Dee berbaring di ranjang UKS dengan wajah muram. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Seragamnya telah berganti dengan kaos olahraga dengan celana yang diangkat salah satu diatas lutut. Terlihat ada perban cukup besar di lututnya yang jelas hal itu menjadi alasan bagaimana dia berada di dalam UKS saat ini. Cerita ini bermula pada pagi tadi. Dee tidak menyangka bahwa pelajaran pertama setelah dia menempati tubuh masa lalunya adalah pelajaran yang paling dia benci—olahraga. Setelah bertahun-tahun tidak mengenyam sekolah, Dee sudah lupa bahwa sebagai seorang siswa hal yang pertama dan utama yang dilakukan adalah belajar dan menata jadwal. Meskipun tasnya kosong dan malah diisi dengan alat makeup serta camilan miliknya, dia masih aman dari hukuman di jam olahraga karena dia memiliki kebiasaan meletakkan seragam olahraga cadangan di laci miliknya. Jadi meskipun masa remajanya dia sangat benci berolahraga, tapi ketika kuliah, Simon telah memberikannya pelatihan yang baik sehingga jika hanya lari dan olahraga gym dia tidak kesulitan.
“Dee? kamu…ikut olahraga?” Seorang gadis dengan rambut kepang dua bertanya. Dia adalah Mei. Gadis manis menurut Dee yang juga menjadi teman sebangkunya. Dalam ingatannya, di sekolah ini Dee tidak memiliki teman yang benar-benar dekat. Hubungannya dengan teman sekelasnya dapat dikatakan hanya biasa. Dia sudah mencari nama Vanessa di sekolah ini, namun sayangnya tidak ada Vanessa sahabatnya di daftar siswa sekolah ini. Tapi setidaknya Mei adalah orang yang paling mudah bersosialisasi dengan siapapun yang dengan baik mau mengajaknya berbicara padanya. Dee tidak tahu mengapa di dunia ini dia memiliki citra gadis pendiam yang sombong.
“Setidaknya lebih baik daripada gadis tidak tahu malu di masamu.”
Dee hampir ingin melayangkan tinjunya pada AL tapi dia tidak mau dianggap gila karena hanya dia yang dapat melihat lelaki ini. Berpura-pura mengabaikan kehadirannya disampingnya, Dee dengan senyuman menanggapi Mei.
“Em, aku akan ikut olahraga. Kenapa?”
Mei tampak memperhatikan Dee dari ujung kepala sampai bawah sebelum gadis itu kembali berbicara, “Hari ini kamu juga tidak memakai makeup berlebihan dan parfum yang menyengat eh!” Mei menutup mulutnya.
“Maksud aku hari ini kamu sangat alami! Ya begitu…”
Dee memiringkan kepalanya, “Apa aku selalu berdandan berlebihan dan memakai parfum menyengat?”
Mei tampak takut-takut enggan menjawab. Namun Dee meyakinkan gadis itu untuk menjawab dengan jujur dan dia tidak akan marah.
“Itu…bagaimana mengatakannya ya? Kamu selalu memakai makeup tebal dan riasan mencolok. Kamu juga sering mengeriting rambutmu seperti ratu Elisabeth dan kamu selalu menyemprotkan parfum terlalu banyak hingga satu kelas akan terpenuhi aroma parfummu.”
Mata Dee membulat, mulutnya melongo. Itu sungguh aku? Aku? Katanya ini masa laluku, kenapa aku merasa disini aku bukanlah aku?
“Kamu yakin aku seperti itu? mungkin ada Dee yang lain disini?” Tanya Dee memastikan.
Sayangnya Mei mengangguk sebagai jawaban.
“Tidak masalah, setidaknya kedatanganmu di masa ini membuatmu merubah sejarah kelam dirimu tentang penampilan.” AL disampingnya terdengar menghibur, tapi tidak bisa merubah suasana hati Dee yang memburuk. Dia mengutuk dalam hatinya.
Pantas saja Alex tidak dekat dengannya, jika aku laki-laki manapun aku juga tidak akan mendekati gadis menor dengan bau parfum menyengat!
“Tapi penampilan kamu saat ini sangat baik! Kamu tidak aneh sama sekali dan apa parfum yang kamu pakai? Aromanya sangat lembut menyenangkan! Chanel kah? Atau merek internasional lain?”
“Terimakasih. Aku hanya memakai parfum lokal yang aku padukan kok.”
“Oh ya? Bagaimana kamu melakukannya?”
Dee ingin membanggakan diri bahwa dia adalah seorang perfumer, tapi dia tidak mau menambah daftar sebutan gila pada masa mudanya. Jadi dia hanya menjawab bahwa dia melakukannya dengan bantuan mamanya.
“Jika kamu mau, kamu bisa membawa semua parfummu besok. Aku akan membuatkan campuran aroma yang menyenangkan.”
“Benarkah?”
Dee mengangguk. Sambil terus mengobrol, mereka bersama-sama menuju lapangan olahraga.
Kebetulan ini adalah hari pertama pada semester kedua. Jika Dee tidak salah ingat, pada awal semester olahraga yang dilakukan biasanya adalah lari. Dee tidak akan bisa olahraga lain. Tapi jika itu lari, dia sangat percaya diri akan kemampuannya. Seharusnya sih begitu…
Dee tidak akan pernah menyangka bahwa kontitusi tubuhnya begitu buruk. Dia baru berlari kurang dari sepuluh menit namun pandangan Dee mulai berkunang,perutnya kram, kepalanya yang tadi sudah membaik mendadak kembali pusing dengan adanya memori lain yang masuk kedalam ingatannya. Seolah kurang sial, entah apa yang membuatnya memiliki musuh, karena dia tiba-tiba saja ditabrak dari belakang oleh seorang gadis dari belakang. Dia tahu bahwa gadis itu sengaja dengan melihat banyaknya ruang di lapangan untuk berlari, tidak mungkin terjadi tabrakan seperti ini.Gadis itu tidak menabraknya dengan banyak tenaga, namun karena tubuh Dee kelelahan, dia terdorong menginjak genangan air di lapangan dan terpeleset. Naasnya lagi saat dia terjatuh, sisa semen yang digunakan untuk perbaikan lapangan lari terinjak olehnya dan dia terjatuh dalam lubang. Lututnya robek, darah mengalir cukup banyak. Lalu Dee untuk pertama kalinya menangis cukup keras.
***
Dee menghela nafasnya mengingat kejadian pagi tadi. Lututnya memang cukup parah karena harus dijahit dua jahitan, namun dibandingkan dengan rasa sakit ini, rasa malu Dee jauh lebih besar. Bisa-bisanya dia menangis kencang hingga membuatnya dikerumuni anak-anak satu kelasnya, bahkan anak basketpun ikut mengerubunginya. Beruntung Aram entah bagaimana tiba-tiba datang dan menggendongnya di punggungnya sebelum guru olahraga menggendongnya.
“Huhu…aku malu sekali.” Dee menutupi wajahnya dengan kedua tangan masih dalam keadaan berbaring.
“Berhentilah menangis. Aku sudah menelelpon supir untuk menjemput. Nanti kita akan ke rumah sakit, agar memperbaiki jahitannya agar tidak meninggalkan bekas.”
Dee membuka tangannya, lalu melihat adiknya itu. Dia baru sadar bahwa Aram memakai seragam khusus anggota klub basket sekolah menengah pertama. Dee ingat bahwa Aram dulu juga mengikuti klub basket meskipun pemuda itu tidak pernah mau ikut dalam pertandingan. Pantas saja Aram datang. Sekolah ini selalu menggabungkan jadwal latihan basket antara sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dengan tujuan agar kedua generasi itu saling bertanding dan belajar. Dilihat dari sisi ini, Dee tidak akan membantah bahwa adiknya ternyata sangat tampan, berwibawa, dan dapat diandalkan. Pantas saja Vee mengejar-ngejar adiknya bahkan saat umur sepuluh tahun.
“Aram, dua puluh empat tahun aku hidup, baru kali ini aku mengakui kamu memang sangat tampan.”
“Gila ya? Kamu baru enam belas tahun.”
Dee tersedak air liurnya. Oh! Dia lupa fakta bahwa saat ini dia masih remaja.
“Kak, kayaknya otakmu memang bermasalah sejak pagi. Aku akan menelepon bagian organ dalam untuk pengecekkan menyeluruh pada kakak. Aku akan mengambil tas kakak dulu. Tunggu disini.”
Mulut Dee membuka, namun kembali menutup tatkala melihat Aram langsung keluar ruangan.
“Dasar bodoh. Bagaimana bisa kamu jatuh hanya dengan sebuah senggolan?” AL muncul di samping tempat tidur Dee. Karena saking seringnya Dee melihat, gadis ini jadi terbiasa melihat kemunculan tiba-tiba dari lelaki ini.
“Bagaimana aku tahu? Aku sangat kuat di masa depan, siapa yang mengira tubuhku saat ini seperti nenek-nenek yang memiliki penyakit sendi.” Saat Dee menjawab, dia jadi teringat sesuatu.
“Lupakan soal itu, aku baru tahu bahwa di dunia ini kenapa aku merasa aku adalah tokoh antagonis? Jangankan menarik perhatian Alex, dengan image ku saat ini aku bahkan tidak dapat mendekati lelaki culun sekalipun.”
“Itu tidak benar, kamu sudah mendapatkan perhatiannya.”
“Hah? Apa?”
Lalu Dee mendengar suara gorden ruangannya bergeser dan dia terkejut, melihat siapa yang membuka gorden itu.