Deru limousine terdengar begitu mereka keluar dari gerbang keluarga Efendy. Duduk di kursi belakang, Dee memijit pelipisnya. Rasanya kepalanya mau pecah. Apa yang dikatakan Alex dewasa itu benar. Dia memang mendapatkan sebagian ingatannya di masa ini. Karena hal itulah kepalanya terasa sangat sakit seolah ribuan jarum dipaksa untuk masuk ke dalam kepalanya tapi untungnya dia tidak demam seperti yang dikatakan Alex dewasa.
“Ada apa? Apa kamu sakit?” Mamanya bertanya setelah melihat gerakan Dee dari kaca mobil. Dee menggeleng dan berhenti memijat pelipisnya.
“Sedikit pusing tapi tidak apa-apa.”
“Pusing? Apa perlu kita ke rumah sakit dulu?”
Dee kembali menggeleng, “ Tidak perlu ma, eh? Rumah sakit? Apa itu rumah sakit Hyder?” Dee baru ingat bahwa di dalam ingatannya saat ini sama sekali tidak ada keberadaan Simon.
“Yang terdekat hanya itu,bagaimana? Kamu mau ke rumah sakit?”
Mendengar jawaban mamanya, Dee agak gembira. Itu berarti Simon masih ada di masa ini. Jika itu benar, maka Dee akan menemui Simon sendiri nanti.
“Tidak, aku akan ke rumah sakit setelah pulang sekolah saja. Hanya cek kesehatan saja.”
“Kamu yakin? Kamu sangat aneh pagi ini.” Mamanya memastikan.
“Ma, bukankah Dee selalu aneh setiap hari?” celetuk Aram di sela-sela bermain game. Dee memukul kepala adiknya. Membuat pemuda yang saat ini duduk di bangku sekolah menengah pertama itu mengaduh.
“Sopan sekali!”
“Selain aneh, sekarang aku rasa kamu punya julukan baru. Gorila.”
“Kamu!” Dee ingin memukul adiknya ini tapi Amel sudah terlebih dulu melerai keduanya. Dengan terpaksa Dee hanya bisa melepaskan adiknya saat ini.
Setidaknya aku harus bersyukur bahwa keluargaku masih utuh di dunia ini. Entah bagaimana dengan Simon. Simon…
Dee menatap keluar jendela. Rasanya dia sungguh merindukan lelaki lembut yang telah menemaninya bertahun-tahun.
***
Dee berdiri di depan gerbang IBS ( internasional british school), sebuah sekolah elit dimana menampung anak-anak dari keluarga terkemuka saja. Berbeda di sekolah yang dia kenal di dunianya, IBS disini tidak ada satupun murid yang bersekolah disini orang biasa. Tidak ada beasiswa untuk orang biasa seperti pada drama televisi. Ini sekolah murni hanya untuk orang-orang elit. Karena sekolah ini memiliki cangkupan dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, kedua orang tua Dee memilih sekolah ini bukan untuk gengsi atau pendidikan yang baik, melainkan hanya karena alasan lebih mudah untuk mengantar dan menjemput keduanya. Terlebih lagi mamanya—Amel mengatakan pada mereka bahwa dengan sekolah di tempat yang sama akan membuat mereka mudah saling menjaga. Tapi Dee tahu bahwa itu hanyalah kiasan saja. Singkatnya mamanya hanya menginginkan pengawasan yang praktis jika mereka masih dalam satu lingkup.
Dee menyapukan pandangannya pada area sekitar sekolah. Bangunan kuno sekolah yang mempertahankan nuansa klasik yang di padukan dengan arsitektur modern, bunga di taman, seragam sekolah, tas, dan sepatu branded dengan merek IBS, bau parfum masa-masa muda, membuat Dee merasakan jiwa mudanya bergejolak. Untung saja kemampuannya dalam melihat warna dari aroma tidak hilang begitupun dengan warna matanya yang berwarna zamrud meskipun Dee tidak pernah mencangkok mata atau kecelakaan saat kecil. Jadi saat dia melihat berbagai bentuk aroma yang sangat jarang dia temui, dalam pikiran Dee muncul belasan ide aroma parfum yang mungkin akan dia buat. Dee menghirup dalam-dalam udara di sekitar, sungguh udara yang berbeda. Ini memang aroma nostalgia masa-masa muda!
“Inilah aroma masa muda…” Dee bergumam dan kembali menghirup udara sebanyak-banyaknya kedalam paru-paru miliknya.
“Masa muda memang yang-”
“Hei, kamu yakin tidak perlu ke rumah sakit?”
Khayalan Dee runtuh seketika. Saat membuka matanya, dia hanya mendapati wajah konyol adiknya yang tengah menatapnya dengan wajah aneh.
“Aku rasa otakmu mulai bermasalah. Jika benar, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Ayo kita ke rumah sakit,” Aram menambahi. Kali ini wajahnya yang memaksakan untuk berakting khawatir sungguh menyebalkan di mata Dee.
Yah, benar. Tidak mungkin ada pagi yang begitu sempurna. Memiliki adik yang super menyebalkan adalah cobaan bagi kehidupan gadis manis yang sempurna.
“Adikmu benar, ini bukan saatnya kamu bertindak bodoh.”
“Astaga!”
“Wah!”
Baik Dee maupun Aram berteriak secara bersamaan meskipun dengan alasan yang berbeda.
“Kamu gila ya? Kenapa kau tiba-tiba saja berteriak?”
Dee menatap tajam sosok yang tiba-tiba saja muncul di sampingnya. Siapapun akan terkejut jika melihat orang yang tiba-tiba saja muncul dan bahkan hanya dia saja yang dapar melihatnya.
“Hei, kamu yakin tidak mau ke rumah sakit? Kali ini aku sungguh bertanya serius.”
Dee menghela nafas mencoba menstabilkan emosinya, “Tuan muda kecil, sebaiknya kamu masuk ke kelas sebelum aku benar-benar membuatmu menutup mulutmu yang cerewet itu.” Dee lantas berbalik berjalan menuju kelasnya meninggalkan Aram. Sambil berjalan Dee masih berpikir bahwa dia merasa asing dengan semua hal yang ada di dunia ini. Padahal hantu Alex mengatakan bahwa ini adalah masa lalunya. Tapi kenapa banyak sekali hal yang berbeda?
“Aku tidak pernah ingat bahwa Aram begitu cerewet saat muda.” Gumamnya.
“Ini bukan saatnya kamu memikirkan hal itu. Sebentar lagi aku akan datang, jadi apa kamu punya rencana untuk mendekatiku?”
“Hah? Bukankah saat ini kamu ada di sampingku?”
“Maksudku Alex di masa ini,” Pria berjas itu meralat.
“Bukankah kita teman masa kecil? Itu mudah kan?”
Lelaki itu tidak lagi menjawab. Lalu dari arah belakang, Dee dapat mendengar kegaduhan suara siswi dengan beberapa langkah kaki seolah mengejar sesuatu. Dia menghentikan langkahnya.
“Ada apa?”
“ Sepertinya dia sudah datang.”
“Alex?” Dee berbalik, dan melihat para siswi berkerumun di sekitar gerbang. Mereka semua seolah menyambut datangnya tokoh utama dalam sebuah serial drama. Dee menatap mereka dengan heran,
“apa ini drama? Novel? komik? Kenapa mereka begitu berlebihan melihat seorang Alex?” Dee menengok ke arah Alex Dewasa,
“Aku belum pernah melihatmu melepas kacamata hitam dari wajahmu. Aku jadi tidak memiliki gambaran bagaimana wajahmu disaat muda. Oh ya, agar lebih mudah dan membedakan dirimu dan di masa ini, aku akan memanggilmu AL. Bagaimana?”
“Itu hanya sebuah panggilan. Terserah.”
“Oke, aku anggap itu sebuah persetujuan. Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana Alex itu.” Dee sangat antusias akan hal ini. Seorang remaja yang bisa membuat para gadis berbondong-bondong menyambutnya pasti sangat luar biasa.
Simon! Aku mencintaimu! Sungguh! Tapi tunanganmu ini sedang dalam menjalankan misi, bukan karena aku berniat melirik lelaki lain. Ini murni melaksanakan tugas!
Dee berseru dalam hati berperan sebagai gadis yang suci. Akhirnya apa yang diharapkan Dee terwujud, dibalik kerumunan tampak seorang pemuda dengan wajah dingin membelah kerumunan para siswa. Pemuda itu memiliki tubuh tinggi, fitur wajah campuran Asia dan Eropa, rambut cokelat terang yang mencolok. Saat dia berjalan dengan tas punggung yang dia bawa di satu pundaknya, lelaki itu seolah memancarkan cahaya tersendiri yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
“Wah! Aku ralat ucapanku yang mengatakan para gadis berlebihan. Aku yakin saat Tuhan menciptakannya, Tuhan sedang dalam suasana sangat baik sehingga dia mendapatkan hal yang sempurna pada fisiknya! Ahay! Kembali di masa muda memang tidak buruk!”
AL yang dapat membaca pikiran Dee memalingkan wajahnya dan dirinya bergumam, “Seperti itu yang dia sebut setia?”
Semakin lama, jarak antara Alex dan Dee menjadi pendek. Dee memasang wajah manis. Dee dapat melihat iris mata lelaki itu sangat mirip dengannya—zamrud saat pemuda itu semakin mendekatinya. Dengan percaya diri Dee reflek mengangkat tangannya hendak menyapa, namun siapa yang sangka bahwa Alex dengan dingin melewatinya. Meninggalkan Dee di belakang dengan bisikan para siswa dan siswi lain.
Mata Dee berkedip. Lalu dia menoleh kearah AL yang masih disampingnya dan tentu saja hanya dia yang dapat melihatnya.
“ Hei, kau bilang kami teman masa kecil.”
“ Kalian memang teman masa kecil. Tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa kalian dekat.”
Seketika itu juga Dee ingin sekali melempar AL ke laut.