Begitu tirai terbuka Dee terkejut, matanya membulat. Dia melihat sosok remaja tinggi di depannya dengan kotak P3K di tangan kanannya. Jantung Dee berdebar, apakah ini keuntungan dari semua kesialan yang di alaminya hari ini? Dee kegirangan memikirkannya. Jika Alex tertarik padanya lebih cepat, bukankah dia akan kembali ke masanya lebih cepat?
“Kaki,” suara remaja itu terdengar.
“Ya?” Dee bingung, reflek kedua tangannya mengangkat kakinya yang di perban di hadapan wajah Alex. Apa di masa ini mengacungkan kaki merupakan salah satu pendekatan? Dee berpikir cukup banyak mencerna apa yang di minta oleh pemuda yang tak lain adalah Alex.
Bibir pemuda itu mengerucut dan alis yang berkerut samar. Tatapannya memandang Dee dengan tajam dihadapkan oleh jempol kaki gadis itu yang berada tepat di bawah hidungnya. Tanpa mendengar apapun dari Alex pun Dee tahu bahwa sepertinya dia salah paham. Dengan wajah merah menahan malu, Dee akhirnya pelan-pelan menurunkan kakinya yang telah terangkat tinggi. Kakiku aman kan ya?
Dee melihat kakinya, lalu ingat bahwa dia baru saja selesai olahraga yang jelas kakinya tidak mungkin tidak berbau. Mengingat hal itu Dee ingin menangis. Dia, seorang perfurmer ternama berumur dua puluh empat tahun telah melakukan kebodohan berturut-turut di transmigrasi pertamanya.
“Maaf,” cicitnya lirih.
Tidak ada jawaban dari pemuda itu.
“Dasar bodoh,” Al berkomentar dari sampingnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dee. Itu hanya sebentar karena Dee tidak ingin di cap gila jika terlihat berbicara seorang diri.
Dee mengembalikan tatapannya pada Alex dan mendapati pemuda itu memandang ragu pada kakinya setelah tangan pemuda itu dengan lihai membuka kotak P3K dan mengeluarkan perban, guntung, dan obat merah.
“Kakiku aman, kok. Steril aku jamin!” Dee berkata buru-buru.
“mungkin,” cicitnya ragu dengan klaimnya barusan. Bah! Dari mana datangnya steril ketika kakinya baru saja masuk ke dalam got? Di tambah keringat Aram yang menempel pada tubuhnya saat menggendong dirinya, Dee akan sangat bersyukur jika tidak ada bau terasi di tubuhnya. Huhu…inikah rasanya ingin menangis tapi tidak bisa?
Alex tetap tidak mengeluarkan suara. Namun tangannya kini datang mengambil kaki kiri Dee yang tidak di perban. Bingung dengan tindakan pemuda itu, Dee ikut mengamati apa yang di lihat oleh Alex. Barulah saat itu Dee sadar bahwa ada luka lecet cukup banyak di bagian betisnya. Luka itu masih basah ternyata. Dia terlalu fokus pada kakinya yang sobek, sehingga melupakan rasa perih yang datang dari betisnya. Mungkin juga karena tangisannya yang berlebihan dokter juga sepertinya melupakan luka lain selain yang berada di lutut.
Kini setelah dia melihatnya, Dee mendadak merasakan perih di sekujur kakinya dan juga sikunya. Matanya kembali berkaca-kaca.
“Tidak akan sakit,” pemuda itu berkata seolah menghibur saat tangannya dengan terampil membersihkan luka goresan di betisnya sebelum memberikan obat merah dan juga plester. Awalnya mungkin dia ingin memberi perban pada betisnya, namun sepertinya luka ringan seperti itu tidak memerlukannya. Saat Alex selesai dengan plester terakhir, saat itu Dee sadar bahwa pemuda itu ternyata memakai sarung tangan dengan aroma antiseptik. Dee dapat melihat warna dari aroma cairan antiseptik yang sepertinya di semprotkan pada kaus tangan yang di pakai Alex. Dee mendadak kembali teringat akan Simon yang selalu melakukan hal yang sama.
“Terimakasih,”kata Dee saat melihat pemuda itu memasukkan semua perlengkapan medis ke dalam kotak kembali.
“Ya,” jawabnya ringkas tampak seperti tidak ingin meneruskan obrolan. Dee jelas tidak mau ini terjadi, bagaimanapun ini adalah kesempatannya.
“Aku Calista Dian Efendy, siapa namamu?”
Alex melirik sekilas tanpa menjawab sepatah katapun dan langsung pergi setelah meletakkan kotak P3K kembali ke lemari UKS.
“Hah? Serius? Aku di abaikan?” Dee menatap kosong pada pintu UKS yang baru saja tertutup oleh sosok Alex yang pergi.
Dia lantas menatap Al dengan pandangan bertanya.
Di tatap dengan tatapan seperti itu Al mengerutkan keningnya,“Apa?”
“Katamu aku menarik perhatiannya!”
“Memang.”
“Terus kenapa dia cuek?”
“Aku lupa mengatakan padamu. Di sekolah ini setiap siswa di wajibkan untuk sebulan sekali menjadi petugas medis untuk syarat kelulusan. Hari ini adalah jadwal Aku oh, maksudku dia bertugas. Biasanya semua orang akan menghindari ke UKS karena dia benci bertugas. Jadi dengan kau yang terluka, menangis berlebihan, bahkan penuh darah, jelas kau menarik perhatiannya,” jelas Al.
“Sebagai gadis yang mungkin akan masuk daftar hitamnya,” tambahnya kemudian.
“AL!” Dee mengeram. Dia melempar bantal UKS sayangnya dia lupa bahwa saat ini sosok Al itu transparan.
“Aduh!”
“Calista Dian Efendy!” Teriak seorang remaja dengan kaos basket dan tas ransel milik Dee di tangan kanannya. Bantal besar jatuh dari wajah turun tepat di samping kakinya.
Ops! Sepertinya Dee salah sasaran.
***
“Udah dong, aku minta maaf.” Dee memeluk leher adiknya saat dirinya meminta maaf saat keduanya menuruni tangga dengan Dee yang di gendong belakang oleh Aram. Aram memiliki tinggi lebih dari remaja seusianya. Bahkan saat berdampingan dengan Dee, mereka terlihat seumuran.
Siang ini seharusnya semua murid masih di dalam kelas. Suasana di luar cukup sepi kecuali beberapa siswa yang masih berolahraga itupun jauh dari dari ruang UKS sehingga mereka berdua dapat berjalan dengan nyaman.
“Aku sungguh tidak sengaja,” kata Dee lagi. Namun Aram tetap diam.
Lama-kelamaan Dee balik kesal terhadap adiknya itu, “Sudahlah, turunin aku. Aku bisa jalan sendiri!”
Gadis itu bergerak untuk turun namun Aram tidak melepaskan pegangannya.
“Kubilang turunin aku!”
“Tidak.” Aram akhirnya bersuara. Dia memang kesal karena saat Dee melemparkan bantal, ternyata ada ponsel milik Dee tersangkut di sarung bantal yang ikut terlempar mengenai mukanya. Sekarang ada benjolan kecil di dahi mulus pemuda itu. Wajah yang selalu menjadi kebanggaannya di lukai oleh kakaknya. Jelas dia marah, namun tidak sampai hati membuat Dee berjalan sendiri ke parkiran dari UKS lantai dua.
“Turun!”
“Jangan gerak-gerak, Kak.” Aram berusaha memperbaiki gendongannya dari Dee yang memberontak. Wanita itu selalu mahluk aneh. Dia yang salah, dia juga yang akhirnya marah. Aram mengeluh di dalam hatinya. Memang wanita selalu benar. Setidaknya pesan mamanya padanya itu ternyata benar adanya.
“Makanya turunin.”
Sebelum Aram sempat menjawab, karena gerakan melompat Dee yang tiba-tiba Aram secata tidak sengaja melepaskan tangannya di susul dengan bunyi keras. Semua berlangsung begitu cepat sehingga keduanya tidak dapat mencegah apa yang terjadi. Aram masih memiliki kaki kokoh untuk bertahan, namun Dee telah kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling-guling di tangga.
“Kakak!”
Dee mendengar seruan Aram dari atas tangga sebelum dirinya mendarat di lantai dan dengan punggung menubruk sesuatu di lantai. Pandangan Dee memudar sesaat, kepalanya seolah berputar-putar di balik kelopak matanya. Kakinya terasa basah dan sakit sekali hampir membuatnya tidak bisa bernapas. Seperti tidak cukup, sebelum dia dapat mempertahankan diri untuk sadar, sesuatu yang keras tiba-tiba saja menimpanya.
“Kakak! Kakak, kamu oke kan?” suara Aram terdengar panik. Dee mendengarnya namun dia tidak bisa mengatakan apapun. Tubuhnya masih terhimpit sesuatu yang bahkan dia tidak tahu bersamaan dengan suara gadis yang berteriak dari ujung atas tangga.
“Alex!” Ada suara derap langkah buru-buru dari atas tangga yang turun.
“Loh? Senior Alex?” suara Aram kembali terdengar. Kali ini bahkan suaranya terdengar lebih cemas daripada saat dia memanggil namanya, “ Senior, kau tidak apa-apa?”
Dee akhirnya dapat menjernihkan matanya. Saat ini dia akhirnya sadar bahwa setengah badannya telah di tindih oleh seorang pemuda yang tidak lama bertemu dengannya. Alex!
“Mari aku bantu Senior,” lagi-lagi suara Aram terdengar kali ini dibarengi oleh suara gadis lain yang sepertinya ada di samping Aram. Bersamaan dengan itu Dee merasakan tubuhnya agak ringan saat beban yang menindihnya hilang.
“Aku sungguh minta maaf Senior, telah membuatmu menindih Kakakku.”
Dee menatap adiknya tidak percaya. k*****t sekali anak ini! Aram sibuk membantu membantu Alex dan membiarkan dirinya—kakak kandungnya, tergeletak mengenaskan di lantai? Selain itu ada dua gadis yang juga sepertinya mengerubungi Alex tanpa peduli dengan dirinya yang masih terkapar.
Mohon maaf! Hallo? Di sini aku loh yang di tindih dan terkapar! Dee ingin sekali berteriak pada mereka namun rasa sakit membuatnya malas untuk berkata apapun itu. Bahkan jika itu adalah Alex—orang yang menjadi kunci dia kembali, Dee tidak akan pernah mentolerir apapun yang membuatnya terluka.
Akhirnya Dee menggerakkan tangannya untuk menopang tubuhnya seorang diri dan dia merasakan rasa sakit yang tak tanggung-tanggung luar biasa!
“Alex kau baik-baik saja kan?”
“Alex, sebaiknya kita ke rumah sakit.”
Dua gadis itu sangat berisik bahkan dengan Alex yang tetap diam. Bahkan Dee makin sebal saat melihat Aram sama sekali tidak menggubrisnya. Saat sampai rumah nanti, Dee bersumpah akan meminta mamanya memasukkannya ke dalam rahimnya lagi dan menggantinya dengan adik perempuan yang manis!
Dee duduk dengan susah payah dan menyela ketiganya, “Sebaiknya kita segera ke rumah sakit.”
Baru saat itulah Alex memalingkan pandangannya. Dia melihat Dee dengan pandangan terkejut sesaat sebelum menolak dengan tegas, “Tidak. Aku tidak perlu…”
“Bukan kamu,” sela Dee marah saat dia merasakan seluruh tubuhnya sakit bahkan kakinya telah kembali berdarah karena jahitannya sepertinya terbuka.
“Tapi aku.”
“Ya Tuhan! Kakak!” akhirnya Aram sadar penampilan mengenaskan kakaknya yang bahkan tidak dapat duduk dengan benar. Dee meringis, mencari sosok Al yang entah kenapa menghilang. Dia langsung meratap dalam hati, inikah dunia remajanya? Suram sekali…