Pemecatan

1217 Kata
Tok.. tok.. tok.. Ketukan di balik pintu itu terdengar semakin keras. Awak redaksi tidak ada yang berani mendekatinya, malahan mereka semua saling memandang satu sama lain. "Kin, kamu sebagai pemimpin redaksi, buka deh," ucap Naira, yang menyembunyikan diri di bawah meja. "Ih apaan deh, Wen, kamu sebagai yang tertua dan laki-laki, buka deh!" balas Kinan yang mematung tanpa bergerak di kursinya. Wendi hanya menggeleng, "aku gak mau berurusan sama Pak Leon, ah!" "Kalian semua kok main tunjuk menunjuk, sih. Kayak anak kecil aja gak berani hadapin bos besar," timpa Beni. Beni beranjak dari tempat duduknya, perlahan langkahnya mendekati daun pintu yang sedari tadi terketuk keras. Suara Pak Leon menyuruh buka terus berulang. Ceklek. Beni membuka pintu setengah, Beni menatap Pak Leon yang sudah berdiri sambil berkacak pinggang. Kali ini Pak Leon mengenakan pakaian serba hitam, kacamata hitamnya tumbenan dipasang di hidung mancungnya. "Ehem," Pak Leon berdeham dan melepaskan kacamata hitamnya. Kedua mata Pak Leon menajam melihat Beni yang berdiri di hadapannya. "Kalian semua pada ngapain? Kenapa pintu ini lama sekali dibuka?" tanya Pak Leon. Bibirnya mengecil dan tatapan matanya semakin tajam. "Habislah riwayatku jika Pak Leon langsung menghajarku sekarang," batin Beni. "Ma-ma-maaf, Pak, kami sedang rapat bulanan," jawab Beni dengan keringat yang mengucur perlahan dari pelipisnya. Rupanya, berhadapan dengan Pak Leon dapat mengalahkan dinginnya ruang redaksi. Beni terpaksa berbohong karena takut Pak Leon akan meluapkan amarah lebih ganas. Kedua bola mata Pak Leon memincingkan ke seluruh awak redaksi. Semua awak redaksi tidak mampu berkata apa-apa, melihat raut wajah Pak Leon yang memanas tidak seperti biasanya. "Kinan, untuk kesekian kalinya ini kamu menjalankan tugasmu sebagai pemimpin redaksi dengan buruk!" Pak Leon meninggikan nada dan menunjuk Kinan. Wajah Kinan tampak pucat, bibirnya gemetar dan mulai terkelupas. Kinan berdiri dari tempat duduknya, "ada apa, Pak? Saya tidak mengerti," sahutnya. "Apa-apaan kamu menerbitkan berita seperti itu? Coba lihat kanal website kita, berita macam apa yang baru kamu terbitkan!" tegas Pak Leon, kedua bola matanya semakin membesar dengan degup jantungnya yang berdebar. "Tentang pelecehan seksual itu ya, Pak? Saya rasa itu berita yang penting," balas Kinan. "Penting bagaimana maksudmu?! Berita itu menuai hujatan di banyak pihak, salah satunya pihak kampus yang disebutkan di berita itu," kata Pak Leon. "Sekarang juga tolong hapus berita itu!" perintah Pak Leon. "Kalau merasa keberatan dengan berita tersebut, kami memberikan hak jawab. Bagi pihak yang kurang menerima berita kami, sampaikan baik-baik. Saya tidak mau main asal hapus," Kinan berusaha menjelaskan dengan nadanya yang berat. "Terkecuali untuk berita yang sensitif seperti ini. Daripada masalah berita ini berkepanjangan, mending hapus saja," ujar Pak Leon. "Tidak akan!" tegas Kinan. "Kamu harus nurut dengan saya, kalau tidak, kamu akan saya pecat!" Brakkkkk. Pak Leon membalikkan diri dan menutup pintu ruang redaksi sekeras mungkin. Wendi, Naira, Andin dan Beni hanya mampu melihat ketegangan antara Kinan dan Pak Leon. Kinan terdiam, kedua tangannya yang berada di samping badannya mulai mengepalkan telapak tangan. Tangan Kinan tampak bergetar, seiring matanya yang mulai nanar. Memandang Kinan, seperti melihat perempuan yang penuh amarah namun mulutnya disumpal bantal dan tidak mampu berkata apapun. "Kinan.. kamu gakpapa?" Naira sigap memeluk Kinan. "Mbak Kinan...." Andin mengikuti Naira dan ikut memeluk pemimpin redaksinya itu. "Maafkan aku, Mbak, aku yang bikin semuanya jadi kacau," tutur Andin. Kinan sama sekali tidak membalas, sesegukkan dari tenggorokannya kini keluar menandakan amarahnya telah akut. Air matanya berlinang membasahi pipi merahnya. "Mbakkkkk!" Andin memeluk Kinan lebih erat. Begitu juga Naira. Beni dan Wendi yang menyaksikan keharuan sore ini, ikut memberikan ketenangan untuk Kinan, "Kinan, kami selalu ada untuk kamu," ucap Wendi. *** Keesokkan harinya, Andin menghadap ke Pak Leon untuk meminta penjelasan perihal berita yang kontroversial itu. "Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu waktunya sebentar. Apa boleh saya masuk?" ucap Andin dari balik pintu. "Masuk," ucap Pak Leon singkat. Andin menunduk, langkah kakinya berusaha mencapai kursi yang bertengger di depan Pak Leon. Belum saja Andin sampai, Pak Leon sudah memberhentikannya. "Tunggu! Kamu yang menulis berita tentang pelecehan dosen itu?" tanya Pak Leon, menyipitkan matanya. "Iya, Pak. Itu saya, maaf saya sudah membuat keonaran sejak kemarin," jawab Andin. Andin sudah melihat komentar-komentar yang menancap pada kanal media Antasari. Banyak sekali yang mengindikasikan berita yang ditulis Andin adalah bohong. Pasalnya, Andin tidak mencantumkan bukti bahwa dosen itu melakukan tindak pelecehan. "Berita bohongan nih, parah!" "Wartawan kok nulis pakai nama samaran, takut bohongnya ketahuan ya!" "Gak ada bukti, sama aja menjatuhkan satu pihak yang tersudut, media Antasari kacau!" Begitu bunyi komentar yang sempat Andin baca semalam. Andin muak membaca keseluruhan komentar karena minim yang mendukungnya untuk meneruskan tulisan itu. Pak Leon berdiri, ia berkacak pinggang persis seperti yang Beni lihat kemarin. "Kamu sadar gak kalau berita yang kamu tulis itu tidak ada bukti alias bohong?" ujar Pak Leon. "Saya tidak berbohong, Pak, saya menulis berita itu benar-benar langsung dari pernyataan korban," tutur Andin. "Kamu tau sendiri kan, wartawan itu harus mencari bukti dari berbagai sudut. Masa karena pernyataan narasumber kamu langsung percaya? Cari bukti!" jelas Pak Leon. Perbincangan panas antara Pak Leon dan Andin terdengar hingga ruang redaksi. Kinan, Beni, Wendi dan Naira ikut penasaran dan diam-diam mengendap untuk mendengar obrolan itu. "Kalian diem semua, ya! Jangan sampai ketahuan!" perintah Kinan. "Pak, masa iya bukti film-film tidak senonoh itu harus saya dapatkan? Korban pun langsung menghapusnya karena merasa tidak nyaman, Pak!" Pak Leon masih terdiam, "Pak, korban yang mendapatkan pelecehan itu pasti memendam trauma yang dalam! Gak mungkin saya tiba-tiba minta bukti untuk dikirimkan film tersebut!" Andin mulai berani menegaskan perkataannya. "Korban aja langsung blokir nomor dosen itu kok," sambung Andin. "Tetap saja itu seperti kamu menyiram bensin saat kebakaran. Membunuh diri kamu sendiri!" "Membunuh apa maksud Pak Leon!" amarah Andin memuncak. "Membunuh dirimu dengan berita yang kamu tulis! Kamu akan celaka dikemudian hari!" Pak Leon turut membalas keras. "Enggak, Pak!" Andin menegaskan. "Kamu itu anak baru, berani-beraninya kamu tidak mengikuti aturan saya. Kalau begitu, mulai sekarang kamu saya pecat!" Pak Leon memukul mejanya. Dentakan itu terdengar keras mengagetkan awak redaksi yang menguping. "Parah! Andin dipecat!" ujar Wendi. "Gila! padahal Andin sudah membuat media kita naik, kok seenaknya dipecat gitu," balas Beni. "Andin itu berbakat dan pekerja keras, Pak Leoj gak seharusnya memecat Andin," tambah Naira. Jantung Kinan terasa memanas, giginya menggigit bibirnya dengan keras hingga berdarah. Jiwa Kinan seperti terbakar, ia tidak setuju dengan sikap Pak Leon yang semena-mena memecat Andin. Amarah Kinan yang tinggi membuatnya tak kuat menahan air mata. "Kinan? Kamu kenapa?" tanya Naira yang pertama kali melihat Kinan menangis. Kinan hanya menggeleng dan berusaha mengusap air matanya yang terus mengalir. Selang beberapa menit, Andin keluar dari ruang Pak Leon. Langkahnya masih sama, tegar dan tidak ada hambatan apapun. Wajah cerita nan polosnya tampak tidak ada masalah, padahal ia baru saja diberhentikan dari media yang ia impikan untuk belajar jurnalistik. Andin mendekati Kinan dan kawan-kawan, Andin melepas pengenal nama yang selalu ia kalungkan saat di kantor. Pengenal nama atas nama Andin itu terlepas dan diserahkan pada Kinan. "Maaf, Mbak. Aku sudah mengecewakan semuanya, aku tidak mampu membantu penyintas dan malah menyiksa semua orang," ucap Andin. Langkah kaki Andin menuju turunan tangga untuk kembali ke rumahnya. Dan tiba-tiba... "Andin!!!!!" Kinan berlari mengejar Andin yang akan menuruni tangga. Spontan pandangan Andin mengarah ke Kinan yang sedang mendekatinya. Kinan memeluk Andin seerat mungkin, air matanya mengalir membahasi pundak Andin. "Kamu hebat! Kamu harus bertahan," ucap Kinan sesegukkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN