Ragu

1043 Kata
Ruang redaksi kembali ramai, Naira dan Beni sudah masuk kerja sekarang. Tugas lemburnya terselesaikan dengan rapi tanpa revisi dari Kinan. Naira dan Beni senang sekali, tugasnya kali ini tidak berkepanjangan nempel di kepalanya. "Huh, syukurlah, baru kali ini Kinan tidak merevisi sama sekali tugasku," ucap Beni, ia bisa bersantai ria di atas kursi kantornya. "Sama, Ben. Ada angin apa, ya? Apa ideologi dia sudah berubah?" sahut Naira. "Gak tau, ya. Tapi aku suka yang begitu, gak banyak minta, gak banyak aturan, ya i feel free, lah," balas Beni. "Kita berarti udah nganggur kan? Tugas lembur bulanan kita terselesaikan dengan baik," kata Naira. Beni mengangguk. Naira dan Beni bisa bersuka cita karena tugas terberatnya bulan itu sudah usai. Akan tetapi, berbeda dengan Andin. Andin harus menyelesaikan satu tugasnya lagi. Sedari tadi, Andin sibuk memainkan keyboard laptop di hadapannya. Tidak ada satu katapun yang dikeluarkan Andin dari mulutnya. Andin tampak tenang, fokus, tanpa ada gangguan lain. "Eh Wen, kamu jadi nemenin dia liputan?" bisik Beni ke Wendi sambil menunjuk ke Andin. "Iya, dia sudah dapat datanya. Kayaknya berita kali ini gak kalah viral sama berita lainnya yang pernah dia tulis," bisik Wendi juga. "Sumpah?! Berita tentang apa emangnya? Kamu kok yakin banget ini bakal viral?" tanya Beni. "Ya nanti kamu liat aja lah bagaimana viralnya berita Andin setelah ini," jawab Wendi. Wendi kembali mengerjakan tugas bulanannya. Akhirnya, Andin mengeluarkan kata-kata juga dari mulutnya, "Mas Wendi, sini deh. Aku minta tolong sebentar," ucap Andin. Andin menyodorkan catatan yang kemarin ia tulis ketika mewawancarai Loli. "Bisa bantu mikir gak, ini ciri-ciri siapa?" tanya Andin. Wendi membaca ciri-ciri fisik itu dengan baik. Perempuan tinggi berkulit bersih, dengan t**i lalat di hidungnya. Wendi mencoba mengingat seluruh teman angkatannya, "ah sial! Aku sama sekali gak ingat. Apalagi t**i lalat di hidung, aku gak pernah perhatiin cewek-cewek angkatanku sebegitu detailnya," Wendi kecewa dengan dirinya sendiri. Wendi bukan tipe mahasiswa yang luas pergaulan saat itu. Apalagi soal cewek, tidak ada cewek yang benar-benar diperhatikan oleh Wendi tentang ciri-cirinya. "Kalau pakai pernyataan Loli saja, masih kurang, ya?" tanya Wendi. "Menurutku masih kurang, takutnya nanti isi beritanya subjektif banget," jawab Andin. "Dan gak ada bukti ya, bakal susah sih," Wendi menyambung. Wendi memutar balik pikirannya, mencari cara agar berita itu segera terbit tanpa tambahan narasumber lagi. "Kamu sudah nulis sampai mana?" tanya Wendi. "Sudah selesai perihal kronologi Mbak Loli, cuma mau nambahin narasumber lagi yang kemarin dimaksud Mbak Loli," jawab Andin. "Nama dosennya, sudah ketemu kan?" "Sudah, Mas. Daus Akbar, kan?" "Benar! Dapat dari mana kamu?" "Stalking di internet lah, lagian kan itu memang tugasnya wartawan harus cari jarum di tumpukkan jerami, heheh," Andin nyengir. Wendi men-scroll tulisan Andin yang terketik dalam Ms. Word. Tulisan sebanyak 1000 kata itu telah menggambarkan bahwa masih ada kekejaman di lingkungan pendidikan. Buktinya saja, pelaku itu adalah dosen. "Keren, keren! Yaudah deh, kalau menurutku gakpapa sih cuma nulis segini aja, aku udah baca semua," ucap Wendi setelah membaca seluruh tulisan Andin. "Kalau aku dituntut, gimana Mas? Karena emang kurang narasumber," balas Andin. "Tenang, kamu gak usah takut. Aku yang bakal bantu. Sekarang, serahkan saja tulisanmu ke Kinan," saran Wendi. Andin membaca kembali berita yang rampung ditulisnya. Melihat kata-kata yang mungkin salah atau tidak layak dituliskan. Jari-jari Andin gemetar seiring kalimat yang ia tulis dibaca dalam hati. Dalam lubuk Andin, ia masih kurang percaya diri untuk membagikan berita ini ke publik. "Kurang narasumber...." desah Andin dalam hati. Namun, karena dorongan dari Wendi, akhirnya Andin mengiyakan saran Wendi. Selain itu, Wendi juga bakal membantu Andin apabila ada masalah kedepannya pasca berita ini diterbitkan. Andin membawa laptopnya ke Kinan, Kinan melirik Andin sinis. Mengambil laptop Andin, "aku baca dulu, kali aja tulisannya gak jelas," tutur Kinan. Andin menarik napasnya dalam-dalam, berharap Kinan tidak marah besar karena berita yang ia tulis tidak maksimal. "Kamu yakin mau menerbitkan tulisan ini?" tanya Kinan. "I-i-iya, Mbak," Andin tampak gemetar. "Yang tegas! Yakin atau tidak? Kamu akan bertanggungjawab dengan apa yang kamu tulis, loh!" balas Kinan. "Siap, Mbak! Saya yakin berita ini untuk diterbitkan. Saya geram karena dosen tersebut melakukan hal tidak senonoh dan membuat korban trauma berkepanjangan," kata-kata itu spontan keluar dari mulut Andin. Kata-kata itu muncul tanpa terencana, Andin juga bingung, bisa sekali ia berkata lantang seperti itu di depan Kinan, "duh, aku kerasukan setan apa, ini?" Andin bingung dalam hati. Naira, Beni, Wendi dan Kinan juga terdiam mendengar Andin berkata-kata kencang seperti tadi. Lantas, Beni langsung berbisik kepada Wendi. "Sejak kapan Andin berani begitu ke Kinan? Biasanya nunduk-nunduk aja, eh sekarang malah kayak bentak Kinan," bisiknya. "Aku gak tau juga, baru kali ini aku lihat dia teriak-teriak," tambah Wendi. "Kamu apain, Wen? Semenjak liputan sama kamu, dia jadi begitu!" ledek Beni. "Husssst, gak usah mengada-ada," tutup Wendi. Tak lama, Kinan membalas Andin, "oke, saya ucapkan terima kasih. Berita kamu akan terbit sekarang juga. Tunggu, ya," Kinan segera membuka website media Antasari dan membagikan berita Andin ke seluruh sosial medianya. "Hah? Mbak Kinan gak marah?" ucap Andin kaget. "Buat apa marah? Kan kamu sudah yakin," Kinan memberikan senyum ke Andin. Detakan jantung Andin yang laju berdetak kini mulai mereda. Kegelisahannya mendapat amarah Kinan, pudar begitu saja. Andin sangat tidak percaya Kinan mampu memberikan senyum untuknya pasca menulis berita. Biasanya, hanya kritikan yang dilontarkan. Rupanya keanehan itu dirasakan Wendi dan Beni juga. Kedua lelaki itu kembali mengobrol di tengah keheningan. "Tuh kan Wen, kenapa Kinan jadi jinak begitu sama Andin?" celetuk Beni. "Iya deh, aku juga aneh. Dia habis minum obat pereda ngambek dan keganasan kali, ya?" balas Wendi. Mendengar dua rekannya berkata ngawur, Naira yang dari tadi menyimak merasa geram. "Eh, kalian tuh ya. Kalau Kinan marah-marah, kalian jengkel. Kalau Kinan baik-baik, kalian kok ngeledekin?" sahutnya. "Sumpah Nai, ini langka banget!" Beni menekan nada bicaranya. "Didoain aja semoga sikap Kinan yang seperti itu akan tetap abadi. Biar kita disini juga senang kerjanya, gak kayak kerja di kandang macan," jelas Naira. "Aamiin," ucap Wendi dan Beni bersamaan. Setelah 30 menit berita Andin terbit, Pak Leon menggedor-gedor pintu ruang redaksi. "Buka! Buka pintunya siapapun di dalam sana." Seluruh awak redaksi refleks mengarahkan matanya ke pintu yang tergedor. Semuanya saling tatap menatap melihat Pak Leon yang berteriak itu. "Ada keanehan apalagi setelah ini?" Ucap Beni polos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN