaknya namun suaminya—John pasti akan berbalik marah padanya jika membuat keributan di pagi hari.
“Tapi ma, lihat! Mama dan aku kenapa jadi terlihat muda?”
“Apa sih yang salah denganmu? Tentu saja muda, gadis umur enam belas tahun wajar memiliki wajah seperti itu. Memang wajah seperti apa yang kamu harapkan?”
“Hah? Enam belas tahun?”
“Tidak usah hah heh huh! Cepat mandi atau mama akan memukulmu.”
“Tap-”
“Mandi!” Amel langsung memotong perkataan Dee dan langsung keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Dee yang masih dengan wajah kebingungan.
“Enam belas tahun? Aku? Wah,aku sudah gila. Apa aku masih bermimpi?” Dee mencubit kedua pipinya. Pipinya terasa halus dan kenyal seolah produksi kolagen miliknya masih banyak.
“Eh tunggu,” Dee sadar akan kenyataan kedua. Setelah melihat bentuk cermin dan interior kamar mandinya, Dee sadar bahwa itu bukanlah interior yang sama dengan rumahnya. Jika tidak salah ingat interior saat ini persis seperti interior rumah lamanya. Firasat Dee semakin tidak enak. Ini terlalu nyata untuk dikatakan mimpi, tapi terlalu absurd untuk dikatakan nyata.
“Kayaknya aku sudah menjadi gila?”
“Kamu tidak gila.”
“Astaga!” Dee hampir saja terjungkal saking kagetnya mendengar suara yang tiba-tiba saja ada di belakang badannya.
“Kamu!” Dee ingat siapa sosok yang ada di depannya saat ini. Ini adalah sosok yang sama persis dia temui saat di Spanyol. Dia Alex!
“Bagaimana kamu bisa masuk? Kamu…jangan-jangan menggunakan alat canggih untuk masuk ke sini?” Dee melihat sekeliling kamar mandi. Dia semakin takut saat sadar bawa satu-satunya ventilasi di kamar mandinya hanyalah jendela atas yang berada di lantai dua. Bahkan tangga pun tidak dapat menjangkaunya dan ukuran jendelanya tidak akan muat untuk dimasuki badan lelaki ini. Lalu lelaki ini terlihat tidak memakai perlengkapan aneh, hanya baju dan jas yang sama yang dikenakannya malam itu.
“Jangan terlalu terkejut, ketahuilah bahwa saat ini kamu tidak bermimpi. Namun aku membuatmu masuk ke tubuh masa lalumu.”
Dee dapat mendengar suara loading saat komputer dinyalakan. Sepertinya otaknya membutuhkan beberapa saat lebih lama untuk memproses data yang baru saja dia terima hingga dia jatuh pada sebuah kesimpulan.
“Kayaknya aku beneran sudah gila,” Dee bergumam. Dia menatap lelaki di depannya, lalu pada dirinya di pantulan cermin. Anehnya saat ini Dee sama sekali tidak terpikirkan untuk berteriak ataupun berlari kabur dari lelaki asing ini.
“Sudah kukatakan kamu tidak gila dan kamu tidak bermimpi. Aku akan menjelaskannya padamu apa yang kamu alami saat ini.”
Meskipun dengan perasaan takut, namun Dee memilih untuk mendengarkan penjelasan lelaki itu. Dee masih memiliki kesimpulan yang sama, bahwa ini semua mimpi atau dia yang terlalu lelah sehingga berhalusinasi.
Tidak beberapa lama kemudian, Lelaki itu mengakhiri penjelasannya. Dee hampir lupa bagaimana caranya bernafas setelah lelaki di depannya menjelaskan secara detail tentang apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Yang pertama, dunia yang saat ini dia tinggali hampir sama dengan dunianya, namun tidak bisa dikatakan sama. Singkatnya meskipun ini adalah Dee di masa lalu, namun ada banyak perbedaan di dunia ini karena memang dunia ini tidak seratus persen sama dengannya. Dee masih memiliki kedua orang tua yang sama, latar belakang keluarga yang sama, bahkan sekolah tempat dia belajar juga sama. Namun Alex mengatakan bahwa akan ada beberapa perbedaan yang Alex sendiri tidak dapat menjelaskan secara detail.
Kedua, lelaki di depannya ini bernama Alex Maximiliam. Dia menjadi seorang tunanetra karena dia menempati dimensi yang berbeda dengan dimensinya yang asli. Di dunia ini, dia adalah pemandu bagi Dee. Alex mengatakan bahwa dirinya bisa juga disebut hantu karena hanya Dee yang dapat melihat dan mendengarnya. Tugas Alex adalah membawa Dee ke dunia ini juga sebagai pemandunya untuk menjalankan sebuah misi.
Ketiga, ini yang paling penting. Alex hanya dapat membawa Dee disini selama seratus hari. Dalam waktu seratus hari itu, Dee harus menyelamatkan Alex di masa ini agar tidak mati karena bunuh diri. Alex kecil inilah yang menjadi kunci Dee untuk dapat kembali ke masanya bersama Simon.
“Jadi aku harus menyelamatkan dirimu di masa ini agar tidak mati supaya aku bisa kembali ke masa depan? ah maksudku masaku yang sesungguhnya?”
Lelaki itu mengangguk.
“Tapi siapa Alex itu? jangan katakan bahwa aku harus mencari, berkenalan, dan membujuknya agar dia tidak mati dalam seratus hari.”
“Dia adalah teman masa kecilmu dan kalian juga satu sekolah. Sebentar lagi kamu akan tahu siapa Alex dari gambaran kenangan tubuhmu di masa ini. Saat itu terjadi, mungkin kamu akan mengalami demam beberapa hari atau kamu akan biasa saja.”
Satu lagi penjelasan yang sangat tidak mudah dipahami oleh Dee.
“Baiklah, lupakan semua itu. Jadi apa yang terjadi jika dalam waktu itu aku tidak berhasil menyelamatkan Alex?”
“Apa lagi? Kita berdua akan hilang.”
“Hah? Apa?”
“kmJita berdua akan hilang, baik di dunia ini ataupun di masa depan,” Alex mengulangi ucapannya. Kali ini dengan memberikan ilusi dirinya dan Dee berubah menjadi asap di udara—hilang.
Dee merasakan tubuhnya menjadi lemas, “Huhu…aku baru saja berkarir, akan menikah dengan lelaki impianku, dan sekarang aku diculik oleh hantu, diberi tugas yang mengancam eksistensiku. Huhu…dosa apa aku? Kenapa harus aku?” merosot dari sikap berdirinya, Dee menangis di pojok wastafel—menyesali kesialannya.
“Karena memang ini adalah masalalumu yang harus kamu perbaiki.”
“Mama…huhu…” Dee semakin kencang menangis. Pagi itu, adalah pagi terburuk yang pernah Dee rasakan selama dua puluh empat tahun dia hidup.
“Daripada menangis, lebih baik kamu segera bersiap karena seratus hari batas waktumu dimulai dari pagi ini.”
Dasar lelaki sialan! Dee mengutuk dalam hati di balik tangisannya.